BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Wisata Ke Dubai: Bagus Gak?

12 Komentar

Week end lalu saya dan mama berduaan pergi ke Dubai, ikut trip di salah satu biro perjalanan yang nggak perlu saya sebutkan namanya. Kami keliling Dubai, ke pasar, museum, desert safari dan ke Abu Dhabi sebentar. Dengan biaya 24 juta rupiah untuk dua orang, was it all worth it?

Dubai adalah salah satu kota besar di Uni Emirat Arab (UEA) yang terletak di sebelah timur Saudi Arabia. UEA ini dulunya terdiri dari beberapa kerajaan, hingga 7 kerajaan besar memutuskan untuk bersatu membentuk sebuah negara yang berdaulat. Mata uangnya Dirham. Satu dirham setara dengan 3.900 rupiah (sering dibulatkan 4000 rupiah).

Dubai dulunya gurun pasir dan gunung batu yang tandus, hingga ditemukan deposit minyak bumi di akhir dekade 60-an. Sejak saat itu dengan uang hasil minyak bumi, Dubai giat membangun gedung-gedung tinggi di kawasan pantainya, menyiapkan diri sebagai pusat bisnis. Sekarang katanya revenue Dubai dari minyak bumi udah sedikit banget, kurang dari 5% dari total pendapatan mereka. Makanya sekarang Dubai gencar promosi untuk menarik datangnya para pebisnis dan wisatawan.

Jadi apa saja yang dilihat kalau berwisata ke Dubai?

Day 1, Kamis 9 Januari 2020.

Kami tiba di bandara Soekarno Hatta pukul 16.00 WIB untuk naik pesawat Royal Brunei airlines pukul 19:00 WIB. Saya tahu kami akan lama menunggu di bandara, jadi saya sudah siap mendownload serial Mind Hunter di HP (serial ini keren banget kalau kamu suka cerita detektif). Tour leader di group kami ada dua orang pria muda, sebut saja Sahib dan Andra.

Kami sempat transit di Bandar Seri Begawan sebentar saja, hingga tiba di Dubai sekitar jam 07:00 waktu setempat. Penerbangan dengan maskapai ini lumayan, tidak ada yang berkesan tapi juga tidak mengecewakan. Makanannya jauh lebih baik dari pada Garuda Indonesia.

Day 2, Jumat 10 Januari 2020.

Burj Al Arab, Atlantis hotel, Burj Khalifa dan Dubai Mall.

Setelah sarapan di hotel Ibis (tanpa check-in karena masih kepagian) kami semua dibawa untuk melihat tempat-tempat populer di Dubai. Burj Al Arab ini termasuk salah satu dari 10 hotel tertinggi di dunia, ada di peringkat ke-7 katanya. Dulu, hotel ini pernah jadi bangunan tertinggi di jazirah Arab dan jadi icon Uni Emirat Arab. Nah, di Jumat pagi yang mendung itu kita dikasih waktu berfoto dari arah pantai di depan gedung Burj Al Arab. Saya amati, banyak rombongan turis dari negara lain juga berfoto di sini. Tampaknya ini spot wajib untuk foto.

Lalu ke depan Hotel Atlantis yang suite-nya seharga USD 8000 atau sekitar Rp 120.000.000, lalu depan Burj Khalifa, gedung tertinggi di Dubai sekarang dan makan siang di Dubai Mall. Di food court mall ini, satu porsi nasi dengan lauk potongan ikan bakar dan 1 botol air mineral harganya 64 dirham atau sekitar Rp 240.000 dan rasanya agak hambar, kurang bumbu.

Saya menyesal kenapa nggak beli Subway saja yang udah pasti rasanya enak dan banyak sayurnya. Tapi ya sudah, nikmati saja. Nah, jalan-jalan sama Mama itu seru banget karena beliau hobby foto-foto :))

Di depan Burj Al Arab, bersama pria Arab (yg bolos Jumatan)
Di depan Hotel Atlantis yang punya underwater suite seharga USD 8000/malam
Di depan Burj Khalifa Jumeira. Udah cuma sampai sini aja, nggak masuk.
Di pelataran Mall of Dubai bagian belakang, deser dikit dari depannya Burj Khalifa.

Setelah makan siang, kami check-in di hotel Ibis Al Rigga, sebuah hotel yang terletak di kawasan yang banyak dihuni pekerja dari Filipina. Lalu kami berangkat ke Magical Garden, sebuah taman bunga buatan yang menurut saya nih… mohon maaf yah…. norak. Asli. Megah, hebat, tapi kayak nggak punya konsep dan nggak berkarakter.

Magical Garden

Jadi mereka seperti terobesesi dengan tokoh-tokoh Disney lalu membuat patung-patungnya dengan ukuran raksasa dan menempelkan bunga-bunga di sekujur patung-patung itu. Sumpaaaah enggak banget!

Udah gitu sejak awal masuk hingga keluar variasi bunga dan tanamannya itu-itu saja, cuma diselang-seling warna putih, pink, ungu, kuning dll. Bosan. Udah gitu, habis berjalan di antara patung karakter Disney, tiba-tiba ada patung pesawat! WHAAATT??? Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Kayaknya ini airlines kebanggaan mereka, atau sponsor? Jauh lebih menarik Garden By The Bay di Singapore misalnya.

Hanya ada satu hal yang membuat hati saya senang: Mama saya senang! Iya, Mama liat bunga sebanyak itu seneng banget, ada kali tiap 5 meter melangkah minta difotoin. Ya udah, saya jadi fotografer amatiran…

Day 3, Sabtu 12 Januari 2020.

Dubai Museum

Dubai Museum ini lokasinya di benteng Al Fahidi, dan cukup menarik dikunjungi untuk mendapat gambaran seperti apa kehidupan orang Emirat Arab zaman dulu sebelum booming minyak bumi. Orang-orang Emirat nampaknya jauh lebih tertarik pada masa depan mereka dengan membangun gedung-gedung tinggi ketimbang menghargai sejarah di masa lampau.

Jam buka hari Sabtu hingga Selasa: 8:30 AM – 8:30 PM. Sementara pada hari Jumat baru buka jam 2:30 PM dan tutup di jam yang sama. Selama bulan Ramadhan buka jam 10:00 AM-5 PM. Tiketnya 3 Dirham (Rp 12.000) untuk dewasa dan 1 dirham untuk kanak-kanak.

Di pelataran dalam Museum, contoh sumur tradisional orang Emirat zaman dulu.
Di dalam museum, ada diorama kehidupan tradisional orang Emirat, termasuk beternak onta, kambing, menanam kurma, dagang di pasar, masak pakai tungku dll.

Pasar Tradisional

Dari museum menuju ke pasar, kami menyeberang sungai naik perahu. Lucu juga… Pasar tradisional atau yang sering disebut Grand Bazaar ini luas banget dan menjual beragam barang. Saking luasnya, kami hanya sanggup menyusuri beberapa lorong saja, lagian nggak ada yang mau dibeli. Di pasar ini silakan MENAWAR dengan tega! Hahaha… cocok buat yang suka ke Tanah Abang.

Mau beli baju, sarung bantal, hiasan rumah, tempelan kulkas sampai lampu gantung, ada semua. Oleh-oleh yang populer adalah cokelat isi kurma dan beragam jenis kurma. Saya sempat beli saffron, soalnya jauh lebih murah dari pada beli di Jakarta, Rp 200.000 sudah dapat 5 gram, bakal awet buat diminum beberapa bulan.

Desert Safari

Kalau kamu ikut tour ke Dubai dan dalam itinerary ada Desert Safari, sebaiknya cek dulu apakah sudah included dalam paket tour kamu, atau ada biaya tambahan. Jangan sampai sudah di Dubai, sudah mau berangkat tour ke gurun pasir terus ditagih satu juta lebih per-orang karena ternyata Desert Safari belum termasuk dalam paketmu. Hal ini terjadi pada 6 orang dalam rombongan kami. Mereka menolak bayar lagi, karena sebelumnya tidak ada penjelasan soal ini.

Tapi jangan kuatir. Pihak hotel di Dubai juga biasanya ber-partner dengan operator Desert Safari. Malah ternyata ikut tur operator rekanan pihak hotel ini biayanya hanya Rp 700.000 per-orang. Lebih murah dari pada biaya tambahan yang diminta pihak travel dari Indonesia.

Desert Safari ini intinya kita diajak naik mobil 4 wheel drive keliling gurun pasir Lahbab di sore hari… Jalannya tentu naik-turun ajrut-ajrutan gitu… Kadang sampai terlompat di dalam mobil, bahkan kejeduk!! Buatku seru! Tapi nggak cocok buat ibu hamil. Lalu berhenti dan foto-foto di gurun. Sayangnya tour kami perginya kesorean, jadi sampai di gurun pas banget sunset, fotonya kurang terang.

Sesudahnya, kita dibawa ke sebuah camp di tengah gurun. Di sini pengunjung bisa naik onta buat foto, lalu malamnya ada pertunjukan belly dance 2x, fire dance dan dance yang muter-muter gitu…. Saya skip naik onta-nya. Langsung nonton tari-tarian dimana saya kagum sama mbak penarinya, jago bangeeeettt!!

Kami dikasih snack berupa kebab kecil dan gorengan semacam bakwan, enak loh! Minuman teh, kopi dan soda juga tersedia. Lalu setelah dua tarian, ada break makan malam. Menu prasmanan terdiri dari nasi, pasta, kentang, sayur beet ditumis, kacang polong berkuah becek, sama kol segar diiris tipis-tipis. Kalau sudah ambil yang prasmanan, kita antre di meja berikutnya untuk dikasih lauk daging kambing bakar dan ayam bakar, masing-masing sepotong saja, dan ini dijatah, diambilkan sama mas-mas Arab yang kekar gitu, jadi nggak berani minta tambah ๐Ÿ™‚

Semua tontonan selesai, kami naik mobil siap kembali di hotel. Rombongan kami dipisah tempat menginapnya, sebagian besar di Ibis Central dan sebagian lagi di Ibis Al Rigga termasuk saya. Pas sudah naik mobil, drivernya nggak mau mengantar ke dua hotel! Dia hanya mau mengantar ke Ibis Central karena kami berangkat dari hotel tersebut. Duh… bete banget malam-malam kalau masih harus mencari taksi lagi buat balik ke hotel.

Day 4, Minggu 13 Januari 2020.

Masjid Sheikh Zahid

Hari ini kami naik mobil 2 jam dari Dubai ke Abu Dhabi, dengan tujuan utama Masjid Sheikh Zahid yang terkenal indah sekali. Jadi kata tour guide kami, Abu Dhabi dan Dubai adalah 2 kerajaan paling kaya di antara 7 kerajaan yang tergabung dalam Uni Emirat Arab. Makanya dua kota inilah yang paling terkenal.

Masjidnya Subhanallah… cantiiiik banget!!! Beneran shining shimmering splendid kayak gambar-gambar di negeri 1001 malam gitu. Apa lagi pas kesana cuaca lagi cerah banget. Alhamdulillah… Saya benar-benar terpesona. Karena masih agak pagi, jadi hanya sempat shalat Dhuha saja. Tak apa, gitu aja udah seneng kok.

Dari masjid ini kami dibawa makan siang ke sebuah warung nasi biryani yang enaaaak bangetttt!!! Asli ini beneran warung kecil yang lokasinya di tengah gang komplek konstruksi bangunan. Sama sekali bukan tempat turis. Seadanya banget warungnya. Tapi nasi briyani nya sungguh luar biasa nikmat dan satu porsi cukup dimakan 3 orang! Potongan daging kambingnya segede lengan saya, dan empuuuuuk banget! Gurih banget. And guess what? Harganya murah, cuma 24 dirham untuk saya dan Mama makan berdua. WOW!

Ya, meskipun dine in, makan di warung itu pakai sendok plastik. Sangat nggak ramah lingkungan ya?

Habis makan siang, kami diajak ke sebuah mall besar di Abu Dhabi lokasi World Of Ferrari. Jadi mall ini ada sayap kiri dan kanan. Salah satunya adalah tempat World Of Ferrari itu. Kalau kamu mau beli Ferrari, nah, silakan pilih di tempat ini. Saya sih nggak masuk ya… males aja, ngapain bayar tiket 300 dirham (Rp 1,2 juta) cuma lihat-lihat mobil doang. Hehehe… Jadi saya dan mama jalan-jalan aja keliling mall itu. Mall-nya biasa saja sih, masih lebih keren Grand Indonesia atau Pacific Place.

Hari berikutnya kami pagi-pagi check out, menuju bandara dan pulang ke Jakarta melalui Brunei Darussalam. Kami sempat singgah di Brunei sebentar, keluar bandara dan keliling kota naik taksi. Kotanya kecil banget, macam kota kabupaten. Dalam dua jam saja sudah selesai kami kelilingi plus stop di beberapa titik untuk foto.

Jadi…. Gimana Dubai? Recommended nggak sebagai destinasi wisata?

Buat saya, not recommended. Saya merasa semua yang terlihat di Dubai ini megah, mewah tapi superficial. Kayak nggak ada ruh-nya. Dari satu tempat ke tempat lain nafasnya sama, yaitu komersialisme. It’s all about commerce and consumerism. Kalau ke Dubai sekalian untuk bekerja atau bisnis, itu cocok. Tapi kalau buat jalan-jalan saja, aduh… ada ribuan tempat lain di dunia ini yang lebih menarik.

Kamu sudah pernah ke Dubai? Gimana menurutmu?

Penulis: Swastika Nohara

I'm a freelance content and script writer for movies, television, commercials and internet-related content. With a team, I also do documentaries, video tutorial, video presentation and corporate video. I'm based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth. For me, life is like a cup of coffee. Life is the coffee while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee providedโ€ฆ. So, donโ€™t let the cups drive you, enjoy the coffee instead!

12 thoughts on “Wisata Ke Dubai: Bagus Gak?

  1. Aku pernah ke dubaiii. Tapii cuma buat transit doangg. Hiks >_<

  2. Seru banget mamanyaa ๐Ÿ˜†
    Jadi mama bawa berapa topi mba?

  3. duh hotel 120 juta itu kayak apa ya dalemnya ha ha, eniwei si ibuk pinter milih mas-mas yang bolos jumatan ๐Ÿ™‚

  4. Kenapa Royal Brunei, ketimbang Etihad atau Emirates? Apa lebih murah?
    Gak ke Louvre Abu Dhabi mbak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s