BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Swastika Nohara

Arti Sebuah Tweet Dan Retweet

64 Komentar

Teman-teman yang aktif di social media dan suka nonton siaran berita pasti sudah mendengar peristiwa penembakan brutal yang menewaskan setidaknya 130 anak di sebuah sekolah di Peshawar, Pakistan oleh kelompok ekstrimis di sana. Padahal,belum reda gelombang pemberitaan dari peristiwa #Sydneysiege sehari sebelumnya, yang lalu berlanjut dengan  #illridewithyou di kota Sydney. Seorang pria bersenjata menodongkan pistol dan menyandera belasan orang pengunjung di Lindt cafe, lalu pria itu menyuruh salah satu sanderanya memasang bendera hitam dengan tulisan syahadat di jendela kaca cafe. Cafe ini terletak di pusat perkantoran ramai di Sydney, sehingga peristiwa tersebut segera saja menarik perhatian jurnalis dan ramai dibahas di social media, terutama twitter.

Ini bukan war zone, sumpah! Shootingnya sesuai brief klien dan hasilnya menyenangkan.

Ini bukan war zone, sumpah! Shootingnya sesuai brief klien dan hasilnya menyenangkan.

Dalam hitungan jam sudah ada ratusan tweet dengan hash tag #sydneysiege yang isinya seputar kejadian tersebut, menyuarakan simpati terhadap para korban, atau (yang ini parah banget) foto selfie di depan cafe lokasi penyanderaan. Kemudian bermunculanlah beritanya di berbagai situs online, diikuti ribuan tweet pada jam-jam berikutnya berisi link berita dan apa saja yang dilakukan polisi di TKP. Sejak awal membaca berita ini saya langsung tergerak mencari tahu lebih banyak, dan beberapa kali memantau hash tag tersebut.

Tapi saya menahan diri untuk tidak ngetwit tentang peristiwa ini maupun ngetwit link berita yang memuat updatenya. Saya hanya ngetwit turut bersimpati buat para sandera, karena memang nggak kebayang bagaimana rasanya tersandera di dalam cafe sejak pagi sampai malam. Tapi tidak sekalipun saya ngetwit tentang sudah sampai dimana perjuangan polisi membebaskan sandera, link beritanya apa lagi foto dari lokasi kejadian meskipun hal ini sangat menarik. Hal yang sama saya lakukan ketika mengikuti perkembangan peristiwa penembakan siswa-siswa sekolah di Peshawar. Kenapa?

Karena saya tidak ingin memberi panggung pada pelakunya. Saya merasa, dengan kita tweeting atau meretweet peristiwa tersebut, itu artinya kita memberi perhatian pada pelakunya, meskipun tweet kita berisi kecaman atau kutukan. Dan justru perhatian khalayak ramai inilah yang dikejar pelakunya, terutama pada kasus di Sydney dimana pelakunya memilih cafe dengan jendela kaca lebar yang lokasinya di seberang sebuah kantor pemberitaan. Saya membayangkan, seandainya di luar sana ada orang-orang lunatic atau kelompok ekstrimis dari kalangan manapun yang membaca liputan media, nonton TV dan memantau sosial media, lalu jadi terinspirasi melakukan tindakan serupa demi memperoleh perhatian dunia… Wah…

Ingatan saya jadi melayang ke peristiwa beberapa tahun silam, saat saya masih jadi reporter dan stringer buat media asing yang mau liputan di Indonesia. Ketika itu Amrozi, salah satu pelaku bom Bali, dieksekusi, ditembak di Nusa Kambangan lalu jenazahnya dibawa ke kampung halamannya di Tenggulun, Jawa Timur untuk dimakamkan. Saya meliput di Tenggulun sejak 2 hari sebelum jenazah datang, dan menyaksikan langsung bagaimana massa datang secara bergelombang terus menerus dari berbagai kota yang jauh di Pulau Jawa sampai benar-benar menutupi seluruh jalan di desa itu Mereka berkumpul untuk memberi simpati dan dukungan pada apa yang dilakukan Amrozi.

Saat saya wawancara, apa yang membuat mereka tergerak datang jauh-jauh ke Tenggulun, mereka bilang karena lihat beritanya di TV dan ingin menjadi bagian dari peristiwa tersebut. Memang rangkaian peristiwa itu disiarkan terus-menerus beberapa hari sebelum hari eksekusinya oleh berbagai TV swasta, baik sebagai bagian dari program berita maupun breaking news. Nah, mereka jadi tergerak karena siaran TV, dan ketika itu saya langsung merasa bersalah menjadi bagian dari mata rantai pemberitaan yang terus-menerus tentang terorisme di televisi. Kini di jaman social media begitu cepat menyebarkan informasi (yang kadang belum dicross check akurasinya), apakah tidak sebaiknya kita berpikir dua kali sebelum mengklik tombol retweet?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

64 thoughts on “Arti Sebuah Tweet Dan Retweet

  1. Aku males ngasih panggung ke merema..
    kalau timeline lg penuh dgn saling menyalahkan atau membully, biasanya tak tutup lg twitter nya.
    susah sih mgkn sifat dasar manusia suka bergunjing, tinggal kitanya mau ngerem apa engga.

  2. itulah kenapa kita harus mengecek kebenaran suatu berita seblumnya membagi ke khlayak kak… begitu juga di ranah twitter.

    nice share

  3. Nah ini sepakat! “Kini di jaman social media begitu cepat menyebarkan informasi (yang kadang belum dicross check akurasinya), apakah tidak sebaiknya kita berpikir dua kali sebelum mengklik tombol retweet?”

  4. Untuk gak komen (ngetweet) emang susah ya kak.. Tapi emang harus diputusi mata rantai itu. Mulai deh dari diri kita sendiri..

  5. Ah ini bener banget. Kadang sengaja nahan diri gak ikut sebar berita semacam itu supaya pelaku gak diberi panggung. Dulu kalau gak ikutan ngeRT berita semacam itu, ada aja yg nyinyir bilang gak peduli. Sekarang udah tahap cuek. Gak mau ngasih berita yg belum jelas sumbernya dan gak mau ngasih ide untuk hal-hal semacam itu.

  6. Hehe sekarang ini aku juga kalo reply and retweet sebuah info mikir2 dahulu dan lebih hati2,,
    Nice artikel mba tika 🙂

  7. di jaman yang reaktif seperti ini memang susah ya untuk menahan jari. Sedikit sekali yang mau pelan-pelan cek dulu ada apa dengan berita yang didapatnya.

  8. Ini pengingat lagi untuk gak sembarangan Retweet dan Tweet.. Memang di dunia yang semakin terhubung oleh segala hal berbau digital, everyone is a media. Terima kasih untuk sudah sharing ini kak Tika!

  9. makasih infonya kak….. semoga sukses…

  10. Gw sangat meminimalisir informasi yang mengalir deras gak tentu arah sekarang, caranya? Gak punya twitter, jarang buka FB, gak pake Path. Berita pun sekarang seringnya bikin hati keruh gak keruan, rasanya susah emang melihat segala masalah secara jernih dengan derasnya arus informasi kayak gini. Dan ya, gw hampir gak pernah membagikan berita yang gw gak yakin manfaat atau malah kebenarannya, kasian nanti dunia makin keruh.

  11. Setuju, Mbak Tika. Terima kasih untuk perspektifnya mengenai ini. 🙂
    Btw, selain kejadian macam ini (yang memang nyata), banyak juga berita hoax atau berita yg masih simpang siur yang perlu hati-hati sekali menanggapi dan membagikannya di media sosial.

  12. waw..sy ga kepikiran ke arah sana..ttg reaksi pelaku saat kita nge retweet..nice post

  13. Makasih banyak ya Tik diingetin lagi. Dulu pernah baca concern orang tentang hal-hal begini dan jadi bikinbgw selalu kepikiran setiap mau ngetweet ato retweet. Meskipun follower dikit tapi gatahu siapa yang ngeretweet dan siapa lagi yang baca tweet an kita ya. Sekali lagi makasih. 🙂

  14. Setuju, emang sekarang informasi tuh udah kayak air bah, buanyak banget. Mesti kita pinter pinter milah nya. Aku sendiri kadang masih suka posting link berita di wall FB aku, tapi udah jarang banget. Males juga kalo ngasih informasi yang salah

  15. Couldn’t agree more mba tika…
    Too easy for us now for spreading the news yang belum tentu kebenarannya dan menjadikan inspirasi buat orang lain to do the same with cruel intention. Musti ditahan2 ini jemari dan disaring dengan benar berita2nya…

  16. Aku setuju banget mba, makanya juga gak terlalu sering kasih kabar ini itu. Takut salah apalagi aku males cek ricek dulu 😦
    thank you mba Tika, udah diingetin

  17. Aku setuju, Kak. Soalnya di jaman sekarang, masyarakat medsos lebih dulu meng-RT sebuah berita tanpa cek dan ricek dulu. Ya memang tidak semua masyarakat medsos punya akses untuk ricek kepada narsum tapi menurutku, alangkah lebih baik kalau menahan diri sebelum benar-benar keluar penjelasan yang pastinya. Tentang masyarakat yang datang ke lokasi kejadian untuk tahu langsung sebuah berita…well, ini aku masih sering heran sih. Contoh: ada banjir. Disiarkan di tv. Masyarakat berbondong-bondong datang ke lokasi banjir hanya untuk tahu, “Oh, ada banjir beneran”. *nelangsa*

    • Banjir, lokasi kecelakaan, TKP kriminal sering kedatangan warga yg ingin nonton doang. Waktu aku liputan kasusnya Sumanto, byuuuuh…. ramenya kayak Ragunan pas Lebaran!!! Pdhl ya gak ada apa2, cuma rumah kosong krn penghuninya udh dibawa ke polres! Ngapain coba?

  18. Setuju banget kakak, aku lagi berusaha menahan untuk tidak ikutan kepo dalam urusan hal2 yg efek nya akan meledak jadi bom

  19. aku setuju, kl mau ikut2an share sebuah konten baiknya kita perhatikan efeknya kelak
    aku pernah mikir anak2 kecil yg ikut2an melakukan harassment pada teman sebaya bisa jadi efek berita di TV yg dulu rame tentang robot gedek, shg anak2 kini gampang banget nyebut istilah so**m*, sama kukira kasusnya dengan berita Tenggulun

  20. Terkadang juga informasi yg kita tahu, pengen juga biar orang tahu, jadi dengan cepatnya kita share info tersebut, yang terkadang dari sumber yang begitu banyak jadi kembali ke kita sih jeli memilih berita dan sebelum share, agar sedikit memperhatikan kredibilitas berita tersebut, saking banyaknya Media, kita aja bisa bikin berita sendiri atas kejadian yang kita tahu dengan fakta yg ada dan menjadi viral terkadang

  21. Aaaaak, aku jadi merinding baca yang bagian amrozi. Orang2 banyak yang dukung karena.. Media. 😦 Ini yg sedaritadi aku bahas dengan temen2ku. Turut berduka untuk mereka yang mati syahid di luar sana dengan cara2 yang damai. Seperti beberapa “pahlawan” di kafe tersebut yang meninggal karena membela yang benar..

    • Aku sempat membayangkan, seandainya peristiwa Sydney itu tidak diliput besar2an di media & sosmed, apakah hasil akhirnya akan berbeda?

  22. masalahnya, suatu konten yang viral cenderung liar di social media kak. apalagi di twitter. menahan untuk tidak retweet atau reply itu susah banget 😐

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s