BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

My Best Movies In 2013

36 Komentar

Sebentar lagi tahun 2013 berakhir. Kita segera memasuki tahun 2014 dimana akan terjadi hiruk pikuk politik nasional dan World Cup di Brazil. Biarlah kedua hal tersebut terjadi, nonton film sih tetep jalan terus. Berikut beberapa film paling menarik di tahun 2013 yang saya tonton di layar lebar. Sebenarnya saya ingin memasukkan Hari Ini Pasti Menang di urutan nomor 1 film favorit saya. Tapi nanti banyak yang komentar, “Yaelah bro…” Jadi, tanpa Hari Ini Pasti Menang yang sudah pasti jadi favorit saya, ini daftarnya. Apakah di antaranya ada yang kamu sukai? Atau kamu punya film-film pilihan sendiri?

1. Rush
Saya tidak pernah menyangka film tentang pembalap Formula 1 bisa sebegitu menariknya, apalagi bagi saya yang sama sekali bukan penggemar balapan. Sutradara Ron Howard berhasil mengemas dengan gemilang perseteruan dua pembalap Formula 1 papan atas, James Hunt dan Niki Lauda dengan setting tahun 1970-an dimana safety measure masih belum seketat sekarang. Saya angkat empat jempol buat Daniel Bruhl yang dengan luar biasa bagus memerankan Niki Lauda, pembalap Austria yang kaku, sistematis yang jatuh bangun bersaing dengan James Hunt, pembalap Inggris yang ganteng dan flamboyan. Adegan balapannya keren, karakter kedua tokoh utamanya juga dikembangkan dengan maksimal, membuat saya seakan merasa nonton James Hunt dan Niki Lauda beneran.

Niki Lauda dan James Hunt diperankan oleh aktor

Niki Lauda dan James Hunt diperankan oleh aktor

2. Stoker
Ah, ini film Amerika dengan cita rasa Korea. Sutradara Park Chan-wook dengan teliti membangun konflik di sebuah keluarga kaya Amerika yang menyimpan rahasia kelam. Cara sang penulis skenario mengungkap sedikit demi sedikit rahasia keluarga itu, dan misteri siapa the real bad guy-nya sungguh menegangkan. Film ini tidak hanya kuat bangunan ceritanya tapi juga puitis dalam bertutur melalui bahasa gambarnya. Adegan sesederhana Charles Stoker (Matthew Goode) melepas ikat pinggangnya di luar box telefon umum dengan sangat perlahan sambil menunggu seorang perempuan tua yang tengah menelfon, sukses membuat saya merinding sambil membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Begitu pula adegan Charles duet bermain piano bersama India (Mia Wasikowska) yang dibuat begitu intens seolah mereka sedang making love.

Adegan duet main piano yang menggetarkan itu...

Adegan duet main piano yang menggetarkan itu…

3. Snowpiercer
Sekali lagi karya sutradara Korea di America. Bong Jon-hoo, sutradara yang sebelumnya sukses memukau penonton bioskop dengan The Host dan Mother, kini dipercaya mengarahkan aktor-aktor papan atas Hollywood. Showpiercer memang film yang dipenuhi aktor-aktor keren berdesakan di atas gerbong sebuah kereta, mulai dari Chris Evans, Tilda Swinton, Olivia Spencer, Ed Harris, John Hurt plus dua orang aktor Korea yang terus terang saya nggak terlalu familiar. Kereta ini adalah satu-satunya kehidupan setelah dunia membeku di akhir jaman. Kereta ini berjalan terus tanpa henti melingkari bumi, karena kalau kereta ini berhenti maka matilah semua penumpangnya. Kemudian terjadilah pemberontakan, karena sessungguhnya kereta ini berjalan di atas penderitaan warga kelas bawah yang berjejalan di gerbong belakang. Kereta ini adalah metafor yang sangat cantik atas tatanan sosial masyarakat sekarang, dan bagaimana jadinya bila ‘warga kelas bawah’ lalu memberontak. Fighting scene-nya ditata dengan apik, cukup bikin ngilu dengan kadar kekejian yang pas. Ada darah tertumpah tapi tidak berlebihan.

Bayangkan kamu hidup dalam gerbong kereta yang bergerak terus, selama 17 tahun lebih

Bayangkan kamu hidup dalam gerbong kereta yang bergerak terus, selama 17 tahun lebih

4. 12 Years A Slave
Film adalah sebuah lompatan besar dari karya sutradara Steve McQueen sebelumnya, Shame (dimana Michael Fassbender berperan apik sebagai seorang sex addict). Film ini menggambarkan kegetiran hidup jaman perbudakan di Amerika. Seorang pria kulit hitam yang bebas, mapan dan punya keluarga, Solomon Northup, diajak makan malam, lalu diculik, dibuat pingsan dan dijual dengan identitas palsu sebagai budak. Solomon tentu bukan budak biasa, karena dia cerdas dan bisa baca-tulis, sebuah hal yang langka di kalangan negro waktu itu. Perjuangan Solomon meraih kembali kemerdekaannya ini sangat menarik disimak. Bonus liat sosok maskulin Brad Pitt di menjelang penghujung film, meskipun perannya kecil saja.

Diadaptasi dari buku, dan adegan filmnya

Diadaptasi dari buku, dan adegan filmnya

5. The Flu
Film ini bagi saya seolah versi Korea-nya World War Z (yang dibintangi Brad Pitt itu). Dan Flu jauh lebih mencekam dari pada World War Z. Sebuah virus ganas menyebar di Bundang, sebuah kota di dekat Seoul. Gejalanya mirip flu tapi jauh lebih mematikan. Cerita lalu bergulir cepat tentang usaha memblokir penyebaran penyakit ini. Film ini sukses menjaga alur cerita agar tetap seimbang antara skala penyebaran penyakit yang heboh dan kisah personal antara seorang pria anggota tim SAR dengan seorang dokter yang single mother dalam pergulatan mereka untuk bertahan hidup.
The Flu

6. Chasing Ice
Ini film dokumenter paling keren yang saya tonton di pekan filmnya Erasmus Huis. Film ini sangat mencekam, menggambarkan perjalanan James Balog, seorang fotografer/videografer National Geographic yang mengejar es di antartika. Es kok dikejar? Iya, James mengejar gerakan es itu dengan ‘menanam’ belasan kamera dengan casing baja untuk secara otomatis merekam gerakan es itu. James membuktikan kalau global warming itu beneran ada dan lapisan es itu serius berkurang dengan sangat cepat dalam 10 tahun terakhir.

Semua adegan yang mencekam ini riil, tidak diperankan oleh aktor.

Semua adegan yang mencekam ini riil, tidak diperankan oleh aktor.

7. 20 Feet From Stardom
Film dokumenter ini sukses membuat teman saya menangis sesenggukan selama nonton, bahkan hingga sesudahnya. Berkisah tentang beberapa penyanyi latar di Los Angeles dan New York yang biasa mengiringi konser para superstar macam Sting, Bono, hingga mendiang Michael Jackson. Mereka punya suara emas, menguasai panggung, tapi sepanjang karir menyanyinya ya hanya berjarak 20 kaki dari ketenaran. Malah dalam usahanya membuat album sendiri, ada yang ditipu mentah-mentah sama recording company. Miris.

Yang rambut pendek itu nyanyi bareng Michael Jackson di konsernya sebelum meninggal

Yang rambut pendek itu nyanyi bareng Michael Jackson di konsernya sebelum meninggal

8. Captain Phillips
Kisah seorang kapten kapal (Tom Hanks) yang mempertahankan kapalnya dan karirnya saat dibajak perompak di perairan Somalia yang memang berbahaya. Film ini mencekam, lebih banyak drama ketimbang aksinya. Nggak ada adegan dar-der-dor yang berlebihan, dan justru itu kekuatannya yang membuat film ini tampak sangat realistis. Captain Phillips berhasil digambarkan sebagai sosok yang berdedikasi penuh dan rela mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kapal dan awaknya, tanpa terlalu berlebihan mengangkat heroismenya. Sutradara Paul Grengrass yang memang selama ini menghasilkan film-film jempolan, berhasil memukau penonton sepajang adegan di laut dalam film ini. Sang sutradara tak hanya sukses menghidupkan karakter Captain Phillips-nya tapi juga karakter pembajak kapalnya. Para pembajak kapal juga digambarkan dengan manusiawi, bahwa mereka juga dalam tekanan dari bos pembajak yang hanya kita dengar suaranya melalui radio.

Perompak Somalia cuma modal kapal butut tapi ganas

Perompak Somalia cuma modal kapal butut tapi ganas

9. Before Midnight
Baiklah, saya mengaku kalau saya suka film ini karena romantisme menonton prequelnya dulu, Before Sunrise, lalu Before Sunset. Hampir dua dekade berlalu sejak Jesse dan Celine pertama kali bertemu di Wina, Austria. Kini mereka telah menjadi pasangan suami istri dengan anak-anak yang sedang tumbuh dan berlibur ke Yunani. Masih seindah film pendahulunya, dialog antara Jesse dan Celine nyaris selalu menggigit. Saya merasa banyak berkaca pada mereka. Film ini sangat disarankan ditonton bagi mereka yang telah 5 tahun lebih menikah. Hehehe…

Trilogi yang sukses & konsisten. Transisi dari film Before Sunrise, Before Sunset hingga Before Midnight.

Trilogi yang sukses & konsisten. Transisi dari film Before Sunrise, Before Sunset hingga Before Midnight.

10. Now You See Me
Begitu melihat poster film ini di bioskop 21Cinepleks saya langsung ingin menontonnya. Ternyata memang seru, perpaduan antara trik sulap dan kejar-kejaran dengan agen FBI yang endingnya cukup mengejutkan. Ini film pop-corn yang sangat menghibur tanpa meninggalkan gregetnya dengan alur cerita yang ditata apik.

Magic or illusion?

Magic or illusion?

Terus kok nggak ada film Indonesianya? Ini bukan berarti saya nggak pernah nonton film Indonesia di bioskop. Justru biasanya saya kejar tuh film-film Indonesia yang kelihatannya akan bagus di week end pertamanya di bioskop. Dari film Indonesia yang saya tonton: Soekarno, 99 Cahaya Di Langit Eropa, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Sokola Rimba, 9 Summers 10 Autumns, What They Don’t Talk About When They Talk About Love, Demi Ucok, Cinta Brontosaurus, Laura Dan Marsha yang paling menarik bagi saya adalah Sokola Rimba dan What They Don’t Talk About When They Talk About Love, tentu selain Hari Ini Pasti Menang ya.

Catatan: Habibie Ainun dan 5 Cm saya masukkan dalam daftar tonton 2012 karena memang nontonnya di penghujung tahun lalu.

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

36 thoughts on “My Best Movies In 2013

  1. Ping-balik: Film-film 2014 [Januari-Maret] | JenSen Yermi's Weblog

  2. belum nonton yang no. 2, 5, 6 dan 7 … no 2 dan 5 bukan selera sih, no 6 dan 7 sepertinya gak ada di bioskop yaa..

  3. cuma nonton 3 dari 10 (Stoker, Snowpiercer & Captain Phillips)

    terima kasih resensinya menarik, jadi pengen cari dvd nya 🙂

  4. Cuma Now You See Me yang udah kutonton. Before Midnight dah ada di HDD. Snowpiercer dan The Flu masuk daftar rikues ke donloder. Rush dan Captain Philips nyusul. Sisanya saya baru dengar dan pikir2 dulu. 😀
    BTW saya belum nonton Hari Ini Pasti Menang. 😦

  5. baru 4 yang aku tonton dan ingin nonton sisanya gegara tulisan ini. *apalagi yang Korea, kangen nonton film bagus dari negeri gingseng*

  6. 6 dari 10 film ini udah saya tonton. Tapi tampaknya kita ada perbedaan selera. 😛

  7. Yg udh aku tonton cm now u see me,,film yg bagus bgt,,kalo kelewat dikit partnya,,bisa kehilangan alurnya,,top bgt,,

  8. dari sekian banyak film diatas itu, aku cuma nonton yang now you see me, mbak. hihi..
    dan iyes, sukaaaa banget sm film ini.. 🙂
    Sekarang lg penasaran pengen nonton 47 ronin, nih…

  9. plus ‘Silver lining playbook” juga ok :))

    • Silver Lining Playbook memang film yang bagus. Dia nggak masuk list ini karena di saya merasa ‘off’ saat menonton beberapa bagiannya. Bahwa saya menontonnya di rumah (bukan di bioskop) mungkin juga berpengaruh. Lagi pula bangunan ceritanya terlalu familiar, nyaris tanpa kejutan.

  10. Kalau filem Indonesia apa saja, mbak?

  11. Aku suka Stoker, Now You See Me. Beberapa film belum ku tonton.

    Rush itu bagusnya menurutku karena nyaris sama dengan kejadian aslinya.

    • Rush itu bagusnya karena sutradaranya jago banget! hahaha… bagus semua, ceritanya, aktingnya, gambarnya, musiknya sampai soundnya rapi jali mumpuni!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s