BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Wisata Selfie Perusak Kebun Bunga

67 Komentar

Sepekan terakhir beredar luas foto-foto wisatawan yang merusak keindahan sebuah kebun bunga amarilis di Yogyakarta. Bagi saya yang lebih mengejutkan adalah respon Pak Sukadi, pemilik kebunnya.Ceritanya di Dusun Ngasemayu, Desa Salam, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ada kebun bunga amarilis yang bunganya sedang mekar. Istimewanya, bunga ini hanya mekar satu kali setahun, selama 20 hari di awal musim hujan. Nah, kebun seluas 2.300 meter persegi yang dipenuhi kelopak bunga amarilis bermekaran tentu cantik banget doooong….

Jadilah banyak orang (mayoritas anak muda) datang dengan tujuan utama untuk selfie, lalu diupload ke media sosial. Sejak 18 November lalu kebun bunga ini mendadak tenar, sehari bisa seribu orang yang datang untuk selfie dengan beragam gadget. Mulai dari smartphone made-in China dengan tongsisnya, sampai kamera DSLR dengan beragam lensa.

Sepuluh hari kemudian beredar foto-foto menunjukkan kebun bunga ini rusak parah akibat diinjak-injak dan diduduki para wisatawan yang asik selfie! Lengkap dengan wajah-wajah para pelaku selfie-nya, dari depan, tertampang dengan jelas dan tegas kelakuan mereka duduk atau rebahan di atas pokok bunga amarilis.

Screen Shot 2015-11-30 at 4.11.34 PM

Sontak netizen mencaci-maki para pelaku selfie penyebab kerusakan yang tak bertanggung jawab itu. Apakah kamu termasuk yang mengutuk perbuatan mereka?

Sangat disayangkan memang. Bayangkan saja, untuk menanami kebun seluas itu, Pak Sukadi pemiliknya, harus menggelontorkan bibit bunga amarilis sebanyak 2 ton, dan dengan tekun merawat kebunnya sejak tahun 2006. Sembilan tahun kerja kerasnya dirusak oleh para wisatawan narsis yang pengin eksis. Ironis ya?

Lalu apakah Pak Sukadi marah?

Apakah dia lalu memasang pagar berduri setinggi 2 meter mengelilingi kebun bunganya?

Ternyata tidak.

Berita rusaknya kebun bunga ini mengagetkan saya. Tapi respon Pak Sukadi lebih mengagetkan lagi. Alih-alih menyalahkan kelakuan minus para pengunjung, Pak Sukadi malah bilang kalau memang kebun bunganya belum dilengkapi jalan setapak, dan dia berniat menata kebunnya, dilengkapi area khusus untuk selfie. MasyaAllah…. Saya terharu menyimak jawaban pemilik kebun bunga yang sehari-hari bekerja sebagai penjual mainan anak-anak ini, sebagaimana ditulis harian Kompas.

Rupanya ada alasan di balik jawaban Pak Sukadi. Setelah ramai dibicarakan melalui media sosial dan kebanjiran pengunjung, kebun bunganya membawa rejeki bagi warga dusunnya. Uang sumbangan suka rela dari pengunjung bisa mencapai 1 juta rupiah sehari, dan biaya parkir kendaraan rata-rata 1,5 juta rupiah sehari, belum lagi warga yang ikut berjualan makanan, minuman dan bibit bunga di sekitar lokasi.

Selama membawa manfaat buat warga desa, memang ada baiknya kebun ini tetap dibuka, tapi dengan sederet peraturan yang kudu dipatuhi pengunjung. Mau selfie, mau eksis, mau narsis, boleeeeh…. Yang nggak boleh itu merusak. Ya kan?

Memang sulit merevolusi mental orang Indonesia, termasuk dalam berwisata agar tidak merusak dan meninggalkan sampah (apalagi plastik dan stiriofoam). Merahasiakan sebuah destinasi atau spot cantik agar tidak ramai dikunjungi orang, itu bisa saja dilakukan, tapi mau sampai kapan? Merahasiakan sebuah spot cantik hanya akan melindungi spot itu selama beberapa bulan, atau tahun. Hal ini juga menghambat potensi ekonomi yang bisa diraup warga setempat.

Sementara memperbaiki peri laku wisatawan akan menjaga semua spot wisata se-Indonesia, sampai kapan pun, dan semoga bisa membantu menggerakkan ekonomi lokal. Memang bukan kerja ringan. Pengelola tempat wisata (baik swasta maupun Pemda) perlu menetapkan aturan-aturan bagi wisatawan, termasuk menyediakan fasilitas penunjang seperti tempat sampah misalnya. Kalau untuk itu perlu biaya, ya tak ada salahnya memungut bayaran dari pengunjung alias karcis masuk. Bagaimana menurut pendapatmu?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

67 thoughts on “Wisata Selfie Perusak Kebun Bunga

  1. saya kesana udah hancur mbak bunganya, kasihan bunganya padahal hanya tumbuh 1 tahun sekali saja.

  2. Miris lihat wisatawan seperti itu ya, pelaku perusak malah dengan bangga nulis caption di akun instagramnya “gua foto disini masalah” — sambil nginjak itu bunga. Edan!

      • Perkembangan teknologi seringkali membawa perubahan pada perilaku manusia dan kebudayaan. Jika dikaitkan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan komputerisasi, menurut pandapat kalian, bagaimana sebenarnya perkembangan teknologi ini mendorong munculnya perilaku ‘narsis’? Mengapa narsisme menjadi hal yang penting dan mampu mengalahkan banyak hal?

  3. Irooniis dan malu sebenarnya liat kelakuan para pengunjungnya, setidaknya mereka kan orang yg “berpendidikan” , tapi kenapa ga bisa menghargai jerih payah orang.
    Dan setuju bgt mbak untuk revolusi mentalnya, terutama dimulai dr lingkungan kecil dulu kaya keluarga.

    Contoh kecil aja, waktu itu aku lg sholat di salah satu resto gitulah. Pas mau cabut ada ibu2 yg maksa minjam mukena, karna semua mukena dsana lg dipake semua. Padaal waktu itu lg buru2 udah ditungguin. Singkat cerita dipinjamin, tapi begitu “beliau” selesai jangankan bilang terima kasih, yang ada mukenanya dilepas gitu aja trus ngeloyor pergi. Pas ditegur ga “dilipatin dulu bu?” pura2 ga dengar…paraaah kelakuannya, ga sadar apa ya, kan bisa jd contoh yg jelek buat anak2nya, trus entar tabiat jelek yg dipupuk di rumah diterapkan ke lingkungan luar.

    Baru tau juga kalo tanggapan Pak Sukadi bisa wise begitu

  4. ini yg seperti kata guru saya. ilmu ikhlas… hadehhhh… susah betul menjalaninya..

  5. Sepertinya, Pak Sukadi pikirannya sederhana saja, dia senang karena kebun bunganya disenangi banyak orang dan juga membawa manfaat bagi tetangga-tetangganya. Yang berkunjung juga punya pikiran yang sederhana saja: bunga kalau dipetik ntar juga tumbuh lagi, rumput dan bunga di mana-mana juga biasa diinjak-injak.
    Coba kalau pola pikir yang sama juga berlaku di mall-mall besar di Jakarta: penjaga toko senang karena banyak yang datang meskipun cuma beli barang yang paling murah atau bahkan nggak beli apa-apa, dan orang-orang ambil bunga, coret-coret di dinding, dan buang sampah suka-suka hati – toh semuanya bisa dibersihkan.
    Kenapa yah, rule of conduct di kebun orang dan di mall bisa berbeda? Apa karena pengaruh satpam dan CCTV?

  6. Kalau saat ini belum ada Twitter, Instagram, Facebook, atau belum ada tren foto selfie, bakal kejadian kaya gini nggak ya? :))

  7. Pak Sukadi, salut deh. semoga tahun depan tamannya lebih tertata dan makin berkah ya. untungnya saja bunga ini kalau musim kemarau mati dan ketika musim hujan bakal tumbuh sendiri lagi.

  8. Kemaren ada screen shot komen yang beredar di social media tentang ini. Intinya seorang remaja bilang kan dia sudah bayar, jadi ya wajar kalau rusak sedikit. Dan sayapun gagal paham dengan kemampuan berpikir dan berempati remaja jaman sekarang (gak semua remaja ya). Otaknya dimana sih?

  9. pak Sukadi ini bijaksana sekali yaa.. Ilmu ikhlasnya luar biasa

  10. bapaknya njawani banget yaa, tapi seneng jadi bisa meningkatkan perekonomian warga dusun..

    semoga bakalan ada kebun2 seperti ini yang lain dan ada aturan2 yang ditetapkan

  11. Sesungguhnya mereka yang selfie (plus merusak) di kebun bunga pak Sukadi itu jiwanya rapuh, kering kerontang. Di balik kegemarannya berselfie, ada krisis kepercayaan diri.

    Makanya mereka membuat foto selfie yang menarik agar mendapat pengakuan di dunia maya, demi mengundang decak kagum orang lain

  12. Akuuuuu termasuk yg “mengutuk” anak2 muda tersebut mbak, huahaha.. Yaabes gimana, wong rumput aja ada aturan ‘jangan diinjak,’ eh ini malah bunga dirusak… BUNGA!!
    Aku sih setuju banget kalo dibebanin tiket masuk dgn tarif yg wajar, buat biaya perawatan bunga + tenaga kerja. Ngurus bunga segitu banyak kan capek, musti telaten pulaaa *sifat itu tidak saya miliki* 😆

  13. Setuju mba, yg pasti kita harus merubah mental kita dulu ya

  14. Budaya merusak harus segera ditinggalkan, kalau kayak gini terus rusak dech alam kita. Tapi ku sangat kagum dengan sosok pak Sukadi, beliau luar biasa…

  15. ibuku punya taman bunga, ia selalu mengajarkan bahwa semua mahluk berhak hidup, termasuk bunga. Jadi jangan pernah mengusik bunga apalagi memetiknya untuk kesenangan pribadi atau bermain pasaran. Pandangi saja ia sebagai mahluk hidup, nikmati dari jauh.

    Jadi rasanya kita tak berhak merusaknya hanya untuk foto selfie. Soal netizen yang menghujat. Apa sih yang tidak menjadi hujatan di dunia maya? Selebritis mengenakan atasan tali satu, kamisol bisa menjadi hujatan. Presiden salah ekpresi jadi hujatan

    • Betul, sejauh ini aku pun mengajarkan ke anak-anakku untuk tidak memetik bunga, hanya boleh mengambil bunga yg sudah jatuh ke tanah. Di sekitar rumah kami banyak pohon kamboja, anak-anak senang memungut bunga-bunganya yang berjatuhan…
      Wah, soal hujatan presiden RI sih emang kudu siap mental 🙂 😀

  16. Aku pikir hujatan di sosmed dibaca juga ole para perusak ini. Semoga dengan itu mereka insyaf. Lain kali lebih menjaga sikap kala berwisata dimana pun.

    Halnya Pak Sukardi semoga ada sarjana pertanian atau sarjana pertamanan yg mau turun tangan membantu beliau menata kebun lebih baik

  17. Lagi baca berita ini dari tadi sore. Hmmmm menyedihkan perilakunya demi eksis di sosmed..segala cara dilakukan…

  18. Aku terharu belom pernah baca komentar bapaknya 😦 jawabannya sungguh menyejukkan hati

  19. wah saya termasuk penggemar bunga nih mbak…

  20. Pengen seperti bapak sukadi ini mbak…
    punya hati dan jiwa yang luas

  21. Campur aduk baca segala post soal taman bunga itu sih. Heran kok begitu banyak anak muda yang bodoh dan egois. Takjub dan salut dengan Pak Sukadi pemilik tamannya bisa se’ikhlas’ itu. Dan mempertanyakan, inikah potret dari kejamakan dan kondisi kebanyakan masyarakat Indonesia?

    • Imho, membaca komentar2 blog ini saja sdh terlihat kalau nggak semua masyarakat Indonesia se-ignorant orang2 yg merusak taman bunga itu. Masalahnya adalah berapa banyak dr total populasi yg peduli dan bersikap baik, serta berapa banyak yg abai?

  22. Pak Sukadi yang bijak: beliau lebih fokus pada manfaat yang didapat warga desa ketimbang dampak kerusakan yang terjadi.

    Jika memang demikian, sebaiknya dibuatkan aturan tertulis di pintu masuk dan beberapa tulisan pengingat di beberapa tempat. Selain sebagai kontrol administratif, juga membuat taman tersebut tampak profesional. Sedikit berlebihan sih, tapi ya daripada daripada.

    yang gak kalah penting adalah membuat motif motif spot untuk tamannya, tidak serta merta terhampar seluas tanah yang ada. Selain tampak bagus polanya, juga membuat banyak akses pengunjung ke sana kemari. Itu semua perlu dilakukan karena tipikal pengunjung yang cenderung unik sih.

  23. :”)
    Waw.
    Pak Sukadi visioner..

  24. It’s so sad. Aku nggak habis pikir sama yang bisa seenaknya merusak properti orang. Jangankan punya orang, hutan yang tak bertuan itu aja aku nggak berani macem-macem di situ. Ortuku mendidik untuk selalu berusaha menjaga milik bersama dan tidak merugikan orang lain. Kalau kayak gini aku pengen pelajaran Moral atau Budi Pekerti kembali dihidupkan lagi deh.
    Tabik buat Pak Sukadi, jiwanya besar sekali.

  25. Hmm agak aneh memang kalo di tempat wisata lokal, turis Indonesia seenaknya tapi kalo di luar negeri aduhai tertib nya. Pengalaman terakhir ke Singapur, banyak tuh turis Indonesia yang jalan jalan di Garden by the Bay yg tertib bawa kantong plastik buat sampah, tertib antri.
    Bingung juga kok kalo di negara sendiri tidak ada sense of belonging nya. Ada peraturan pun cuek aja di langgar.
    Kasus kebun bunga ini aku gemes banget. Pelaku nya tanpa malu dan sungkan pula posting di instagram dengan kalimat “kalo gue injek injek bunganya, masalah buat lo?” Oh my, speechless aku….

    • Nah, aku juga mengamati perilaku kayak gitu. Dugaanku, di luar negeri berada di tempat yg tetib, teratur dan bersih, wisatawan Indonesia jadi nggak enak hati mau mengotori (buang sampah sembarangan). Sementara di sini, mereka lihat sampah berserakan mungkin mikir, “Tempatnya emang udah kotor sih, nggak ngaruh gue gimana buang sampahnya, ya sekalian aja…” Kira2 gitu gak?

      • Bisa jadi begitu, bisa jadi juga mereka udah di wanti wanti oleh tour, atau teman, atau saudara akan ketat nya peraturan dan denda, jadi mereka lebih takut.
        Sedangkan di negara sendiri kan peraturan itu melempem. Mau dilanggar pun sudah tau ga masalah. Lah kalo di tegur pun, kandang sendiri, biasalah tinggal mencak2.
        Kalo aku liat di Indonesia kayaknya harus takut dulu baru bisa patuh 🙂

  26. jujur sedih bangett sama berita rusaknya kebun bunganya :(( tapi memang sebaiknya sebelum suatu tempat dijadikan lokasi wisata ada persiapan yg matang untuk menghindari hal” yg tidak diinginkan seperti…kasus kebun bunga amarilis itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s