BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Koperku Masuk Koran!

100 Komentar

Wah, nggak disangka hobi jalan-jalan sambil geret koper yang sering muncul di foto-foto instagramku, atau di twitter dan Google+ itu ternyata masuk koran! Jawa Pos, dalam artikel yang nyaris 1 halaman pula! Aku terharu… *lebay *biarin Kok bisa?

.

Gimana ceritanya?

Ya gitu… Pada suatu hari yang cerah, seorang wartawati Jawa Pos menghubungi saya, dan bilang mau wawancara. Terjadilah percakapan yang kira-kira kayak gini:

  • Saya: Wah, wawancara soal apa mbak?
  • JP: Soal koper.
  • Saya: Koper?
  • JP: Kan suka traveling geret-geret koper di pinggir jalan?
  • Saya: Oh iya, bener. Sekalian soal project film saya ya? *nawar
  • JP: Yuk ketemuan!

Akhirnya di suatu Sabtu pagi yang cerah saya bertemu Nora, mbak wartawati Jawa Pos dan fotografernya di Kelenteng Petak Sembilan, Jakarta Barat. Lokasi ketemuan itu dipilih sekalian biar mempopulerkan Petak Sembilan sebagai tujuan wisata Jakarta plus saya sekalian ada urusan di deket situ. Mas fotografer pun beraksi, meminta saya geret-geret koper di depan kelenteng! Untung memang kopernya saya bawa, tinggal hap hap hap, jadilah sederet foto ciamik dengan berbagai pose, cuma kurang pose kayang aja.

Kelar foto-foto, kami berteduh di sebuah warung bakpau di depan kelenteng, mengusir panas Jakarta dengan teh kemasan dingin. Mulailah Nora melakukan wawancara, yang berujung dengan obrolan seru kami berdua, mulai dari kenapa suka jalan-jalan, sejak kapan, duitnya dari mana sampai project-project film yang saya kerjakan skenarionya. Semuanya saya jawab dengan apa adanya, termasuk bahwa sebagian besar jalan-jalan itu adalah efek samping dari kerjaan, atau gratisan, sehingga saya nggak perlu membobol celengan ayam.

Tika Jawa Pos

Semua bermula pas saya masih kuliah S1 tahun terakhir, pas lagi jenuh bikin skripsi, eh ada tawaran kerja lepas sebagai translator dan interpreter buat sebuah NGO yang berbasis di Inggris. Saya langsung mau! Cuek aja gitu ninggalin kuliah beberapa bulan karena pekerjaan itu mengharuskan saya traveling dari Aceh sampai Jayapura, menjadi interpreter di seminar-seminar mereka. Itulah untuk pertama kalinya saya traveling ke berbagai daerah di luar Jawa. Ih, saya langsung jatuh cinta pada Indonesia dan bertekad untuk menjelajahinya, sampai ke pelosok. Tapi mahal kan… jadinya saya terpacu harus cepet lulus kuliah, lalu nyari kerja yang bisa bikin jalan-jalan. Hehehe…

Pekerjaan pertama saya jadi penulis berita berbahasa Inggris di portal online detik.com, karena dulu ada kanal detikworld yang berbahasa Inggris. Kadang diajak liputan sama pengasuh kanal detikhot, terutama kalau mesti mewawancara artis dari luar negeri. Saya pikir jadi wartawan seru juga nih! Lalu saya pindah ke TV-7 yang sekarang menjadi Trans 7, sebagai reporter berita. Di sini baru bisa jalan-jalan sedikit, eh, disuruh jadi penyiar berita yang konsekuensinya harus mangkal di studio melulu, liputan seputar Jakarta aja, paling berita politik dan kriminal. Wah, saya mulai gelisah… Saya nggak suka politik, dan berita kriminal ya gitu-gitu aja, nggak berkembang.

Akhirnya cabut dari TV, sebuah keputusan yang ketika itu dianggap bodoh oleh semua teman dan ibu saya, karena ninggalin prestis jadi penyiar berita di TV nasional, malah resign dan pindah ke sebuah PH kecil yang nggak ngetop. Mau jadi apa?

Mau jadi filmmaker, jerit saya dalam hati. Cuma dalam hati. Saya nggak berani koar-koar, cuma mau kerja aja, bikin karya biar ditonton orang.

PH kecil itu bernama Studio Samuan, kantornya dulu masih ngontrak sebuah rumah di Jl. Daksa. Meski kecil, dengan tim yang cuma 3 orang, kami keluar masuk pedalaman sampai ke pegunungan Bintang di Papua buat shooting dokumenter dan dijual ke TV-TV swasta. Sebagai gambaran, jaman itu program Jejak Petualang baru tercetus, belum ada program jalan-jalan lainnya. Tapi serial dokumenter yang kami bikin bukan program jalan-jalan, kebanyakan isu budaya, seni dan anak-anak.

Puas sekian tahun bikin dokumenter, saya sering merasa mentok ketika sebuah kisah seru tidak bisa dibuat dokumenternya karena nara sumbernya menolak. Padahal kisahnya menarik untuk difillmkan! Saya jadi pengin bikin fiksi, tapi nggak tau mesti mulai dari mana. Akhirnya saya belajar nulis skenario FTV secara otodidak, dengan membedah skenario orang yang sudah jadi. Bahkan ketika dapet Chevening-pun, saya nggak berani ambil jurusan script writing padahal pengin. Belum pede. Pulang dari London, barulah bareng Yusuf ikut workshop script writing hadiah dari lombanya Jiffest. Di situlah semua bermula, saya jatuh cinta tak bisa lepas dengan penulisan skenario hingga kini. Sampai akhirnya dipercaya nulis skenario film layar lebar, panjang dan berliku ya jalannya? Saya sih nikmati aja prosesnya, saya anggap itu sebagai jalan-jalannya kehidupan. Life is a journey, right?

Lho ini tadinya cuma mau ngabari soal artikel di koran kok jadi ngelantur ceritanya… Ya maafkan saya, semoga pada nggak bosen bacanya 😀

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

100 thoughts on “Koperku Masuk Koran!

  1. saya baru ngeh klo mbaknya dulu penyiar tv..sik sik wajahnya yg mana nih…

  2. Wah, lagi iseng2x blogwalking akhirnya terdampar di sini. Keren banget blognya… 🙂 Ngomong2x mbak masih ada temen interpreter Indonesian-English vice versa yang bisa diajak ke pedalaman nggak? Rencananya butuh ke pedalaman Sulteng seminggu untuk project pendidikan alternatif buat masyarakat adat awal November ini…Kalau interpreternya sih banyak….tapi yang mau ke pedalamannya itu yang jarang soalnya medannya rada ekstrim, perlu hiking di gunung juga.

    • Hai Felicity, coba aku tanyain temen2ku, harusnya ada. Tanggal berapa ke Sulteng? Btw minta email atau nomor HPmu dong, biar lebih cepat kita komunikasinya.

      • Hai mbak, makasih buat responnya. tanggalnya tentatif tapi sekitar 2-8 Nov, pastinya di minggu awal November. Saya tinggal di Oslo jadi lebih mudah dengan email saja di si_felicity(at)yahoo.com . Btw, kalau bisa yang punya background di bidang yang saya sebutkan sebelumnya supaya konteks-nya nyambung. Terima kasih banyak sebelumnya, really appreciate it 🙂

  3. Makasih udah share ceritanya un 🙂

  4. Sangat beruntung sekali bisa jalan-jalan keliling Indonesia dengan biaya minim…

  5. ikut komen nih yaa yg ke 88 😀

    bawa koper anti mainstrem ini namanya ke pantai, ke pelosok sana sini , bukan cuma ditinggal di penginapan, tapi ikut keliling jalan2

  6. Kakakkkk aku padamuhhhhh, angkat jadi muridmu yessss 🙂

  7. Cantik nya ibu ini masuk koran, bergaya ala2 pramugari hahaha

  8. wah mba nohara ispiratif sekali. salam kenal ya

  9. Jadinya malah jadi cerita kisahnya Mbak Tika bisa jadi seperti sekarang ini ya? Haha
    Hmm, foto bersama kopernya cukup ikonik kaya’nya, makanya bisa mengundang wartawan buat nulis tentang Mbak Tika,
    lanjutkan foto bersama kopernya di tempat-tempat baru mbak! 😀

  10. waaahh seru ya kerjanya mba, selalu menyenangkan ya jika kita bekerja sesuai passion kita 🙂

  11. Saya juga terkesima lihat foto mbak Tika di twitter (lokasi dikota tua sumatra) yg suka geret-geret koper. Berasa seperti public figur/artis ibukota aja masuk koran 🙂
    Semoga jadi inspirasi bagi banyak orang..

  12. Inspiratif banget perjalanan hidupnya. Kebetulan aku salah satu follower setia instagram si koper yang penuh puzzle itu. hihihihi Ternyata begini toh kisah dibalik jalan jalan mulunya si koper 😀

  13. Wah! Keren bisa masuk koran hanya karena koper 😀

  14. Asik banget jalan2 gak perlu bongkar celengan mbaaa. Btw sempet dpt chevening ya? Aiihh kereeeeen. Pengen!! 😀

    • Aaaakk,…. makasih Dita. Iya, celengannya buat biaya sekolah anak aja nanti. Yuk submit applicationmu buat Chevening 2016?

  15. Yg namanya jalan2 itu emg candu ya mba ;),akupun, dulu itu bisa dibilang jaraaaang bgt jln… kuliah di negara tetangga, ttp aja fokus utama bljar biar cepet tamat ;p Eh, ketemu suami, trs diajak ketemu ortunya di bulgaria, sekalian kliling, malah lgs ga bisa berhenti sjk itu :D… Udh jd kebutuhan hidup mba… stress kalo ga jln itu -__-

    • Waaah… bener banget mba, rasanya suntuk kalau udah lama nggak jalan ya? Aku pun so far hanya pas baru punya bayi kecil yg sempat stop jalan jauh ^^

  16. Huaa asiknya kalo jalan2 jadi bagian dari kerjaan ya maak, si ayam ngga jadi pecah berkeping2 deh hehehe

  17. Aku suka ceritanya inspiratif banyak orang untuk bisa mengikuti jejakmu mba. Terus berkarya mba dan terus tularkan ilmu pada aku dan yang lain 🙂

    • Amiiin amin amin! Wah, nggak nyangka kalau ini inspiratif. Pasti akan terus berkarya. Good luck buatmu yaaa ^^

  18. Enak banget mbak..kerja sambil keliling indonesia. Mau bangeett ..
    Btw salam kenal ya ^-^

  19. Keren mba… salam kenal ya ^_^

  20. Nohara sensei memang hebaaat!

  21. Waaah, jadi penyiar TV Nasional itu yg pengen dan lagi di kejar saat in Mak, entah rezekinya disana atau bukan tapi masih ttp di perjuangkan, keren banget pengalamannya. Thank You inspirasinya ya. Selamat ya buat kopernyaaaa :v

  22. Perjuangan pasti membuahkan hasil ya kak 😀 keren ceritanya, menginspirasi para pekerja kreatif nih harusnya 😀

  23. wah keren bisa masuk media cetak sebagai featuring!

    saya dulu sering2nya sebagai penulis feature-nya.

  24. impian kerja sambil jalan2 emang keinginan semua orang ya..
    termasuk saya mba. hehehe.. kayaknya asik deh kaya gitu
    sukses terus yaa mba ^_^ *menginspirasiiii*

  25. Inspiring!!! pengen jg bisa bikin film sendiri…*mimpi

  26. kereeen mbak 🙂

    saluuut, semoga sukses selalu ya kak

  27. Aaaah jadi pengen masuk koran juga hahahahah

  28. asyeekk… kepengen deh punya kerjaan kayak kamu maak.. jalan2 plus dapet duit

  29. Ide Mbak foto2 sama koper itu yang keren! Kok ya kepikiran gitu, tiap jalan2 kopernya dibawa terus, kan berat. Padahal biasanya kan koper pasti ditinggalin di tempat penginapannya. :))

    Sukses, ya, Mbak! ^___^

    • Hehehe… bisalah diatur-atur, jalan mana yg bawa koper, mana yg bawa ransel. Tapi buat foto2 emang lebih sering kopernya yg nongol 🙂

  30. Wiihh kerreen. Jalan2nya itu loh, bikin ngiri hihihi.
    Suskes terus ya Mak
    Salam knl ^_^

  31. inspirasional sekali kamuu 🙂

  32. Iihh keren mbak. Apalagi pas s1 itu. Jalan jalan dr aceh sampe papua. Aku juga baru jalan ke luar kalimantan ya pas kuliah itu 😆

  33. Eh mbak’e dapet Chevenig ya? ambil jurusan apa disana? ah jadi pengen tanya lebih lanjut deh

  34. Keren banget kemauanmu ngejar passion. You’re a brave woman.

  35. Cerita hidup dan cerita jalan2nya keren mbak 😀

  36. Keren ih cerita2 nya, banyak belajar darimu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s