BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Senangnya Berbagi Cerita

16 Komentar

Suasana masih sepi ketika saya melangkahkan kaki menyusuri deretan cafe dan restoran di Setia Budi One hari Sabtu pagi lalu. Mata saya mencari-cari Lau’s Kopi, lokasi diskui KOMIK Nobar dengan tajuk Saatnya Sineas Perempuan Pegang Kendali Di Kancah Film Nasional. Temanya berat yah? Mana saya jadi pembicara pula! *nyengir*Saya sampai di lokasi tepat 30 menit sebelum acara mulai jam 10 pagi. Sebagian peserta sudah datang. Pesertanya adalah anggota Kompasiana yang sering menulis review film. Jujus saja, di acara ini saya baru tau kalau ada komunitas reviewer film di Kompasiana, sebuah forum online yang biasa diskusi soal beragam topik.

ACARA #NOBARKOMIK

Tepat pukul 10 pagi acara dibuka MC, dan ternyata disiarkan live dari kanal web dan media sosial Bank Danamon selaku sponsor. Saya bergantian mengisi acara dengan Balda Fauziyyah, seorang reviewer film yang rajin banget nonton film Indonesia di bioskop. Balda ini luar biasa deh, setiap pekan dia menonton 3-4 film Indonesia di bioskop! Gilak kan!

COBA SEMUA ANAK MUDA RAJIN NONTON FILM INDONESIA KAYAK BALDA!

Pasti film-film Indonesia akan menjadi tuan rumah yang punya tempat terpuji di negeri sendiri. Ngayal aja dulu, mumpung gratis. Anyway, saya pun mulai berceloteh tentang bagaimana perempuan Indonesia ditampilkan dalam film, sejak jaman film Tiga Dara yang otentik di tahun 1957, lalu film Inem Pelayan Seksi (1976), Lima Cewek Jagoan (1980) hingga film esek-esek yang silih berganti memenuhi layar bioskop Indonesia di tahun 1990-an semacam Gadis Malam dan Gadis Metropolis yang melejitkan nama seleb cantik Inneke Koes Herawati.

Lalu nyambung ke sosok perempuan dalam film-film Indonesia masa kini mulai dari Arisan!, Berbagi Suami, Claudia Jasmine, Athirah, Kartini, dan tentunya… ehm… film 3 Srikandi yang keren itu. Termasuk juga membahas peran perempuan di balik layar beragam film Indonesia.

kompasiana danamon talkshow

Enaknya ngisi acara talkshow yang audiens-nya blogger film adalah mereka rata-rata sudah menonton banyak film, jadi diskusinya SERU BANGET! Ketika saya diminta menggambarkan situasi perfilman Indonesia hanya dengan SATU KATA, saya bilang, film Indonesia sekarang itu KAYA. Temanya beragam, kualitasnya juga beragam, mau pilih yang bagus atau yang haha-hihi garing doang juga ada.

Saya suka gemes kalau ada orang di luaran yang bilang, “Ah, ngapain nonton film Indonesia, jelek-jelek, paling horor atau komedi gak jelas.”

Terus saya tanya, “Mbak/mas kapan terakhir kali nonton film Indonesia di bioskop? Waktu film apa main?”

Terus dijawabnya, “Film Laskar Pelangi!”

Ahelah mbak, mas! Film Laskar Pelangi itu tahun 2008! Nyaris satu dekade yang lalu! Saya akui memang ada periode dimana layar film Indonesia dipenuhi film horor yang gitu deh kualitasnya, tapi itu dulu. Sekarang, lihat saja sendiri di website 21Cinepleks, CGV Blitz dan Cinemaxx, ada beragam pilihan film Indonesia dari berbagai genre.

Memang tidak semua bagus, tapi saya berani bertaruh jajanin 1000 tiket bioskop buat teman-teman semua, setiap bulan setidaknya ada satu film Indonesia dengan kualitas baik yang menyenangkan untuk ditonton. Sering kali malah lebih dari satu judul. Kelar saya ngomong gini, Balda dengan senyum manisnya mengiyakan omongan saya. Ehehehe…

WORKSHOP MENULIS STAPALA

Kali ini beda, saya berkesempatan berbagi cerita dalam workshop menulis blog yang audiens-nya adalah para pendaki gunung dan penjelajah alam yang tergabung dalam Stapala. Wow!!!

Ini nih… dulu salah satu impian masa kecil saya tuh jalan-jalan naik gunung. Apa lagi Indonesia yang posisinya di ring of fire ini kah punya banyak gunung berapi cantik yah, sayang untuk dilewatkan. Jadi ketemu dengan teman-teman Stapala dalam workshop menulis blog yang super singkat di roof top cafe gedung Kemenkeu di dekat Lapangan Banteng ini sungguhlah bikin saya gemas!

Stapala kemenkeu

Kenapa gemas? Apakah anak Stapala ada yang ganteng?

Gemas karena teman-teman di Stapala ini punya banyak banget materi cerita seru untuk bahan blog dan vlog, SAYANG BANGET KALAU NGGAK DITULIS ATAU DIBUAT VIDEONYA GILAK!

Misalnya nih, salah satu dari mereka, seorang perempuan bertubuh ramping cenderung mungil, ternyata belum lama kembali dari ekspedisi ke Everest. GILAK SAYANG BANGET KAN kalau pengalamannya nggak dia tulis, dan fotonya cuma dia simpen di harddisk?!?! *insert emoji tebalikin meja di sini*

Teman-teman di sini mengaku sebenarnya ingin banget menuliskan cerita-cerita mereka dalam bentuk blog, sebagian kecil (3 atau 4 orang gitu) sudah melakukannya di blog masing-masing. Hanya saja hambatan mereka (selain sibuk kerja dan latihan fisik) umumnya bingung bagaimana mesti menuturkan ceritanya, mulai dari mana, lalu harus diakhiri dengan cara apa. Makan kesempatan yang sangat singkat itu kami membahas beberapa alternatif yang bisa dilakukan, termasuk bikin vlog dan Youtube channel seperti bocah satu ini.

Sayangnya sesi ini singkat sekali! Saya menikmati sesi berbagi cerita semacam ini, sekalian menebarkan virus-virus untuk menulis, bikin video, atau foto. Apa pun yang kita suka deh, pokoknya jadilah content creator, jangan cuma nonton doang. Teknologi udah memudahkan banyak hal gaes!

Begitulah, sesi harus berakhir. I wish we had more time 🙂 Or maybe we should do another session? Semoga 🙂

Kalau kamu, senengnya berbagi cerita soal apa?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

16 thoughts on “Senangnya Berbagi Cerita

  1. wah hebat banget tuh mbak, aku sebulan sekali aja belum tentu ada kesempatan nonton. >.<

  2. Banyak cerita hebat di sekitar kita ya mbak. Ayo, habis ini filmnya mbak Sabai apa? *siapnonton 😀

  3. aku berbagi cerita apa aja yang aku temui, selama bisa di tulis di share informasinya. Berbagi cerita dan membuat orang lain senang karena membacanya dan mendapatkan informasi bermanfaat pastinya membuat kita bahagia pun berpahala.*tsah*

  4. Dulu jaman cuma jadi penonton doang bisa gampang komentarin ini itu. Begitu ada kesempatan untuk terjun langsung dan liat produksi film (walaupun cuma film pendek) ternyata prosesnya bikin mulut ini ga lagi secara gampang nilai film Indonesia.
    Kalo saat ini aku lagi seneng berbagi cerita soal pengasuhan anak, Kdrama dan webtoon. HAHAHAHA.

  5. Misalnya nih, salah satu dari mereka, seorang perempuan bertubuh ramping cenderung mungil, ternyata belum lama kembali dari ekspedisi ke Everest. GILAK SAYANG BANGET KAN kalau pengalamannya nggak dia tulis, dan fotonya cuma dia simpen di harddisk?!?! *insert emoji tebalikin meja di sini*

    —————

    Terus inget ratusan poto yang masih bobo cantik di harddisk. Tarik napas panjang, kuatkan niat buat bongkar potonya. Hhahahhaa

  6. Biasanya baca review workshop/seminar slalu dari kacamata penonton, sekarang dr pembicaranya langsung malah lebih seru 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s