BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Inside Out: Memahami Emosi Anak

44 Komentar

Film yang bagus adalah film yang menggugah emosi dan memperluas wawasan. Itu prinsip saya, sebuah kesimpulan yang saya temukan setelah nonton ribuan film, dari yang masterpiece sampai yang sampah. Film Inside Out memiliki keduanya. Sedasyat itukah film Disney-Pixar terbaru ini?

Bermula pas tanggal 5 Agustus lalu saat saya mendapat undangan premier film Inside Out di Jakarta, disertai Q&A dengan sutradaranya, Pete Docter. Begitu kelar nonton film ini, rasanya fixed mau ngajak kedua anak perempuan saya yang berumur 8 dan 5 tahun untuk menontonnya. Sejak film dimulai saya terpesona dengan cara Inside Out menggambarkan 5 emosi dasar manusia dengan gamblang, kocak dan menyenangkan. Ada karakter bernama Joy sang emosi bahagia, lalu Sadness, lalu Fear, Disgust dan Anger yang digambarkan sebagai sosok pengisi benak Riley Andersen, seorang gadis cilik umur 11 tahun di film ini.

Sang sutradara dan timnya perlu waktu 5 tahun untuk riset dan mengembangkan ide cerita ini, berawal dari kekagetan dia melihat perubahan perilaku anaknya saat masuk usia pra-remaja. Pihak Pixar studio mengakui bahwa Inside Out adalah film animasi paling complicated yang pernah mereka buat. Mereka konsultasi dengan psikolog dan ahli neuropsychology untuk menggambarkan psyche alias alam pemikiran manusia, serta konflik batin yang umum terjadi saat seseorang mulai memasuki usia remaja. Termasuk pilihan warna pada setiap karakter dan dunianya, semua ada referensi ilmiahnya. Serius banget risetnya, pantes hasilnya bagus!

Lima karakter bernama emosi dasar manusia itu saling berinteraksi, mengobrol dan berantem layaknya manusia. Dipimpin oleh Joy, sosok yang berwarna kuning cerah yang pertama hadir seiring dengan kelahiran Riley. Habis itu si bayi mengalami kejadian yang nggak menyenangkan, lalu nangis dan muncullah emosi sedih, Sadness, digambarkan sebagai gadis cilik berwarna biru. Lalu sosok Fear (warna ungu) untuk menjaga keselamatan si bocah, kita memang perlu sedikit rasa takut agar lebih berhati-hati. Lalu ada Disgust (hijau) dan Anger (merah). Penggambaran karakter-karakter emosi ini sangat menarik dan mudah dimengerti anak-anak.

Film ini lalu menceritakan konflik antar emosi itu sekaligus menggambarkan bagaimana ingatan harian disimpan menjadi ingatan jangka panjang (Long Term Memory/LTM) pada saat manusia tidur, dan soal anak-anak yang sering punya imaginary friend. Ih, jadi inget jaman kuliah Psikologi dulu! Bedanya dulu saya mesti baca text book setebal buku telfon untuk memahaminya 🙂

Sabai menggambar

Kedua anak saya tertawa-tawa menonton film ini, sampai ceritanya berubah dari senang menjadi sedih dan mengharukan, semua mereka nikmati. Ternyata film ini meninggalkan kesan mendalam. Besoknya, Sabai, anak saya yang umur 8 tahun itu pulang sekolah lalu memeluk saya dan meneteskan air mata. Kebetulan saya pulang cepat hari itu, jadi bisa menyambutnya. Saya kaget, dan terjadilah dialog ini:

  • Saya: Kenapa nangis Kak?
  • Sabai: Tadi jemputannya lama banget, aku sampai tinggal sendirian nunggu di sekolah…
  • Saya: Oh… (diam sejenak, saya kehilangan kata-kata penghiburan yang nggak klise. Saya peluk dan usap-usap kepalanya. Lalu tiba-tiba ingat Inside Out).
  • Saya: Jadi sekarang si Sadness lagi ada di control room di dalam sini ya? (menunjuk kepala Sabai)
  • Sabai: (tersenyum tipis) Iya…
  • Saya: Tadi pas sendirian di sekolah juga ada Sadness di dalam sini? (menunjuk kepala Sabai)
  • Sabai: (senyumnya makin lebar). Iya, tapi tadi pas nunggu juga ada Fear, sama Anger!
  • Saya: Anger-nya sampai kepalanya berasap nggak?
  • Sabai: (tertawa, mungkin ingat adegan filmnya) Hehehe… Nggak sih, ada dikit aja!
  • Saya: Nah, itu udah ketawa, Joy udah datang ya di dalam sini?

Dan kami berdua pun tertawa. Saya senang tokoh-tokoh di film Inside Out ternyata manjur sekali dalam membantu anak saya menjelaskan emosi-emosi yang dia rasakan. Sabai juga mengerti bahwa emosi bisa kita kelola, bisa datang dan pergi silih berganti. Sabai now understands that it’s okay to be sad, as long as we know how to handle the sadness. Have you watched this movie? How do you feel about it?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

44 thoughts on “Inside Out: Memahami Emosi Anak

  1. wah jadi pengin punya anak *eh…

  2. Aaaakk lucu sekali dialognya di akhir itu kak. Jadi kepingin nonton. Duh aku telat. Udah gak tayang :((

  3. banyak yang bilang film ini bagus. Saya belum juga nonton. Harus bener0bener diniatin, nih. Pokoknya wajib ditonton 🙂

  4. udh ada rencana mau nonton mbaa ^o^.. Emg harus ditonton nih film.. dr awal iklannya, udh tertarik bgt :).. Mw ajak si kecil yg masih 3 thn sekalian… biar ngetes ni anak udh bs diajak nonton k bioskop blm yaa 😀

  5. Ping-balik: Inside Out, Ketika Emosi Dijadikan Sebuah Tokoh | cK stuff

  6. Belum punya anak sendiri nih, hmm… ngajak ponakan aja ah :mrgreen:

  7. Aku udah nonton ini dua kali!

  8. Ahhh. Ketemu Pete Docter??? Asiknya. Memang filmnya bagus mbak. Imajinasi dalam menciptakannya keren abis.

  9. Saya jg udah nonton, mbak.
    Karena dasarnya emang nggak terlalu suka animasi n belum punya anak (nikah aja belom. Hehee), jadinya gak terlalu berkesan.

    Tapi baca postingan ini jadi kepikiran juga.. ntar kalo udah punya anak balita diajakin nonton dvdnya kali yaa.. heu.. 😀

    Seru juga ngebayangin dialog sama Sabai.. 😉

  10. Aku belum sempet nonton film ini, kayak nya lucu juga 🙂

  11. Sehari ini baca review film ini 3 kali pada orang yang berbeda. Sekarang benar2 penasaran pengen lihat.
    Dialog dengan Sabai menyentuh sekali.

  12. Istri dari kmrm ngajakin nonton tp belum sempet2 hehee

  13. Aku nonton ini, sedih sendiri ujung2nya haha karena merasa deket dengan tokoh Joy/Riley yang pengen seneeeng terus dan nyenengi orang lain, akhirnya sedih sendiri deh. Jadi lebih memahami hidup harus boleh egois sedikit 🙂

    Salam, Mariska

  14. Pengen nonton! Anak satu setengah tahun udah ngerti belom ya? Hehheehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s