BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Jejak Letusan Tambora

25 Komentar

Sumbawa, 10 April 2016. Alunan musik gambus mengalun syahdu di bawah satu-satunya pohon di sebuah pulau kecil bernama Gili Gambus siang itu. Mustafa Daood memetik sitarnya dengan sepenuh hati, melantukan lagu Malam Ini yang dipopulerkan grup musiknya, DEBU. Spontan warga ikut bersenandung. Saya pun terhanyut… turut mengangguk-anggukkan kepala dan melafalkan liriknya. Meresapi irama dan lirik lagu ini, saya merasa siang yang panas mendadak jadi teduh…

Gambus is not my cup of tea. Sudah puluhan tahun sejak terakhir kali saya mendengarkan irama gambus secara utuh. Namun siang itu di Gili Gambus saya terlena oleh alunan musik gambus bersama puluhan warga setempat. Suasana pertunjukan out door, di pantai, serta kesungguhan hati Mustafa Daood membawakan karya musiknya adalah perpaduan pas untuk penyejuk jiwa.

Ada apa tiba-tiba Mustafa Daood, icon grup musik DEBU, tampil di sebuah pulau terpencil di Sumbawa?

Latar belakangnya membawa kita menengok jauh ke belakang, hingga 201 tahun lalu saat Gunung Tambora meletus di bulan April tahun 1815. Letusan gunung Tambora ketika itu menciptakan hujan abu vulkanik hingga ke Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Bahkan efeknya terasa hingga ke Eropa dan Amerika. Mengutip sebuah sumber:

Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai Tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini. Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.

Wow… Kebayang nggak apa impaknya kalau letusan gunung berapi sedasyat itu terjadi di jaman modern saat arus informasi dan social media bergemuruh tanpa henti?

Tak heran setiap tahun dilakukan peringatan atas peristiwa tersebut sekaligus untuk memperkenalkan wisata Tambora kepada dunia. Bertajuk Ziarah Tambora-Moving Festival, peringatan tahun ini unik sekali. Namanya moving festival ya, bergerak! Jadi festival ini diadakan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di sekitar Gunung Tambora di Sumbawa selama tanggal 7-17 April. Yup, masih 3 hari loh! Kalau kamu terbang ke Sumbawa hari ini, masih bisa nonton festivalnya.

Tak hanya pertunjukan musik yang melibatkan 16 seniman dari 12 negara, tapi juga ada teater, sedekah laut, lomba mancing, parade perahu hias, Tambora trail run dan pemutaran film “Tambora dan Climate Change: A Year Without Summer”. Budayawan Taufik Rahzen adalah salah satu sosok di balik festival ini.

Rencananya festival ini akan diadaka secara berkala setiap tahun, semoga dengan line-up yang semakin seru. Jadi kalau terlewat festival tahun ini, masih bisa datang tahun depan. Nah, lalu bagaimana caranya kalau mau datang ke Gili Gambus dan Gili Tapan, pulau kecil lain di Teluk Saleh, Sumbawa?

Transportasi

Naik pesawat ke Sumbawa Besar (biasanya transit di Praya, Lombok) lalu naik mobil sekitar 1 jam ke Pelabuhan Jonggar. Dari situ bisa naik kapal warga atau menyewa (kalau datang ramean enakan sewa, bisa patungan) ke gili atau pulau manapun di sekitar Teluk Saleh. Banyak pulau-pulau kecil yang cantik di perairan ini, seperti Gili Tapan, Gili Gambus, Pulau Meriam Besar, Pulau Meriam Kecil dan agak jauh sedikit bisa ke Pulau Moyo atau Satonda. Yak, silakan menikmati foto-fotonya:

IMG_0733

Pelabuhan Jonggar, point penyeberangan dari Sumbawa Besar ke gili-gili di sekitarnya. Foto aerial di atas dipersembahkan dengan penuh dedikasi oleh kawan saya, Saifanah.

Sumbawa 01 pelabuhan Jonggar

sumbawa ibu payungan

sumbawa 02 lautbening

Bening ya? Pengin nyebur kan… ya kan? Ikan-ikan keci berenang menggemaskan!

Sumbawa 03 gili gambus bagus

sumbawa 03 gili gambus musik

Foto yang satu ini dijepret oleh kawan saya, si Bolang. Tampak Mustafa Daood (duduk di pohon, kaus hijau) dan beberapa musisi lain main musik di Gili Gambus, dinikmati bersama warga. Sebelah kiri Mustafa itu, yang berkaus coklat, adalah musisi dari Meksiko, kalau dari jarak dekat baru kelihatan gantengnya 😀

sumbawa him fiona bolang

Foto terakhir itu penting nggak penting, sebagai bukti otentik aja kalau kami beneran ke sana 😀 Hehehe…. Terlihat jelas kan, siapa di antara kami yang kemana-mana langsung jadi idola dan dikerubutin anak-anak setempat?

Akomodasi

Di Sumbawa Besar ada pilihan tempat menginap seperti Samawa Hotel transit atau Hotel Tambora. Kami menginap di kedua hotel itu, bergantian. Fasilitasnya mirip, harga setara, keduanya terletak secara strategis, tapi saya pribadi lebih suka Samawa hotel transit karena lebih bersih, lebih nyaman dan pilihan hidangan sarapannya lebih beragam.

Bisa menginap di Gili Tapan, ada beberapa rumah penduduk yang bisa menerima tamu, jadinya semacam home stay gitu. Tapi bila ingin island hopping dan pulang ke Sumbawa Besar di sore hari juga oke. Para musisi manca negara itu pada tidur di tenda di puncak bukit Gili Tapan yang menghadap ke laut. Seru kayaknya!

Bisa juga live-on-board alias menginap di atas kapal dan berkeliling di sekitar Teluk Saleh. Saya belum mengeksplorasi option ini, semoga tahun depan 🙂

Budget

Tiket pesawat Jakarta-Sumbawa dengan Batik Air seharga Rp 750.000, atau dengan Garuda seharga Rp 1.050.000. Bisik-bisik sama abang yang membawa kami ke Gili Tapan, katanya bisa mengantar pengunjung dari Sumbawa ke Gili Tapan dengan tarif Rp 400.000-500.000 PP.  Hotel di Sumbawa besar kisaran harganya antara 300-500 ribu. Jadi silakan dihitung sendiri berdasarkan kebutuhan, dan berapa lama mau di sana.

Persiapan lain

Sumbawa masih terhitung sebagai salah satu daerah endemik malaria di Indonesia, jadi perlu hati-hati. Boleh minum pil anti malaria atau minimal pakai lotion anti nyamuk sebagai pencegahan. Sebaiknya membawa snorkel dan perlengkapan sendiri kalau mau nyebur, karena pulau-pulau di Teluk Saleh ini masih sangat alami, belum tersentuh pedang bermata dua bernama industri pariwisata.

Sinyal GSM di sekitar Teluk Saleh juga masih sulit, kadang ada, sering tiada. Jadi beri tahu kekasih dan handai taulan kalau kamu bakal susah ditelefon, apa lagi di whats-app. Bagi saya, ketiadaan sinyal GSM ini adalah blessing in disguise, kita jadi bisa fokus menikmati keindahan dan kemurnian alam. Ya kan?

Jadi, tahun depan pas ada Ziarah Tambora, kita ke Sumbawa bareng yuk?

 

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

25 thoughts on “Jejak Letusan Tambora

  1. tiket jakarta sumbawa sama dengan tiket jakarta jogja kala weekend.. menarik banget.. tambora ini salah satu destinasi wisata yang masih di angan, tentu sekalian ke gili saja..
    sempet punya harapan lebih mudah jelajah indonesia sebelah timur pas daftar kerja taun lalu, eh tinggal selangkah malah nggak lolos dan pupus harapan kerja sambil menikmati indonesia timur.. sampe sekarang pake WITA ya baru di Bali doang.. semoga nanti ada waktu kesini lah.. 😀

  2. jadi pengen ziarah tambora tahun depan….bening banget lautnya…foto drone nya baguss banget….

  3. Cantik sekali pulau dan lautnya. Beruntung sekali mbak, bisa ke Sumbawa pas ada festival. Mupeng euy, tapi saya jadikan inspirasi 🙂

  4. Ada musik gambus trus semua goyang dong hahaha

  5. jangankan ke tambora.. tingkat ke merapi aja aku pengen ikutan Kak.. apalagi klo kakak yang ngajak dan aku ikutan dalam paket team hore2nya kak Tika 😀

  6. Beneeer kan kita gak jadi balik lagi ke gili gambus dan photo diatas bukit hijau itu! Heehee untung sempat photo-photo sepuasnya disana ya

  7. cantik banget pemandangannya, mbak 🙂
    sungguh bikin mupeng dan nyebur (eh tapi ga bisa renang, hehe).
    semoga suatu saat ada kesempatan ke sana

  8. mau bangeeeet ke Sumbawa

  9. Ikuttttt lagi yok kak tahun depannnnn 🙂

  10. Wagh keren ya… Sejak lama pengen jelajah ke Indonesia agak timur… Tapi belom sempet sempet…

  11. Duh jadi lap iler melihat foto-foto Mbak Ika. Letusan itu telah meluluh lantakan banyak kehidupan. Tapi peninggalannya jug menghidupi ya Mbak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s