BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Menyambut 2020, Bye 2019

6 Komentar

Blog post ini ditulis tanggal 31 Desember 2019, tapi lupa mencet ‘publish’.

Hari terakhir di tahun 2019. Dulu waktu masih muda, masa-masa kuliah sampai umur 20an gitu, saya biasanya heboh menyambut tahun baru masehi. Tapi beberapa tahun terakhir ini menyambut tahun baru rasanya biasa aja, nggak pengen macam-macam. Selama saya bisa bersama orang-orang yang saya cintai, that would be good. Karena faktor U? Uentahlah…

Jadi, bagaimana tahun 2019 buatmu?

Buat saya, 2019 ini menyenangkan sekali, penuh berkah, alhamdulillah dan penuh hal-hal baik yang semoga bisa saya pertahankan vibrasinya. Diawali dengan pindah rumah, prosesnya dicicil sejak Desember 2018 hingga Januari 2019. Cukup menantang karena jadi harus mengatur antar jemput sekolah anak-anak pakai kendaraan, sementara dulu cukup jalan kaki 5 menit. Namun selain itu, rumah ini sangat menyenangkan karena warnanya saya banget!

Proses pindah rumah ini juga mengajarkan saya melepas banyak hal yang sebenernya nggak perlu-perlu amat. Misalnya baju dan sepatu hanya saya bawa 1/4-nya. Semua koleksi buku, novel, CD musik, dan DVD saya sumbangkan. Awalnya berat. Tapi yakin saya nggak akan baca/tonton lagi. Anak-anak juga saya bebaskan packing sendiri dan bawa hanya yang mereka suka banget.

Ngajak ngobrol anak-anak hijau di area tangga rumah. Area favorit saya.

Beres pindahan, saya kembali ke rutinitas pekerjaan, menulis skenario, mengajar dan mengisi workshop. Tanpa diduga, bisa menunaikan ibadah haji di tahun ini. Asli ini tanpa saya duga, tanpa saya rencanakan dengan serius dan sampai sekarang kadang rasanya masih surreal but it was real.

Saya masih ingat betul di suatu hari yang sejuk di bulan November 2017, di lorong kota Xiamen, saya jalan sambil ngobrol santai sama Mbak Eny, Cak U dan beberapa teman lain. Di situ Mbak Eny cerita pengalaman umrahnya, kedengerannya menyenangkan. Saya spontan bilang, “Kepengen ih…” dan Cak U menimpali, kalau kepengen sebaiknya segera karena makin lama akan makin crowded. Masuk akal.

Jadi, saat di China itulah pertama kali timbul keinginan pergi ke tanah suci. Saya pun berdoa semoga diberi kesempatan.

Tapi udah gitu aja. Saya ngga tergerak mencari travel agent atau apa pun. Memang periode 2016-2017 itu saya lagi sibuk menyembuhkan luka hati dan menata kembali personal life yang sempat berantakan.

Lagi pula, sejujurnya, saya merasa belum layak. Kayak masih banyaaaak banget PR yang saya harus bereskan, ibadah yang masih harus diperbaiki, dan paling penting adalah keselarasan pikiran, perkataan dan berbuatan yang masih belum terjaga.

Namun Gusti Allah maha mendengar. Doa saya dijawab melalui ajakan Neng Erni di awal tahun 2019. Beneran awal tahun banget pas kita pergi main bowling sama anak-anak, tiba-tiba Neng Erni mengajak daftar haji barengan. Sebenarnya Neng ngajak kakaknya, suami saya, tapi beliau malah bilang ke saya, “Kamu aja yang pergi. Kan sama-sama cewek bisa saling menemani. Kalau sama aku malah nggak bisa nemenin,”

Iya juga ya… cowok-cewek biarpun kakak-adik pasti nanti banyak dipisahnya. Saya iyakan meski jujur pesimis, apa iya bisa dapat seat? Quotanya kan sangat terbatas. Saya mengikuti saja semua yang dipilihkan Neng. Dipilihin biro travelnya, nurut, disuruh kirim passpor, nurut, pas foto pakai jilbab, nurut, dan ini lumayan lama, ada 4 atau 5 kali bikin tapi saya nggak pede. Saat itu saya belum pakai jilbab. Liat foto diri sendiri rasanya aneh…

Awalnya saya coba pakai syal putih sebagai jilbab. Saya belum punya jilbab waktu itu, tapi punya beberapa syal model pasmina. Kok rasanya kulit muka item banget karena kontras dengan warna putihnya syal… Ganti syal bunga-bunga, rasanya rame banget pengen nyanyi Lihat Kebunku. Ganti syal kotak-kotak, kayak pakai taplak meja… duh Gusti… piye iki?

Akhirnya pakai syal warna krem yang udah saya punya sejak kuliah, udah bluwek tapi rasanya nyaman, dan lumayan pede setelah foto selfie pakai tongsis. Bukan pas foto yang difotoin orang lain. Hehehe… Dan foto selfie ini yang akhirnya dipakai untuk seluruh keperluan haji.

Saat tiba bayar DP, nurut juga meski deg-degan (ini alhamdulillah dibayarin pak suami), lalu disuruh suntik vaksin meningitis dan vaksin flu, nurut, sampai direkomendasikan sebuah klinik di Serpong yang jauh saya pun nurut aja. Udahlah pokoknya manut. Alhamdulillah kliniknya gak pakai antre sama sekali, cepat prosesnya, dokternya pun ramah.

Oya, kami mendaftar bertiga. Saya, Neng Erni dan Neng Mita. Kami dijadwalkan berangkat 1 Agustus, tapi hingga penghujung Juli visanya belum keluar. Kami deg-degan… udah mulai belajar ini-itunya tapi diem-diem, udah nyiapin baju-baju tapi nggak berani packing. Takut GR udah packing ternyata visa nggak keluar kan malu sendiri. Wkwkwk…

Alhamdulillah visanya keluar tanggal 30 Juli 2019. Rasanya pengin nangis saking senangnya. Surreal. Langsung gercep masukin baju dll ke koper. Beli primolut jangan lupa, yang perempuan pasti bisa nebak maksudnya 🙂

Akhirnya 1 Agustus siang saya diantar keluarga ke hotel transit di dekat bandara, dan besoknya berangkat ke bandara. Seru… persiapannya mendebarkan, cerita perjalanan hajinya lebih mendebarkan lagi. Lain kali saya sambung. Draftnya sudah saya bikin sejak bulan September tapi belum selesai juga.

Jadi, pindah rumah dan menunaikan ibadah haji adalah highlight saya di tahun 2019. Selain itu, saya juga seneng banget kembali menggarap skenario film layar lebar karena sejak film Tiga Srikandi rilis di tahun 2016 saya fokus menggarap project-project video korporasi yang singkat demi kelancaran cash flow pada masa itu.

Selamat menyambut tahun 2020! Semoga tetap semangat mesti hari pertamanya diwarnai banjir parah di Jabodetabek. Semoga banjirnya lekas surut. Semoga rumah kawan-kawan pembaca blog ini aman, semoga kawan-kawan sehat semua. Aamiin!

Penulis: Swastika Nohara

I'm a freelance content and script writer for movies, television, commercials and internet-related content. With a team, I also do documentaries, video tutorial, video presentation and corporate video. I'm based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth. For me, life is like a cup of coffee. Life is the coffee while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead!

6 thoughts on “Menyambut 2020, Bye 2019

  1. Masya Allah….barokallah, semoga mabrur ya kak…
    Doakan saya semoga bisa segera menyusul ibadahnya…

  2. Mungkin maksudnya 1 Agustus. Barakallah… Semoga haji mabrur. Amin

    Menyambut tahun baru dengan B aja, itu bukan faktor usia yaaaaaa… Saya masih sangat muda dan B aja juga hehehe

  3. Turut senang. Semoga Berkah Jazakallahu Khairan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s