BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Mari Bicara Tentang Cinta

33 Komentar

Tadi malam anak sulung saya yang kelas IV SD menangis diam-diam di balik selimutnya sebelum tidur. Ketika saya tengok dia, bulir-bulir air mata menetes di sudut matanya. Saya tanya pelan, kenapa nangis?

Dia diam saja.

“Kalau kamu ngerasa sedih, cerita yuk? Mungkin Bu’e bisa bantu,” kata saya.

Dia masih diam. Saya membujuknya lagi, sampai akhirnya saya mau beranjak meninggalkan dia, barulah si Kakak bicara. Rupanya, ada ucapan teman sekolah yang menjadi beban pikirannya.

Sebetulnya bukan perkara yang serius banget, atau berpotensi konflik gitu. Tapi saya mencoba melihat dari kaca mata anak yang sudah masuk usia pra-remaja, dimana peer-approval alias komentar positif teman sepermainan itu penting banget.

Teman sekolahnya ada yang bilang, “Kamu serius nggak sih jualan slime?”

Ucapan itu terlontar lantaran si Kakak belum bisa memenuhi pesanan slime temannya di hari yang dijanjikan, yaitu hari ini, karena cup plastik kecil-kecil yang dia pesan di online shop terlambat sampai di rumah. Slime-nya sudah jadi, tapi wadahnya belum ada. Akhirnya kami geratakin dapur mencari barang yang bisa dijadikan wadah 100 cc slime. Dan baru kali ini saya menemukan toples bekas selai senengnya kayak nemu harta karun!

Maka si Kakak berangkat sekolah dengan riang gembira membawa toples kecil isi slime. Lega!

Masalahnya terdengar sepele ya? Tapi buat si Kakak ini penting, dan saya sempat terhenyak karena si Kakak yang biasanya ramai berceloteh, semalam enggan bicara soal apa yang mengganggu perasaannya. Ini baru perkara wadah slime, gimana nanti kalau udah ada cowok yang naksir dia? Hmmm….

sari wangi IMG_0617

 

Saya jadi teringat obrolan dengan mbak Ratih Ibrahim, psikolog ternama, yang bilang kalau sebuah survey menunjukkan sekitar 80% orang Indonesia itu suka sharing, suka ngobrol dan bercerita tentang hal remeh-temeh. Tapi, hasil survey yang dilakukan lembaganya Mbak Ratih bersama SariWangi itu juga menunjukkan bahwa kebanyakan keluarga di Indonesia tidak terbuka dalam komunikasinya. Sebanyak 2 dari 3 responden menyatakan alasan kurangnya keterbukaan adalah menghindari konflik. Nah lo…

Jadi nampaknya, senangnya sharing, bercerita, ngobrol, itu tidak dibarengi dengan keberanian untuk bicara apa adanya, khususnya hal-hal yang berpotensi menimbulkan konflik. Padahal, memiliki kesempatan bicara yang mendalam di keluarga termasuk untuk hal-hal yang sulit diungkapkan, dapat membangun relasi yang hangat dan intim antar anggota keluarga, membuat keluarga lebih bahagia dan mencegah adanya risiko depresi pada seseorang.

Untuk memulai pembicaraan yang sulit, setiap individu harus melepaskan hasrat untuk menghakimi (judging) dan  berusaha memiliki empati untuk menerima perbedaan. Selain itu, suasana hangat dan akrab sambil minum teh hangat juga membantu anggota keluarga untuk bicara lebih terbuka.

Hal inilah yang diusung SariWangi sejak 2008 dengan tag-line Mari Bicara, yang mendorong keluarga-keluarga Indonesia untuk berkomunikasi dengan lebih terbuka dalam suasana santai, hangat dan nyaman, seperti yang ditunjukkan dalam video kisah kegalauan Mona Ratuliu ini.

sariwangi mari bicarasari wangi mari bicara ratih ibrahimsariwangi mari bicara teh

Dalam keluarga, ibu memiliki peran penting sebagai fasilitator untuk memulai percakapan. Setelah memulai percakapan dengan nada yang hangat, peran ibu berikutnya adalah mendengarkan apa yang disampaikan anggota keluarga lain. Nggak kebayang kalau dalam sebuah keluarga ibunya dominan, cerewet, dan kalau udah ngomong nyerocos susah disela. Bagaimana mau berkomunikasi lancar dan terbuka?

Mbak Ratih Ibrahim menambahkan, ibu juga berperan sebagai emotional supporter dalam memberikan dukungan dan kehangatan dalam keluarga. Jadi sebagai ibu perlu bersikap tenang dan mampu melihat masalah dalam perspektif yang tepat. Apa jadinya kalau dalam sebuah keluarga sang ibu emosional, gampang marah, mudah tersinggung, dan dikit-dikit nangis?

Memang keterbukaan dan cara berkomunikasi sangat menentukan pola hubungan sebuah keluarga. Saya sendiri juga masih terus belajar agar bisa menjadi ibu dan teman bicara yang menyenangkan bagi kedua putri saya. Sejalan dengan ajakan SariWangi  bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk berbagi pengalaman atau cerita di media sosial dengan menggunakan hashtag #BeraniBicara yang sekarang sedang berlangsung.

Kalau kamu, topik-topik apa saja yang bisa membuatmu ragu untuk #BeraniBicara pada keluarga?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

33 thoughts on “Mari Bicara Tentang Cinta

  1. Ping-balik: Wisata Rumah Ibadat: Cara Seru Kenalkan Keberagaman Bagi Anak | BLOG Swastika Nohara

  2. Yang jelas, aku nggak akan bicara “kegilaan kegilaanku” dengan keluarga deh. Hahahaha…bisa repot 😀

  3. aku koq kepikiran karena anakku senengnya KPOP dan bundanya ini masih aja seneng lagu rock dan metal. duh, jadi kita sering ribut-ributan karena aku ledekin favoritnya dia yang dia sih emang ikut-ikutan temennya katanya. tapi kami bisa dengerin coldplay bareng-bareng dan dia ngledekin aku karena gak nonton konsernya kemaren, haha.

    • hahaha… COLDPLAY ini memang penengah! Aku dan anakku juga dengerin coldplay bareng2. Kenapa kemarin gak nonton konsernya? Kalo anakku lebih ke hiphop, aku pop-ballads. Dia masih mau dengerin Adele sih 😀

  4. Sekarang anak jadi temen ya. Walaupun awal pembicaraan cuma nanya group KPOP ke anak, tapi kemudian jadi pembicaraan panjang.

  5. Ibu itu memang intel paling oke deh. Dengan melihat gelagat anaknya saja, dia sudah bisa tahu kalau sedang terjadi apa-apa. Aku baru bisa cerita bebas sama ortu itu semenjak dewasa ini, di saat kami semua satu rumah. Sewaktu tinggal terpisah, aku di Jakarta, ibu ikut ayah tugas ke mana-mana, hampir nggak pernah. Paling nelpon sambil mewek.

    Duh, semoga si kakak pas cerita soal pacarnya yang nggak bikin dia mewek ya, kak. Yang bikin dia happy gitu. Biar cerita ke kamunya menggebu-gebu. Sambil tea time gitu. #azg

  6. Aku pernah ngomong ke teman, ibu adalah center of everything kayanya. Ibu semacam manusia multi talent pun. Membaca cerita kak Tika membuatku makin merasa tanggung jawab ibu semakin bertambah (in a good way, pastinya). Semoga semakin banyak ibu yang menjadi lebih baik untuk setiap keluarganya. AAmiin

  7. *Peluk Sabai*

    Aku termasuk yang tertutup sih ke orang tua, jadi lebih sering dicurhatin malah sama Mamah. hahaha.
    Tapi pas udah punya anak, aku nggak pengen cuma aku doang nanti yang cerita ke dia, pengennya dia juga terbuka ke aku.
    Semoga bisa!

  8. Ciri khas orang Indonesia banget ya mbak ngeteh sambil ngobrol, sampai sekarang saya dan keluarga masih jalanin tradisi ngeteh ini setiap pagi dan sore.. keluarga jadi tambah akrab

  9. Waaah, makasi banget sharing-nya mba Tika.
    Iya nih anakku jg kelas 4 SD hadeeehhh drama pre-ABG vs emak sih kalo dirikuuuh hahahaha

  10. Persoalannya mungkin terdengar sepele, tapi sikap sekecil ternyata luar biasa, dia mulai belajar arti tanggung jawab dan commitment. Salute….

  11. thanks for sharing kak tika. masih jadi PR ku nih sebagai orangtua supaya anak2 lebih berani bicara. apalagi karakter anakku yang kecil itu pemalu dan cenderung ga banyak bicara

  12. Ternyata masalah hidup jadi ibu tidak berhenti di belajar ngomong aja *garuk-garuk kepala*

    Perjalanan masih sangat panjang ya kak Tika 😅, thank you for sharing, jadi kebayang nanti apa yg akan aku hadapi pada masa pre-teen. Semangatttt 🙏

    • Hahaha… usia toddler kita ajari ngomong. Abis itu gedean dikit bakal ngoceh mulu sampe kita pegel dengerinnya. Abis itu usia pre-teen ngomongnya udah mulai selektif, giliran kita puyeng ngoreknya :)) Lifet-ime Journey of being a mom ya?

  13. sesudah aku punya anak, juga concern masalah ini. padahal nih bocah masih kecil ya :))
    ini karna kemaren2 kepikiran kalau aku dan siblings ternyata gak terlalu terbuka sama nyokap, aku merasakan ada efek yg oke. malah sama bokap kita lebih leluasa kalau ngomong. dan aku gak mau Hisham merasakan hal yang sama nantinya. Mudah2an aku bisa menerapkannya 😀

  14. Masih harus belajar banyak soal tarik napas dan mendengarkan. Kadang terburu-buru pingin nyela dan kasi solusi padahal curhatnya aja belum selesai.
    Nice post, kak. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s