BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Masa Depan Film Dokumenter, Kayak Apa?

29 Komentar

Pengumuman buat penggemar film dokumenter di Jabodetabek: tontonlah sebanyak mungkin film dokumenter di Chopshots Documentary Film Festival selama pekan ini. Selain nonton film dokumenter berkualitas internasional, kita juga bisa mendatangi fringe events berupa master class dan sesi diskusi seru bareng para filmmaker kelas dunia, dan semua gratis. Misalnya Rabu kemarin, ada sesi diskusi membahas The Future Of Documentary bareng Leonard Retel Helmrich, filmmaker kondang berdarah Indonesia-Belanda yang filmnya sudah mendapat penghargaan di IDFA, Sundance dan banyak lagi. Lalu pembicara satunya lagi adalah Nguyen Trinh Thi dari Vietnam, pendiri dan pengelola DocLab di Hanoi yang sudah merasakan jatuh bangunnya bergerilya mempopulerkan film dokumenter di negerinya yang (menurut Thri sendiri) opresif. Lalu ada saya sebagai moderator diskusi ini. Hehehe…
chopshots moderator

Secara ringkas, menurut Leonard di jaman digital sekarang ini membuat film memang secara teknis makin gampang. Pakai smart phone aja udah bisa jadi film, dan umumnya menjadi format film dokumenter karena tidak butuh mencari dan mengarahkan aktor. Dengan begitu non filmmaker pun bisa bikin film. Outputnya semakin banyak film yang beredar dan dibagikan melalui internet. Menurut Leonard, dengan demikian film telah menjadi medium untuk berkomunikasi yang lumrah, tidak lagi eksklusif bagi filmmaker.

Pertanyaannya adalah apakah film-film tersebut ada yang nonton? Hal ini akan melalui ‘seleksi alam’, terlepas siapa yang membuat, film yang menarik akan menemukan penontonnya. Tetap saja hanya film-film yang bagus secara content dan kualitas teknis yang mendapat tempat di public screening, termasuk festival atau mendapatkan distributor sehingga pembuatnya layak disebut sebagai filmmaker. Di Indonesia masih sangat sulit bagi film dokumenter untuk bisa tayang di bioskop. Dalam satu dekade ini baru ada 2 film dokumenter yang berhasil melakukannya, yakni The Conductors (2008) dan Jalanan (2014), keduanya mengangkat kisah orang-orang yang punya passion terhadap musik.
poster conductors jalana

Perkembangan ini juga membawa banyak style baru dalam pembuatan film dokumenter, termasuk semakin tipisnya garis antara film dokumenter dan fiksi. Misalnya film-film fiksi yang openingnya menggunakan footage dari film dokumenter karena mengangkat cerita dari kisah nyata (salah satunya dilakukan film Indonesia berjudul Romeo Juliet – 2008), atau sebaliknya, film dokumenter dengan treatment dan tampilan mendekati film fiksi. Leonard juga menunjukkan contoh footage yang dia buat dengan teknik collective shot dimana pergerakan kamera menjadi begitu lancar, mengalir dan luwes menembus dinding atau jendela di dalam film dokumenternya. Sangat menarik!

Sementara Nguyen menyoroti perkembangan film dokumenter di Vietnam dimana kontrol pemerintah tak mungkin dihindari. Katanya sensorship sangat ketat, susah dapet ijin untuk bikin film di ruang publik, apalagi bikin festival film dengan screening yang menghadirkan massa seperti di Jakarta ini, katanya masih ngimpi deh! Nguyen bilang dia iri melihat di Indonesia orang bebas bikin film dokumenter tentang apapun, termasuk yang mengkritik pemerintah, lalu bebas bikin pemutaran film sampai roadshow ke daerah-daerah. Dia belum bisa membayangkan kapan kebebasan berekspresi seperti ini bisa mereka nikmati di Vietnam. Saya seperti ditampar pas mendengar penuturan Nguyen ini. Selama ini saya leluasa blusuk’an ke berbagai pelosok Indonesia buat shooting dokumenter… and I took it for granted.

Konsekuensinya, film-film karya sineas Vietnam lebih banyak yang dikirim ke festival internasional dan ditonton oleh khalayak di luar negeri. Konsekuensi lain, kebanyakan film sineas Vietnam shootingnya dilakukan indoor, untuk menghidari ribetnya perijinan dan campur tangan aparat pemerintahan. Dulu film-film dokumenter Vietnam banyak yang bergaya reportase, menjelaskan kejadian atau fenomena di sekeliling pembuat filmnya. Tapi belakangan, juga karena maraknya media digital dan smartphone, semakin banyak film dokumenter Vietnam yang lebih personal, dimana para filmmaker merekam dan bercerita tentang kehidupan mereka, tentang isu-isu yang sangat personal yang jaman dulu tidak akan berani mereka sampaikan di depan kamera.

Obrolan pun bergulir ke soal distribusi dan market film dokumenter di Asia Tenggara dan dunia, termasuk bagaimana memanfaatkan media distribusi konvensional yaitu TV dan new media, yaitu internet. Peserta diskusi juga semakin panas berkomentar serta bertanya soal banyak hal. Seperti biasa, pas awal dibukanya sesi tanya jawab nggak ada yang mau nanya, eh giliran lima menit lagi diskusi harus ditutup, baru deh pada berebutan angkat tangan buat tanya! Huh! Bikin susah moderatornya aja. Nah, rangkaian Chopshots masih panjang, banyak film keren yang bakal diputar di TIM, Goethe Haus dan kampus Binus fX. Jadwal dan sinopsis filmnya ada di sini, yuk nonton!

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

29 thoughts on “Masa Depan Film Dokumenter, Kayak Apa?

  1. Kenapa di film dokumenter susah ditayangkan di bioskop, mbak? apa terkait dengan regulasi atau cuma soal monopoli semata?

    • Soal monopoli aja kak, pihak pemonopoli bioskop itu merasa film dokumenter kurang komersil, takut nggak laku, takut profit mereka berkurang….

  2. eeh aku kemarenan dulu itu naik bis yang ada pengamennya, ternyata si pengamen itu si “Ho” yang main di film jalanan itu, dia promosiin filmnya dia itu, tp aku ga nonton filmnya

  3. Kabarnya film Jalanan ini keren ya mbak. Sayang gak nyampe Balikpapan deh keknya.

  4. The Conductors masih bisa dibeli DVD-nya di Blitz Grand Indonesia. Ada link utk kegiatannya Jalanan itu?

  5. The conductor belum nonton, kira2 ada dvdnya gak ya? Sayang akhir pekan ini konsentrasi difokuskan ke inacraft.

    Btw, sutradara film Jalanan lagi ngumpulin uang buat beli rumah bagi tiga orang tersebut, kalau pada mau nyumbang.

  6. Aku suka film dokumenter kalau pengemasannya bagus.. 😀
    Tapi The Conductors dan Jalanan ini aku belum nonton deh… kayaknya seruu ya Chopshots Documentary Film Festival x)

    • The Conductors masih bisa dibeli DVD-nya di Blitz Grand Indonesia, kalau Jalanan mungkin msh ada di bioskop… atau tunggu di iTunes?

  7. Waah…ketinggalan pas kak tika jadi moderator…

  8. Film Film di atas nangkring di bioskop cuma paling banter 3 hari , tayang juga hari kerja so susah mau nonton mana bioskonya 21 aja kalau XX1 selalu ngak mungkin ada. jauhhhh dari rumahh.

  9. sayang bgt pas hari balik ke belgia dari indonesia, film jalanan baru aja tayang di bioskop..kelewatan deh 😦

  10. Selalu pengen nonton tp ga pernah kesampaian. Yg di Bali, kalo ga jadwalnya bentrok, ya lokasi nontonnya yg jauh hiks 😦

  11. Thanks infonya mbak…aku selalu suka film dokumenter.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s