BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Amazing Derawan Island

45 Komentar

Berenang di danau Kakaban bersama ribuan ubur-ubur tidak menyengat (stingless jellyfish) adalah salah satu impian masa muda saya. Jadi, mumpung saya masih muda, mari wujudkan impian itu! Terus, gimana ceritanya selama di sana?

Setelah sekian lama menanti akhirnya tanggal 19 Oktober lalu saya pergi juga ke empat pulau keren di Kalimantan Timur, yaitu Pulau Derawan, Kakaban, Maratua, dan Sangalaki. Keempat pulau itu termasuk pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan perairan Malaysia. Meski termasuk dalam provinsi Kalimantan Timur, tapi pulau-pulau itu berada di laut Sulawesi. Saya berangkat dengan pesawat Garuda (setelah melewati drama menyebalkan dengan Lion Air yang saya tulis di sini) jam 5.30 pagi dari Jakarta ke Balikpapan, lalu connecting flight Balikpapan ke Berau. Penerbangan berlangsung mulus. Sesampainya di Balikpapan saya terpesona dengan wajah baru bandara Sepinggan yang sekarang sangatlah mentereng! Bangunannya modern dengan warna putih dan elemen kaca yang dominan. Terus terang, tampilannya mengingatkan saya pada bandara Changi di Singapura meskipun fasilitasnya masih jauh berbeda. Ornamen dengan motif Dayak menghiasi beberapa sudut bandara, cakep!

Tak lama menunggu, perjalanan lanjut dengan pesawat kecil, Garuda Indonesia Explore Jet menuju bandara Kalimaru, di Berau. Dari jendela pesawat, saya merasa miris melihat hutan Kalimantan yang seharusnya hijau lebat tampak sudah botak di sana-sini, bopeng dengan lubang bekas galian tambang yang dari udara tampak seperti luka menganga. Sebegitu tamaknya manusia mengeksploitasi alam atas nama pembangunan.

2014-10-19 12.39.17

Derawan tall trees

Setelah 50 menit terbang dengan disuguhi pemandangan menyedihkan hutan Kalimantan, saya pun tiba di Berau. Bandara Kalimaru ini juga tampak baru dan modern, dengan dominasi warna putih mengkilat. Mungkin, uang hasil dari pembabatan hutan tadi, salah satunya dijadikan bandara mentereng ini. Well, semoga saja tidak terlalu banyak yang dikorupsi 🙂 Saya ini niatnya mau liburan kok ya mikir yang berat-berat? Baiklah, mari kembali ke soal berlibur.

Pengaturan perjalanan ini dibantu oleh Valadoo dari Jakarta, sehingga di Berau sudah ada yang menjemput, meski terlambat 45 menit. Tak apa, saya rela menunggu sambil menikmati secangkir minuman hangat di coffee shop bandara. Saya bertanya pada petugas cafe, apa sih minuman khas Berau yang mereka sediakan? Perempuan muda petugas cafe itu hanya menggeleng dan tersenyum, dia sendiri bingung, apa sebenarnya minuman khas Berau. Baiklah… Akhirnya saya pun minum teh kotak, minuman khas banget… khas Indonesia 🙂

Supir travel akhirnya muncul, seorang pria usia awal 30an bernama Ruslan yang mengemudikan Toyota Avanza-nya dengan tangkas menuju pelabuhan Tanjung Batu. Ruslan bertutur, sebagian besar pria di tempat itu bekerja di sektor pertambangan batu bara, dulu pun dia pernah kerja di tambang selama bertahun-tahun sebelum akhirnya merasa kelelahan dan banting stir menjadi supir travel. Ruslan membawa kami singgah makan siang di sebuah warung di luar kota Berau. Meskipun sederhana, warung ini tampak berkomitmen tinggi dalam menghibur pelanggannya. Mereka menyediakan TV lebar berlayar datar lho! Di meja warung tersaji buras yang dimakan dengan serundeng. Buras memang terdapat di berbagai tempat di Kalimantan dan Sulawesi. Tapi buras dimakan dengan serundeng, ini khas Kalimantan Timur. Kalau di Kalimantan Selatan, burasnya dimakan dengan sambal kacang, demikian kata Ruslan. Saya pun mengangguk-angguk sambil menikmati sensasi rasa gurih dari buras-serundeng di dalam mulut.

20141019_125919_1

2014-10-19 11.41.43

Sepanjang jalan rute Berau ke Tanjung Batu tersebut saya lagi-lagi miris melihat hutan ditebang dan dibakar, disiapkan untuk lahan kelapa sawit. Saya sedih, sebentar lagi rute ini akan tampak membosankan dengan deretan pohon sawit,  tak akan ada lagi pemandangan pohon-pohon tinggi menjulang, dan alang-alang gemulai bergoyang. Foto-foto kece selengkapnya ada di akun Google+ saya, di sini.

Setelah menempuh 2,5 jam perjalanan dari bandara Berau, kami tiba di pelabuhan Tanjung Batu yang menjadi check point penyeberangan ke Pulau Derawan. Di sini saya disambut Deni, pemuda berusia 20 tahun yang akan menemani saya menelusuri pulau Derawan, Kakaban, Maratua dan Sangalaki. Kami naik speed boat menempuh perjalanan 35 menit dengan terguncang-guncang. Begitu meninggalkan area pelabuhan, ombak membuat body speed boat terangkat lalu terhempas lagi dengan keras. Tak apa, untung cuma sebentar, tidak seperti penyeberangan saya dari Kupang ke Kalabahi yang memakan waktu 14 jam di lautan pas kesana bulan Maret lalu.

Mendekati dermaga pulau Derawan sekitar pukul 3 sore, kecepatan speed boat menurun, dan segera merapat. Nyiur sudah tampak melambai di tepi pantai. Wah, saya sudah tak sabar untuk segera menginjakkan kaki di pasir pantainya!

Derawan… I’m coming!!!  *histeris!

Dari kejauhan sudah tampak deretan cottage warna-warni di bibir pantai. Banyaknya pelancong yang datang ke Derawan beberapa tahun terakhir ini membuat investor datang mendirikan cottage. Selama musim libur sekolah dan tahun baru, seluruh cottage itu penuh, bahkan rumah-rumah penduduk pun disulap menjadi homestay. Kalau datang ke Derawan bersama beberapa orang teman, menginap di rumah penduduk yang menyediakan fasilitas homestay bisa jadi pilihan. Homestay ini lebih murah dibandingkan cottage, juga sudah dimasakin sama pemilik rumah untuk makan 3x sehari. Saya menginap di salah satu cottage di atas laut, agar bisa tidur sambil mendengar kecipak air laut… Padahal kalau lagi tidur ya nggak bisa dengar apa-apa kan?

derawan morning wide

derawan morning watch

Lebih keren mana, pemandangannya atau jam tangannya? Kamu bisa mendapatkan give away jam tangan kayak yang saya pakai dengan cara re-share foto tersebut (dan foto-foto saya yang lain) di Google+. Mau hadiah jam tangan dari Urban Icon itu? Caranya tulis komentar di blog post ini dan klik link ini.

Selama di Derawan saya selalu makan di warung Ibu Nur yang terletak di jalan utama Derawan. Soal makan, sebagaimana di pulau kecil lain, tantangan terbesar bagi saya adalah menemukan buah-buahan segar untuk sarapan. Di pulau ini cuma ada pisang kepok (yang nggak enak dimakan mentah) dan pepaya, itupun kadang-kadang. Baiklah, terpaksa saya sarapan pisang goreng… buah juga kan? Hehehe…

Sambil menemani saya sarapan, Ibu Nur saya ajak ngobrol. Dia bercerita kalau kedua orang tuanya, dan orang tua suaminya, adalah orang Filipina yang sudah sejak kecil dibawa menetap di Derawan oleh orang tua mereka. Tepatnya orang Moro, dari Filipina selatan. Di Derawan mereka sudah membaur dengan orang Bajo. Jadi kalau ditanya etnisnya apa, Ibu Nur bilang, kebanyakan warga sini adalah keturunan Bajo-Derawan, alias sudah campuran. Ibu Nur menyekolahkan anak sulungnya ke SMK di Berau. Sebagai ibu kota kecamatan, seluruh sarana pendidikan terkumpul di tengah pulau Derawan, mulai dari TK, SD, dan SMP. Kalau mau lanjut SMA harus ke daratan Kalimantan, menuju Berau. Untuk menghemat ongkos, anak Ibu Nur itu menumpang di rumah saudara. Pada saat libur, baru pulang ke Derawan. Hal ini sudah lazim dilakukan warga demi pendidikan anak-anak mereka.

Derawan ini terkenal sebagai ‘rumah’ bagi penyu hijau (Chelonia mydas). Pantai Pulau Derawan yang landai dan berpasir halus rupanya menjadi tempat yang menarik dan aman bagi penyu untuk meletakkan telurnya. Puncak musim bertelur penyu ini terjadi di bulan April hingga Juni. Tapi sayang, sejak Pulau Derawan semakin ramai dikunjungi pelancong, dan banyak cottage dibangun di pantainya, jumlah penyu yang bertelur di pulau ini menurun drastis. Katanya sekitar 5 tahun lalu masih banyak penyu berenang di sekitar dermaga, tapi sekarang sudah jarang. Saya beruntung waktu duduk-duduk selepas sunrise di dermaga di ujung timur pulau ini, sempat melihat penyu berenang santai di bawah dermaga.

2014-10-20 05.08.442014-10-19 14.19.56derawan beach wide20141019_165120_120141021_053014_Richtone(HDR)_1

Nah, soal sunrise, saya sedikit galau menemukan horizon tampak kelabu. Rupanya, kabut asap yang beberapa pekan lalu menyelimuti Sumatera sempat terasa akibatnya ke Derawan meskipun tidak parah. Saya sedikit kecewa tidak mendapatkan sunset dan sunrise yang spektakuler, tapi tak apa. Toh tujuan utama saya ke sini adalah menjenguk ubur-ubur di Danau Kakaban. Jadi kapan ke danaunya? Sabar sebentar, ceritanya ada di blog post berikutnya termasuk perincian biaya kalau kamu mau ke Derawan.

Saya menikmati keindahan Derawan ini berkat kegiatan yang diadakan Google Indonesia bekerja sama dengan Kementrian Pariwisata. Kamu juga bisa jalan-jalan gratis keliling Sumatera Barat dengan memposting foto-foto tentang Indonesia di akun Google+ milikmu dengan hash tag #WonderfulIndonesia dan #IndonesiaOnly serta mention +Indonesia.travel sebagai caption fotomu. Boleh ngeluarin foto-foto lama kok. Info selengkapnya, silakan buka Google+ lalu search namaku, Swastika Nohara (atau langsung klik ini), disana ada informasi dan contohnya. Info selengkapnya klik link iniKalau kamu sudah punya Gmail, pasti otomatis punya akun Google+ atau kalau belum punya, silakan bikin akun Gmail, gratis kok. Yuk, jalan-jalan yuk? 🙂

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

45 thoughts on “Amazing Derawan Island

  1. Mantebss tempatnya…
    Kunjungi link saya
    Yg butuh info service ac jakarta & tanggerang

  2. Ping-balik: Senyum Manis, Senjata Pas Traveling Sendirian | About life on and off screen

  3. Ping-balik: Harga BBM Naik, Apa Tetap Traveling? | About life on and off screen

  4. Itu pohon2 di poto yang pertama kenapa banyak yang tumbang ya mba?

  5. Selfienya kurang banyak, sis.

  6. Whoohooo…mantabs. Keren Abisss…bikin sirik seIndonesia nih…haha…
    Kl bisa ikut jalan2nya asiik lah . apalagi ditemenin jam dari +urbanIcon…

  7. Argh! Iri to the max!
    Selalu menyenangkan ya menjelajah alam Indonesia ini. Karena saya gak bisa berenang dan menyelam, setiap kali kali ke pulau, mungkin cuma menikmati pantainya yang keren-keren itu! Mbak, kapan-kapan ke gunung atuh… Haha.. Ajak aku juga yes! Aku suka loh naik gunung ^^

    Apa aku share cerita naik gunung ya? Itu juga keren, kita mengalahkan gravitasi. Halah. Haha…

  8. Reblogged this on Kesehatan Dan Kecantikan and commented:
    Amazing Derawan Island

  9. Ping-balik: Pulau Maratua, Kakaban Dan Sangalaki, Surga Tersembunyi | About life on and off screen

  10. subhanallah… asli mbak di g+ mu aja aku udh iri beratss pgn ksana. ini lg pake ada ceritanya. makin mupeng. smoga bs sampe ksana, duduk manis nunggu lanjutan cerita. kali aja uang tabungan cukup n dptin jamnya. haha…

  11. tikaaaa…. blogpostnya bikin aku pengen balik ke Derawan lagi… aku kesana dalam rangka liputan tahun 2008… sumpah emang itu kepulauan cuakeeepnya ga nahan deh….12 hari disana tiap hari bangun tidur lgs brgkt liputan, nyemplung air laut ampe gosong item badan.. dan rela bangeeet… hehehe.. thn 2008 pesawat yg mendarat di bandara Berau cuma ada 2 pesawat kecil dari balikpapan dan pesan tiketnya harus 2 mggu sblmnya. Yang jelas, waktu itu pswt yg akan aku tumpangi rusak, trus pswt satunya lagi udh berangkat.. yeaayy.. akhirnya, kami terbang ke Tarakan, dan bsk paginya baru jalan laut dan darat ke berau… weeww…
    dari tarakan ke bulungan pake speedboat 1 jam, trus bulungan – tj. redeb berau naik mobil 3 jam. baru lanjut ke tanjung batu jalan darat 2 jam.. yeaayy..puas di jalan.. di tj. batu waktu itu hanya ada 1 penginapan, dan malam2 aku harus kuras bak mandi karena saking kotornya.. heheheh.. bsk paginya, baru deh nyebrang ke pulau maratua liputan disana 8 hari termasuk ke kakaban dan sangalaki, trus lanjut ke pulau derawan 4 hari..
    pulang-pulang di kantor aku ga dikenali saking itemnya…. hehehehe…

  12. Keren kak Tika, dan kebetulan sekali ya kita bisa bersua bolak balik di rumah makan bu Nur Derawan ha ha…

  13. keren mbak fotonya.
    klo ke sumba itu kampung saya (bukittinggi)

  14. fotonya keren…mau coba ikutan akh

  15. foto2nya ya… subhanallah sekali.
    *beli tiket*

  16. Salam kenal mbak…wah asik ya udh bisa nyampe Derawan 🙂 bagi2 info nya donk mbak…mudah2an one day saya bisa smp sana juga,

  17. Membayangkan perjalanan yang begitu panjang, pasti capek banget ya mbak. Tapi kalo ketemu Derawan yang indah itu rasanya capeknya nggak sia-sia. Selama ini cuma denger aja keindahannya.. btw kabut asap itu salah satu yang bikin degdegan waktu saya ke Medan kemarin >,<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s