BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Di Balik Papua Berkisah

22 Komentar

Niatnya Hang Out, Jadinya Ngelawak

Novel perdana saya, Papua Berkisah belum lama ini diterbitkan dan sudah tersedia di toko buku. YAY!! teriak dulu sebelum diteriakin orang. Nah, sebagai novelis newbie, saya buta soal promo buku, tapi saya pikir sukses atau tidaknya sebuah novel (dan karya lain) cukup tergantung pada promonya. Banyak karya yang biasa saja, tapi karena promonya gencar, jadinya laku. 

Dan sebaliknya, banyak novel bagus yang tidak lalu karena tidak ada promo. Setuju? Setuju ajalah, biar cepet 😀

Untunglah penerbit saya ini, Loveable (grupnya Ufuk Publishing) cukup rajin mencari peluang promo di dunia online, misalnya di twitter, masuk ke komunitas-komunitas penggemar buku dan sejenisnya. Tapi saya juga nggak mau diem aja, pasrah ke penerbit. Abis kemarin diajak jadi host Google+ hang out bareng para aktor The Raid 2, saya samber kesempatan bikin hang out kecil-kecilan membahas novel Papua Berksiah. Hayuk deh, hajar bleh!

Simpel banget formatnya, cuma saya dan Andri (dari penerbit) sebagai host hang out, plus Keke dari Google+ yang merekam kami ngoceh sambil ngelawak. Nggak pakai script, nggak pakai rundown. Pokoknya saya sama Andri langsung nyambung aja ngobrolnya, eeeh… dia pakai ngelawak segala! Jadilah kami agak Srimulatan di video hang out ini. Keke aja sampe nahan tawa sambil merekam kami, sampai dia harus membekap mulut sendiri biar gak ngikik. Maap ya Ke!

Selamat menikmati video singkat ini, ada kuisnya di menit ke-11 (kalau nggak salah), silakan jawab di kolom komentar videonya di youtube berhadiah novel Papua Berkisah lengkap dengan tanda-tangan, kata mutiara, cap jempol dan cap bibir… 😀 Di beberapa menit menjelang akhir video aja juga kuis yang bisa dijawab via twitter, hadiahnya sama.

Kelas Cerdas bareng BUPJakarta

Pada lain kesempatan, 12 April lalu, saya juga diajak ngobrol santai tentang penulisan fiksi dan pastinya ngomongin novel Papua Berkisah bareng komunitas BUPJakarta, Buku Untuk Papua (di) Jakarta. Ini komunitas keren banget deh… Jadi sekumpulan anak muda ini mengumpulkan buku dari para donatur, boleh bekas maupun baru, untuk dibawa ke Papua dan disumbangkan ke rumah-rumah baca yang mereka bikin di berbagai kota di Papua. Mereka ingin tidak hanya menyebarkan buku tapi juga menyebarkan pengetahuan. Ahay! Cakep bener kan!

Gerakan Buku Untuk Papua ini sudah ada chapternya di banyak kota, makanya ada BUPJakarta, BUPSurabaya dll. Jadi warga di berbagai kota bisa nyumbang buku ke Papua melalui BUP di kotanya. Atas undangan Dayu Rifanto, sang motor penggerak BUPJakarta, datanglah saya ke lokasi Kelas Cerdas di Museum Bank Mandiri, Jakarta Kota. WHOA!! Seru sekali kawan-kawan kita ini! Obrolan pun berlangsung hangat, rata-rata pada penasaran seperti apa isi novel Papua Berkisah, dan penasaran bagaimana saya, yang tampangnya jokaw gini, nulis novel berjudul Papua Berkisah.

Saya beberkanlah betapa sejak dulu saya jatuh hati pada bumi Papua, sejak kecil ketika kedua orang tua saya pindah ke sana, lalu patah hati saya karena Papua, lalu penemuan saya akan sisi-sisi Papua yang lain ketika mengerjakan serial dokumenter di Wamena, tidur di honai di pegunungan Yahukimo, ikut upacara Wetkapsirop di Kosarek, lalu siesta di Merauke, berburu buaya di sungai di Kimaam, menangkap kepiting di pantai Wanam, ke Senggo hingga naik perahu panjang menyusuri sungai dari pagi sampai malam menuju Kepi.

Ada cerita lucu soal perjalanan naik perahu ini. Kami memulai perjalanan saat langit pagi masih cerah. Semua lancar, semua indah. Saat mulai malam, perahu kami nyangkut di gerumbulan rumput yang membentuk pulau di tengah sungai lebar itu. Penumpang perahunya adalah saya, seorang cameraman, audioman dan motorist perahu. Maka sang motorist pun meminta dua pria itu terjun ke sungai untuk menarik perahu agar terbebas dari belitan akar rumput liar. Bekerja keraslah tiga pria itu sambil berendam di sungai. Saya bak tuan putri, duduk manis di atas perahu sambil memegang camera biar nggak kecebur. Cukup lama mereka tarik urat. Satu… dua… tiga!! Akhirnya perahu pun bebas. Setelah semua pria itu naik ke atas perahu, cameraman saya bertanya pada Wolter, sang motorist,

Cameraman: “Wolter, sungai ini ada buaya nya nggak sih?”
Wolter: “Ada bapak. Makanya dong tadi berdoa terus…”

Lhaaaa…. nggak bilang-bilang dia di sungai itu ada buayanya!!!

BUP papua berkisah

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

22 thoughts on “Di Balik Papua Berkisah

  1. Ping-balik: #twitterview Swastika Nohara, Penulis buku Papua Berkisah | Moco -ism

  2. Wah, congrats ya kak buat bukunya yang udah terbit 🙂

    Oh ya, saya sempat ketemu sih dengan temen2 BUP Jayapura.
    Salah satu penggerak yang saya ingat sih kak Rani karena emang saat itu intens banget ngobrol dengan beliau.
    Itupun ketemuannya karena diundang sama bang Enda waktu mereka lagi ada kegiatan di Jayapura 😀
    Papua itu emang indah, makanya saya betah tinggal disini 😀

  3. Papua itu.. diawali dengan rasa penasaran saya ke Jayawijaya karena satu-satunya gunung bersalju (mudah2an sekarang masih) di wilayah tropis. kemudian, akhirnya bisa ke sana juga pas field job jaman kuliah dulu.. walau cuman ke Sorong dan sekitarnya, tapi saya pengen balik lagi ke sana — Papua.

  4. Mbak Tika.. Mbak Tika…
    Aku mau dong bukunya yang pake TTD pake kata mutiara gitu hihihi :”>
    Tapi aku email awal bulan, bisa ya Mbak? pliiiiissssss 😀

  5. Pengalamanmu di Papua malah jauh lebih banyak daripada saya mbak.. 😛

  6. jangan lupa pasakan ke jambi….

  7. tika selamat ya buat peluncuran bukunya semoga semuanya lancar minta tanda tangganya dung
    ;D

  8. Kameramennya bang Yahdi yah…heehhe.
    Selamat yah mba Tika buat bukunya.. 🙂
    Samsara boleh kali yah dikasih copynya…ehheheee.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s