BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Berdamai Dengan Coronavirus, Bisakah?

27 Komentar

Sudah berapa lama kamu stay at home sejak pandemi coronavirus menjamah bumi Indonesia? Kamu udah bosen belum?

Bagi kami sekeluarga sudah 2 bulan 1 minggu tinggal di rumah. Meskipun bosan, kami berusaha patuh untuk tinggal di rumah, karena memang itu perlu. Saat ini saja sudah ada 2.750.000 lebih kasus coronavirus worldwide. Di Indonesia, yang ketahuan udah lebih dari 20.000 kasus. Entah berapa banyak yang nggak terdeteksi.

Bosan. Itu yang kami rasakan selama WFH, dan di rumah saja. Apa lagi anak-anakku, mereka udah ribut bolak-balik tanya kapan bisa masuk sekolah lagi. Memang keharusan tinggal di rumah ini benar-benar menguji kewarasan. Untung saya dikasih tau tips gimana agar tetap waras selama home quarantine langsung dari psikolog berpengalaman. Kayak gini kegiatan kami selama di rumah saja:

Merawat tanaman itu sangat theurapetic…
Mendampingi anak belajar di rumah selama masa PSBB.

Masalah baru muncul: Besok lebaran!

Horeeeee!!! Saya paham bangeeettt… Lebaran adalah momen yang ditunggu-tunggu umat Islam se-Indonesia. Ketupat, opor ayam, rendang, sambel goreng ati bakal tersaji. Baju baru sudah dinanti. Sudah seperti jadwal rutin menjelang lebaran pasar-pasar, mall, supermarket selalu penuh pengunjung belanja macam-macam. Termasuk tahun ini! Padahal lagi pandemi coronavirus.

Duh… sedih dan geram rasanya beberapa hari lalu lihat video pasar Tanah Abang udah bejubel penuh orang belanja. Berdesakan, bersentuhan, nggak ada physical distancing, pakai masker juga banyak yang melorot sampai hidungnya kelihatan. Apa sosialisasi tentang coronavirus masih kurang jelas?

Kalau saya merujuk pada artikel halodoc yang menjelaskan coronavirus dengan gamblang dan mudah dipahami. Website Halodoc juga lengkap informasi kesehatannya, dan bisa tanya kepada dokter, termasuk dokter spesialis. Ada juga info cara menghadapi ancaman coronavirus di rumah yang mudah untuk diikuti.

Saya nggak habis pikir sama orang-orang yang nggak peduli dengan sesama, mereka yang ke pasar demi beli kue kering dan baju lebaran, tak memikirkan risiko ketularan atau sebagai carrier yang menularkan coronavirus. Kenapa sih egois? Kenapa hanya mikir kepentingannya sendiri? Sementara para dokter dan perawat di berbagai rumah sakit setiap hari berjibaku dalam tugasnya dengan risiko ketularan coronavirus.

Pemerintah juga tidak tegas. Presiden beberapa waktu lalu bilang kita harus berdamai dengan coronavirus. Statement ini bisa multitafsir. Saya yakin Presiden maksudnya baik. Tapi penerimaan orang bisa beda-beda. Komentar yang sering terdengar adalah, kurva kasus coronavirus di Indonesia masih terus naik, kok disuruh berdamai?

Bahkan pada hari Kamis, 21 Mei 2020, Indonesia mengalami lonjakan tertinggi jumlah kasus coronavirus baru yaitu 973 kasus dalam sehari. Ini yang terdeteksi. Entah berapa yang tidak terdeteksi. Puluhan dokter dan perawat meninggal karena coronavirus. Lalu kita disuruh berdamai?

Saya perlu menarik nafas dalam-dalam…

Saya tidak ingin mengeluh tetang pemerintah, karena itu sia-sia. Jadi saya berusaha memaknai kata berdamai ini dengan berusaha sebaik-baiknya menjaga kesehatan keluarga saya, berusaha sabar tinggal di rumah saja, bahkan saat lebaran besok. Nggak ke rumah orang tua meski cuma di BSD, dan nggak ke rumah saudara-saudara yang lain. Semua silaturahmi akan lewat video call saja.

Ada teman yang berencana tetap ke rumah orang tuanya (sama-sama di Jakarta) tapi tidak masuk ke dalam rumah. Jadi mereka hanya akan bertemu di teras depan, pakai masker, nggak pakai salaman dan cium pipi, akan bermaafan dengan posisi tangan namaste, lalu pulang. Lumayan memperkecil risiko juga nih. Soalnya orang tua-orang tua kita kan sudah manula, berisiko tinggi, jadi segala cara membatasi kontak fisik ini sesungguhnya demi menjaga kesehatan orang tua kita.

Belum lagi mereka yang pada mudik ke luar kota. Banyak kasus terjadi, orang yang mudik merasa sehat, begitu sampai di kampung baru ketahuan kena coronavirus, dan sekeluarga di kampung jadi ODP. Mungkin tertular di perjalanan?

Kalau kamu lebarannya gimana?

Apa pun pilihanmu, semoga tetap ingat untuk selalu memakai masker bila keluar rumah, hindari kontak fisik, selalu cuci tangan dengan sabun setiap habis berkegiatan dan segera ganti baju lalu mandi saat masuk ke rumah lagi. Minimal itu yang bisa kita lakukan bersama-sama agar kurva kasus coronavirus di Indonesia bisa segera turun. Setuju?

Penulis: Swastika Nohara

I'm a freelance content and script writer for movies, television, commercials and internet-related content. With a team, I also do documentaries, video tutorial, video presentation and corporate video. I'm based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth. For me, life is like a cup of coffee. Life is the coffee while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead!

27 thoughts on “Berdamai Dengan Coronavirus, Bisakah?

  1. Pandemi yang luar biasa meluluh lantahkan sendi-sendi kehidupan.
    Munurut saya berdamai adalah pilihan sulit yg harus kita pilih. Bgmn pun juga Hidup harus ttp berjalan.
    Semoga pandemi ini segera berakhir. Amin

  2. the new normal :’) semoga semua sehat selalu yaa 😀

  3. Alhamdulillah saya masuk orang yang tidak dapat 100% Work From Home karena masih harus standby di kantor. Jatah WFH hanya 2 hari dalam seminggu. Ada perasaan selalu was-was namun bisa tidak bisa, mau tidak mau ya harus bisa berdamai dengan kondisi. Kalau berdamai dengan Virusnya kayaknya gak bisa ya? Kan si virus loss gak rewel tetep aja menghampiri kita walau kita sudah declare berdamai. Wkwkwk…

    BTW Selamat merayakan Idulfitri 1441 H. Mohon maaf lahir dan batin ya, mbak!

    • Benar sekali! Aku pun gak mau berdamai dengan virusnya. Paling kita semua berusaha sebaik mungkin utk beradaptasi ya. Harapanku semoga pemerintah LEBIH TEGAS soal ini. Sama-sama, mohon maaf lahir dan batin 🙂

  4. Setuju banget teh, bagaimana pun kita harus tetep berusaha menjaga diri kesehatan yang terutama.

    Semoga wabah corona segera selesai y teh.. Aamiiin

  5. kalo kata ibu kanselir, selama vaksin belum ditemukan, kita wajib hidup berdampingan dengan membiasakan diri dengan pembatasan-pembatasan yang selama ini diterapkan, misal menjaga jarak dan mengenakan masker.

  6. Lebaran kali ini aku nggak mau ikut-ikutan orang lain yang desek-desekan di mall atau pusat perbelanjaan lain. Nggak mau mudik juga. Mending di rumah aja, makan ketupat dan opor ayam buatan Mama. 🙂

  7. Nice inpoh qaqa…. lumyan juga website halodoc terutama di bagian tips-tipsnya, maacih yaaa… ini bisa juga dibukan di hengpon ya qa?

  8. Saya juga tidak mengerti dengan pemerintah RI yang tidak transparan, tidak jelas arahnya dalam penanganan virus corona ini. Saya rasa tidak adil saya dan keluarga bertahan di rumah saja sekian lama, dua bulan lebih demi tidak ketularan dan tidak menjadi penular virus, tapi orang-orang di luar sana tidak bertanggung jawab berkerumun nongkrong-nongkrong dan tidak ditindak tegas oleh aparat. Apa gunanya membuat perarturan kalau tidak ditegakkan?

  9. Aku lebaran di rumah kak Tika. Udah janjian zoom meeting sama keluarga besar pas hari H. Tapi tetep nyiapin kue kering dan ketupat biar tetep berasa lebaran

  10. Mmm…kami bosan dan bingung karena kami tidak punya persiapan😑
    Jadi sesekali dengan hati-hati kami keluar.

  11. Yup, berdamai, hidup bersama covid-19. Gak ada pilihan lain.
    Pemerintah gak sanggup tes massal, dan rakyat gak bisa dipaksa tinggal di rumah terus tanpa kejelasan mau nunggu apa. Prosedur mengurangi resiko akan jadi wajib tapi pemulihan ekonomi akan segera berjalan. Normal baru.

    • Totally agree, soal tidak ada pilihan lain. Nah, aku ragu soal pemerintah tidak sanggup. Tidak sanggup atau tidak mau menyanggupi?

      Tidak mau menyanggupi karena kalau tes massal 10.000 orang perhari, bisa-bisa sehari kasus baru melonjak di atas seribu. Mau ditaruh dimana muka pemerintah yang memang sudah kehilangan muka?

  12. Lebarannya di rumah saja, kontakan sama keluarga pakai video call. Semoga semua sehat dan berbahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s