BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Kapitalisme Wisata

54 Komentar

Tulisan ini dibuat setelah membaca blogpost kawan saya, Nita, tentang pengalamannya saat menjaga stand pariwisata Indonesia World Tourism Market tanggal 2-5 November 2015 di London. Cerita kapitalisme wisata yang memilukan ini berawal dari obrolan Nita, seorang mahasiswa S2, dengan seorang tamu pengunjung pameran. Begini kutipannya:

“Can you recommend me only five stars hotel or cottages in Bali and Lombok for my clients?”

Nita dengan sigap memberi beberapa rekomendasi, juga bercerita soal destinasi lain di Indonesia yang tak kalah indah dibanding Bali, sambil memastikan bahwa di berbagai tempat itu sudah ada five stars accommodation. Lalu tamu itu bilang lagi,

  • Tamu: “Who own these five stars hotel in Indonesia?”
  • Nita: “Foreigners…”
  • Tamu: “Shit man, your country is being sold by foreigners to foreigners,”

Sedih ya? Saya sih sedih. Sama sedihnya saat melihat sebuah resort mewah di dekat pulau Alor yang dimiliki dan dikelola orang asing tanpa memberi manfaat ekonomi masyarakat lokal. Pasokan bahan makanan serta semua kebutuhan buat resort itu didatangkan dari Kupang (atau Bali dan Surabaya), pekerja-pekerjanya juga dari luar pulau. Para tamu langsung datang ke resort, beraktivitas di sana dan pulang lagi, tanpa mengunjungi ataupun berbelanja di pusat perdagangan warga lokal. Jadi masyarakat setempat beneran nggak kecipratan rejekinya. Dan ini terjadi di banyak tempat di Indonesia.

Memang para pemilik dan pengelola resort atau hotel bintang lima itu punya modal besar, dan mereka berkomitmen memberikan pelayanan terbaik buat tamunya. Maka mereka lantas mencari bahan makanan terbaik, koki handal dan karyawan terlatih yang mungkin tidak tersedia di daerahnya. Mereka punya alasan kuat untuk mendatangkan semua kebutuhan itu dari luar. Demi menjaga kualitas. Sebab tamu mereka adalah orang-orang berduit yang ringan saja membayar mahal untuk kualitas prima. Jadi ujung-ujungnya kembali ke kekuatan modal, bukan?

20150429_080828

Screen shot 2014-10-23 at 8.50.11 AM

Perlu modal besar untuk meraih untung besar. Cuma sayangnya, perputaran uang besar ini tidak turut mensejahterakan warga setempat. Oh, tentu pemilik hotel membayar sewa tanah pada pemerintah setempat. Tapi biasanya ini hanya dinikmati pejabat yang berwenang saat kontraknya deal, lalu selama 30 tahun sesudahnya ya warga kembali hanya menjadi penonton belaka.

Terus, gimana nasib warga lokal yang nggak punya modal?

Mau bertani menanam wortel kualitas impor, tapi bibitnya mahal? Atau gak ngerti caranya?

Relakah kalau warga lokal semakin terpinggirkan? Duh….

Kalau sudah begini, saya sering berandai-andai jadi pejabat daerah, minimal bupati, atau gubernur deh. Biar bisa bikin peraturan  yang lebih adil pada masyarakat lokal. Misalnya mewajibkan pengelola resort berbelanja kebutuhan di pasar warga atau membuka jalur hubungan agar warga bisa mensupply kebutuhan resort-resort itu, atau agar tenaga kerja setempat terserap di sana. Tentu warganya juga harus mendapat pelatihan agar misalnya bisa menjadi bartender yang baik, atau misalnya mendapat pelatihan bercocok tanam agar bisa menghasilkan wortel kualitas impor.

Selain itu, saya yakin kalau setiap tempat di nusantara punya potensi pangan dengan bahan-bahan lokal yang bisa ‘dijual’ ke kalangan internasional. Cuma biasanya kuliner lokal ini penampilannya masih kurang menarik. Perlu sentuhan chef masa kini biar platingnya bisa tampak cantik, lalu diberi nama yang eksotik, wiiiih… pasti turis manca negara dengan antusias menyantapnya. Hal ini saya rasakan banget waktu ikut Jelajah Gizi kemarin.

Jadi kalau ngomong pariwisata potensi kita itu buaaaanyaaaak banget yang bisa dijual! Cuma belum mampu mengolah dan mengemasnya biar bisa menarik, lalu jangka panjangnya pelan-pelan akan bisa menggeser kekuatan modal asing di tempat-tempat wisata Indonsia.

Teman-teman ada yang pernah melihat atau mendengar cerita serupa soal kapitalisme wisata? Di mana dan seperti apa kejadiannya?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

54 thoughts on “Kapitalisme Wisata

  1. Aku sering kepikiran hal ini, cuma mau gimana ya. Kadang sebagian dari kita (dan saya sendiri) suka lupa diri. Lebih seneng holiday ke luar negeri dibanding dalam negeri, dan lebih milih investasi di luar negeri pula. Padahal “orang kaya” di Indonesia kan banyak banget!

  2. Halo Mbak Swastika
    Nice writing ttg kapitalisme wisata. Harapannya agar bisa dikenal, tapi ah sudahlah ~

    Ohya Mbak, aku mau nanya dong. Singkat aja tapi jawabannya yg CAKEP ya 😀

    Kenapa sih Traveler itu harus Writing?
    Untuk inspirasi di “rezkyfirmansyah.com ngomongin travelwriter” 😀

    • Traveler sejati pasti punya banyak cerita untuk dibagikan. Kadang, tanpa kita sangka, cerita itu bisa memantik harapan atau keinginan bagi pembacanya. Jadi traveler perlu menulis, dan memberi ilustrasi dengan foto secukupnya. Leave some room for imagination 🙂

  3. kdg memang miris sih mba.. Tapiii di lain pihak, aku juga ngerasa kalo stay di resort org asing, walo sama2 di negri sendiri, tp servicenya memang beda.. kita sebagai tamu bener2 dilayani baik.. aku pernah nginep di salah satu resort di Bali, pemiliknya seharusnya orang Indo sih, tapi pelayan2 di sana yg semua nya orang Indonesia, malah lbh seneng menserve bule. Ngerasa bgt kok kita di duain di sana.. ga sopannya, pas dia lg serve kita, trs ada couple bule masuk ke restorannya, eh, kita malah ditinggal, dan dia serve tuh bule.. Kita pindah jdinya, males aja tinggal di tempat begitu. milih resort yg pemiliknya foreigner, dan ga peduli kita org indonesia, service yg kita dapat sama dgn tamu2 bule lainnya -__-. Sedih ya.. tapi ya itu yg aku rasain.. makanya kalo ke bali, aku lbh suka tinggal di penginapan yg pemiliknya asing

    • Iya Fanny, aku merasakan hal serupa. Memang banyak tempat yg memberikan servis lebih serius/ramah/sopan ke tamu bule… Sad but true. Aku mengerti sepenuhnya alasan dibalik keputusanmu lebih senang menginap di resort yg dikelola foreigner. Memang banyak banget PR negeri ini kalau mau memajukan parisiwatanya…

  4. Plating nya di percantik makanan lokal makin mendunia yaa mbak, secara wisata di indonesia sendiri banyak yang belom dijamah yaa mbak

  5. sedih kan ya kalau lama lama pemilik rsort yang punya orang-orang asing 😦

  6. Di Sumatera Barat, di pulau kawasan madeh, juga dikuasai oleh asing. Sempat beredar video di youtub, orang lokal mau foto2 spot disana malah diusir sama bule yang memonopoli pulau sana..mirissssss

  7. Oooo banyak banget… ditempat kita sendiri juga ada banyak.

  8. Cerita klasik yg kyanya blom akan tutup buku ya? 😓 tp sampe sekarang saya ga ngerti deh klo ada orang asing yg bisa beli pulau, punya property aja mereka ga boleh kok ya bisa beli pulau…

  9. Di Sumba juga denger cerita kayak gini. Karena tanah deket pantai sama murah, banyak dibeli sama orang asing yang nantinya bakal dibangun semacam hotel gitu.

  10. setelah resort, pulau-pulau juga dibeli asing. Beberapa pulau di raja ampat (yang saya lupa namanya) kata temen udah dibeli bule aussie kalo nggak salah. Pernah ngecek pas ke raja ampat nggak mbak?

  11. Banyak lokasi memang iya sih, kapitalisme mengalahkan semuanya, tapi di beberapa tempat seperti la petite di pulau kepa Alor yang di kelola pasangan bule, cedric sang pemilik resort dan dive center memperkerjakan warga lokal, kepala cheefnya seorang mama tua yg sudah awal resort berdiri ikut dia, dive guidenya juga warga Alor. Toko kecil cindera mata tenun juga majang hasil tenunan warga sekitar, welcome drinknya juga minuman lokal, jagung titi campur klapa muda nan lezat. Misool Eco resort di Raja Ampat juga juga sama..semua pekerjanya diambil dari warga desa-desa sekitar. Tapi memang masih banyak sih yg seperti kak Tika ceritakan di atas. Semoga suatu saat kesampean jadi gubernur NTT ya kak trus undang guweh gratis kesana ha ha.

  12. Duh..miris. Tampilan luar negeri memang selalu menggoda, jadinya nilai2 lokal kita memudar.

  13. Iya ya mbak. Sedih juga. Tapi kalau dikelola pemerintah atau warga lokal biasanya tempat yg menarik jadi biasa biasa aja gitu deh

  14. Saya kurang jalan-jalan sih. Tapi paham banget ama isi tulisan ini. Apa yang bisa saya bantu ya untuk kondisi ini. *resah

  15. Yang paling aku ingat sih tentang Pulau Cubadak di Padang yang pernah bikin heboh dan viral beberapa waktu lalu. Ketika bule pengelola pulau mengusir orang-orang yang datang ke pulau itu bahkan cuma buat mendokumentasikannya.
    katanya jangankan penduduk lokal, orang pemerintah daerah aja ikut diusir-usirin.
    bekin geram sih, tapi ini pasti ada salah di regulasi kita juga kan. Musti dibenerin sih ini. Vote kak tika jadi Menteri Pariwisata!

  16. nah, yang kayak gini bikin geregetan dan sedih. duh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s