BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

5 Hal Seru Di Pagaralam

40 Komentar

Pagaralam, nama yang romantis untuk sebuah daerah. Langsung terbayang sederet pepohonan di punggung bukit yang menjadi pagar bagi alam. Mereka berdiri kokoh memagari apapun kekayaan alam yang ada di bukit itu. Rupanya imajinasi saya ini tidak terlalu meleset. Pertama kali menginjakkan kaki di Pagaralam, mata saya langsung disambut dengan hamparan kebun teh nan luas di punggung bukit, di area Gunung Gare, dengan deretan pohon di sela-sela kebun teh itu.

tea pagar alam IMG_2300

Saya dan teman-teman blogger terkenal dari manca negara sampai di Pagaralam saat hari sudah menjelang petang, ketika kabut sutra ungu perlahan turun menyelimuti perkebunan teh. Begitu sampai di villa wisata Gunung Gare, saya langsung duduk di teras villa dan memandang hamparan karpet hijau pepohonan teh di sekeliling. Melihat setting syahdu kebun teh ini, di kepala saya langsung berkelebat cerita-cerita drama misteri ala Hercules Poirot atau Sherlock Holmes. Tentu sedap sekali kalau shooting film drama misteri dengan setting kebun teh ini.

Ah, lupakan sejenak skenario film yang sudah memenuhi kepala. Saya harus segera mandi dan tidur cepat, karena besok paginya acara jalan-jalan sudah padat.

1. TEA WALK! YEAY!!!

I love tea walk! Berjalan di antara hamparan kebun teh, sambil sesekali berfoto-foto manja, adalah kegiatan yang membawa imajinasi saya terbang tinggi dan liar. Seperti banyak kebun teh lain di Indonesia, kebun teh di Pagaralam ini sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Para pekerjanya juga banyak didatangkan dari tanah Jawa, misalnya Bu Warsinah, generasi kedua dari Jawa Tengah yang sudah 40 tahun lebih bekerja sebagai pemetik teh.

Di usianya yang sudah hampir 60 tahun ini Bu Warsinah mendedikasikan hidupnya sebagai pemetik teh untuk menafkahi tiga orang anaknya. Setiap hari dia sudah standby bekerja sejak pukul 7 pagi, dan terus memetik teh hingga pukul 2 siang. Sehari antara 50-80 kg teh berhasil dia petik. Kebayang nggak betapa beratnya gendongan teh di punggung Bu Warsinah ketika hari sudah siang?

Puluhan kilogram dauh teh… Wow!

Setiap kilogram daun teh dijual ke pabrik seharga Rp 750-1200 per kilogram, katanya harga bisa fluktuatif. Jadi penghasilan Bu Warsinah dari memetik daun teh bisa fluktuatif antara Rp 37.500 hingga Rp 96.000 per hari. Bu Warsinah bilang, dia bersyukur masih kuat bekerja, berapapun penghasilannya. Berjumpa dan ngobrol dengan orang-orang seperti Bu Warsinah inilah yang sering menjadi pengingat bagi saya, untuk selalu mensyukuri sekecil apapun karunia yang kita nikmati.

pagaralam kebun teh ramai

2. RUSTIC TEA FACTORY

Dari kebun teh, kami mampir ke pabrik pengolahan teh PTPN 7, masih di area yang sama. Pabrik ini sudah berdiri sejak tahun 1929. Masa nggak capek ya berdiri terus selama 80 tahun lebih? Nggak pengin duduk apa?

Gedung, alat dan fasilitas pabrik sebagian besar masih otentik! Rustic, itulah kesan pertama saya. Sayangnya mereka tampak tidak siap menerima pengunjung. Hal ini terlihat dari lamanya kami menunggu di depan pabrik, hingga akhirnya mereka mengijinkan hanya 10 orang untuk masuk, itu pun dengan catatan dilarang memfoto di dalam pabrik. Padahal rombongan kami ada 17 orang. Maka saya mengalah, memberi kesempatan bagi kawan-kawan dari Malaysia dan Singapore untuk masuk. Saya, Simbok Venus, Bolang, dan Jo menunggu dengan duduk lesehan di tangga depan pabrik.

pagaralam pabrik teh

3. SITUS MEGALITIKUM (MIRIP) RUMAH HOBBIT

Beranjak dari kebun teh, kami menuju sebuah situs megalitikum di tengah sawah di Pagar Alam. Katanya ada 60 lebih situs megalitikum tersebar di seantero Pagar Alam, dan yang kami datangi adalah salah satu yang populer. Arkeolog atau pengumpul batu akik pasti betah main-main di sini soalnya ada arca berbentuk wajah manusia, dolmen, dan rumah batu.

Begitu mendengar kata ‘rumah batu’ dan melihat bangunannya, saya langsung kebayang kalau ini semacam rumahnya Hobbit gitu dong… Maka saya spontan masuk dan berfoto di rumah batu itu. Lalu, habis saya foto dan saya twit foto itu, datangnya bapak dari Disbudpar setempat, beliau dengan semangat dan ceria berkata kalau rumah batu itu sejatinya adalah KUBURAN! Iya, tempat buat menaruh orang mati, a.k.a jenazah, a.k.a mayat jaman dulu.

MAAAAKKKK…. Berarti barusan saya foto-foto manja di dalam kuburan ituuu!!! Langsung buru-buru saya baca doa, semoga nggak ada yang nempel atau apalah. Kan banyak ya cerita-cerita horror kalau abis main dari kuburan 😥

pagaralam rumah batu

 

4. MY FIRST OFF ROAD EXPERIENCE!!!

Saya selama ini agak alergi sama yang namanya kegiatan off road. Coba bayangin, naik mobil tanpa kaca jendela samping, nyetir/disetirin gujrak-gajruk, badan terhempas naik-turun, plus nyebur lumpur, udah pasti pakai kecipratan lumpur dan sepatu dijamin tebel sama lumpur, apa enaknya?

Mending nyetir antar kota di New Zealand yang pemandangannya indah sambil lihat kawanan domba kan?  *oke, stop berkhayal.

Ternyata di Pagaralam ini ada satu spot di Padang Serunting, desa Rebah Tinggi, Dempo Utara tempat kawula mudanya main off road, baik roda empat maupun roda dua, sayang belum ada yang versi kursi roda. Saya tadinya skeptis, mikir, “Ah, males banget deh gojrak-gajruk naik mobil off road di sini. Foto-foto aja dari atas bukit trus capcus deh!,”

Sampai tiba-tiba petir menggelegar…

Lalu dari balik rimbunnya semak belukar muncullah seorang gadis manis berjilbab, masih muda belia, duduk dengan gagah di balik kemudi sebuah jeep biru. Gadis ini tersenyum ramah pada saya, sambil bilang, “Ayo kak off road sama aku?”

Waaah… saya luluh, nggak bisa nolak. Saya pikir, asik nih drivernya kalem, goncangannya pasti masih agak alus lah… maka naiklah saya ke mobil jeep yang dikemudikan Bimbim, nama gadis muda itu. Ternyata sodara-sodara…. BIMBIM NYETIRNYA SAMA AJA GOJRAK-GAJRUK SAMPAI MENTAL-MENTUL!!! Hahahaha… Jangan tertipu sama penampilannya yang lembut, Bimbim nyetirnya sangar juga! Dia bilang, nggak seru off road kalau nggak sampai gojrak-gajruk sampai mental. Bener juga sih.

Tapi ini bukan kejutan yang sesungguhnya.

Saya terkejut nyaris mati berdiri ketika ngobrol dan Bimbim cerita kalau dia sudah hobi nyetir off road selama setahun terakhir dan sekarang dia masih KELAS 3 SMP! Yasalaaaam… saya off road disetirin anak SMP!!! Punya SIM nggak Bim?

off road FullSizeRender 3

5. CURUP EMBUN

Air terjun. Tempat di mana air-air beterjunan dari ketinggian puluhan meter. Main, mandi dan foto-foto ala model kalender tahun 1990-an adalah kegiatan seru sehabis kotor demek kena cipratan lumpur saat off road. Udah, nggak usah saya tulis panjang lebar, nikmati aja fotonya dan bayangkan kamu berada di sana.

SAMSUNG CSC

Khai, Bolang, Saya, Fiona, Trisna, Cumi, Jo, Hendrik, Jac

This trip was super fun because of the people I shared it with. Featured in the photo above: Khai, a KL based blogger who is kind and friendly, Bolang, the pride of Indonesia’s blogsphere with his awesome travel videos, myself, Fiona, the pretty and adventurous TV host/blogger, Trisna, a super nice and lovely blogger/writer at Sumabeachlifestyle, Cumi, he’s simply irresistable…he will add some amazing sparks to any trips!

Then there is Jo, the cool travel blogger at ccfoodtravel who had broadened my horizon on HK movies especially in their golden years, Hendric, who’d effortlessly jump into that amazing Bakasana pose whenever he sees beautiful view as background, and Jaclynn, a Singapore based blogger behind theoccasionaltraveller website. With Suzan, Ira, Mamaniss, Rendy, Om Nduut and Laras, they are all awesome travel mates I can’t get enough of!

Okay, back to Pagaralam. Pagaralam bisa ditempuh dengan naik mobil selama 7 jam dari kota Palembang. Memang jauh, tapi kalau jalan sama pacar atau suami/istri tersayang, pasti nggak terasa jauhnya, cuma terasa mesranya. Eaaaa… tarak dungces!

Bisa naik bis atau sewa mobil Avanza dari Palembang seharga Rp 700an ribu perhari sudah sama bensin dan driver. Enaknya kalau bawa/sewa mobil, kita bisa berhenti sesuka hati di sepanjang rute buat foto-foto atau nyicipin kulier lokal yang enak-enak. Oh, di jalan ada aja penjual duren yang (katanya) durennya enak-enak semua!

Kami menginap di Villa dan Hotel Wisata Gunung Gare, penginapan yang bersih dan nyaman terletak di tengah hamparan gunung teh, kamar mandinya ada air hangat. Ini penting karena hawanya adeeem…. Sayangnya villa ini nggak menyediakan gantungan di kamar mandinya, nggak ada keset jadi keluar kamar mandi dijamin lantai jadi becek dan makanannya rata-rata pedas. Sisi kerennya, mereka menyediakan organ tunggal yang bisa dibooking, sehingga teman-teman saya PUAS UNJUK GIGI NYANYI SEMALAMAN!

pojie villa gunung gare

Apa lagi Pojie, seorang pemuda gagah perkasa dari Kuala Lumpur yang pengetahuannya akan lagu-lagu pop Indonesia sungguh mengagumkan! Kalau dia ikut Berpacu Dalam Melodi, saya jamin Kus Hendratmo akan mangap kagum sama pemuda satu ini! DIA HAFAL LAGUNYA JAMAL MIRDAD! Ja-mal Mir-dad. It was like a century ago 😀

It was fun! Thank you Disbudpar Sumatera Selatan atas ajakannya jalan-jalan! Foto-foto ciamik dari perjalanan ini ada di Instagram saya @swastikaNohara dan twitter saya @sabaiX Nah, kalau masih penasaran di link berikut ini ada daftar destinasi seru lainnya di Sumatera Selatan, khusus buat kamu!

Kamu mau diajak ke sini?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

40 thoughts on “5 Hal Seru Di Pagaralam

  1. Wah mbaaakk. Jauh yaaa 😂

  2. Itu Pojie pengetahuan lagu-lagu Indonesianya luar biasa. Sampe lagu jadul juga dia tahu. Entah dicekoki apa di rumahnya sampai hapal hampir semua lagu Indonesia.

  3. nginepnya kurang lama ya kak.. minimal 4 hari deh baru puas :)))

  4. Saking serunya sampe mau inget Pance Pondaag aja harus abis Bakso semangkok dulu.

  5. sudah lama pengen ke sini, tp terganjal jaraknya yg mayan jauh dari Palembang dan ga ada kendaraan umum. Tapi sekarang malah udah ada pesawat ya?

  6. sukaaa banget ama landscape sawahnya

  7. Ish ish ish enaknya Maaaaakkk. Impian banget nih bisa eksplorasi Pagar Alam. Makasih blognya jadi dapat referensi bagus buat ke sana nanti. ihihiiiiyyy~

  8. Seru banget Mbak Tika. Ternyata keindahan pagar alam yang banyak diceritakan orang gak bohong ya 🙂

  9. Keren kali kak tulisannya!! Bikin aku pengin beli tiket ke palembang sekarang juga terus capcusss ke pagaralam!!! Dingin di sana ya kak?

  10. Kak … Kalo pergi nya ama selingkuhan atau pasangan yg ngak sah. Dijamin makin hot pagaralam #Peyuk ngamar mulu haha

  11. Kak … Kalo pergi nya ama selingkuhan atau pasangan yg ngak sah. Dijamin makin hot pagaralam #Peyuk

  12. Wahahaa pede bgt masuk kuburan

  13. Wah mbak seru banget ini ceritanya… hahaha ada bukti duet pula sama Pojie

    *dukung Pojie ikut kuis Berpacu dalam Melodi

    btw itu kuis masih ada gak ya mbak 😀

  14. Postingan ini terasa belom lengkap tanpa video mbak Tika yang joget bersama om cumi. Inul mah lewaaaaaaaaattt. Lewat doang hehehe

  15. Aduh tempatnya sangat menyejukkan sekali mba, apalagi di suguhi dengan kebun teh yang ademnya luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s