BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Pesona Pulau Belitung Dan Batu Satam

43 Komentar

Sejak film Laskar Pelangi meledak menjadi film Indonesia terlaris pada masanya (rilis tahun 2008) nama Pulau Belitung alias Belitong menjadi terkenal dan termasuk salah satu tujuan wisata populer di Indonesia. Kenapa kok bisa gitu? Film adalah alat propaganda yang ampuh. Sementara Belitung memang punya potensi yang patut diangkat. Jadi pantaslah kalau pulau ini pamornya melesat bak meteor. Nah, soal meteor ini ada cerita tersendiri….

Biasanya saya kerja sambil jalan-jalan (atau jalan-jalan sambil kerja?), bahkan niat ke Belitung buat liburan ini pun jadi terendus oleh produser film dan mendadak dititipin misi pekerjaan buat riset film animasi. Padahal kepergian ini bareng keluarga. Baiklah. Saya menarik nafas panjang, ganbatte! Dari Jakarta ke Belitung sangat mudah dan termasuk murah, naik Citilink cuma Rp 325.000 one way langsung mendarat mulus di bandara di Tanjung Pandan, Belitung. Berhubung pergi sama keluarga, jadi saya sudah pesan mobil dan driver dari salah satu operator travel. Di pintu keluar bandara, Pak Yadi, driver kami sudah standby sambil tersenyum lebar.

Tujuan pertama: Pantai Tanjung Pendam. Lokasinya masih di sekitar kota Tanjung Pandan dan tempat ini kalau sore jadi tempat nongkrong hits di sini. Kami datang jam 8 pagi, jadi pantainya masih sepi dan air laut surut. Buat saya sih lebih seneng kalau ke pantai pas sepi, biar bebas foto-foto, meskipun fotonya bukan foto telenji masih pakai baju lengkap tapi kalau sepi kan leluasa mau pose kayang, koprol atau headstand. Ya nggak?

20150507_102422_1

PhotoGrid_1431671327973

Selanjutnya kami langsung meluncur ke warung Mie Atep yang khas Belitung. Mienya besar-besar, disiram kuah kental dengan rasa gurih dan sedikit manis, ada aroma sea food dan di piring tampak 2 ekor udang dalam pose pasrah minta disendok. Buat saya mie Atep ini porsinya pas, cukup kenyang tapi nggak sampai full banget. Tapi bagi adik saya dan mungkin kebanyakan pria muda, porsi ini kekecilan. Alhasil dia nambah, dan piring kedua pun ludes dalam hitungan ke-10. Minumnya jeruk kunci, perasan air jeruk lokal sekalian sama biji jeruknya…. jangan ditelan kalau nggak mau ada pohon jeruk tumbuh dalam perutmu.

Selanjutnya kami menyusuri Belitung Barat. Pulau Belitung dibagi dua, Kabupaten Belitung Barat dan Belitung Timur yang dulu bupatinya adalah Ahok sebelum dia ciao ke Jakarta. Hari ini dihabiskan untuk main dari pantai ke pantai. Pastinya high light dari beach hopping ini adalah Pantai Tanjung Tinggi di mana batu-batu granit segede gaban berserakan! Gemes gitu pengin bawa pulang satu batunya 🙂 Enggak ding… biarkan batu-batu itu duduk manis di sana, biar jadi tempat bermain hingga puluhan generasi mendatang.

Peringatan: jangan coba-coba foto di atas batu-batu ini dengan posisi membelakangi matahari. Nggak baik, pamali…. karena wajah di fotomu akan terlihat gelap 🙂 🙂

Pak Yadi menjelaskan kalau dulu kala, sebuah meteor pernah jatuh di Pulau Belitung sehingga banyak banget batu-batu hitam segede rumah bertebaran di pantainya. Entah benar atau tidak kisah meteor ini, Pulau Belitung terkenal dengan batu Satam, berwarna hitam legam dan agak kasar teksturnya. Saat kami mampir di sebuah toko souvenir, saya sempat melirik tanpa malu-malu ke etalase batu satam. Sebutir batu seukuran jari kelingking saya dijual seharga 2,5 juta rupiah saja. Beberapa batu yang lebih kecil, seukuran kuku kelingking saya, diikat dengan logam warna perak sebagai leontin kalung, dijual seharga 250-900 ribu rupiah. Wah… kalau saya kelebihan duit 2.5 juta dari pada buat beli batu hitam mending buat beli tiket jalan-jalan berikutnya 🙂

20150506_091832_1

20150506_091058_1

PhotoGrid_1431679428626

Ini itinerary lengkap selama 3 hari 2 malam di Belitung:

Hari ke-1 (Rabu jam 7.30-17.30 wib): Pantai Tanjung Pendam, makan Mie Atep khas Belitung, Pantai Tanjung Tinggi, makan siang di pantai Tanjung Kelayang, ngopi sore di Bukit Berahu.

Hari ke-2 (Kamis jam 7.30-17.30 wib): Pantai Tanjung Kelayang untuk naik boat dan island hoping ke Pulau Pasir, Pulau Lengkuas ke mercu suar dan snorkeling, makan siang di Pulau Kepayang, Pulau Batu Belayar, kembali ke Pulau Belitung, ke waduk tambang kaolin, rumah adat Belitung. Makan malam di Belitong Timpo Duluk.

Hari ke-3 (Jumat, jam 7.30-14.30): Ke Belitung Timur, mulai dari SD Muhammadiyah yang terkenal sebagai setting film Laskar Pelangi, museum Kata, Vihara Dewi Kwan Im, Pantai Burung Mandi dan makan siang di sebuah rumah makan ke arah bandara.

“Kok liburannya hari Rabu-Jumat, emang nggak kerja?” tanya Pak Yadi pada saya dan adik saya. Kami berdua tersenyum. Saya pun menjelaskan kalau kami nggak usah kerja, cukup miara babi ngepet aja saya kerja sebagai penulis freelance dan adik saya menjalankan usaha digital printing jadi bisa sesekali ditinggal jalan-jalan meskipun istrinya sudah teriak minta dia pulang. Jadi jadwal kami cukup fleksibel, asal saya nggak lagi banyak deadline. Kami sengaja memilih jalan-jalan pas week days agar tempat-tempat yang kami datangi sepi, tidak penuh sesak pelancong.

Melihat itinerary di atas, hari ke-2 paling seru dan paling bikin kulit gosong. Tapi apalah artinya main ke pantai kalau nggak foto-foto di bawah siraman matahari siang yang maksimal panasnya? Lha wong tinggal di negara tropis, ya nikmati saja mataharinya! Cerita selengkapnya soal island hopping ke beberapa pulau, ketemu makhluk mengerikan di mercu suar Pulau Lengkuas dan dikutuk jadi batu di pulau Kelayang akan ada di blog post berikutnya. Kalau ada yang butuh info habis berapa dan kontak travelnya, silakan tulis di kolom komentar. Yuk ke Belitung?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

43 thoughts on “Pesona Pulau Belitung Dan Batu Satam

  1. Ping-balik: Pulau Lengkuas: Mendaki Mercu Suar Tua Jaman Belanda | About life on and off screen

  2. Mba hara kalau mau jalan-jalan lagi aku ikut dong pengen traveling kaya mba hara 😀 hehehehe

  3. Huhuhu kak swastika kerenn ihh jadi pengen ke balitong. Museum kata nya juga kece ya kak 😀

  4. Eh tulisan mie atep nya dah baru yaaaa, kmrn2 hampir ngak keliatan dan pudar ama matahari hehehe.
    Gw kok kurang sepaham ama cita rasa mie atep, terlalu manis menurut gw :-<

    • Oya? Gue sih pas makan dikasih sambel 1 sendok jadi manisnya nggak dominan. Nah, soal cat apa perlu gue whats app yg punya warung dulu?

  5. Ping-balik: Museum Kata Di Belitung, Bukan Museum Biasa | About life on and off screen

  6. keren binggo tika,,, mau cpet2 nyusul ahhhhhh…..iri.com xixixiiii

  7. Ahhh belitung….pulau penuh kenangan (dgnmantan) ha ha ha…kapan kitah jalan2 bareng kakakkkk

  8. Indah banget dan cocok untuk dipake buat hunting gitu pemandangannya bagus dan banyak batu-batu besar yaa 😀

  9. Keinginanku ke Belitung belum kesampaian sampai sekarang nih mbak. 😦

  10. Halo Mba Tika, jadi kepikiran kesana deh kalo udah pulang nanti. Ceritanya mau bekel satu bocah dan satu suami ;p
    kira-kira harus sedia budget berapa ya untuk 3 hari? thank you! 🙂

  11. Suka banget dengan pantainya. Moga suatu saat aku ma Alfa dan anak2 bisa ke sanaa ^_^

  12. Aku bayangin pas golden hour. Foto dan bercanda diantara bebatuan yang besar itu. Ah, pasti menyenangkan

  13. Suka sama awannya. Cerah ~

  14. Mba Tikaaaa. dulu aku ke Belitung pas promo Batavia Air. 336k pulang pergi 😀 2 minggu setelah perjalanan, maskapainya pailit. ihihi.

    Anw, Belitung emang cantik banget yaa Mba Tikaaa 🙂 Baca postingan ini bikin keingetan perjalanan kesana.

  15. Jadi budgetnya berapa mak untuk satu orang? *to the point amat*

    • Hehehe… gapapa Mak, mmg budget hrs disiapin. Rp 1.4 juta perorang utk 3D/3N trip, plus tiket pswt Rp 325 ribu one way. Gmn, cukup menjawab?

  16. Bagus-bagus fotonya! Di sana mestinya sudah ada banyak pilihan penginapan ya?

  17. sejak nonton laskar pelangi, saya dari dulu pengen banget jalan-jalan ke belitung. batu-batu gedenya itu loh, keren abis!
    salam kenal ya

  18. Tikaaa. Gw cengengesan baca postingan ini. Hihihihi. Jaman kecil dulu paling serem ketelan biji-bijian gw. Hahahaha.
    Ish ngiri deh sama yang bisa jalan-jalan di Rabu-Jum’at…

    • Hihihihi… kayaknya semua anak Indonesia pernah punya ketakutan yang sama deh. Yuk diatur dong biar jalan2nya di hari kerja? 😉

  19. Pengen ke sana, Mbaaak.. Dulu pas maen ke Palembang sempet pengen mampir ke Belitung, tapi karena keadaan badan yang ngga oke akhirnya ngga jadi deh.. Huhuhu.. :’

    Di Belitung banyak budget hotel ngga, Mbak? Atau hotelnya yang minimal bintang tiga gitu? ._.

    • Wah beragam hotel ada. Aku juga nginep di hotel kecil yg sederhana tapi bersih, sebentar kok lupa nama hotelnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s