BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Menjemput Sunset Di Pulau Banyak

55 Komentar

Sunset kok dijemput? Memang dia nggak tau jalan pulang? Menjemput sunset adalah istilah saat saya dan teman-teman menunggu di pantai, lalu begitu matahari mulai bergulir ke cakrawala kami segera siap-siap dengan kamera untuk mengabadikannya. Pastinya kami juga bereksperimen dengan time lapse, foto berbagai pose, mulai dari pose cantik, pose bugar hingga pose-pose absurd. Jadi kami menjemput sunset untuk dimasukkan dalam memori di HP dan di hati.

Beberapa hari lalu saat pergi ke Pulau Panjang di Kecamatan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, kami beruntung mendapatkan sunset yang luar biasa indahnya. Semburat jingga merekah dan menyebar di langit, menebar pesona di antara awan-awan yang menggantung rendah. Lalu langit ditumpahi warna merah merona. Indah sekali… salah satu sunset paling indah dalam hidup saya.

IMG_1067
IMG_2050Foto 1 oleh Bolang Lostpacker, Foto 2 oleh Sendy Aditya

Perjalanan ke Pulau Banyak kali ini seru banget karena tempatnya bagus dan bersama teman-teman yang super menyenangkan. Ada Satya yang suka terbang naik paralayang, Bolang si pengembara, Fiona si Miss Mutiara dari timur, Sefin si senja Moktika yang mirip Gong Li, Fahmi yang suka road trip naik motor, Him yang selalu super-cool dalam segala cuaca serta Sendy, teman baru yang jossss banget foto-fotonya dan kemana-mana selalu bawa kopi dalam tumbler.

Kami bertemu di Bandara Soekarno-Hatta, langsung terbang ke Medan. Dari Medan kami naik mobil sewaan selama 8 jam menuju Singkil di Provinsi Aceh. Barulah dari dermaga Singkil menyeberang ke Pulau Balai, base camp kami selama island hopping di Kepulauan Banyak. Soal pilihan transportasi menuju Pulau Banyak sudah saya tulis di artikel sebelumnya lengkap dengan biayanya, klik saja tulisan ini.

Ada 86 pulau di Kepulauan Banyak, tentu nggak mungkin semua kami datangi dalam trip selama lima hari. Jadi pulau-pulau yang beruntung kami sambangi adalah:

  • Pulau Biawak
  • Pulau Lambudung
  • Pulau Tailana
  • Pulau Panjang
  • Pulau Asok
  • Pulau Palambak Besar

IMG_1844IMG_1269IMG_2016
Foto oleh: Bang Hasbi, Satya Winnie dan Sendy Aditya

Pulau Balai dipilih menjadi base camp dan tempat menginap karena memang pulau inilah yang paling padat penduduknya, sehingga ada beberapa pilihan homestay. Kami tinggal di homestay Nanda yang terletak persis di bibir dermaga. Homestay ini kamar-kamarnya bersih, ada yang pakai kipas angin, ada pula yang ber-AC dengan kamar mandi di salam. Kisaran harganya antara 80 hingga 200 ribu rupiah. Mereka mengelola warung makan juga, sekali makan habis sekitar 25-35 ribu.

Menu makanan di homestay Nanda terdiri dari beragam ikan bakar atau goreng, cumi, udang, aneka sayuran dan rempeyek teri yang kelezatannya juara tingkat nasional!  Secara umum masakannya enak-enak. Malah di malam terakhir sebelum kami pulang, pemilik homestay memasak sup lobster buat kami! Biasanya lobster kan dibakar, pas melihat deretan mangkuk besar berisi sup lobster, saya sempat ragu. Setelah saya cicipi, ternyata….. YUMMY!!!

image

Penginapan dengan model cottage juga tersedia di Pulau Tailana. Seru banget cottagenya! Sangat natural, dengan model pondok-pondok rumbia seharga 125 ribu per pondokan untuk 2 orang. Kalau rombongannya lebih dari 2 orang maka per-orang dikenakan biaya tambahan 50 ribu rupiah. Biaya makan di cottage Pulau Tailana ini adalah 125 ribu perorang perhari dapat 3x makan.

Cottage ini dimiliki dan dikelola oleh Pak Mali, pria berbadan besar yang suka tersenyum asli kelahiran Pulau Balai. Mereka juga menyediakan jasa jemputan dengan boat ke beberapa titik sesuai dengan perjanjian dengan tamu. Kalau perlu nomor kontak cottage Pak Mali atau Homestay Nanda, silakan tulis requestnya di kolom komentar.

Tips jalan-jalan ke Pulau Banyak:

  • Di perkampungan (misalnya di Pulau Balai) berpakaian yang sopan. Berada di kepulauan memang memberi keleluasaan berpakaian dibandingkan di Banda Aceh. Misalnya bagi perempuan bercelana panjang dan t-shirt longgar saja masih dapat diterima.
  • Pas island hopping di pulau-pulau kosong itu dress code-nya bisa lebih leluasa, tapi begitu naik kapal kembali ke kampung, pakailah baju sopan.
  • Disarankan bawa kain bali, atau kain apapun untuk sarungan. Jadi habis main di pulau kosong/pantai bisa pakai kain untuk kembali ke perkampungan warga.
  • Sun block, action cam dan perlengkapan piknik lain jangan ketinggalan.
  • Lebih seru jalan dalam grup kecil, sekitar 5-10 orang karena bisa sharing biaya sewa kendaraan dan perahunya. Kalau mau lebih dari 10 orang tentu bisa juga, tapi biasanya kalau terlalu ramai mobilitasnya lebih lambat.
  • Kalau mau praktis, bisa menghubungi tour operator. Ada beberapa pilihan, salah satunya yang menemani kami adalah Bang Hasbi dari Keliling Aceh. Kalau perlu nomor kontaknya silakan tulis requestnya di kolom komentar.

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

55 thoughts on “Menjemput Sunset Di Pulau Banyak

  1. speechless deh liat foto-foto sunsetnya .. awesome banget deh, dari dulu pengen banget kesini kak, tapi ngomong2 pulau banyak ini udah family friendly gak ya ?? hehe

  2. Foto sunsetmu kece badai mbak =))

  3. wah keren ya…cita – cita saya pergi ke aceh cuman belum kesampaian ini. kalu melakukan perjalanan ke aceh biayanya mahal gak sih mbak?
    sukses selalu ya…semoga tetep jalan jalan…hahahaha…

  4. Ping-balik: Cara Seru Mendesain Tshirt | About life on and off screen

  5. Saya jadi penasaran sama Rempeyek Teri Juara Tingkat Nasional itu, Mbak! X))

    Btw seru juga kayaknya laptopan di perahu.. hehehehe~

  6. Wow!!!! foto2nya cakep banget kak!!! beneran ya ke Aceh bajunya bisa sesantai itu? Nggak apa-apa? nggak dikatain orang?

  7. Ping-balik: Pesona Sabang Yang Santai Banget | About life on and off screen

  8. Pengen ngerasain nginep di penginapan ala-ala cottage yang di Pulau Tailana. Kayaknya seru :))

    • Iya, mestinya seru! Tamu mereka mostly bule, pas kita ke sana ada 6 org bule, yang lalu ngerubutin kita pas kita nerbangin drone di atas pulau Tailana. Nah, kalau kamu nginep di sana bawa Osmo, pasti mereka bakal ngerubutin kamu 😀 🙂

  9. Mbak, sebenarnya aturan pakaian di aceh itu memang nggak seketat yang diisukan oleh media nasional. Berpakaian sejawarnya dan sesopannya saja. Insya Allah sudah cukup. Kecuali, ada yang ingin main ke masjid. nah ini baru mulai sedikit ketat.
    (maaf mohon ijin nitip tulisan)

    yudi pernah mengulasnya di http://www.hikayatbanda.com/2015/10/siapa-bilang-ke-aceh-harus-pakai-jilbab.html
    tentang bagaimana sebenarnya peraturan berbusana dan pandangan orang aceh dalam aturan berpakaian 🙂

  10. Nggak bisa membayangkan kak indahnya sunset dikala datang. Ciptaan Tuhan memang tiada duanya. Apalgi kalau melihat sunset ditemani makanan seafood,,, hmmm rasanya seperti di awang – awang, hehehe

  11. Kita sudah jemput sunsetnya supaya bisa menemani kita kemanapun kita pergi 🙂
    XO

  12. Ping-balik: Menjemput Sunset Di Pulau Banyak | www.acehsilam.com

  13. Singkil itu Aceh sebelah mana ya Mba? Mau banget ke sana.

  14. Indonesia memang ya berkumpul pantai-pantai cantik. Udah gitu bisa diabadikan dengan begitu luar biasa seperti foto-foto diatas. Jadi berasa menikmati langsung. Keren mba!!!

  15. keren banget nie, para travel blogger ternama..

    suka sama foto yang pertama, kapan ya bisa difoto kayak gitu 😦

  16. duhhh fotonya kak Bolang emang juara deeehh!!
    kapan yaaa bisa jalan-jalan bareng mba Tika dan kak bolang huhuhu

  17. Lukisan alam memang tiada duanya ya. Sunsetnya bikin berdecak kagum. Dan paragraf makanan membuat perut langsung kroncongan membayangkan betapa segarnya ikan2 yang dimakan. Yumm. Boleh tahu nomer kontak Bang Hasbi? Mudah2an ketika 2017 kami pulang ke Indonesia Bang Hasbi masih bernomor yang sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s