BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Palembang: Lorong Waktu Di Kampung Arab Al Munawar

24 Komentar

Ada perasaan sendu dan sedikit mellow saat saya menapakkan kaki menyusuri lorong di Kampung Arab Al Munawar di Palembang, Sumatera Selatan. Deretan bangunan tua berdiri gagah di sisi kanan-kiri jalan, menjadi saksi bisu kejayaan kampung ini pada masanya. Seorang kakek dengan janggut panjang menyapa saya, mengajak saya masuk ke salah satu rumah.

Saya membuka sepatu, lalu mengikuti langkah pria dengan gamis panjang itu memasuki sebuah rumah kuno. Daun pintu yang kokoh namun kusam, menandakan rumah ini telah dihuni turun-temurun lebih dari tiga generasi tokoh kampung Al Munawar. Mata saya menelusuri seisi rumah ini dan mendadak saya merasa terlempar ke masa kecil saya. Melihat lemari bufet di ruang tengah, saya teringat almarhum nenek saya. Beliau punya bufet yang nyaris sama. Sungguh nostalgic.

“Dik… Adik! Melamun adik rupanya! Ini, silakan minum dulu kopinya!”

Kakek tua itu tertawa, memperlihatkan satu giginya yang ompong. Seorang perempuan gemuk separuh baya duduk bersimpuh di atas karpet, menuangkan kopi arab ke sloki-sloki kecil di atas nampan. Saya tersenyum dan mengambil satu sloki kopi hitam itu, lalu meresapi aroma sedapnya yang sejak tadi meruap di udara.

Pandangan saya beredar ke deretan kusen jendela yang tampak rustic. Ah, jendela-jendela ini instagramable sekali. Saya tersenyum mengamati teman-teman saya gantian berfoto dengan background lorong kampung ini. Ketika nenek moyang warga kampung Al Munawar datang dari Hadramaut di kampung ini 300 tahun silam, apakah mereka pernah terpikir kampung mereka akan dijadikan salah satu tujuan wisata religi Sumatera Selatan?

Warga kampung Al Munawar berasal dari jazirah Arab bagian selatan dimana Yaman sekarang berada. Mereka datang untuk berdangang dan menyebarkan agama Islam. Mereka kemudian membaur dengan warga Palembang dan menetap di Kampung Al Munawar. Kampung Arab terletak di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian Ilir maupun di bagian Ulu. Lorong Al Munawar persisnya berada di Kelurahan 13 Ulu dan bisa dicapai dengan naik perahu ketek menyusuri Sungai Musi.

Meski warga Arab di sini telah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, masyarakat Kampung Arab memegang teguh budaya mereka tentang Pernikahan. Seorang perempuan keturunan Arab tidak boleh menikah dengan laki-laki pribumi (masyarakat dari daerah sekitar). Namun, laki-laki keturunan Arab boleh menikah dengan perempuan pribumi.

Pernikahan di sini biasa dirayakan dengan makan secara Munggahan dan tarian Zapin. Dalam Munggahan aneka makanan Arab disajikan dengan nasi lemak, mulai dari kari kambing, gulai ayam, selada, hingga acar timun. Kami pun diajak mencicipi makan ala Munggahan ini. TERNYATA SEMUANYA ENAK!

Makan Munggahan Al Munawar

Menu Arab Al Munawar

Usai makan siang ala Munggahan, kami diajak masuk ke bagian dalam sebuah rumah lain yang tak kalah antiknya. Ternyata sekelompok pria telah siap dengan alat musik mereka, bermain musik gambus dengan irama rampak yang menghentak.

Saya masih terpesona dengan tepukan gendang para pemusik ketika dua orang pria masuk dengan menandak-nandak. Olala…. Tarian ZAPIN saudara-saudara! Para pria bersuka cita dengan musik dan tari, sementara para perempuan mengintip dari balik tirai yang memisahkan ruangan kami dengan ruang dalam. Mereka tampak ikut gembira, meski tradisi melarang mereka ikut menyanyi dan menari bersama para pria.

IMG_0118

Kampung Arab Al Munawar tari Zapin

Tuh, menghayati banget! Di bawah ini foto karya Firsta yang juga menulis tentang Kampung Al Munawar. Juga tulisan Bolang, Wira, Yuki dan Shasy, point of view mereka tentang kampung Al Munawar di Palembang.

zapin al munawar palembang

Kalau mau ke Palembang, tanggal 9 Maret nanti adalah waktu yang sempurna, karena ada gerhana matahari total terjadi di kota ini. Sebuah peristiwa langka yang terjadi tiap 350 tahun sekali. Tak sekedar menonton gerhana matahari total, Disbudpar Sumatera Selatan telah menyiapkan sederet acara menarik seperti gelar sarapan pagi di jembatan Ampera, serta menampilkan barongsai dan Naga Raksasa di kawasan yang sama. Selengkapnya klik ini, dan tujuan wisata lain di kota Palembang, klik ini. Jadi, kapan kamu mau ke Palembang?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

24 thoughts on “Palembang: Lorong Waktu Di Kampung Arab Al Munawar

  1. Sekarang kampungnya makin cantik 🙂

  2. Ping-balik: Kulit Wajah Bersih & Sehat Idamanku | About life on and off screen

  3. Ping-balik: Cuci Muka Yuk? | About life on and off screen

  4. menarik yaaa… apa lagi kalau udh dikelola profesional gitu jadi udah jelas CPnya siapa dan lain-lain. Di sana udah gitu belum kak?

  5. Ping-balik: Harta Karun Di Sumatera Selatan – About life on and off screen

  6. hadeuuh mba, itu makanan ala Arab nya bikin pengeeenn ^o^.. kari kambing arab , dgn rempah kuat, udh pasti enak lah yaaa. 😉

  7. Ping-balik: Mengejar Gerhana Matahari Total ke Palembang | Kata Shasy.......

  8. Daaan aku masih menyesali nggak foto di rumah putih hijau yang cantik itu. Kenapa siiih nggak ingetin : )))

  9. Wihhh rumahnya kereeeen.. itu buat wisatawan ya?

  10. Kampung Arab ya Tik, Semacam Ampel kalo di surabaya. Itu sedang ada acara pernikahan betul atau ato hanya atraksi untuk wisatawan?

  11. Ping-balik: Kampung Al-Munawar: Kampung Arab yang Ramah Pariwisata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s