BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Never Have I Imagined

8 Komentar

Never have I imagined falling head over heels again. When I opened my heart for you, I knew I would get hurt eventually, but I did it anyway. I could feel that we were drawn into each other helplessly.

It came over us in a rush, when I realized that we reached a point of no return. Something about you won my trust, in a matter of days, and this have never happened before.

There were times when I thought I could stop caring about you. Those were the times when I tried so hard to push you away from my head. But no matter how hard and how often I tried, I failed miserably. Every attempt to sunder you only resulted in excruciating pain in my heart, because those efforts made me miss us even more.

Please tell me just one thing. Why do I have to endure this pain?

Hanna melipat surat yang baru saja selesai dibacanya, lalu mengusap sudut matanya yang sedikit basah. Hanna bisa merasakan luapan kerinduan Jody tersemat di antara larik kata-kata. Jody masih seperti yang dulu dikenalnya saat mereka masih sama-sama menjadi awak redaksi majalah kampus. Jody yang old-soul dan selalu sepenuh hati dalam mencurahkan perasaan di buku hariannya. Jody-lah satu-satunya teman yang Hanna tahu masih rutin menulis dalam buku harian, atau yang dia sebut jurnal, hingga mereka kuliah. Sementara teman-temannya yang lain sudah asik dengan media digital sejak kenal internet, Jody masih setia menumpahkan isi hati dalam lembar-lembar jurnalnya. Hari ini Jody merobek selembar halaman jurnalnya, dan memberikannya kepada Hanna.

Hanna menarik napas, lalu mengangkat muka dan melihat Jody masih duduk di depannya menyeruput kopi hitam tanpa gula. Jody menunggu reaksinya. Sementara Hanna kehabisan kata-kata. Hatinya bergemuruh dengan rasa rindu, ingin melompati meja kayu bundar di antara mereka agar bisa merengkuh Jody dalam pelukan. Tapi hanya tatapan lurus dan senyum tipis yang mampu dia berikan. Bagi Hanna, mengungkapkan perasan dengan lisan sama sulitnya seperti membangun candi Prambanan dalam satu malam.

Jody tersenyum entah karena apa. Namun Hanna sudah hafal, Jody sering menutupi gelisahnya dengan senyuman. Menurut Jody, itu cara paling aman, membuat tidak ada seorang pun yang tahu bahwa di dalam hatinya sedang bertabuh genderang yang lebih lantang dari ajakan perang. Kecuali Hanna. Hanya Hanna yang tahu karena kepada Hanna-lah Jody pernah mengaku.

Hanna dan Jody saling menatap, namun masih membisu. Yang Hanna tahu, dia tidak ingin malam ini cepat berlalu. Malam dimana mereka berjumpa dan bertukar kata, serta tatap mata. Bagi Hanna, malam seperti ini sangat langka. Meskipun Hanna menyimpan perasaan yang sama, namun jalan hidup membuat perjumpaan mereka tidak lebih sering dari pada gerhana bulan yang hanya boleh dilihat pantulannya di atas air dalam tempayan.

Keadaan membuat Hanna lebih sering menyebut nama Jody dalam doa, ketimbang mengucapkannya langsung di depan pemiliknya. Namun, adakah wujud cinta yang lebih indah, selain mendoakan kebahagiaan orang yang dicintainya? ***

Penulis: Swastika Nohara

I'm a freelance content and script writer for movies, television, commercials and internet-related content. With a team, I also do documentaries, video tutorial, video presentation and corporate video. I'm based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth. For me, life is like a cup of coffee. Life is the coffee while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead!

8 thoughts on “Never Have I Imagined

  1. Aku kebayang dialog selanjutnya: “Gimana, Han? Talia bakal suka gak?” Emang gak bisa banget dikasi cerita happy ending aku tuh T_T

  2. Bisa ngerti banget di posisi Hanna, yang mau ngucapin cinta aja beraaaat banget 😁. Bukan krn ga suka, tapi memang Krn malu ngucapinnya. Pernah ada di posisi itu 🤣. Walopun kalo versiku, si cowo akhirnya milih yg lain aja, yg lebih aktif bicara drpd yg sangat pendiam 😅. Semoga ending cerita Hanna lebih membahagiakan 😁.

  3. Waduh…jadi ngerasa dan baper kitanya Mbak 😁 Sama seseorang di sana yang dulu pernah saya bilang. Di Pagaralam sana 😷

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s