BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Sumatera Barat Dalam Sepekan

68 Komentar

Saya akui kali ini saya mainstream, merayakan lebaran dengan mudik ke kampung halaman. Saya jarang mudik karena ongkos mudik ke Nabire itu mahal banget. Apalagi sekarang ada 4 orang anggota keluarga yang mesti dibelikan tiket pesawat PP. Sebagai gambaran, ongkos mudik kami kalau dibelikan LM bisa dapat 56 gram! Hehehe…

Tapi tahun ini beda. Kami mencoba jurusan baru untuk mudik, ke arah barat, tepatnya ke Payakumbuh, Sumatera Barat. Lho kok bisa ganti arah mudik? Emang bisa ganti kampung halaman? Eit, bukan ganti kampung halaman, tapi bertambah kampung halaman. Setelah menikah, saya punya pilihan untuk mudik ke kampung halaman ibu mertua saya yang orang Minang asli. Maka, berangkatlah kami ke Payakumbuh naik Lion Air pada tanggal 2 Syawal alias 29 Juli 2014. Yay!!

Sampai di Padang kami langsung menuju ke Sicincin, yang terletak sedikit di luar kota Padang. Namanya perjalanan mudik, tentu kami menginap di rumah sanak saudara. Saat bertemu dengan sanak saudara inilah kami mendengar kabar, kalau jalan raya antar kota di Sumatera Barat beberapa hari ini sering macet. Penyebabnya tentu arus mudik yang mengalir deras, kendaraan dari Jakarta, Pekanbaru dan beberapa kota lain yang memasuki Sumbar. Untung di banyak titik pemandangannya keren!

20140801_160454_1
20140801_155138_1

Meskipun cemas dengan kabar macetnya jalan raya, kami berangkat ke Bukittinggi esok paginya. Kami berencana mampir ke air terjun di Lembah Anai yang terletak persis di tepi jalan rute kami. Sayangnya, begitu sampai ke air terjun tempat ini penuh sesak! Tampaknya orang-orang yang bosen berlebaran di rumah pada tumpah ruah di air terjun ini. Meskipun air terjunnya cantik sekali, tapi kalau penuh orang nggak bakal bisa jadi backdrop foto yang cakep. Maka kami pun batal mampir.

Mobil merayap meninggalkan air terjun. Beberapa puluh meter dari air terjun itu, anak saya tiba-tiba berseru sambil lompat-lompat menunjuk ke luar jendela. Dia minta berenang! Rupanya di sisi kanan jalan ada kolam renang yang juga ramai banget. Tempat ini lebih tepat disebut kolam pemandian dari pada kolam renang, karena dangkal sekali, kita cuma bisa mandi-mandi di dalamnya. Kalau orang dewasa nekat mencoba berenang di kolam ini, kaki dan tangan dijamin mentok!
lembah anai renang2
Pemandian ini unik karena terletak persis di pinggir jalan, dingin banget, dengan kabut yang menggantung rendah di pepohonan sekitarnya. Pemandiannya gratis, pengunjung hanya perlu membayar parkir serta bayar kamar mandi kalau mau membilas badan dan keramas usai berenang. Membilas ini wajib, karena kolamnya penuh sehingga airnya agak kotor. Meskipun suhu air dan udaranya dingin sekali, kedua anak saya tetap semangat dan betah berenang lama-lama. Bibir si Adek sampai membiru dan badannya gemetar kedinginan, tapi anehnya dia tetap tertawa-tawa. Ah, kayaknya saya yang mulai lupa senangnya jadi kanak-kanak πŸ™‚

NGARAI SIANOK

Setelah beberapa jam merayap di atas aspal, akhirnya kami sampai di Ngarai Sianok sekitar jam 4.30 sore. Saya sudah sering melihat foto tempat ini, tapi ketika beneran sampai di sana, wow… saya terpukau! Saya mendadak merasa mungil diapit tepian jurang tinggi dengan sungai kecil mengalir di tengahnya. Ngarai Sianok menurut Wikipedia:

Ngarai Sianok dalam jurangnya sekitar 100 m membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m, dan merupakan bagian dari patahan yang memisahkan pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang (patahan Semangko). Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijauβ€”hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal)β€”yang dialiri Batang Sianok (batang berarti sungai, dalam bahasa Minangkabau) yang airnya jernih. Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai karbouwengat atau kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai ini.

Saat kami di sana memang ada serombongan kerbau lewat. Kata seorang penjaga warung di situ, saat ini debit air sungai sedang mengecil. Nggak masalah, justru air sungai yang cuma setengah betis ini membuat anak-anak saya leluasa mandi dan main perahu, dan saya nggak perlu kuatir. Oya, kami membawa 2 perahu mainan dari kulit jeruk Bali, dibuatin sama saudara sepupu yang punya pohonnya. Waaah… udah 20 tahun lebih saya nggak mainan perahu kulit jeruk Bali! Kalau kamu, waktu kecil pernah mainan kayak gini?

ngarai sianok main perahu
ngarai sianok babe main perahu

PAYAKUMBUH

Macetnya lalu lintas membuat kami batal singgah di Bukittinggi dan langsung ke Payakumbuh, menginap di rumah salah satu paman kami. Di kota ini Adal Bonai, sepupu kami, mengajak mandi di sungai. Anak-anak saya seneng banget begitu ketemu sungai yang luas dan bening ini! Saking asiknya mandi di sungai, sampai buyar rencana ke rumah Tan Malaka, istana Pagaruyung dan lain-lain. Maklum, di Jakarta sudah nggak ada sungai seperti ini.

mandi di sungai
mandi di sungai Payakumbuh

KELOK SEMBILAN

Kelok Sembilan ini sebenarnya jalan raya biasa yang kita lewati setelah meninggalkan kota Payakumbuh ke arah Pekanbaru, Riau. Tapi karena pemandangannya rancak bana, apalagi setahun terakhir sudah jadi jalan layangnya, orang-orang jadi senang mampir sebentar di salah satu sudut kelokan untuk foto-foto atau makan jagung bakar. Btw, jagungnya manis banget!

Cuma satu kekurangannya, sampah bertebaran di sekitar jalanan, terutama bungkus cup noodle dan air mineral. Saya perhatikan di sekitar lokasi pemberhentian kendaraan memang tidak ada tempat sampah. Tapi soal sampah yang mengganggu ini juga terjadi di berbagai sudut Sumatera Barat, sayang sekali.

sumbar kelok 9

Demikianlah catatan singkat ini. Moral of the story: hindari jalan-jalan di Sumbar pas lebaran, karena jalanan macet dan sulit menemukan sayur segar. Saya sempat kehilangan nafsu makan setelah 3 hari ketemunya lauk bersantan terus. Sebenarnya saya masih mau cerita soal kedasyatan Lembah Harau serta jajanan-jajanan enak dan kadang ajaib yang kami temui sepanjang jalan. Tapi nanti postingnya jadi kepanjangan, jadi bersambung ya di posting berikutnya πŸ™‚

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

68 thoughts on “Sumatera Barat Dalam Sepekan

  1. Ping-balik: Karupuak Di Lembah Harau & Aneka Jajanan Minang | About life on and off screen

  2. Ping-balik: Jelajah Gizi Sepiring Nasi Goreng | About life on and off screen

  3. Ping-balik: Sudut Tua Kota Padang | About life on and off screen

  4. Ping-balik: Festival Langkisau: Pesona Pesisir Selatan Sumbar | About life on and off screen

  5. Ping-balik: Dicari: Dua Orang Buat Dibayarin Liburan Keliling Sumatera Barat | About life on and off screen

  6. Indah banget pemandangannya.

    Salam

  7. Mak, anak-anaknya kelihatan happy banget saat menemukan sungai ya :))

    Setuju banget, banyak daerah yang belum optimal dalam menyediakan tempat sampah. Alih-alih menikmati pemandangan malah disuguhi sampah…

  8. keren banget pemandangannya, kaapn ya bisa melihat ke sana, mudah2an diberi kesempatan untuk ke sana

  9. Dulu papa sering ajak keluarga pulang ke Medan lewat jalan darat, sambil mampir ke tempat sepupu (dari mama) di Jambi, mbak πŸ™‚ seru kalo lewat jalan darat, banyak pemandangannya ya ^^
    Trus kalo lewat kelok 9 suka dagdigdug krn jalanan curam & menyenangkan, skrg ga gitu lagi ya udah aman. I guess you already had a good time there, mbak Tika πŸ˜‰

    • Ya ampun itu seru banget pasti jalan darat lintas Sumatera dr Jkt sampe Medan!! Ruteku jalan darat di Sumatera paling jauh cuma Banda Aceh-Toba lewat pantai timur dan Pekanbaru-Padang.
      Iya skrg Kelok 9 udah nggak nanjak serem krn ada jalan layang.

  10. Selamat datang di kampuang halamanku kak
    aku org bukittinggi dan kmrn jg mudik ke bukittinggi
    Sumbar emang slalu muacettt saat lebaran. Krn org rantauuuu buanyakkkk bgt di luar sumbar. Apalagi prov sblh jg byk yg traveling ke sumbar

    salam kenal

  11. Ongkos ke Nabire memang mahal, mbak. Ngomong2, orangtuamu di Nabire?

  12. Salam kenal…

    Selain masalah macet juga byk toko oleh2 yg masih tutup… itu kenapa aq ga pernah mudik hahahha… ke kampung paling pas bkn saat liburan deh.. aq biasanya nikmatin liburan di bln aprilnatau oktober… sepi, tenang, tiket pesawat pun murah ^_^

  13. Foto yang paling atas keren mbak. Suka sama biu langitnya. Btw, mudiknya asyik banget ya. Banyak tempat wisata yang dikunjungi

  14. dari dulu udah pengen kesana, soalnya waktu itu pacar orang padang,,, kaaaaaaan jadi pengen kesana, etapi kalo ketemu mantan gimana? #persoalan | pergi aja dulu sik, soal ketemuan sama mantan itu dipikir belakangan | iya juga siii, etapi kan harus ada yang nemenin, siapa lagi kalo bukan mantan? soalnya ga punya temen anak padang | karepmu nik … menyingkir sebelum disambit mba sabai :))

  15. Uwwooo asik bangeet mba hehehe, astaga awan nya cantik bangeeet …. πŸ˜€

  16. Oleh-olehnya belum sampe sebrang jalan niiih :p

  17. mirip piket nol di lumajang ya,hanya tikungannya lebih banyak kelok 9, sama2 mengerikan lagi πŸ˜€

  18. kelok 9 manteb beneeer…btw potonya bagus banget…

    • Iya, Kelok 9 manteb, asal jangan pernah sekalipun melihat ke bawah, ke tepi kanan kiri jalan mulus ini, karena ada pemandangan mengerikan….

  19. Tika met idul fitri mohon maaf lahir dan batinya.
    Wah kalau aku ingin bnget ke kelok 9 nya mantap ajib katanya apalagi kalau sekeliling ada yg jual duren serbu..
    dari yogya sekarang ada penerbangan langsung ke pekanbaru jadi mantap tanpa transit lama di jakarta.
    wah pasti oleh oleh keripik sanjai, kue kambojo ma ikan asin tak lupa ya tik..

  20. Ping-balik: Lembah Harau Dan Ceceran Sampah Sumatera Barat | About life on and off screen

  21. Postingan kedua hari ini yg gue baca ttg SumBar, kelok Sembilan nya lagi2 bikin dag dig dug serr..Tp pemandangan nya bagus bgt. Gunung2nya, hijau nya, lembah nya, ahhh…cantik!

  22. Tmn ku jg mudik ke sumbar mba, dia cerita jg mslh makan makanan lauk bersantan trs xixixi sama yah hahahaha

    Btw iyaaa lanjutkan ceritanya yahh πŸ˜€

    Wahhh rmhnya dkt sm rmh ku, kpn2 bisa kopdar tuh mba πŸ˜€

  23. kak Tikaaa, alamat rumah donk πŸ˜€ πŸ˜€
    gelangnya udah selesai aku buat kmrn liburan, tapi menunggu email alamat rumahnya belom masuk, bingung mau menghubungi dirimu kemana hihihi
    mau dikirim via pos, atau kopdaran aja? πŸ˜›

  24. ditunggu mbak, untuk kelanjutannya πŸ™‚

  25. Switzerland of Indonesia !! Keren abisss !
    Pasti bawaan oleh2nya gak nyante deh :))
    Btw, selamat hari raya yah bo !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s