BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Balada Ojek Jakarta (3)

19 Komentar

Saya adalah satu dari sekian juta pengguna ojek di Jakarta, sejak dulu sebelum ojek berbasis aplikasi jadi tren. Ini kisah Arman, seorang tukang ojek andalan saya di periode tahun 2009-2010, saat social media belum booming seperti sekarang. Nggak kayak tukang ojek umumnya yang pakai jaket dari dealer motor yang sudah pudar dan bau, serta helm catok yang juga bau bahkan sering jamuran (makanya saya selalu bawa syal atau bandana kalau naik ojek di Jakarta), Arman lain.

Arman rapi, selalu pakai sepatu dan jaket yang bersih, dan dia punya blog! Dia pakai blog untuk menjual jasa. Di blog nya Arman memuat komentar pelanggan, misalnya:

“Ketika pertama kali saya melihat dan menggunakan jasa ojek arman, saya merasakan ada sesuatu potensi yang memang berbeda dari tukang ojek lainnya. Cukup sopan dan tergolong rapi untuk ukuran tukang ojek kebanyakan, lebih tepatnya mirip dengan pegawai kantoran…”

Di blog nya Arman pun posting soal safety riding, yang buat kebanyakan tukang ojek lain mungkin prioritas nomor 27.

Nggak cuma ngojek, Arman juga kasih servis tambahan, unik dan personal. Jadilah ia memberikan jasa ojek plus-plus. Ini buktinya, kutipan favorit saya dari blognya Arman:

“Anda suka difoto? Anda ingin momen unik dan menarik? Jangan sungkan untuk minta difoto ketika menggunakan jasa layanan ojek saya. Bila anda menginginkan, langsung saya pasang di blog saya secara realtime. Atau anda ingin langsung dicetak untuk kenang-kenangan ngojek bersama saya, bisa juga. Hanya dengan menambah 4000 Rupiah saja. Abadikan kenangan ngojek anda bersama saya, dan sharing untuk keluarga, rekan, atau pasangan anda. Feel the Unique Sensation!”

Saya seharusnya mencontoh totalitas Arman dalam menawarkan jasanya….

IMG_3631

Nah, jaman sekarang saat ojek berbasis aplikasi menjamur, ada Gojek, Blujek, Grabbike dan Uber Motor serta entah apa lagi, saya tidak pernah lagi memakai jasa ojek langganan, termasuk Arman. Nomornya sudah tak bisa saya telfon. Mungkin sudah ganti, atau dia sudah alih profesi.

Padahal ojek langganan ini pernah menyelamatkan karir saya.

Suatu hari saya harus ke Ambon dengan penerbangan tanggal 1 Desember untuk riset materi cerita film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Sementara tanggal 30 November-nya saya jadi panitia pemutaran film dokumenter Jagal yang (waktu itu) kontroversial dan dilarang beredar di Indonesia. Jadi bikin screeningnya harus diam-diam, menyebar undangan secara gerilya, berlokasi di auditorium sebuah kampus.

Waktu itu saya pikir urusin dulu screening film sampai selesai, baru pulang, packing dan besoknya berangkat ke Ambon. Ternyata saya SALAH BESAR.

Tanggal 30 November jam 6 sore, sesaat sebelum screening mulai, saya mengecek e-tiket dan melihat informasi saya mesti terbang ke Ambon tanggal 1 Desember jam 00:30 wib alias MALAM ITU JUGA! Kan udah harus chek-in di bandara jam 23:00 wib.

Saya panik. Sudah lewat maghrib, dan saya mesti sampai di bandara jam 23:00 wib padahal belum packing. Kalau pulang dulu untuk packing jelas tak sempat, Jakarta MACET BANGET. Akhirnya saya telfon si mbak di rumah, saya kasih instruksi memasukkan baju ini-itu ke dalam tas ransel. Lalu saya telfon Arman untuk mengambil tas ransel di rumah dan mengantarkannya ke lokasi screening film saat itu juga.

Jam 21:00 wib kelar screening, pas Arman sampai mengantar ransel. Saya langsung minta diboncengkan ke Bandara dari kawasan Senayan. Hahahaha…

Saya baru tau bisa naik ojek ke Bandara Soekarno Hatta. Entah Arman lewat mana, pokoknya saya sampai di bandara dalam keadaan selamat meskipun rasanya getar-getar nyaris dua jam mbonceng motor.

Arman tidak pernah tahu bahwa profesionalismenya sebagai tukang ojek turut berkontribusi pada pembuatan film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku yang lalu terpilih sebagai film terbaik FFI 2014 dan mendapatkan piala Citra.

Seandainya bisa, saya pengin kasih piala Ojek Terbaik buat Arman.

cahaya dari timur kompilasi

FFI grid

 

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

19 thoughts on “Balada Ojek Jakarta (3)

  1. atau jangan-jangan ada sesuatu yang tak terlupakan dengan Mas Tukang Ojek nih kok sampai 3 episode atau nanti ada kelanjutannya hehehe….. pissss Mbak 🙂

  2. ternyata menarik juga bicara masalah ojek ya….
    ntar tak tulis juga 10 episode about ojek di kota Pahlawan.. Surabaya 🙂

  3. si Arman baik banget ya mbak

  4. Kapan mau ngojek ke kupang pakai jasa saya aja bu, terjamin. Saya blogger juga bisa moto juga. -tertanda Imron

  5. jd penasaran blognya mas arman nan heroik itu apa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s