BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Perjuangan Mama Yabes Dari Moru, NTT

34 Komentar

Wise men said, there’s a strong woman behind every successful man. If I may add, that woman can be a mother whose prayer never dimmed. Hal inilah yang muncul di kepala saya saat bertemu dengan Mama Yabes, ibunda Yabes Roni Malaifani, salah satu pemain Timnas U19 dari Pulau Alor yang tengah menanjak karirnya.

Nama aslinya Sepriana Malaifani, tapi sebutan ‘Mama Yabes’ sudah melekat. Di rumahnya yang sederhana, dengan sinar mata yang tak pernah surut cahaya-nya, Mama Yabes bercerita betapa sejak kecil Yabes sudah menggandrungi sepak bola. Ayah Yabes meninggal dunia karena sakit saat Yabes masih berusia 4 tahun. Sang Mama pun terpaksa mengasuh dan menghidupi sendiri tiga orang anaknya dengan uang pensiunan almarhum suaminya, guru olah raga SD, yang tak seberapa. Mama rajin ke kebun menanam jagung, singkong, pisang dan pepaya. Hasilnya hanya cukup untuk dimakan keluarga sendiri, karena untuk menjualnya butuh ongkos transportasi yang lumayan mahal dari desa Moru ke Pasar Kalabahi, satu-satunya kota di Pulau Alor. Setahun sekali Mama bisa petik kemiri dari kebun warisan keluarga, dijemur selama tiga hari, dikupas lalu dijual pada tengkulak yang datang ke desanya di punggung bukit.

Mama Yabes asik dengan sirih pinangnya

Mama Yabes asik dengan sirih pinangnya


Sebagai tanda hormat & penghargaan, tamu yang datang disuguhi sirih, pinang & kapur. Lah, saya kan nggak nyirih :'(

Sebagai tanda hormat & penghargaan, tamu yang datang disuguhi sirih, pinang & kapur. Lah, saya kan nggak nyirih 😥


Nona memecah kulit kemiri ditemani Sibuk, sahabat setia berkaki empat.

Nona memecah kulit kemiri ditemani Sibuk, sahabat setia berkaki empat.

Tiada hari tanpa sepak bola bagi Yabes. Mama masih ingat betul, saat Yabes masih kelas 4 SD dia minta dibelikan sepatu bola seharga Rp 165.000, jumlah itu setara dengan harga satu sak beras yang cukup untuk dimakan keluarga mereka selama 2 bulan. Padahal uang pensiunan mendiang suaminya waktu itu hanya Rp 200.000. Mama Yabes duduk termenung berfikir keras, beli beras atau sepatu bola? Akhirnya Mama berkata terus terang pada anaknya, “Kalau Mama beli sepatu bola itu, kita tidak bisa beli beras. Apa kau mau selama 2 bulan tidak makan nasi?”

Tanpa diduga, Yabes mengangguk mantap. Rupanya tekad memiliki sepatu bola sudah membatu dalam dirinya, meski itu berarti selama dua bulan dia makan jagung, singkong dan umbi-umbian lain yang ditanam di pekarangan rumah. Dengan sepatu itu, tak pernah sekalipun Yabes absen latihan di lapangan bola Gaza Moru yang tanahnya keras dan rumputnya kering. Sekarang sepatu sepak bola yang penuh kenangan itu tersimpan di SD Moru, tempat Yabes dulu menimba ilmu. Sudah jadi kebiasaan anak-anak Alor, barang siapa punya sepatu bola yang sudah terlalu sempit disumbangkan ke sekolah agar adik-adik kelasnya bisa bergantian memakai sepatu-sepatu tersebut. Ini sebuah kebiasaan yang sangat elok, mengingat keterbatasan ekonomi dan akses terhadap barang di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur yang berbatasan laut dengan Timor Leste.

Sambil mengobrol, sesekali Mama Yabes menggerakkan lengan kanannya yang sudah beberapa hari ini sakit, sulit dipakai untuk bekerja. Mama sudah berobat ke Puskesmas, disertai doa yang tak pernah putus kepada Kristus. Dia merahasiakan sakitnya kepada Yabes karena tidak ingin mengganggu konsentrasi putranya yang tengah digembleng dalam squad GARUDA 19. Setiap Yabes menelfon, Mama hanya bercerita kabar yang baik-baik saja. Sampai saat Yabes pulang kampung untuk menempuh ujian tengah semester kelas 3 SMA bulan Maret ini, baru dia tahu kalau Mamanya sakit.

Yabes latihan di lapangan bola Kalabahi, Alor

Yabes latihan di lapangan bola Kalabahi, Alor

Salah satu disiplin yang ditanamkan Mama Yabes adalah larangan keras merokok dan minum Sopi atau Moke, sejenis tuak tradisional yang umum dijumpai di Pulau Alor. Pernah suatu hari saat Yabes masih SMP, seorang tetangga menyuruhnya membeli sopi untuk keperluan upacara adat. Sang Mama mendengar kejadian ini dari seorang tetangga yang lain, segera menghadang Yabes yang tengah membawa sopi, meminta sopi tersebut dan mengantarnya sendiri ke rumah tetangga yang menyuruh Yabes sambil memperingatkan untuk tidak pernah menyuruh Yabes membelikan tuak. Kepada Yabes sang Mama menegaskan bahwa Yabes boleh membantu apapun untuk para tetangga kecuali bila disuruh membeli tuak dan rokok di warung.

Menyadari anaknya sangat suka dan berbakat main bola, atas arahan pelatihnya, sang mama menyekolahkan Yabes di SMA 1 Kalabahi, meski sekolah ini jaraknya 16 km dari desa mereka dan perlu naik angkot 2 kali. SMA ini dikenal mendukung bakat olah raga para siswanya. Saat Yabes mulai latihan bola langsung sepulang sekolah, sang Mama dengan penuh perjuangan menyisihkan uang untuk naik angkot mengantarkan makan siang Yabes ke sekolah. Tidak ingin merepotkan mamanya, Yabes meyakinkan sang Mama bahwa setiap pulang sekolah dia bisa makan siang di rumah Paman Arifin, pelatih sepak bolanya. Sejak saat itu, Yabes sudah seperti anggota keluarga di rumah Paman Arifin Panara. Usai makan siang, menjelang sore Yabes seorang diri memikul 5 buah bola, tumpukan cones, palang rintang untuk latihan dari rumah Paman Arifin ke lapangan bola. Kadang latihan berlangsung sampai jam 7 malam, ketika sudah tidak ada angkot ke desa Moru yang beroperasi. Pada saat kehabisan angkot seperti ini Yabes memutuskan untuk pulang sambil berlari. Yabes berpikir, kalau saya jogging teruuuusss saja lama-lama juga sampai di rumah!

Kedisiplinan dan kerja keras yang ditanamkan Mama-nya inilah yang membawa Yabes menjadi pemain bola pertama dan satu-satunya dari NTT masuk timnas U19. Kisah ini, bersama dengan kisah anak-anak lain di squad tersebut akan difilmkan segera dengan judul GARUDA 19. Tunggu tanggal mainnya.

Screen shot 2014-03-24 at 11.17.36 PM
Screen shot 2014-03-24 at 11.16.56 PM

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

34 thoughts on “Perjuangan Mama Yabes Dari Moru, NTT

  1. Ping-balik: Akhirnya Nonton Film GARUDA 19 Di Bioskop | About life on and off screen

  2. Ping-balik: Wonderful Indonesia: Raja Ampat, Wisata Yang Membuka Mata | About life on and off screen

  3. Ping-balik: Preview Film Garuda 19 Bersama Indra Sjafrie | About life on and off screen

  4. Ping-balik: Dibalik Film Garuda 19 | About life on and off screen

  5. ahha.suka bnget degan tulisan tngan mbak swastika di sini.

  6. Ping-balik: Shooting Film GARUDA 19 | About life on and off screen

  7. mengharukan, dan mbuat saya malu sendri
    makasih postingannya, uni 🙂

  8. Ping-balik: Naik Kapal Ke Pulau Alor | About life on and off screen

  9. perjuangannya luar biasa sekali demi mewujudkan cita cita dan impian anaknya mama yebes berjuan sekuat tenaga.
    kedisiplinan yang diajarkan oleh mamah yebes kita patut acungkan jempol 🙂

  10. Kisah yang hebat, mengingat NTT bukanlah daerah penghasil atlet sepakbola seperti daerah saya (yang malah tidak menyumbangkan satu pemain pun ke timnas U-19). BTW pinang disitu beda ya dengan pinang disini? 🙄

  11. yayaa….inilah suguhan keterbatasan remaja kampung anak negeri dgn potensi besar.. masih banyak lagi sebenarnya kisah yabes yabes lainnya di pelososk negeri ini, sayang saja bakat dan talenta besar itu hny mampu menyeruakkan se-sesatu sedua yabes saja..
    Mantabbbs tulisannya, salam..

  12. Berkaca-kaca bacanya. Mama Yabes hebat, semoga anaknya sukses terus!

  13. merinding baca perjuangan Yabes dan mamanya. Salut untuk mereka. Semoga prestasinya Yabes bisa terus berlanjut.

  14. Salut, dan iya, takjub (meminjam kata-kata pamantyo). Membuat jadi haru untuk tahu perjalanan hidup Yabes dan mama Yabes yang sampai segitunya, sementara kami yang di Jakarta ini tak henti meminta apa-apa serba instan. Jadi malu sendiri.
    Terima kasih sharingnya kak Tika, gak sabar menunggu filmnya! 🙂

  15. Takjub saya. Ya terhadap Yabes, tuturan dlm posting ini, dan foto-fotonya.
    #menjura

  16. amazing.. terharu bacanya euy..

  17. Kesuksesan Yabes berkat dorongan orangtua ..nice:)

  18. wah…jadi tau perjalanan hidupnya yabes..luar biasa ..
    enak dong mba bisa jalan2 ke alor 😀

    • Hehehe… enak banget! This is what I like about my job. But the best part is having the privilege to hear this kind of stories.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s