BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Mengajarkan Anak Menerima Kekalahan

4 Komentar

Ibu-ibu dan bapak-bapak yang punya anak kecil, pasti pernah merasakan galaunya menemani anak ikut lomba, komat-kamit baca doa lalu deg-degan saat pengumuman pemenang. Kalau anaknya menang, syukurlah… semua gembira. Tapi kalau anaknya kalah, apa yang orang tuanya lakukan?

Saya flashback ke sebuah lomba menggambar yang diikuti anak saya waktu masih kelas 1 SD. Lombanya disponsori sebuah brand besar, hadiahnya selain piala ada voucher belanja bernilai jutaan rupiah. Lumayan lah… Saya lihat beberapa ibu niat banget mendampingi anaknya lomba. Bawain meja kecil, alat gambar, handuk kecil buat lap tangan, merautkan pensil anak dll. Selama lomba berlangsung ibu-ibu ini duduk tidak jauh dari anaknya sambil sesekali memberikan instruksi atau memotivasi anak agar lebih cepat, lebih rapi menyelesaikan gambarnya.

Sementara saya cuma bawain meja gambar kecil aja, sisanya anak saya bawa sendiri. Selama lomba berlangsung, saya nunggu dan melihat dari jauh. Intinya kami santai aja ikut lombanya. Melihat peralatan tempur anak-anak lain yang lebih komplit, saya tidak berharap anak saya menang.

Lalu pengumuman pemenang. Ternyata anak saya dapat juara ke-dua. Wow! Ini aja saya seneng banget… lalu kami sama-sama melihat hasil gambar si anak juara pertama. Saya tanya pendapat anak saya, dan dia mengakui hasil gambar juara pertama memang bagus.

Saat kami beres-beres mau pulang, saya mendengar seorang ibu (yang niat banget itu) dengan nada tegas bicara pada anaknya “Harusnya tadi kamu begini, begitu, nggambarnya lebih gini-gitu dst,” Dalam hati saya membatin, “Wow.. chill Buk! Lombanya udah selesai, nggak guna juga ngomelin anak,”

FYI, ini satu-satunya lomba gambar yang pernah dimenangi anak sulung saya, itupun juara ke-2. Dia sering ikut lomba gambar, tapi lebih sering kalah, nggak dapat juara apa-apa. Jadi saya udah sering sih menerima kenyataan anak kalah dalam sebuah kompetisi.

Sebagai orang tua kita mesti gimana kalau anak kita kalah dalam sebuah kompetisi?

  • Jelaskan ke anak sejak kecil bahwa dalam sebuah kompetisi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Ini biasa. Makanya saya nggak setuju kalau ada lomba (biasanya buat anak TK dan PG) yang panitianya bagi-bagi piala untuk semua peserta. Ini sama aja ngajarin anak kalau ikut lomba harus dapat piala. Padahal dalam kenyataannya nggak gitu kan.
  • Hati-hati memberikan pujian. Pujilah usaha & kerja keras anak, bukan semata-mata hasil yang dicapai.
  • Pada saat anak saya juara ke-2 itu, dia saya ajak untuk memberi selamat pada sang juara pertama. Ini penting untuk menumbuhkan sikap sportif. Dalam konteks pertandingan olah raga, biasanya habis bertanding juga salaman kan, saya jelaskan ke anak bahwa salaman ini tujuannya adalah untuk saling menghormati ke lawan dan ke wasit.
  • Saya ajak anak ngobrol, kira-kira kenapa ya dia bisa menjadi juara pertama? Kelebihannya dimana? Dengan begitu anak jadi belajar mengevaluasi karya secara obyektif. Untuk pertandingan olah raga, hal ini lebih mudah karena biasanya ada score yang terpampang nyata.
  • Pasti saya hibur, saya apresiasi usahanya, dan ajak ngobrol kira-kira mesti gimana biar bisa lebih baik lagi.

Nah, dalam konteks pertandingan olah raga, anak saya yang kecil, si Adek, dua tahun terakhir ini suka ikut kejuaraan gymnastics. Dia latihan sejak kelas 1 SD, lalu selama kelas 2 dan 3 SD ini sering ikut lomba gymnastics sesuai levelnya. Namanya pertandingan, di setiap nomor alat kadang dapat medali emas, kadang perunggu, kadang nggak dapat sama sekali. Cara-cara di atas kepake banget buat menghadapi situasi kalau pas kalah.

Terus kenapa tiba-tiba hari ini saya nulis tentang pentingnya mengajari anak menerima dan menyikapi kekalahan?

Sebab saya sedih membaca berita demonstrasi di depan Bawaslu sejak kemarin hingga hari ini, yang berujung rusuh di Tanah Abang dini hari tadi. Enam orang meninggal dalam kerusuhan ini. Dan semua kerusuhan ini bermula dari salah satu kandidat calon presiden yang tidak bisa menerima kekalahannya.

Sungguh menyesakkan dada… gara-gara nggak terima kekalahan di Pemilu, lalu dia koar-koar dicurangi, protes (tapi alat buktinya cuma screen capture berita online), dan menggerakkan massa buat demonstrasi. Sampai akhirnya rusuh… padahal aparat kepolisian sudah antisipasi dan kerja keras menjaga keamanan.

Akibatnya pagi ini area Tanah Abang dan Thamrin City yang biasanya ramai menjelang lebaran, jadi kosong melompong… kasih para pedagang, para pekerja ekspedisi, dan karyawan toko, karyawan kantor dll semua terhalangi bekerja. Semoga orang-orang yang bikin rusuh itu mendapatkan balasan setimpal.

Penulis: Swastika Nohara

I'm a freelance content and script writer for movies, television, commercials and internet-related content. With a team, I also do documentaries, video tutorial, video presentation and corporate video. I'm based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth. For me, life is like a cup of coffee. Life is the coffee while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead!

4 thoughts on “Mengajarkan Anak Menerima Kekalahan

  1. bagian ini setujuah banggget —> “Hati-hati memberikan pujian. Pujilah usaha & kerja keras anak, bukan semata-mata hasil yang dicapai.”

  2. Sepakat, dan ini perlu ditanamkan sejak kecil agar ketika dewasa berjiwa ksatria, sportif serta obyektif menilai menang-kalah. All parents should pay attention to this.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s