BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Menikmati Simpang Lima Semarang

22 Komentar

Simpang Lima merupakan sebuah tempat yang legendaris dan ikonik bagi kota Semarang. Sejak dulu saya punya kesan tersendiri di tempat ini. Sebagaimana kota-kota di Jawa umumnya punya alun-alun, yaitu sebuah lapangan luas tempat warga berkumpul dan berkegiatan. Simpang Lima adalah alun-alun kota Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah.

Alun-alun ini dikelilingi jalan raya dengan lima simpang jalur kendaraan. Jalur tersebut adalah Jl. Pahlawan, Jl. Pandanaran, Jl. Ahmad Yani, Jl. Gajah Mada, dan Jl. Ahmad Dahlan. Di kawasan ini pada jam kantor sudah mengalami kemacetan seperti kota-kota besar lain. Tapi tentu saja tidak separah Jakarta. Aduh, jangan sampai semacet Jakarta ya!

Dulu di masa Presiden Sukarno, Simpang Lima pernah bernama Lapangan Pancasila. Alun-alun ini sangat penting keberadaannya karena menjadi ruang publik sekaligus tempat berkumpulnya masyarakat. Biasanya alun-alun ini diapit oleh gedung pemerintahan dan rumah ibadah. Konsep ini juga diterapkan di Semarang, di mana tidak jauh dari Simpang Lima terdapat kantor gubernur dan di sisi barat terdapat Mesjid Baiturrahman.

Namun sayangnya, pembangunan Kota Semarang semakin menunjukkan kepentingan komersil. Tepat di tengah kota, di Simpang Lima yang merupakan ikon kota justru didominasi oleh bangunan hotel dan pusat perbelanjaan. Tentu konsekuensinya jalanan sekitar Simpang Lima jadi macet. Yah, seperti hotel tempat saya gathering dengan malnya yang berada di sisi utara. Sedang di sisi timur ada Hotel Horison dan Matahari Plaza Simpang Lima.

hotel Ciputra Semarang

Di hari Minggu, Simpang Lima menjadi area bebas kendaraan (car free day) sehingga ramai oleh warga yang menikmati olahraga pagi, jalan-jalan atau sekedar duduk-duduk santai sambil menikmati aneka jajanan.

Kunjunganku di Simpang Lima tidak lama. Saya tiba di Hotel Ciputra Semarang yang berada tepat di depan Simpang Lima dan harus bersiap ke bandara untuk penerbangan terakhir ke Jakarta. Saya hanya bisa menjelajah Simpang Lima dan sekitarnya di waktu sore dan malam setelah pekerjaan usai.

Hotel Ciputra sangat beruntung karena lokasinyasangat strategis dan berada di jantung Kota Semarang. Seperti di kota lain, Hotel Ciputra Semarang pun disandingkan dengan Mal Ciputra. Semacam satu paket gitu!

Hal yang paling kusuka dari Simpang Lima adalah suasana malamnya. Malam yang cerah akan menjadi waktu yang tepat untuk mengeksplorasi kekayaan kuliner di seputar Simpang Lima.

Tepat pukul 7 malam, saya bersama seorang teman berjalan menyisir taman Simpang Lima yang ramai. Lampu-lampu jalan sudah terang ditambahi dengan lampu pedagang makanan di spotnya masing-masing. Tikar lesehan plastik pun telah digelar untuk menyambut pengunjung yang ingin bersantai menikmati malam dengan makanan khas Semarang.

Taman dengan ukuran 50 x 15 meter itu telah ramai dan ‘hidup’, lebih meriah lagi dengan penyewaan sepeda dan mobil lampu hias untuk berkeliling taman. Kendaraan mainan penuh lampu itu membuat taman makin benderang. Di area berkeramik, nampak remaja sibuk bermain inline skate dan scooter yang juga disewakan.

Kami memilih satu sudut yang mengarah ke Lawang Sewu, gedung kuno yang memiliki banyak pintu sehingga dinamai Lawang Sewu yang berarti pintu seribu. Bangunan peninggalan Belanda dengan desain klasik Eropa dan jendela dengan kaca patri yang elegan ini merupakan gedung kantor kereta api di masanya.

Tidak jauh dari gedung ini ada tugu yang diberi nama Tugu Muda. Konon, Tugu Muda dibangun untuk memperingati pertempuran lima hari melawan tentara Jepang. Tugu Muda ini juga dihiasi dengan air mancur yang cantik.

Di lesehan yang beralaskan tikar plastik kami mulai memilih menu. Nasi gandul yang menjadi ciri khas Kota Pati mudah ditemukan di Semarang. Salah satu kuliner khas yang populer di Semarang adalah Babat Gongso, yaitu babat sapi yang diolah dengan kecap. Akhirnya saya memilih tahu gimbal dengan nasi pecel Mbok Sador yang tak pernah sepipeminat alias harus antre

nasi pecel tahu gimbal mbok sador.png

Wedang tahu dan kue lekker mengingatkan akan masa kanak-kanak di mana jajanan ini sangat sering kunikmati. Untuk penutup kami memesan pisang plenet yang terbuat dari pisang kepok manis dengan topping keju dan wedang uwuh untuk menghangatkan tubuh di malam yang mulai dingin. Yuk, kapan kita ke Semarang lagi?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

22 thoughts on “Menikmati Simpang Lima Semarang

  1. Tahun ,96-an bila makan di Alun-Alun depan Ciputra, disamper ama tukang pijit “Mas Joni” dimana sambil nunggu pecel lele dimasak atau lainnya, si tukang pijit asyik matah-matahin tangan, leher dan pinggang kita…kriuk…kriuk…kriuk. Nyaman dan enak tanpa sakit. Kasi seribu dua ribu. Unik kan Mbak. Tukang pijit tepat sasaran dan express. Sekarang, terakhir saya sempat menetap di Jl. Rambutan, belakang AG. Suharti-Krapyak, mampir kesitu sudah gak ada. Ada yang tau Mas Joni kemana?

  2. beberapa tahun yang lalu beberapa kali nyicipin bubur ayam dekat sit,
    buka pagi hari, gak tahu sekarang masih ada apa gak karena lama gak ke sana.
    baca tulisan ini jadi pingin ke sana lagi….

  3. Abis baca langsung laper… *otw semarang*

    Adis takdos
    travel comedy blogger
    http://www.whateverbackpacker.com

  4. Taun kmrn aku ditraktir temen nginep di hitel ciputra, tapi namanya uda “dibeli” swiss belin. Se

  5. Pas lihat fotonya kirain Citraland yang di Grogol. :)))

  6. membaca postingan ini aku jadi pengin ke semarang… menginap di hotel di sisi jalan yang ada alun-alun gitu sebenarnya kalau buat tamu hotel/pengunjung cukup memudahkan aksesnya untuk kemana–mana, kalau kegiatannya ada di pusat kota itu. yekan?

  7. Udah lama banget nggak ke Semarang…. Semacam kangen sama kota ini, karena dulu sempat ada cerita kenangan di sana. Ehm!!! Udah ah, nulis komen di blog ini jadi inget semuanya. Diantara beragam kuliner khas semarang, sebenernya loenpia termasuk bintangnya. Loenpianya kok nggak dibahas mbak?

  8. Nom nom nom… Enak enak makanan di semarang!! Aku belum pernah nginep di hotel Ciputra krn klo ke Semarang ada yg ditebengi. Cuma pernah ke mall Ciputranya, yah standarlah, ngga ada yg spesial dari mall-nya. Anyway, Nice writing mba!! Kalau di semarang mau makan nasi gandul khas Pati aku tau tempat yang enak! Mau dibisikin infonya?

  9. Sluruphhh! Tahu gimbal. Dengar simpang lima jadi ingat teh poci. Aku suka ke Semarang, apalagi jalan pandanaran, banyak makanan enak! Jadi ngiler ingat lumpia dan bandeng😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s