BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Jangan Diamkan Verbal Abuse

40 Komentar

Geni berteriak dengan suara keras, menghardik Bunga berulang kali hingga akhirnya menggebrak pintu kamar sampai pecah. Meski tidak tahan dengan segala teriakan dan makian itu, Bunga memilih duduk dalam diam, punggungnya menempel ke dinding, karena dia tahu menjawab makian Geni hanya akan membuat pria itu menghardik lebih keras lagi. Sudah berkali-kali hal itu terjadi.

Meski sudah sekian tahun menikah, Bunga masih belum mengerti mengapa Geni mudah sekali meledak amarahnya, dan semakin sering terjadi belakangan ini. Kalau sudah begini, tidak ada yang bisa Bunga lakukan selain menunggu sampai amarah Geni reda sendiri. Sering kali Bunga terpaksa mengikuti kemauan Geni, semata demi menghindari kemarahannya. Hingga Geni melakukan hal yang tidak dapat Bunga toleransi lagi, dan memutuskan bahwa dia harus menolong dirinya sendiri.

Hingga suatu hari Bunga membaca sebuah buku soal verbal abuse dan medapatkan wake up call yang sudah berdering nyaring.

Verbal abuse by definition is harsh and insulting language directed at a person (Merriam-Webster). Harsh-and-insulting language alone is considered as verbal abuse. Not to mention the yelling and furniture smashing.

Love and extreme anger cannot coexist together. When both are present, anger will always prevail leading to thoughts to get away from the angry person.

Persis seperti itulah yang Bunga rasakan setiap kali menerima terpaan amarah yang meledak-ledak dari pasangannya. She just wanted to get away from the angry person. As soon as possible.

Dalam kasus-kasus verbal abuse atau kekerasan verbal, kata-kata adalah instrumen untuk melukai dan mengintimidasi. Tidak perlu kekerasan fisik, namun tekanan yang ditimbulkan oleh caci-maki dan luapan kemarahan juga menimbulkan dampak yang sangat menyakitkan.

Namun, berbeda dengan kekerasan fisik yang jejaknya terlihat kasat mata dan bisa dimintakan visum ke dokter, kekerasan verbal tidak langsung meninggalkan jejak yang kasat mata. Makanya sulit bagi penerima kekerasan verbal untuk mendapatkan visum sebagai bukti akan hal yang menimpanya.

Saya menggunakan istilah ‘penerima kekerasan verbal’ bukan ‘korban’ karena tidak semua orang yang menerima perlakuan tersebut lantas rela menjadikan dirinya korban. Sebagian lalu bangkit dan mengupayakan berbagai cara untuk menghentikan dirinya menerima perlakuan tersebut, biasanya dengan melepaskan hubungan dengan pelakunya.

Partners stay together when each contributes in a positive way to each other. When you are a source of pain to your partner, you are at risk for losing him or her.

Kekerasan verbal tidak hanya terjadi dalam hubungan suami-istri atau kekasih. Bisa juga terjadi dalam konteks hubungan kerja, pertemanan atau orang tua dan anak. Kalau terjadi dalam konteks pekerjaan atau pertemanan, sudahlah, segera saja cari tempat kerja baru atau teman-teman baru. Namun tidak semudah itu melepaskan diri bila terjadi dalam hubungan keluarga inti, antara suami-istri atau orang tua-anak. Pembahasan kali ini fokus pada konteks kekerasan verbal yang terjadi dalam pasangan suami-istri atau kekasih.

verbal abuse

Banyak orang yang menghancurkan hubungannya melalui perkataan yang keluar dari mulutnya, one word at a time. Ini ibaratnya seperti membunuh dengan menyebabkan ribuan luka. Setiap kata dalam luapan amarah yang keluar, menyayatkan sebuah luka. Begitu seterusnya hingga kehabisan darah karena saking banyaknya luka. Ketika itulah sebuah hubungan sudah tidak dapat diselamatkan.

The details of the actual conversation may be forgotten, but not the hurt and bruised feelings caused by extreme anger last for days, or weeks, or months, or years.

Lalu apa saja yang bisa disebut kekerasan verbal? Bukankah setiap pasangan pasti pernah berantem? Iya benar, setiap hubungan pasti pernah mengalami konflik. Dalam situasi berantem, kedua belah pihak posisinya setara, tidak ada salah satu yang merasa terintimidasi. Lalu, adakah tanda-tanda kekerasan verbal agar bisa dikenali?

Tanda-tanda Dan Gejala Kekerasan Verbal

Dilihat dari perspektif penerima kekerasan verbal, yang disebut tanda-tanda kekerasan verbal adalah apa yang kita amati terhadap si pelaku, termasuk sikap dan perbuatan pelaku yang mempengaruhi emosi dan cara berpikir orang yang menerima perlakuan tersebut. Sementara gejala kekerasan verbal adalah apa yang terjadi pada penerima. Kadang gejala ini hanya penerimanya lah yang merasakan, tanpa terlihat oleh orang lain.

Tanda-tanda Kekerasan Verbal

Selain contoh luapan amarah ekstrim yang tertulis di awal artikel ini, tanda-tanda kekerasan verbal telah terjadi bila:

  • Pelaku mengeluarkan perkataan yang merendahkan penerima atau salah satu identitas si penerima (misalnya agamanya, etnisnya, pekerjaannya dan lain-lain)
  • Pelaku membuat komentar negatif, mengejek atau menghina pemikiran, sikap dan keyakinan penerima
  • Pelaku membahas dengan panjang lebar hal yang tidak disukai penerima hingga akhirnya si penerima menyerah semata agar tidak mendengar komentar sinis dari pelaku.
  • Pelaku mengeluarkan kata-kata yang mengandung ancaman.
  • Pelaku melarang penerima meninggalkan ruangan saat pelaku mengomel atau meluapkan amarahnya
  • Pelaku secara fisik menyudutkan penerima, misalnya membuat penerima terduduk, atau mepet ke dinding, sehingga tidak bisa beranjak saat pelaku mengeluarkan omelan.

Gejala (Seseorang Telah Menerima) Kekerasan Verbal

Banyak orang tidak menyadari dirinya telah menjadi sasaran kekerasan verbal. Sebagian orang bahkan menganggap lumrah bila salah satu pihak mengomeli pasangannya. Perlu waspada bila Anda:

  • Merasa gugup, cemas atau deg-degan bila pembicaraan mulai mengarah pada topik tertentu yang bisa memicu amarah pasangan
  • Merasa tersinggung bila pasangan mulai bicara dengan nada tinggi dan/atau menggunakan kata-kata kasar dan makian
  • Merasa tidak berdaya dan memilih diam karena menjawab amarah pasangan justru akan membuatnya lebih meledak-ledak
  • Merasa tidak tahan dan ingin berlari meninggalkan ruangan bila mana pasangan mulai mengeluarkan kata-kata tertentu
  • Merasa tidak dimengerti atau disalahartikan dalam berkomunikasi dengan pasangan
  • Mulai meragukan kewarasan atau tingkat intelegensi diri sendiri

Akibat Kekerasan Verbal

Bila seseorang menerima kekerasan verbal berulang kali dalam jangka waktu yang lama, beragam akibat bisa terjadi. Merasa tertekan (depressed) dan gelisah (anxious) adalah akibat yang paling umum. Selain itu penerima kekerasan verbal bisa:

  • Memiliki rasa percaya diri yang rendah, meragukan dirinya sendiri
  • Merasa ada yang salah dengan dirinya
  • Meragukan kemampuannya berkomunikasi
  • Kerap menyalahkan diri sendiri
  • Kehilangan spontanitas dan antusiasme dalam menjalani hubungan
  • Sulit membuat keputusan
  • Memiliki keyakinan semu, misalnya “Nanti dia akan berubah kok,” atau “Dia akan lebih baik setelah kita punya anak,” atau “Dia akan lebih baik kalau sudah dapat kerjaan tetap,”

Kekerasan verbal yang terus-menerus dalam jangka panjang bisa jadi akan termanifestasi dalam bentuk sakit fisik, seperti sakit kepala, nyeri bahu, migren, gangguan pencernaan, konstipasi dan lain-lain.

Setelah mencermati gejala dan tanda-tandanya, kok sepertinya familiar ya… Lalu bagaimana? Apa yang bisa saya lakukan bila saya sendiri, atau orang yang saya kenal baik menjadi penerima kekerasan verbal?

Get help.

Carilah bantuan dari orang-orang yang bisa dipercaya, misalnya keluarga, teman atau bila memungkinkan cari bantuan profesional seperti dari psikolog. Biasanya dalam konteks masyarakat Indonesia yang masih erat hubungan keluarganya, orang tua atau orang yang dituakan dalam keluarga besar bisa diminta sebagai mediator. Bisa juga orang dalam lingkup pertemanan yang bisa diajak diskusi dengan kepala dingin. Yang jelas, cari bantuan, jangan dipendam sendiri karena berada dalam posisi penerima kekerasan verbal bisa membuat seseorang merasa seolah kehilangan kekuatannya dan cenderung membiarkan siklus itu terulang lagi.

Salah satu lembaga yang bisa dihubungi antara lain:

Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI , Depok. Tlp.021–78881150

Di kota-kota besar di Indonesia biasanya sudah ada Klinik Psikologi, silakan googling. Good luck, and stay strong.

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

40 thoughts on “Jangan Diamkan Verbal Abuse

  1. kenapa pelaku begitu ya? aku dulu pernah dgn mantan. sbg org yg sayangnya bgt ama dia, emang aku milih buat diam. diapa2in mau aja, drpd rame. cuma ya tertekannya banget. kdg pgn ngerti knp mereka bgitu. mgkin dgn kita tau, bs ngurangin cara marahnya yg cenderung verbal abuse itu.

    • I feel you… banyak yang memilih diam dari pada makin ribut kan? Tapi mau diam sampai kapan? Pasti akhirnya akan sampai di titik udah nggak tahan untuk diam lagi. Kalau udah nggak tahan, pilihannya ada dua: melawan atau tinggalkan. Ya kan?

  2. Saya pernah… Sama pacar saya (sekarang Alhamdulillah sudah jadi mantan).

    Selalu direndahkan. Dibilang ga bisa ini itu. Ga boleh make up. Ga boleh meniti karir. Ga boleh pake baju ini itu. Dan lain nya.

    4,5 tahun.

  3. Ini dia nih kak. Banyak orang yang selalu berpendapat “Selama laki lo gak mukulin, bertahan”. Booookk verbal abuse ini juga gila loh. Aku dulu itu sangaaat amat tidak percaya diri karena verbal abuse dari orang2 dekat. Merataaaaap trus bahwa aku punya badan yang jelek. Tapi semua berubah ketika aku punya pacar yang kata2nya sangat membangun. Dari situ aku merasa “Oh, badanku gak jelek kok. kok bisa2nya gw gak pede ya..” Jadi mungkin bodi kita gak dihajar, tapi kepercayaan diri kita ditonjok sedemikian rupa sehingga kita merasa tidak punya value. Di situlah si pelaku nganggep kita lemah dan akan nurut sama kata2nya. “Siapa lagi yang mau sama lo selain gue? HAH?” hhhhhhhhh baca ini aku jadi emosi jiwaaa :)) be strong orang2 di luar sanaaa. You’re not alone!

    • Padahal kan relationship seharusnya menjadikan kedua belah pihak tumbuh dan menjadi lebih baik ya… bukan malah dikerdilkan rasa percaya dirinya atau hal lainnya. Ya, aku juga berdoa semoga siapa pun yang pernah atau sedang mengalami kekerasan verbal berlasil melaluinya dengan cara apa pun. Amin 🙂

  4. Disini lagi banyak banget kampanye soal abuse, both verbal dan physic. Kita dipandu untuk pergi ke website kampanye mereka dan mencari tahu apa yang mesti dilakukan. Amit-amit ya, semoga orang terdekatku gak ada yang mengalami kayak gini, tapi kalau ada, I will speak up.

  5. Woooow, tulisan ini mencerahankan sekali, jadi semacam menemukan jawaban. Mama-papa aku udah menikah lebih dari 30 tahun dan dari dulu papa itu suka marah-marah yang parah banget. Kadang kalau kami anak-anaknya ngebela mama, papa malah semakin marah dengan alasan mama itu suka ngebujukin anak-anaknya buat musuhin papa. Aku sebenernya udah lumayan lama tinggal jauh dari rumah. Tapi pas kebetulan pulang dan pas si papa ini marah-marah, mama malah minta supaya aku diam aja, biar papa ngga makin marah. Anyway, papa aku ini bolak-balik, mmm apa ya istilah halusnya, punya pacar setelah menikah (?) dan herannya mama masih mau aja gitu sama papa. Well, verbal abuse itu emang pembunuh mental nomor 1. Mungkin emang kalau seseorang itu terbiasa ditekan, jadi semakin merasa powerless, dan akhirnya malah ngga punya keberanian sama sekali. Berbahagialah orang yang masih berjiwa merdeka 🙂

  6. Makin dibaca makin ngerasa penulis pernah bgt ngalamin hal-hal di atas, dari orang tercinta atau yang pernah dicintai.
    Anyway… saya termasuk pelaku kekerasan verbal, dulu kepada adik-adik sekarang berlanjut ke istri. Terkadang itu terjadi tanpa disadari. Dan sejauh ini saya tahu harus melakukan apa jika kebiasaan buruk saya itu keluar lagi. Masalahnya penerima kekerasan verbal kan belum tentu selalu diam menerima. Ahahahahahahaha

    • “Masalahnya penerima kekerasan verbal belum tentu selalu diam menerima,” –> benar di bagian belum tentu selalu diam. Lalu apa yg menjadi masalah bila si penerima tidak diam?

    • Satu hal lagi, sangat menarik untuk tahu dari sisi pelaku kekerasan verbal, bagaimana prosesnya hingga Anda menyadari bahwa Anda termasuk pelaku? Imho sebuah kemajuan besar bila sebagai pelaku menyadari dirinya melakukan hal ini, dan bersedia ‘take action’ untuk mengatasinya.

      Lalu apa yang Anda lakukan jika kebiasaan buruk tsb keluar lagi?

  7. Wah, salut, saya suka sekali membaca postingan ini mba Swastika.
    Masih banyak, khususnya teman2 perempuan yang terjebak dengan orang2 yang jelas2 melakukan Verbal Abuse. Peran orang2 disekitar ‘korban’ yang belum sadar juga penting, krn emg verball abuse ini justru lbh berbahaya krn efeknya ke mental, insecure dan lain2. Thumbs up for this post! 🙂

  8. Mbak Tikaaa! Aku pernah banget ini ngalamin verbal abuse sama mantan sahabat jaman kuliah, dan walaupun pas lulus udah jaga jarak (bahkan hampir nggak pernah ketemuan lagi) dampaknya kerasa sampe sekarang, lho. Akibatnya aku jadi insecure, self esteem drop parah, overthinking dan gak bisa lupa sama “kenangan-kenangan” itu. Dan voila, kami pun saling menjauh dengan sendirinya. Thank you for sharing ya mbak 😀

  9. been there. dulu aku sampe percaya bahwa aku bodoh dan gak bisa apa2. hhhhhh…

  10. Setiap kata dalam luapan amarah yang keluar, menyayatkan sebuah luka. Begitu seterusnya hingga kehabisan darah karena saking banyaknya luka. Ketika itulah sebuah hubungan sudah tidak dapat diselamatkan.

    Akhirnya, sepanjang apapun recovery yang dilakukan (pelaku), penerima akan sulit menerima dan cenderung lebih sulit percaya pada orang lain di kemudian hari. Panjang ini dampaknya, dan ga semua orang sadar, dikira hanya “tabiat” dan jika didampingi “mungkin suatu saat nanti bisa berubah”. Masalahnya dalam proses itu ada manusia yang jadi “korban”. 😦

    • Indeed. Dan kalimat “Mungkin suatu saat nanti dia bisa berubah” ini seperti harapan semu bila pelaku tidak menunjukkan upaya serius untuk MULAI berubah. Jangan-jangan itu wishful thinking dari si penerima, sebagai placebo atas luka yang dialaminya.

  11. Aku baru tau dan baru flash back dikit, dr ciri-ciri korban verbal abuse rupanya sedari kecil diriku mengalami verbal abuse.

    Sedih kalau diingat dan menjadi catatan kecil utk saya agar tidak melakukan hal yg serupa utk org-org disekitar saya.

    Thxs kak Tika.

  12. topik yang berat di pagi ini. tapi rasanya benar istilah lidah itu lebih tajam dari pisau. bisa membunuh karakter orang. menusuk hati seseorang begitu dalam. memberi efek depresi. duh ya..

  13. Ya, ini merepotkan. Kemarin teman curhat jg kalo diabuse verbal suaminya tapi halus; Dilarang langsing, dilarang make up atau rebonding, dilarang pake baju bagus, dibatasi interaksi dgn orang lain; Menanamkan rasa bersalah di istri supaya gak menarik bagi pria lain, padahal si suami yg sudah punya simpanan lain. Lagi2 istri yg disalahkan karena kerja di luar kota. Kusarankan supaya dia membela diri secara verbal, eh takut dipukuli. 😦

  14. Masih banyak orang yang suka nggak nyadar melakukan verbal abuse. Nakut-nakutin masuk verbal abuse nggak sih? Misal orang tua nakut-nakutin anaknya: hayo kamu kalo nggak makan sayur tak kasih kecoak loh (misal si anak takut kecoak).

    • Bener, banyak yang belum sadar dirinya melakukan verbal abuse, banyak juga yg tidak sadar dirinya menerima verbal abuse. By definition itu termasuk, karena mengandung ancaman (meskipun ancaman kosong yah, karena masa sih dikasih kecoa beneran… hehehe).

  15. ni kekerasan verbal ini menurut aku lebih merusak ketimbang fisik. krn verbal itu ngena di hati dan bisa aja terlukanya lebih lama ketimbang di tampar. Contoh nyata anak2 yang di bully, itu ngefek lebih kuat loh 😦 sedih banget sama orang yang gabisa menahan emosinya ketika marah. ujuk2 jadi nyakitin hati yang malah jadi kekerasan verbal. Aku dulu pernah ngerasain tuh mba dan merasa kurangnya kampanye masalah ini. Bagus mba artikelnya semoga makin banyak yang melek soal kekerasan verbal di sekitarnya

    • Iya Aiko, efek dari kekerasan panjang ini jangka panjang dan laten, nggak langsung kelihatan. Apa lagi bila terjadi ke anak-anak yang masih dalam proses pembentukan karakternya, duh… aku sedih banget klo ngomongin dampaknya ke anak-anak 😦

  16. intinya jangan berbicara kasar, kalau amarah diam baiknya..wudhu kata rasulullah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s