BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.


21 Komentar

Matah Ati

Senang, bangga dan terhibur rasanya menyaksikan pertunjukan tari seelok Matah Ati. Sendra tari delapan babak ini menceritakan perjuangan Rubiyem, seorang gadis keturunan ningrat yang tinggal di desa, memimpin prajurit  perempuan terjun ke medan perang membantu laskar Raden Mas Said melawan tentara Belanda. Pertunjukan dibuka dengan tari perang prajurit perempuan yang bersenjatakan gendewa panah dan pistol. Ya, meskipun berkostum tradisional Mataram, mereka sudah fasih memegang pistol. Para penari yang cantik itu bergerak luwes dan lincah di atas panggung miring. Baca lebih lanjut


4 Komentar

Plenthe Percussion di KratonPedia

Badannya bagai dipahat!

Tanggal 11 January kemarin saya menikmati konser musik dan tari yang luar biasa indah! Boleh dibilang yang paling mempesona dalam hidup saya. Perpaduan yang memukau antara alat musik tradisional yang dimainkan anak-anak muda dengan kemasan modern. Ceritanya dalam rangka launching portal budaya Kratonpedia.com di Obsat. They’re simply magical! Baca lebih lanjut


10 Komentar

Satu Dua Tiga

Satu-satu, menghitung hari-hariku bersamamu
Gelak tawa dan air mata bergantian tanpa jemu

Dua-dua, tak terasa telah lama kita menapak bersama
Tak jarang aku atau kamu jatuh dan terluka

Tiga-tiga, kadang resah dan amarah tertumpah
Meski tak ingin menyakiti serapah pun tak tercegah

Satu, dua, tiga adalah aku, kamu dan buah hati kita
Dan sejuta rasa yang tak bisa kuungkapkan dengan kata

Banyak orang bertanya, mengapa kamu?
Kucari jawabnya tapi tak juga ketemu

Hanya jika kau jauh, aku kehilangan
Karena cinta tidak butuh jawaban
Dia hanya perlu diungkapkan
Untuk seterusnya dipertahankan


.
.
.
*Setelah semua melodrama di masa awal perjumpaan kita, dan hujan pertanyaan dari mereka, yang melihat hanya dari luar saja.


Tinggalkan komentar

I Love New York I Love You

Girlfriend

Rasanya New York sudah jutaan kali dijadikan setting film, sampai saya rasanya sudah familiar banget sama Central Park (tsaaah!). Setelah jutaan kali NY ‘hanya’ menjadi back ground, kali ini sebuah film khusus didedikasikan untuk kota sibuk dengan julukan The Big Apple ini. Nggak tanggung-tanggung, 11 sutradara kenamaan sekaligus yang menggarapnya, menjadi kompilasi beberapa film pendek.

Bergulirlah berbagai kisah yang dianggap mewakilkan kehidupan warga NY. Semua kelompok umur terwakili, dari kakek-nenek, remaja, dewasa dan anak-anak. Begitu pula soal keterwakilan kelompok etnis, ada tokoh keturunan Cina, India, Yahudi dll.

Baca lebih lanjut