BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Jelajah Gizi Bali Bikin Hepi!

56 Komentar

Jelajah Gizi akhir pekan lalu mengeksplorasi area Bali. Siapa sangka kuliner lokal begitu kaya gizi dan banyak potensi lain tersembunyi?
Banyak pencerahan soal pangan yang saya peroleh dari Jelajah Gizi Bali selama week end kemarin. Kalau teman-teman pernah membaca artikel saya soal Jelajah Gizi sebelumnya, mungkin heran kok jadinya ke Bali dan bukan ke Padang? Memang kegiatan ini pindah tujuan karena Padang sempat diselimuti kabut asap. Kabut asap ini memang bikin kacau banyak kegiatan ya? *senyumgetir

Begitu sampai di bandara I Gusti Ngurah Rai, tujuan pertama Jelajah Gizi Bali adalah… Shalat Jum’at! Ini bukti bahwa kecukupan gizi harus seimbang antara jasmani dan rohani. Bukan begitu?

Bali Pulina Agro Tourism

Kami langsung menuju Bali Pulina di Tegalalang, Kabupaten Gianyar, tempat agro wisata yang memperkenalkan kopi luwak dan beragam minuman lain pada pengunjungnya. Begitu masuk ke lokasi, kami menyusuri jalan setapak naik turun menuju kandang luwak. Dua ekor luwak tampak bermain di dua kandang terpisah, biji kopi segar berwarna merah-hijau ada di sudut kandang sementara biji kopi yang telah melalui jalur pencernaan luwak berada di sudut kandang lainnya.

Staf Pulina dengan fasih menjelaskan bahwa mereka hanya menggunakan kopi arabika terbaik untuk diberikan pada luwak-luwak di sini. Katanya lagi, luwak-luwak ini tidak selamanya dikandangkan, kadang mereka dilepas di kebun kopi tak jauh dari tempat ini. Ketika dikandangkan pun mereka juga dikasih makan buah-buahan lain, buka kopi melulu, agar tidak jenuh. Saya sebenarnya suka kasihan melihat satwa liar yang dikandangkan demi memenuhi kebutuhan manusia. Semoga luwak-luwak ini tetap bahagia.

Prof. Ahmad Sulaeman, seorang ahli gizi, menjelaskan bahwa minum kopi bisa bermanfaat karena mengandung riboflavin, mangan dan kalium, asal diminum dalam takaran yang pas. Beliau menambahkan, kopi luwak asli tidak terlalu asam sehingga aman buat lambung. Di Pulina pengunjung bisa menikmati secangkir kecil kopi luwak dengan harga Rp 50.000,-, sementara biji kopinya dijual seharga Rp 4.000.000,-/kilogram. Lumayan ya?

image

.

Desa Adat Panglipuran

DESA INI CANTIK BANGET! Kesan pertama yang muncul ketika melangkahkan kaki masuk ke Panglipuran adalah sebuah desa yang teduh, teratur dan nyaman. Deretan rumah dengan arsitektur khas Bali tertata rapi di sisi kanan-kiri jalan dari bebatuan. Layaknya rumah Bali, gapura-gapura lancip berderet dengan penomoran teratur. Warga desa menyambut pengunjung dengan ramah, sebagian menawarkan rumahnya sebagai home-stay bila mau menginap. Ada juga rumah yang disulap menjadi warung tanpa meninggalkan bentuk aslinya, jadi tetap harmonis dengan keseluruhan fasad desa ini.

Desa Panglipuran terbilang unik karena dihuni oleh keturunan orang Bali Aga atau Bali asli yang sudah ada di pulau ini sebelum orang-orang Majapahit dari pulau Jawa datang. Di desa ini tempat ibadah warganya berada di sisi selatan setiap rumah, mengarah ke Gunung Batur. Kami masuk di rumah nomor 21. Konon mereka bergiliran menerima wisatawan yang berminat melihat-lihat rumah asli Bali dan akan dengan ramah menjelaskan segala hal tentan desanya.

Begitu masuk gerbang rumah nomor 21, kami disambut dengan welcome drink dalam gelas kecil, cairan berwarna hijau muda. Saya cicipi dengan segenap jiwa dan raga… sebuah rasa yang familiar sekaligus asing membelai lidah saya… Rasanya mirip jus kedondong dengan sedikit kiamboi! Ternyata minuman bernama Loloh Cemcem ini adalah jamu penambah stamina! Dibuat dari bahan utama daun cem-cem, plus gula aren, sedikit kelapa muda, air dan sedikit garam, Loloh Cemcem kini dijual botolan sebagai jamu yang khasiatnya sudah populer di Bali.

image

.

Belajar Masak Di Paon Bali

Hari sudah malam ketika kami sampai di Paon Bali, sebuah rumah makan di Ubud. Ibu Puspa, sang pemilik rumah makan menyambut kami dengan ramah, menggiring kami ke bagian belakang tempat meja panjang sudah siap untuk demo masak. Kami ditantang untuk memasak sendiri makan malam kami! AHA!!!

Menu yang kami masak ternyata haruslah khas Bali, sate lilit dan lawar putih. Waduuuh… Mana bisa saya bikin sate lilit? Pas dapet tantangan masak ini, saya hampir menyerah dan memilih puasa aja deh… Skip makan malam dari pada mesti bikin sate lilit dari daging ayam. Eh, ternyata setelah melihat demo Ibu Puspa, tidak sesulit itu membuatnya. Bahkan Ariev Rahman aja bisa masaknya! Yah, kalau Ariev sih pasti tangannya sudah terlatih meremas daging yaaa…. Resepnya akan saya tulis di blog post berikut.

Ada juga Chef Muto yang demo bikin Es Kuwut dengan bahan selasih, melon dan jeruk nipis. Nah, setelah melihat dia masak, saya jadi mikir, Om Muto ini chef atau kungfu master ya? Tangannya lincah banget junggling pisau, garpu, spatula dan segala alat masak lain!! Saya menunggu-nunggu kapan dia juggling tabung gas…

image

Jelajah Gizi Bali bersama Sari Husada di hari pertama usai sudah, kami bergerak ke penginapan di Grand Sunti, Ubud. Perjalanan hari ini membuat saya mengapresiasi kuliner lokal lebih dari sekedar ‘maknyus’. Saya jadi makin bangga dengan kekayaan kuliner dan rempah Indonesia.

Ternyata setiap daerah punya potensi ragam makanan dengan kandungan gizi yang saling melengkapi. Misalnya, kelapa ditemukan nyaris dalam semua resep makanan Bali, baik itu parutan, irisan kelapa segar, hingga dalam bentuk santan atau minyak kelapa. Kelapa yang gurih jadi enak sekali bila dipadukan dengan kacang panjang menjadi lawar putih, hidangan populer Bali yang saya suka. Kuncinya adalah memadukan apa saja bahan pangan lokal yang ada di satu daerah. Prinsipnya, mengutip seorang chef ternama, ‘If they grow together, they go together.’ Jadi, kamu pengin saya masakin apa?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

56 thoughts on “Jelajah Gizi Bali Bikin Hepi!

  1. hai mbak Tika, wah jalan2 liat Jelajah Gizi dapat blognya mbak Tika. hehe.

    www,adlienerz.com

  2. aahh kepingin jalan jalan ke bali juga mbak, sueneng liat foto2 nya mbak tika

  3. Ping-balik: Kapitalisme Wisata | About life on and off screen

  4. wah sepertinya jelajah gizi ini blm rizki, semoga jelajah gizi berikutnya bisa jalan bareng blogger kondang kayak mbak Swastika Nohara 🙂

  5. Ping-balik: Jatuh Hati Di Jelajah Gizi Bali | About life on and off screen

  6. Habis #bloggercampid dilanjut dengan Jelajag Gizi…. wih mantab banget ! Enaknya jadi Blogger !!!!

  7. ((( juggling tabung gas ))) 😆 😆
    7 th tinggal di Bali ga pernah minum Loloh Cemcem krn ga nemu, kyanya ga dijual bebas ya mbak? Campuran kandungannya begitu pula, saya ga yakin bisa minum 😛
    Btw ga bilang2 nih ya lg ke Bali, ga ketemuan deh

  8. Jadi gimana reaksinya abis minum loloh mbak? Kapok atau mau lagi?

  9. Eeehhm masakan Bali aku suka juga namun kalau tiap hari lidah belum bisa nerima bumbu nya khas banget.
    Duuh

  10. waaah kereeen nih kak, moga saya berkesempatan jalan bareng blogger kondang kayak kaka

  11. padahal kalau jadi ke Padang kayaknya makannya lebih menggugah selera hehehe. terus maknyus2 gitu

  12. Sayangnya sekali nggak jadi ke Padang, kira-kira kalau di Padang mau coba masak apa yaaaa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s