BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Pical Sikai Bukittinggi: Pecel Jawa Ala Minang

23 Komentar

Kalau ke Bukittinggi, jangan cuma mengunjungi warung nasi Kapau paling enak tapi mampir juga ke Pical Sikai untuk mencicipi pecel ala Minang. Apa sih yang bikin Pical Sikai ini istimewa?


Bagi saya, pical adalah versi Sumatera-nya pecel Jawa, yaitu aneka sayuran rebus disiram bumbu kacang dan dimakan dengan lontong. Pical Sikai ini unik karena pakai jantung pisang. Terdiri dari daun pucuk ubi, daun lobak Singgalang dan disiram bumbu kacang, lalu di atasnya ditaburi kerupuk merah ala Minang. Belum selesai… paling atas ditaruhlah segelondong besar katupek alias ketupat!

Kebalik kan? Kalau di pecel Jawa biasanya irisan lontongnya ditaruh paling bawah, baru ditutupi sayur dan bumbu kacang. Saya sempat bingung melihat gelondongan katupek berukuran besar ini. Masa harus masuk mulut sekaligus? Mana muat…

Beda dengan bubur ayam yang kenikmatannya lebih paripurna bila tidak diaduk. Pical lebih nikmat bila diaduk rata. Aduk aduk… lalu hap! Suapan pertama masuk ke mulut. Bumbu kacangnya terasa gurih dan sedikiiit manis, sayurannya segar dan kerupuk merahnya menambah keseruan sensasi kunyahan dengan suara kriuk-kriuk yang riuh.

Kalau masih kurang ramai, bisa ditambah keripik singkong pedas ala Minang yang terkenal. Bisa juga dengan topping jangek atau kerupuk kulit yang tersedia dalam toples ukuran jumbo di kedai Pical Sikai. Kedainya sederhana, harga makanannya pun ramah di kantong. Seporsi pical dihargai Rp 12.000,- saja.

pical sikaipical sikai kedai

Kedai ini sudah berdiri sejak tahun 1948, dikelola oleh ibu Khairiah. Sejak pertama berdiri konsisten menyajikan pical, katupek sayur dan lamang tapai. OH, LAMANG TAPAINYA JUARA NASIONAL!

Lamang adalah semacam lontong dari ketan dengan ukuran jumbo, dimakan dengan topping tapai ketan hitam. Jadi ketan ketemu ketan, dan enaknya nggak tahan! #WanitaMandiriTahanGodaan #KecualiGodaanMakanan

Lamang ini sebenarnya rasanya nyaris hambar, hanya sedikit gurih. Nah, begitu beradu dengan tapai yang manis, asam, segar di mulut… wuiiihhh… sensasi juicy-nya langsung meledak-ledak. Kombinasi rasanya serasi banget, kayak Prince Charles dan Kate Middleton gitu. Semoga menjadi keluarga sakinah. *eh

Saya pernah makan lamang tapai di Jakarta dan di kota Padang, tapi biasanya nggak terkesan. Setelah mencicipi lamang tapai di kedai Pical Sikai inilah baru saya merasakan sensasi orgasme di dalam mulut. Ini konteksnya masih soal lamang tapai ya… Fokus.

pical sikai lamang tapai

Saking enaknya lamang tapai ini, waktu Shasya menawari saya dibungkusin mau nggak, saya bilang JELAS MAU LAHIR BATIN! Jawaban yang sama bila diajak ngedate sama Adam Levine. Eh ternyata Rere, Simbok, mbak Indah, mbak Eny dan mbak Terry juga pada bungkusin lamang tapai ini. Kaaaan… Pada jatuh cinta kaaan!

Kebetulan habis dari Bukittinggi sore itu juga kami pulang naik pesawat ke Jakarta, dan kata ibu penjualnya asal nanti malam dimasukkan kulkas, lamang tapai bisa tahan 2 hari. Sip. Tapi ternyata membawa lamang tapai naik pesawat itu sebuah tantangan tersendiri. Bisa meledak di atas kabin pesawat. Serius.

Ledakannya nggak eksplosif kayak Bom Bali gitu sih. Tapi ngeselin banget. Jadi tapai yang dibungkus plastik dan dikaretin itu akan mengeluarkan gas, plus tekanan udara saat pesawat mengangkasa, membuat plastiknya sangat gembung, dan kalau tidak kuat bakal pecah di dalam tas, lalu kuah tapai yang manis-asam-lengket itu membasahi seluruh barang di dalam tas kamu. KEZEL KAN? Dan ini dialami teman saya, Rere.

Untungnya bungkusan lamang tapai milik saya selamat sampai mendarat, meski plastiknya udah gembung kenceng banget kayak wajah yang kebanyakan botox. Kuncinya adalah mengendurkan karetan plastik, biar sesedikit mungkin udara yang tersimpan. Mungkin kalau niat jualan buat oleh-oleh, tapainya perlu dikemas plastik vacuum kali ya?

Jadi, kapan kamu mau ke Bukittinggi untuk membuktikan kelezatan pecel dan lamang tapai di Pical Sikai ini?

bukittinggi jam gadang

Ini bonus sih. Wajib ada foto di depan Jam Gadang, biar sah udah ke Bukittinggi. Btw, menurutku kameranya ganggu… mestinya dilepas aja, lupa😦

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

23 thoughts on “Pical Sikai Bukittinggi: Pecel Jawa Ala Minang

  1. He he he steger kayu nya juga ganggu tuh.

  2. Itu Pical Sikai kebayang pedasnya deh, enak ya mbak? Kok aku jadi ngidam gini, huhuhu.

    Salam,
    Shera.

  3. Du mba saya penasaran seenak itukah lamang huhuhu harus ke Bukittingi

  4. duh, kemarin enggak ke sini, dem. enak banget kayaknya.

  5. Pokoknya makanan apa aja pake saus kacang jadi enak deh! Baru tau ada pecel juga disana..

  6. Beberapa kali ke Bukittinggi, makan Pical, tapi di Pasar Lereng. Apa ya namanya? Tek Apuak kalau gak salah. Btw, itu Canon?

  7. Pical Sikai memang legendaris. Di Bukittinggi belum afdhol makan pical kalo belum makan pical sikai, 🙂

  8. aku penggemar bumbu kacaaang….duh jadi penasaran

  9. Uni! Dirimu berdosa bikin diriku ngiler sepagi ini 😦

  10. Baru tau ternyata di Sumatera ada pecel juga hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s