BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Tapa Brata: How It Changed My Life

2 Komentar

Tanggal 23-29 Oktober lalu saya ikut Usada Tapa Brata (thanks to Pak Heriyadi) bersama Bali Usada, dan saya merasa kegiatan ini sangat banyak manfaatnya. I can say, it changed me. It changed the way I see things, and the way I manage my emotions. Apa itu Usada Tapa Brata?

Mengutip dari web Bali Usada:

Usada Tapa Brata merupakan salah satu program utama dari meditasi kesehatan di Bali Usada. Meditasi kesehatan yang diajarkan Bali Usada merupakan teknik meditasi yang melatih pikiran agar menjadi Pikiran Harmonis yang mempunyai konsentrasi yang kuat, dengan diikuti sifat-sifat baik yang lain yaitu sadar, tenang, bijaksana, lembut penuh cinta kasih, yang dapat membantu menyembuhkan sakit-sakit di badan maupun menghapus reaksi buruk yang mengikuti memori/ingatan kita.

Meditasi Kesehatan Bali Usada mengombinasikan praktik meditasi konsentrasi, cinta kasih, kesadaran dengan kebijaksanaan untuk memunculkan kualitas pikiran yang kami sebut dengan nama Pikiran Harmonis. Pikiran Harmonis inilah yang kemudian akan dipusatkan untuk menyembuhkan penyakit di badan kasar, meridian, cakra, mental, pikiran, dan memori.

Jadi, selama 7 hari 6 malam saya dan seluruh peserta Usada Tapa Brata melakukan rangkaian sesi meditasi secara rutin dan intensif, tidak memegang HP dan gadget sama sekali, tidak bicara, tidak menulis dan tidak membaca. Kami secara total mengistirahatkan pikiran dari proses berpikir aktif. Kegiatan kami sejak bangun jam 4:30 hingga tidur jam 21:30 ya utamanya meditasi. Ada tiga coach yang mendampingi proses ini. Tentu ada break makan, mandi dan istirahat (sudah diatur sehingga jam istirahatnya bisa dipakai untuk shalat di awal waktu) yang sangat cukup.

Usada Tapa Brata yang saya ikuti lokasinya di Pelangi resort, Sentul. Pusatnya di Bali, ada beberapa lokasi. Banyak peserta yang datang karena keluhan kesehatan mulai dari anemia, asma, vertigo, gangguan liver, endometriosis, sulit punya momongan, kanker dan banyak lagi. Banyak pula yang datang untuk menyelesaikan trauma psikis, misalnya trauma dari pelecehan seksual belasan tahun silam, phobia, ingin berhenti merokok, trauma akibat pola asuh keluarga waktu kecil dan jejak memori buruk lainnya.

Memang meditasi ini bertujuan untuk kesehatan dan ketenangan, dan tidak terafiliasi dengan agama apa pun, bisa diikuti siapa saja, tua-muda, sehat-sakit, kaya-miskin. Ada program subsidi silang bagi yang benar-benar kurang mampu secara finansial.

Lalu apa yang saya rasakan?

Awalnya saya ragu, sanggup nggak saya bermeditasi sepanjang hari? Kaki saya bakal pegel nih pasti. Gimana kalau saya susah fokus? Untungnya tiga orang coach yang hadir bergantian membimbing sesi-sesi meditasi sehingga saya bisa segera beradaptasi. Kami dilatih step-by-step apa yang mesti dilakukan, bagaimana memusatkan pikiran dan apa yang harus dilakukan bila pikiran mulai mengembara saat meditasi.

Ternyata tidak bicara, tidak pegang gadget, tidak membaca-menulis selama sekian hari itu menyenangkan! Dan melegakan.

Memasuki hari ketiga kami berlatih meditasi penyembuhan, disesuaikan dengan kondisi tiap orang. Puncaknya saya rasakan di pagi hari ke-5. Saat itu pagi hari, sehabis mandi lalu meditasi tekad kuat. Di situ saya merasakan certain parts of my internal organs were shaking heavily!! Terutama di bagian uterus dan perineum. Kayak mereka merespon saat saya ajak ‘bicara’ melalui meditasi.

Lalu perasaan haru menyerbu. Saya merasa selama empat puluhan tahun hidup di dunia ini kurang cukup menyayangi tubuh saya sendiri.

It was like a wake up call. My body loves me, and has been doing great things for me. After this session I broke in tears. Tears of relief, after realizing what has been missing in my life. I suddenly love myself as a whole, as it is, as who I am.

Di sela-sela jadwal meditasi, Pak Merta Ada hadir melalui rekaman video memaparkan pentingnya melepas seluruh energi negatif karena sesungguhnya energi negatif itu sangat merusak, termasuk merusak kesehatan tubuh kita. Pak Merta berulang kali menyebut misalnya seseorang yang mengalami gangguan liver itu karena serakah. Jadi sifat dan perilaku serakah ini perlu dilepas, termasuk dibahas bagaimana caranya. Dan masih banyak lagi contoh lain. Pak Merta juga menjelaskan emosi apa saja yang negatif, netral dan positif, dan bagaimana mengelolanya.

At that very moment I made up my mind that I shall let go of my anger, guilt and regret, because those had been weighing me down so bad. I unintentionally had been keeping tons of sadness due to my lonely up bringing and painful things that happened in my past. So at that very moment I decided to let them go, one by one, with all my heart. I followed what was instructed, piously.

Realising how ungrateful I was in the past, it was rather painful, like hundreds of tiny needles piercing on my chest. Then a surge of mixed emotions came over me. Joy and agony, all together. It was weird but wonderful. I felt relieved. I am really glad I did this.

Di hari terakhir kita sudah boleh bicara, jadi saling mengobrol sambil makan. Saya pun bengong mendengar cerita teman-teman peserta lain. Ada yang nyeri-nya karena kanker berkurang jauh, vertigonya membaik dan ada yang ingatannya akan pelecehan seksual tragis yang pernah dialami tidak lagi mengganggunya, now she can remember without pain. Merinding sih saat mendengar langsung penuturan dari mereka.

Beberapa teman sudah ikut Usada Tapa Brata ini dua kali, ada yang ketiga kali. Setelah mengalami sendiri, saya baru bisa paham manfaatnya.

Satu hal yang mengganjal bagi saya adalah makanannya yang sangat kaya karbohidrat. Saya suka makanan vegetarian, pernah jadi vegetarian juga dulu. Ini bukan soal ‘vegetariannya’ tapi cateringnya yang tega ngasih menu nasi lauk bihun goreng, bakwan jagung dan kerupuk. Lots of carbs, penuh tepung dan berminyak. Jamur pun disajikan dalam balutan tepung dan deep fried, sayang sekali. Semoga lain kali pengaturan menu dan kualitasnya membaik.

Begitulah sedikit cerita dari Usada Tapa Brata 1. Saya sebut ‘sedikit’ karena banyak pengalaman dan perasaan yang luapan emosinya sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Yang jelas, kegiatan ini membuat saya bertekad kuat untuk bangkit dan menata hidup serta diri saya agar lebih sehat, lebih damai dan lebih harmonis dari pada kemarin-kemarin. Semoga semua hidup berbahagia.

Penulis: Swastika Nohara

I'm a freelance content and script writer for movies, television, commercials and internet-related content. With a team, I also do documentaries, video tutorial, video presentation and corporate video. I'm based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth. For me, life is like a cup of coffee. Life is the coffee while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead!

2 thoughts on “Tapa Brata: How It Changed My Life

  1. Semoga ada yg dua hari saja ya. Saya mau coba. Oh ya, sy senang pelan2 mba swastika muncul lg. Senang membacanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s