Libur lebaran tahun ini sungguh yang terbaik dan tak terlupakan. Kami berenang di laut bersama hiu paus! YAY! Kok bisa? Dimana? Gimana caranya? Gigit gak?
Jadi gini, semua berawal sejak melihat foto hiu paus di perairan Nabire beberapa tahun lalu. Wah, saya langsung terpukau dan berjanji kalau ke Nabire lagi wajib menyambangi hiu paus. Gimana enggak… penampakan whale shark yang besar, seram tapi baik hati itu sungguh menggoda pengin diajak kenalan!
Kami berangkat pagi-pagi dari Nabire, sebuah kota kecil di Papua bagian tengah. Kalau kamu ingat bentuk Papua di peta yang seperti kepala burung, nah Nabire ini terletak di leher burungnya, persis di tepi Teluk Cenderawasih. Dari pusat kota Nabire kami naik mobil selama 15 menit saja ke desa Kalibobo, tempat speed boat sewaan yang kami pesan bersandar. This is where the adventure begins!
Speed boat yang kami sewa sederhana banget, tanpa atap, jadi dijamin akan kepanasan dan kehujanan sepanjang hari di laut. Di sini saya sempat kecewa, karena biasanya kalau sewa speed boat otomatis ada atapnya, biar nggak kepanasan banget. Padahal harga sewanya cukup mahal, 3 juta rupiah untuk trip sehari. Tapi birunya laut terlalu sayang untuk dilewatkan. Jadilah kami berangkat!
Motoris kami dua orang, Pak Tepi dan Pak Musa, plus satu orang asisten motoris yang saya lupa namanya. Mereka membawa kami island hopping dulu ke Pulau Noburi dan Pulau Pepaya, baru ke Kalilemon, sebuah pulau yang dekat ke beberapa bagan tempat hiu paus sering terlihat.
Pulau Noburi
It’s just us on this island, it feels like a private beach! It’s amazing and calming at the same time. Semoga masih sepi dan terjaga jernihnya saat kami ke sini lagi satu dekade dari sekarang.
Sekitar jam 10 pagi kami sampai di Pulau Noburi, main-main di pantainya yang super jernih, snorkeling dan balapan renang sampai puas. Pulau ini kecil dan nampak tak berpenghuni. Jangan lupa pakai sun screen 30 menit sebelumnya. Puas deh mau main di sini!
Lihatlah jernih airnyaaaa…
Pulau Pepaya
Sekitar satu jam saja di Pulau Noburi, kami lalu bergerak ke Pulau Pepaya yang lebih besar, dengan pantai dan air laut yang sama jernihnya. Another private beach on this secluded island!
Duh… nggak tahan banget langsung nyebur begitu lihat warna hijau toska kebiruan yang menghampar. Pulau Pepaya ini lebih seru untuk dijelajahi dan snorkeling, karena lebih besar, banyak pohon kelapa dan pohon besar yang dahannya landai, koralnya juga masih bagus.
Sudah tengah hari, habis snorkeling dan berenang, tentu kami semua lapar! Udahlah, mari buka bekal dan makan siang di pantai bareng bapak-bapak motoris. Oiya, kita juga siapin bekal nasi, lauk, dan sambal dalam rantang yang porsinya cukup untuk sharing dengan 3 bapak motoris, soalnya di pulau-pulau ini nggak ada warung makan coy!
Jangan lupa bawa bekal makan siang!
Maka, dengan perut kenyang kami lanjutkan perjalanan ke Kalilemon, sebuah pulau yang di sekitarnya ada bagan-bagan tempat hiu paus sering mampir mencari makan. Jadi di Nabire, hiu paus kadang terlihat berenang di dekat-dekat bagan (semacam karamba besar di tengah laut) milik para penangkap ikan. Mereka suka makan ikan-ikan kecil yang banyak terdapat di sekitar bagan,
Nah, motoris kami sudah tau dimana letak bagan-bagan itu. Saya sih nggak kebayang gimana caranya menentukan arah di tengah laut yang sejauh mata memandang hanya warna biru air laut dan langit saja???
Misalnya mau ke bagan A, arahnya harus ke utara sejauh sekian KM, lalu gimana menentukan arah tanpa kompas? Bapak motoris kami asik aja nyetir boat gak pakai kompas atau GPS. Pas saya tanya jawabnya cuma, “Ya tau sudah!” Hih! Gak mau bagi-bagi rahasia si bapak.
Foto di atas adalah rumah pohon di Kalilemon, kami mampir sebentar sekedar untuk main-main dan lompat ke laut dari atas rumah pohon itu. Lihatlah sosok yang lagi ngintip di balik dahan pohon sambil ngumpulin nyali buat lompat ke laut. Seru juga!
Dari Kalilemon kami lanjut mencari hiu paus. Satu bagan kami datangi, kata yang jaga bagan nggak ada penampakan hiu paus. Lalu kami pindah ke bagan kedua… tetap tidak ada. Agak sedih, tapi bapak motorist bilang, masih ada bagan yang lain, kita cari lagi. Oke.
Bagan ketiga, keempat dan kelima kami datangi di tengah terik matahari yang mencorong, tetap saja belum ada penampakan hiu paus. Bapak motoris cerita dia pernah mengantarkan tamu sudah seharian keliling laut sini, tapi nggak ketemu satu ekor hiu paus-pun. Jadi memang untung-untungan. Oh no!!!
Di sini saya mulai galau. Bapak motoris tancap speed boat, kami berkeliling lagi. Duh, plis dong ketemu hiu pausnya. Kami udah datang jauh-jauh, lewat jalan darat, laut dan udara, masa ngga ketemu hiu pausnya?
Bapak motoris membesarkan hati kami, ayo ke bagan lain lagi, semoga kali ini ketemu whale sharks. Hari sudah sore, ini harapan terakhir saya sebelum harus balik karena matahari sudah condong ke barat. Selanjutnya sekitar 20 menit di perahu, saya duduk hening, meminta ijin agar bisa ketemu hiu paus. Kami cuma ingin berenang bareng kok. Udah.
Di bagan terakhir ini, ada hiu pausnya!
Wooohoooo!!! Seekor hiu paus sebesar speed boat kami berenang mendekat. Lalu sekitar satu menit kemudian, seekor hiu paus lain datang lagi! Lalu beberapa saat kemudian, datang lagi, jadi tiga! Lalu datang lagi, jadi empat…. lalu sebentar kemudian datang lagi, jadi lima! ASTAGA!! ADA LIMA HIU PAUS BERENANG DI DEPAN KAMI!
Saya mengajak Sabai, putri saya, nyebur ke laut. Sore itu arus cukup kencang, sehingga niat saya untuk berenang tanpa pakai jaket pelampung ditolak keras oleh Bapak motoris. Baiklah, kami pakai jaket dan nyemplung!
Hi Destiny and the whole family!
Awalnya saya ngeri juga liat mulutnya mengaga lebar dan menyedot ikan-ikan kecil (plus air entah berapa liter). Tapi lama-lama seneng banget mengamati gerak-gerak mereka yang berenang pelan di depan mata. Ya Tuhan, indah sekali!
Beneran seperti deskripsinya bahwa “The whale shark (Rhincodon typus) is a slow-moving filter-feeding carpet shark and the largest known extant fish species. The largest confirmed individual had a length of 12.65 m and a weight of about 21.5 ton. The species originated about 60 million years ago.”
Wow! Originated about 60 million years ago!
Sabai senengnya bukan main!! “Aku berenang sama Destiny!” serunya berkal-kali. Tokoh whale shark dalam film animasi Finding Dori memang bernama Destiny. Saya ingatkan untuk tidak menyentuh hiu paus ini, meskipun kadang hiu pausnya yang berenang mendekati kita. Ya sebisa mungkin menghindar biar nggak senggolan deh…
Setelah puas berenang, saya dan kedua putri saya duduk-duduk di bagan menghabiskan sore sambil terus memandangi hiu paus-hiu paus berenang cantik di bawah kami.
I can not thank You enough dear God, for such an awesome experince. Kami pun pulang dengan senyum, mesti senja itu langit mendung dan hujan turun dalam perjalanan pulang di tengah laut. Anggap saja guyuran air hujan ini membasuh air asin di tubuh kami. For sure I will be back again!
Buat yang ingin tau hitungan biayanya, seperti ini:
Tiket pesawat Jakarta-Nabire sekitar 6 juta PP per orang (kalau high season lebih mahal, low season dengan Lion air bisa dapat 2,8 juta one way). Saat ini ada Garuda-Explorer dan Lion air-Wings air sebagai operator. Lama perjalanan biasanya berangkat jam 21:30 wib, sampai di Nabire jam 07:00 wit, termasuk transit, biasanya 2x.
Sewa speed boat seharga 3 juta untuk sehari termasuk honor motoris dan BBM, cukup untuk island hopping ke Pulau Noburi, Pulau Pepaya, Pulau Kalilemon dan ke beberapa bagan. Boatnya cukup untuk 10 orang termasuk motorist (biasanya 2 orang), jadi kalau mau lebih hemat bisa sharing ongkos sewa bersama 8 orang penumpang.
Kalau mau sewa perahu kayu bermotor yang oleh penduduk setempat disebut jonson, bisa lebih murah, di kisaran harga 2,5 juta sehari penuh, dengan kapasitas jumlah penumpang sama kayak speed boat di atas. Tapi perahu motor ini lebih pelan jalannya. Dengan speed boat, kami menempuh perjalanan 90 menit berangkat ke Pulau Noburi dan hampir dua jam perjalanan pulangnya, sambil diterpa hujan dan membelah arus yang kencang.
Uang secukupnya untuk beli bekal makan siang dan air minum selama di perjalanan.
Jadi kapan kamu mau berenang sama hiu paus di Nabire?
Desember 4, 2018 pukul 2:21 pm
Terimakasih infonya https://bit.ly/2O3d99q
Juli 6, 2018 pukul 10:06 pm
Halo mba,
Punya no HP yg punya speedboat ga di sana?
Trus mba di sana nginap dimana? Thanks for the advices.
Juli 9, 2018 pukul 8:07 pm
Nomor HP bapak yg sewa speedboat terakhir aku hubungi lagi udah ngga aktif, mungkin dia ganti. Di sana aku menginap di KESUMA homestay, di Jl Merdeka (pusat kota Nabire)
Ping-balik: Resolusi 2018, Edisi Revisi | BLOG Swastika Nohara
Ping-balik: 5 Kemudahan Tinggal Di Apartemen Tengah Kota | BLOG Swastika Nohara
Agustus 21, 2017 pukul 12:18 pm
*masukin wishlist meski ga bisa berenang*
Agustus 22, 2017 pukul 3:15 pm
Hahaha… pakai jaket pelampung aja, aman!
Agustus 15, 2017 pukul 9:20 am
wwiiiuuuhhh,, seru banget kelihatannya mbak
Agustus 16, 2017 pukul 4:13 pm
Iya, seru banget deh! Yuk ke Nabire yuk?
Ping-balik: Main Bareng Dalam One Indonesia | BLOG Swastika Nohara
Agustus 9, 2017 pukul 9:38 pm
Aku mau bangeeet mbaaa… sekalian diving! Ya Tuhaaan.. aku kangen beraaat Indonesia! Ngga sabar utk eksplorasi lagi.. dan Papua is on top of my list!
Agustus 11, 2017 pukul 9:45 am
Ayo ayo segera disiapkan tripnya, direncanakan semuanya 🙂
Agustus 6, 2017 pukul 10:23 pm
Blognya keren banget…
Salam kenal ini kunjungan pertama saya 😊
Agustus 7, 2017 pukul 11:20 am
Halo Rahman! Terima kasih udah mampir, semoga sering2 mampir 🙂
Agustus 7, 2017 pukul 11:21 am
Pasti . . .
Saya suka banget baca blog travelling… 🙂
Agustus 7, 2017 pukul 7:20 pm
Mantap!!!
Agustus 6, 2017 pukul 3:15 pm
Untung harga tiket pesawat ke Nabire mayan mahal ya, kalo gak bisa pada rame-rame ke sana demi bisa poto ama hiu paus. xD
Agustus 7, 2017 pukul 11:20 am
Hahaha… that’s another way of looking at it 🙂
Juli 28, 2017 pukul 3:54 pm
oh my god…gw bacanya mulessss… ngebayangin kalian berenang deket banget dengan hiu paus dengan bekal tips “berusaha ga senggolan”… very great adventure Tik…
Juli 28, 2017 pukul 6:24 pm
hahaha… Yuk ke Nabire Ti? Ntar kita renang bareng sama hiu paus yuk?
Juli 27, 2017 pukul 8:30 am
Klo jauh2 kesana trus gak ketemu hiu paus bisa sedih bgt ya..
Juli 28, 2017 pukul 11:08 am
wiiih.. nangis bombay kali 🙂 Atau ya coba lagi melaut esok harinya
Juli 26, 2017 pukul 7:55 pm
foto2nya bagus banget ih
Juli 28, 2017 pukul 11:08 am
thank you 🙂
Juli 25, 2017 pukul 4:43 pm
Foto kedua dari atas itu favorit deh. So blue.. 🙂
Juli 28, 2017 pukul 11:08 am
Ahahaha… iyah, memang birunya bagus 🙂
Juli 24, 2017 pukul 9:12 pm
Jadi mau kesanaaaaa jugak….
Juli 28, 2017 pukul 11:09 am
Ayok! mau bareng? Kapan?
Juli 24, 2017 pukul 1:59 pm
Antimainstream banget mbak liburannya…. keren luar biasa.. waktu liat di IG ngeri2 sedep gituyaa berenang sama hiu… hiiiiii
Juli 28, 2017 pukul 11:09 am
hahaha… ngerinya cuma sebentar, pas udah nyemplung tinggal sedepnya 😀
Juli 24, 2017 pukul 10:32 am
Luar Biasa….
Juli 28, 2017 pukul 11:09 am
thank you 🙂
Juli 24, 2017 pukul 10:18 am
Motorist ini belajar arah mata angin di mana, deh? penasaran. Di Maluku motorisnya juga gitu. buset, kagak pake GPS hapal aja gitu arah-arahnya :takjub:
Aku mau ke sanaaaaaaaaa ah.
Juli 28, 2017 pukul 11:10 am
Padahal mereka nggak sekolah motorist, nggak sekolah navigasi pun! Nah lo…
Juli 24, 2017 pukul 10:10 am
Menakjubkan…Paus yang baik hati dan bijaksana. Shin Chan namanya 😀
Juli 28, 2017 pukul 11:10 am
hahaha… shin chan idola masa keci!
Juli 24, 2017 pukul 9:43 am
wow ikan nya terlihat besar dan sangat menyeramkan ..
Juli 28, 2017 pukul 11:10 am
memang sangat besar dan tampak seram, tapi sebenernya baik hati
Juli 24, 2017 pukul 6:28 am
Bagus bangeet pulaunya, airnya sebening kaca. 😁
Wadaw gak nyangka sampe 21,5 ton, berat banget itu hiu paus hehe.
Juli 28, 2017 pukul 11:11 am
berat mana sama hutang negara? 😀