BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Ada Apa Di Usia 40?

13 Komentar

Life begins at forty, some people say. Dulu waktu masih les bahasa Inggris di LIA pake seragam putih abu-abu, saya nggak ngerti maksudnya hidup dimulai umur 40. Saya tanya ke guru LIA, jawabannya normatif banget, nggak memuaskan. Emang ada beberapa hal yang kudu kita jalanin, baru kita bisa ngerti maksudnya apa. Nah, hal ini salah satunya.

Blog ini nggak ada posting baru di bulan Januari 2019, padahal biasanya saya semangat menulis di awal tahun sekaligus bulan saya ulang tahun. Awal tahun ini bergulir begitu cepat, tau-tau udah February. Mungkin karena saya pindah rumah dan memulai kehidupan baru, jadi energi saya dipusatkan untuk mengatur segala hal di rumah termasuk tiga orang penghuninya yang sangat saya sayangi. Mungkin memang saya lagi males nulis blog aja.

Oh, rumah kami yang sekarang sangat menyenangkan btw. Ukurannya pas, nggak kecil dan nggak guede banget karena kalau si mbak mudik pegel juga ngepel sendiri. Pembagian ruangnya juga pas dengan keperluan kami, 3 kamar tidur, 1 kamar kerja dan area servis yang lebih dari cukup. Sinar matahari pagi melimpah di teras depan tempat tanaman-tanaman saya duduk manis.

Punya dapur bersih dengan jendela besar yang langsung mendapat sinar matahari pagi, ini mimpi saya sejak dulu. Lalu jajaran solar panel di atas genteng itu sungguh memotong banyak rekening listrik soalnya ada 6 AC yang kadang nyala bersamaan. Alhamdulillah banget lah pokoknya dapat yang nyaman begini…

mayang8 residence

Balik lagi soal life begins at forty, saya jadi ingat filosofi dari tembang macapat Jawa. Katanya begini:

  • Maskumambang: Tembang pertama ini mewakili kehidupan manusia saat masih berupa janin dan terapung (kemambang) dalam rahim ibu.
  • Mijil: artinya muncul, lahirnya seorang manusia.
  • Sinom: kata nom artinya muda, menunjukkan masa kanak-kanak (0-7 tahun), masa bermain dan belajar sebanyak-banyaknya.
  • Kinanthi: masa masih dibimbing (dikantheni) oleh orang tua (8-14 tahun) supaya kelak bisa mandiri menjalani kehidupan.
  • Asmarandana: mulai ada asmara, alias ketertarikan antara pria dan wanita (15-21 tahun)
  • Gambuh: dari kata jumbuh yang berarti cocok. Bila yang kasmaran tersebut ada kecocokan silakan lanjut ke jenjang perhikahan (22-28 tahun). Cusss gak usah mikir nanti KPR rumah bayarnya gimana. Ngontrak dulu juga boleh.
  • Dhandhanggula: dandang adalah tempat menanak nasi, gula adalah rasa manis. Pada tahap ini manusia merasakan indahnya hidup berumah tangga sekaligus kewajiban yang harus dipenuhi bagi keluarga barunya itu. Juga menggambarkan manusia menikmati beragam pencapaian duniawi (usia 29-35 tahun).
  • Durma: berasal dari kata ‘derma’ yang artinya memberi bagi sesama. Pada tahap ini dalam diri manusia semakin kuat keinginannya untuk memberi pada sesama, bisa memberi harta atau memberi ilmu. Intinya kita ingin berkontribusi membantu sesama. (36-42 tahun) Namun ada juga yang menerjemahkan durma berasal dari kata mundur senggama, dimana aktivitas seksual berkurang. Pada terjemahan ini, saya agak kurang setuju. hehehe…
  • Pangkur: dari kata nyimpang lan mungkur, dimana manusia ingin mundur dari pencarian hal-hal duniawi, dan ingin lebih banyak kegiatan sosial atau kegiatan spiritual (43 tahun ke atas).
  • Megatruh: dari kata megat-ruh (berpisahnya ruh/roh), yaitu ketika nyawa berpisah dari raga, atau fase kematian.
  • Pocung: adalah tahap terakhir ketika tubuh manusia sudah menjadi mayat dan dibungkus dengan kain kafan.
Kalau merunut siklus hidup dari tembang Jawa itu, mulai di usia 40-an tahun manusia ada dalam fase dimana segala hal tidak lagi tentang dan untuk diri sendiri tapi lebih memikirkan apa kontribusi saya bagi orang banyak. Di fase ini kita menemukan makna baru tentang kebahagiaan yang sebelumnya secara teori mungkin sudah tahu, tapi belum benar-benar menghayati.

Penulis: Swastika Nohara

I'm a freelance content and script writer for movies, television, commercials and internet-related content. With a team, I also do documentaries, video tutorial, video presentation and corporate video. I'm based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth. For me, life is like a cup of coffee. Life is the coffee while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee providedโ€ฆ. So, donโ€™t let the cups drive you, enjoy the coffee instead!

13 thoughts on “Ada Apa Di Usia 40?

  1. walau saya bukan orang jawa tapi maknanya dalem juga ya. tapi saya gagal fokus sama rumahnya. kapan ya bisa bangun rumah impian.

  2. penasaran isi rumahnya apa aja xD

  3. Nambah wawasan lagi ni tentang jawa dalam hal umur.. Jadinya saya tidak sekedar tahu budaya dan seni-nya saja..

  4. Rumah impian itu memang.. bagus rumahnya mbak, btw makasih dah diingatkan mengenai tahap usia yg dilalui manusia melalui tembang Jawa, sungguh yaa.. manusia itu sbnrnya hidupnya sangat singkat. ๐Ÿ™‚

  5. waaah rumah barunya keren banget mbak…. cermin rumah jaman now, modern minimalist….

  6. Wah.. saya baru tahu kalau ada pemaknaan macapat yang seperti itu. Saya sebagai orang jawa malah tahunya sekadar sebagai tembang puisi.. *malu2in*

    Dan ga mengira juga saya blog walking ke blog seorang penulis skrip film dan dokumenter. Semoga suatu saat bisa belajar dari mbak Swastika.. hehe

    Salam kenal ya mbak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s