BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Green Tea Adventure: Di Balik Nikmatnya Teh Hijau

50 Komentar

Saya tidak pernah menyangka sebelumnya kalau jalan-jalan ke kebun teh bisa menjadi pengalaman yang seru banget! Saya sudah sering denger orang ngadain tea-walk dan biasanya di area puncak. Tapi baru kali ini saya beneran tergerak, semangat nyiapin day-pack dan berangkat ke Ciwidey, Jawa Barat hari Selasa kemarin. Kenapa kok semangat banget? Karena lokasinya unik! Yang mau kita datangi bukan kebun teh biasa, sebab lokasinya ngumpet di balik 10.000 hektar hutan cagar alam Gunung Tilu di mana masih hidup bebas satwa-satwa spesies aslinya macam owa jawa, surili, burung elang dan macan kumbang. Auuuuummmm!!!

Suntikan semangat lainnya adalah kali ini jalan bareng sama temen-temen yang seru, ada Teh Nit, Popon, Popok (iya, nama mereka mirip tapi wajahnya nggak ada mirip-miripnya, sumpah), Chika, Didut dan teman-teman lain yang baru kenalan di lokasi. Kami berangkat naik bus dari Senayan jam 10 pagi. Kami sampai di Ciwidey jam 3 sore, langsung ngamar, soalnya butuh ngelurusin kaki abis duduk 5 jam di bus. Saya sekamar sama Teh Nit dan begitu konek sama wifi hotel Albis kami berdua langsung buka laptop! Hahaha…. dasar anak digital, gak boleh nemu wifi kenceng. Mari leyeh-leyeh dulu, kami mesti menyimpan tenaga buat tea walk besoknya. Ya kan?

Besoknya kami bangun jam 3.30 dini hari. Ngapain? Mau siap-siap adzan subuh? Jam segitu mah merbot mesjid juga belum bangun… Kami harus berangkat pagi buta karena dari Ciwidey masih harus naik mobil 3 jam untuk sampai ke kebun teh. Dan surprise!! Subuh itu sepuluh buah Land Rover sudah parkir cantik di depan hotel siap mengangkut kami. Berangkatlah kami beriringan membelah kabut sutera ungu di tengah pelukan hawa dingin yang menusuk tulang.

Meski masih gelap dan ngantuk, goncangan jalanan yang lubang-lubang dan berbatu membuat kami tetep melek. Pas mulai sunrise, saat semburat warna oranye merekah di ufuk timur di lereng bukit, wiiiiih….. kebayar deh gubrak-gabruknya naik Landy! Pemandangannya bener-bener bikin saya mengelus dada sendiri, bukan dada temen saking bagusnya…

20150429_080828

20150429_082623

Habis naik Landy, kami mampir sarapan di tepi sungai, lalu lanjutin perjalanan naik truck. Yup. Berasa kayak sapi? Nggak juga sih. Soalnya sapi kalau naik truck baris rapi menghadap ke satu arah semua, sementara kami naik trucknya tanpa formasi, acak-acakan menghadap kemana pun bebas! Akhirnya kami sampai di hamparan perkebunan teh Dewata seluas 600 hektar yang dikelilingi hutan lindung Gunung Tilu. Perkebunan teh ini dimiliki dan dikelola oleh PT Kabepe Chakra.

Lalu kenapa harus ke kebun teh yang ini sih? Selain pemandagannya spekta, kebun teh inilah yang mensuplai daun teh berkualitas unggul untuk diolah menjadi teh hijau kemasan botol Nu Green Tea yang kini tersedia dalam rasa original, less sugar, madu dan royal jasmine+gula batu. Saya jadi lebih bisa mengapresiasi setiap teguk Nu Green Tea yang saya minum, karena ternyata butuh effort yang luar biasa untuk membuatnya, plus diolah dari bahan teh baru, bukan teh layu sehingga memberikan kebaikan yang maksimal.

Di sana kami diajari cara memetik daun teh oleh Pak Ujang yang sudah 20 tahun bekerja di kebun teh ini. Hanya 4 helai daun teratas di pucuk batangnya saja yang dipetik dengan tangan, dimasukkan keranjang, dikumpulkan, lalu langsung dibawa ke pabrik pengolahan yang lokasinya masih di kompleks perkebunan. Jadi di hari yang sama, pucuk daun yang baru dipetik itu langsung diolah menjadi teh hijau siap seduh. Pada prinsipnya daun teh yang sudah dibersihkan lalu dipanaskan dan digulung, semua dalam proses yang higienis dan berstandar tinggi.

Istimewanya lagi, daun teh di Indonesia berasal dari pohon teh jenis asamica (di negara lain jenis sinensa) yang rasanya lebih sepat dengan kandungan polyphenol yang bersifat antoksidan lebih tinggi, sehingga lebih sehat.

Daun teh yang sama sebenarnya bisa diolah menjadi green tea atau black tea. Perbedaannya ada pada cara pengolahan. Untuk membuat green tea, daun diolah tanpa melalui proses oksidasi sehingga kandungan gizinya lebih baik karena mengandung lebih banyak polyphenol.

Maka pada green tea, daun teh baru yang telah dipetik kandungan antioksidannya, yakni cathechin, masih terjaga. Cathechin merupakan zat antioksidan yang dapat mengurangi kerusakan sel hingga mencegah kerusakan sel penting bagi tubuh, demikian kata Pak Rakhmat Badruddin selaku Ketua Dewan Teh Indonesia. Pak Rakhmat juga menambahkan, minum teh hijau setiap hari bisa membantu mengurangi kadar kolesterol jahat, mengurangi risiko penyakit jantung, mengurangi bakteri di rongga mulut, mencegah bau mulut, dan meningkatkan metabolisme (ada yang ingin menurunkan berat badan?). Untuk masuk ke dalam pabrik ini kami semua harus pakai kostum ala-ala dokter bedah, lengkap dengan jas putih, masker, penutup kepala, sarung tangan, dan sarung sepatu, biar tetep higienis.

nu green tea2

nugreentea 3

Keberadaan teh ternyata tak bisa dipisahkan dari budaya dan gaya hidup manusia. Teh berperan secara ekonomis & sosial karena tumbuh di 35 negara, dan menjadi tulang punggung perekonomian negara-negara tertentu. Di kebun teh Dewata saya kami melihat sendiri tak kurang dari 700 orang karyawan setiap pagi berangkat ke kebun teh, naik truk hingga sampai di sebuah area yang hendak dipetik hari itu. Lalu para pemetik teh bekerja hingga jam 2 siang, memetik daun teh yang baru tumbuh di pucuk-pucuk batangnya. Mereka ini keterampilan metik dauh tehnya cepat dan amazing banget!! Saya langsung ingat film Edward Scissorhands yang dibintangi Johny Depp itu!!!

Setelah sebuah pohon teh dipetik, perlu menunggu antara 10 hingga 15 hari agar bisa memetiknya lagi. Maka hitungannya setiap dua minggu sekali bisa ‘dipanen’. Tanaman yang produktif ya? Dalam sehari perkebunan ini memproduksi antara 10-15 ton daun teh. Banyak ya? Secara nasional produksi teh Indonesia dulu pernah berada di peringkat ke-4 dunia setelah China, India, dan Kenya tapi sekarang merosot ke peringkat ke-8. Padahal konsumsi teh dalam negeri kita terus meningkat lho, rata-rata pertumbuhannya 8% pertahun.

20150429_105951 Gunung tilu

Kece ya bukitnya? Kayak Hobbiton nggak sih? Saya sih langsung pengin shooting film di sini!

Tak terasa sudah sore, kami puas banget keliling pohon teh, foto-foto kece, makan siang di lereng gunung dan kenalan sama teman-teman baru, kini tiba saatnya pulang. Dalam perjalanan pulang, ditengah guncangan Land Rover yang membawa kami kembali ke Ciwidey, saya membayangkan kayak apa ya rasanya kalau jalan-jalan ke kebuh teh di Vietnam, Srilangka atau India gitu? Pasti saya akan kalap bikin foto setiap 5 menit sekali, lalu pamer sana-sini di twitter, instagram, FB dan Google+, akun sosmed yang lagi naik daun. Ah, semoga bisa segera memetik daun teh di Vietnam!

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

50 thoughts on “Green Tea Adventure: Di Balik Nikmatnya Teh Hijau

  1. Hello, Salam kenal. Ayoo berkunjung ke Trans Studio Bandung bersama rombonganmu!

    Kurnia Jaka
    Sales Edutainment
    Trans Studio Bandung
    Kontak HP/WA 0812-23425181
    Email: jaka.tsb@gmail.com
    Terimakasih

  2. dewata emang the best ..hhaha ane pernah kesana gak sengaja gara2 kesasar tpi dari arah pangalengan cukul masuk hutan super lebat gak bisa balik dehh ..oo iya ane pake motor trail sama anak2 adventure balik lewat ciwidei jelang sore ampe jam 8 malam ..rasanya seperti matii banyak binatangnya .jalana menanjal berbatu seperti gak ada ujung plus kabutnya gilaa ..ane tidak akan melupakan pengalaman itu ..

  3. Pemetik tehnya geulis-geulis.. Hihihi.. 😛

    Kalok di Sumut aku ngga tau Mbak, paling kebun teh yang di Siantar aja. Tapi keknya ngga sekece yang di postingan ini 😀

  4. seru bangettt…sampe sekarang masih kangen banget naik mobil land rover lagi,seru aja rasanya. dan seumur2 belum pernah main ke kebun the xixixixixi…
    salam kenal mbak^^

  5. cuma 4 pucuk diatas aja yg diambil ya mba… baru tau ih… emg bener2 harus org yg udh terampil utk metikin daunnya ya… Aku bukan pecinta teh sih… tapi kalo lg puasa, ya teh biasanya yg diminum dulu saat buka 😀

    • Iya, cuma daun di pucuk aja yang dipetik dan langsung diolah agar daun tehnya selalu baru 🙂 Kamu suka jenis teh apa?

  6. Aku mau rajin minum green tea ah!

  7. Jadi tau informasi pembuatan Nu green tea. Traveling sambil menimba ilmu, mantap kakanya untuk informasinya ^^

  8. Wiiih…jadi ternyata rumit jg ya perjuangan dbalik pembuatan Nu green tea!!! *jadipenginNugreenteadingin *tapiudahmalamcaridimana

    • Hahaha… udah coba cari di kulkas? Iya, mmg utk menghasilkan barang yg bagus pembuatannya butuh perjuangan.

  9. Thanks infonya mbak, padat berisi! Jadi lebih appreciate minum green tea termasuk yg kemasan botolan, apalagi kalo siang2 disajikan dingin….. Btw Nu green tea favorit aku yg less sugar, pas rasanya. Cuma kadang nggak nemu di kampusku, adanya rasa yg lain.

  10. Wah informatif dan insightful banget artikelnya. Sepertinya Nu Green Tea punya treatment khusus untuk daun teh dan pengolhannya ya kak? Dilihat dari lokasi kebun tehnya aja udah spesial gitu. Impressive!!

    • Thank you. Ya itu semua yg saya tulis kan treatment yg istimewa biar hasil daun teh hijaunya selalu baru dan bagus 🙂

  11. Aku pingin naik landrover nya hehehe

  12. saya pengen naek mobilnya 😀

  13. Itu naik Land Rovernya yang bikin iri pisan kak!

  14. Panjang ya cerita tentang teh ternyata. Penasaran banget ama lokasinya yang deskripsinya seru abis itu Tik. Trus ngikik pas baca dibandingin ama sapi. Hihihi. Baca ini jadi naik apresiasi gw sama brand Nu Green Tea nya.

  15. Penasaranku akhirnya terjawab 😆

    Kemarin-kemarin sering banget penasaran soal perbedaan green tea dan teh yang biasa. Kirain beda jenis tanaman. Ternyata …..

    Btw, ceritanya seru banget mbak

  16. Ih jahattttttt aku gak diajakkkkkkk. Kan mau duduk di kap depan landy sambil dadah2 ke eneng2 pemetik teh kakk

    • Hihihihi… aku pun langsung memvisualkan Om Bolang duduk di kap Landy sambil dadah2 lho… hahaha… ntar aku videoin yes?

  17. Waaaaaa, seruuu bgt ya. Jadi pngn kesana. B-)

  18. Ping-balik: Belajar Memetik Teh di #GreenTeaAdventure | cK stuff

  19. Wah seru juga ya mbak adventurenya! Dan tulisannya jg menarik, penuh info berguna. Btw green tea lebih bagus dininum tanpa gula kan ya? Aq jarang minum teh hijau sih… cuma seingatku klo di resto jepang gitu green teanya tawar kayak di warung Sunda

    • Mestinya manfaat green tea-nya sih tetap ada ya, baik diminum dengan atau tanpa gula, asalkan kualitas daun teh sebagai bahan bakunya bagus.

  20. Akkkk, aku suka kebun teh kaaaak! Bisa dapet banyak foto yang instagram able soalnya :p

  21. Saya berjanji: gak bakalan ngeremehin teh botolan lagi. Sumpah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s