BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.


13 Komentar

Bagian Tubuh Paling Menarik

Masih ingat posting saya tahun lalu soal ukuran dada ideal perempuan? Nah, ini ada lagi survey soal serupa. Tampaknya masalah ukuran ini nggak akan ada habisnya dibahas. Dan seperti posting yang lalu, komentar saya ada dong di dalam kurung πŸ™‚

Hampir semua pria kompak menjawab payudara, saat ditanya bagian tubuh wanita yang paling indah. Mereka menyadari itu sebagai kelebihan dan daya tarik seorang wanita. (My comment: Jelas ini terjadi karena pria nggak punya payudara yang bentuknya spt perempuan. Rumput tetangga selalu lebih hijau toh?)

Ada yang lebih menarik?


Tinggalkan komentar

Ternyata Saya Istri Kedua!

gugel

“Jadi, boleh nggak beli tiketnya?” suara suami saya terdengar membujuk, eh, memaksa namun dengan nada membujuk saat kami berjalan di luar stadion entah-apa-namanya di Manchester, tahun 2006 lalu.

“Emang bisa dilarang?” jawab saya pasrah.

“Beli dua ya? Kamu mau juga kan?”

Pletaaaak! Saya menjitak si Babe. Ehm, pelan sih. Tapi dia tahu itu artinya ‘TIDAK’.

Enak aja! Cukup 90 poundsterling (kurs saat itu kira-kira 1,5 juta rupiah bo!) melayang buat beli satu tiket pertandingan sepak bola. Saya sih mending dikasih mentahnya aja, trus bisa menjelajah gerai Miss Selfridges atau Top Shop. *tanduk belanja mulai nongol dikiiit *

Soal istri kedua, baca disini….


Tinggalkan komentar

Pria dan Sepak Bola

Percakapan pagi hari, saat matahari belum tinggi:

Sabai kecil (membawa DVD Pocoyo): Babe, mau liat ini, Pato lagi melukis!

Babe (masih ngantuk, semalam begadang): Hah? Sejak kapan Pato melukis?

Yeah, bagi Sabai kecil Pato adalah tokoh animasi seekor bebek kuning yang lucu, sementara bagi si Babe, Pato adalah pemain muda yang semalam mencetak gol bagi AC Milan. Saya senyam-senyum saja menjadi saksi percakapan yang nggak nyambung ini. Baca lagi!…


Tinggalkan komentar

CLBK Di Stasiun Kereta

Aku celingak-celinguk di peron 03 stasiun Tawang, mencari sebuah sosok yang lama kunanti. Tiba-tiba kau sudah berdiri di hadapanku. Tinggi badanmu yang diatas rata-rata, membuatmu dengan mudah terlihat di antara kerumunan pemudik lebaran yang menyemut memenuhi peron ini. Kamu tersenyum tipis begitu melihatku, sementara aku masih tertegun menatapmu. Tanganmu tiba-tiba meraih tanganku, Terus ada apa?