BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Tersesat Di Goa Putri

35 Komentar

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang putri bernama Dayang Merindu di sebuah desa di tepi hutan di kawasan Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan. Sebagaimana layaknya putri, Dayang Merindu berparas cantik jelita meski tanpa polesan make up dari Korea. Seandainya Dayang Merindu hidup di jaman modern ini, pasti kemolekan parasnya sudah membuat dia direkrut jadi personel SNSD, girl band yang anggotanya cantik semua.

Namun Dayang Merindu adalah putri yang bersajaha. Dia tidak suka glamornya panggung K-Pop apalagi main sinetron. Tidak. Dayang Merindu lebih suka menyendiri dan menulis bait-bait puisi di dalam goa yang memang menjadi tempat tinggalnya.

Goa itu luas sekali, dengan hiasan stalaktit dan stalakmit bertebaran di setiap sudut, dengan sebuah sungai mengalir di salah satu lorongnya sebagai sumber air bagi Dayang Merindu. Ada ruang tidur, ruang makan, dapur dengan sumber air tawar dari sungai bawah tanah yang tak pernah kering meski di musim kemarau, ada juga ruang tengah yang bentuknya luas seperti panggung tempat Dayang Merindu menuliskan puisinya.

Goa Putri IMG_1918

Ini bukan fotonya Dayang Merindu yaaa… Cuma mau kasih lihat pintu masuk Goa Putri.

Goa Putri IMG_1987

Interior goa yang luas. Coba tebak, foto di atas itu ruangan apa?

Goa Putri IMG_1984
Bagian teras goa, tempat Dayang Merindu suka ngopi cantik di sore hari. Kamu mau ngopi sambil makan red velvet cake di sini? Asik kan?
Meskipun nyaris semua kegiatannya dapat dia lakukan di dalam goa, seminggu sekali Dayang Merindu tetap perlu keluar dari dalam goa untuk sun bathing, agar kulit mulusnya tidak terlalu pucat. Dayang Merindu tahu, sebagai gadis dari daerah tropis, berkulit kecoklatan tentu lebih cantik dan eksotik. Maka pada hari Minggu pagi yang cerah, Dayang Merindu tengah keluar goa untuk sun bathing sambil menjemur cuciannya, berupa kain-kain jumputan dan songket khas Sumatera Selatan yang indah.

Dayang Merindu menjemur baju mengenakan selapis kain yang menutupi badannya dari dada hingga betis. Saat menjemur, angin bertiup menyibakkan kainnya hingga terlihatlah kakinya yang jenjang. Diam-diam seorang pengembara yang melintasi hutan melihat Dayang Merindu, dan langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Pengembara itu menyapa dengan sopan, tapi Dayang Merindu tak sudi menjawab, sehingga terjadilah monolog ini:

“Wahai nona yang cantik jelita, bolehkah hamba bertanya? Apakah kiranya di sekitar sini ada sinyal 4G LTE?”

Dayang Merindu diam saja. Si Pengembara bicara lagi.

“Baiklah, nona mungkin tak faham pertanyaan hamba. Kalau begitu, bolehkah hamba minta minum barang seteguk saja? Haus rasanya hamba sudah berjalan dari Bekasi,”

Dayang Merindu diam saja. Si Pengembara bicara lagi, mulai kesal.

“Nona, kenapa diam saja? Nona lagi sariawan kah?”

Dayang Merindu masih diam saja. Si Pengembara masih mencoba beberapa pick up line yang biasanya sukses dia pakai untuk menggaet gadis-gadis desa, tapi Dayang Merindu tetap diam seribu bahasa. Akhirnya kekesalan si Pengembara memuncak sampai ke ubun-ubun, dia pun menyumpahi Dayang Merindu.

“Nona ini cantik tapi diam saja macam batu! Sekalian kau jadi batu!”

Dan benar saja, Dayang Merindu pun segera berubah menjadi batu!

Rupanya pengembara itu adalah si Serunting Sakti yang mendapat julukan si Pahit Lidah, orang yang terkena sumpah serapahnya akan berubah menjadi batu. Begitulah legenda Goa Putri yang sangat terkenal hingga kini. Kecantikan interior Goa Putri memang sangat memukau. Siapa pun bisa masuk dan menikmatinya, tidak perlu keterampilan dan alat-alat caving yang ribet. Pikiran saya melayang di setiap sudut goa ini, tersesat ke masa lampau saat Dayang Merindu masih hidup di dalamnya.

Goa Putri IMG_1931

Di depan kamar tidurnya Dayang Merindu. Bagian yang putih di sisi kiri saya, itu sebuah ceruk luas di dinding. Bayangkan tidur di situ tiap malam, kayak apa ya rasanya?

Menuju ke Goa Putri bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi atau travel selama 7 jam dari kota Palembang ke arah kota Baturaja. Di dekat Goa Putri ada sebuah museum yang menampilkan koleksi temuan purbakala di sekitar daerah ini.Saat ini museum ini masih dalam tahap pembangunan, tapi katanya akan menjadi museum terbesar se-Asia Tenggara. Definitely worth visiting!

Nah, dari Goa Putri sekalian deh main ke Danau Ranau, lalu ke Muara Enim dan ke Pagar Alam. Ada apa saja di sana? Tentunya akan saya tulis dalam blog post terpisah. Jadi, kapan kamu mau main ke Sumsel?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

35 thoughts on “Tersesat Di Goa Putri

  1. Ping-balik: 5 Hal Seru Di Pagaralam – About life on and off screen

  2. wah gua selalu eksotis

  3. Cahayanya lumayan ya, jadi gak terlalu pekat suasana di dalemnya. Bentuk patung Dayang Merindunya ada di situ juga ga?

  4. Jadi pengin jalan ke sana…. mahal gak ongkosnya kak?

  5. Tak kira Goa Putri hanya ada di Pacitan ew mbak,,, ternyata ada juga tow di Sumatera Selatan 🙂 salam kenal mbak

  6. oohh dayang merindu 😀 jika dikau masuk menjadi anggota girl band SNSD.. aku pasti jad fanboy dan hardcore fans-nya kamu 😀 hahahaha

  7. Halo Putri Mayanggggg 🙂

  8. Pahit lidah ini sensi banget sih orangnya. Di daerah Pangkalan Lampam juga ada pasangan pengantin yang gak noleh pas ditegor sama doi. Jadi batu juga deh.

  9. Aku selalu merindu sama seseorang yg tak perna mau kujadikan dayang2 ihik ihik

  10. Mbak Tika, rupa-rupanya kamu ya Putri Dayang Merindu itu. Hehehe!

  11. ternyata ada legendnya ya kak Goa putri itu

  12. hahaha ngakak di bagian 4G LTE
    duhh sang pengembara kayaknya mengidap FOMO nihh x))

  13. eh beneran itu ceritanya mbak?

  14. Oh jadi begitu ya singkat cerita dari goa putri ini, tempatnya bagus banget. Saya kira akan gelap didalamnya tapi ternyata tidak ya mba malahan nggak perlu bawa senter untuk menerangi ketika jalan. Bagus dan indah banget ❤

  15. Ja..jadi kamu adalah titisannya Dayang Merindu kak? 😱😱😱

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s