BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Papua Berkisah

114 Komentar

Saat ini saya lagi harap-harap cemas, menanti kelahiran bayi saya yang ke sekian. Nope, bukan bayi yang bisa nangis oek-oek, tapi novel perdana saya. Setiap karya, biasanya sih skenario film layar lebar atau project dokumenter, bagi saya seperti bayi yang saya persiapkan kelahirannya sebaik mungkin sebelum saya antar untuk melihat dunia, bertemu orang-orang di luar sana dan berinteraksi dengan mereka.

Sedikit informasi tentang novelnya, judulnya Menuju Papua (judul awalnya Papua Berkisah), tentang perjalanan seorang anak perempuan dan bapaknya. Kisah bermula ketika Eva Maria Tibul seorang perempuan 21 tahun, yang juga seorang Jak Angel (club perempuan Jakmania) shocked karena kematian ibunya. Saulus Tibul, bapaknya Eva, merasa tidak ada lagi alasan tinggal di Jakarta dan sangat rindu kampungnya di Wamena yang tidak pernah dia tengok sejak membawa kawin lari istrinya tahun 1980.

Saulus yang sudah 53 tahun merasa capek bekerja sebagai supir taksi di Jakarta yang makin macet. Saulus pun memaksa Eva melakukan road trip untuk pulang kampung sekaligus pindahan ke Wamena dengan mengemudikan taksinya dari Jakarta hingga Surabaya, lalu naik kapal ke Jayapura. Padahal Eva yang lahir dan besar di Jakarta sudah tidak merasa sebagai orang Papua, sehingga dia menolak ide gila bapaknya. Akhirnya Eva bersedia kompromi tapi diam-diam menyusun rencana rahasia. Saulus juga punya agenda tersembunyi bahwa mereka harus sampai di Jayapura pada tanggal tertentu agar dia bisa menonton match penting Persipura di stadion Mandala, seperti yang pernah dilakukannya sewaktu muda. Road trip pun dimulai dan konflik terus menerus menemani perjalanan mereka, hingga keduanya merasa terusik soal isu identitas masing-masing.

Nah, masalah maha berat saat ini adalah soal cover! Pihak penerbit memberikan 4 alternatif cover seperti ini, dan saya merasa kesulitan untuk memilih. Maukah teman-teman membantu saya memilih, cover mana yang paling menarik?

papua berkisah cover vertical

Terima kasih banyak yaaa…. Semoga novel ini tersedia di toko buku bulan depan. Kalau ada komentar dan pertanyaan, silakan ditulis di kolom komentar di bawah ini. Have a blessed day, guys!

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

114 thoughts on “Papua Berkisah

  1. jadi penasaran beli nih mb, masuk wish list nih

  2. Bismillah. Sukses sukses sukseeees! 🙂

  3. Wah aku telaaat! Selamat ya mbak atas novel pertamanya. 😀

  4. pas pertama baca langsung mau ngucapin “wah lahir anak ke 3 selamat…” tapi kemudian ternyata bukan anak oek oek… hahaha… penonton kecewa 😛
    anyway keren mau nerbitin buku lagi… smoga sukses…
    mo voting nampaknya udah telat ya… kapan hari kayaknya liat di FB udah kepilih kayaknya… betul?

  5. suka no 2 dan 3 salam untuk papua mak

  6. Suka yang daun-daunnya itu mbak….tapi ini pilihan pribadi sih…karena aku suka motif daun gitu . salam kenal ya mbak….

  7. Suka no. 2 & 3. Dari segi charming-nya pilih yg no. 2. Tapi juga jatuh hati sama no.3 dari segi kentalnya merepresentasikan pulau Papua. Klo boleh saran, covernya kombinasi no.2 & 3. Aku membayangkan pakai cover no.2, ditambahin sketsa peta pulaunya secara tipis saja (tak usah terlalu kentara) sbg background tulisan judulnya. Mungkin semacam watermark gitu, dia ada tapi gak terlalu kentara… Hehe 😀

  8. Nomer 1…….suka dng daun2nya

  9. Aku suka banget sm desain yg ke dua mba.

  10. dari sinopsis yang dishare di sini aja, udah kebayang kalo konflik di dalam ceritanya bakal bagus..

    kalo ada rezeki & sempet beli, ga peduli covernya yang mana, pasti diriku beli!

  11. Yang kedua lbh dramatis mbak, tp bagusnya agak hijau atau kebiruan….

  12. Mau komen tapi ternyata udah dipilih yaa hehe.. Tapi tetep mau vote deh buat nomor 2. 😀
    Btw selamat yaa mbak utk novel perdananya. Semoga sukses.

  13. Wah selamat ya! Aku menyarankan nomor tiga, soalnya lebih Papua (dengan petanya). Sementara yang lain-lain kurang Papua.

  14. waaaaa selamat buat novel barunyaaaa… 😀

  15. wah, aku telat komen. udah dapet calon kover baru ya? hihi..

    selamat ya nyah. semoga lancar sampe terbit dan laris manis. calon bukuku masih diedit sana sini, doain cepet kelar jugaaaaa 😀

  16. nomer 2 atau 3 tiktok……, sukses untuk lu ya buuuuu, gak sabar liat bukunya, dan yang pasti pengen bacaaaaaaaaaa

  17. Kak… aku berselera sekali dengan nomor 1

  18. entah kenapa yang no 2 oke mbak, goodluck ya buat bukunya ^^

  19. Mbak aku suka nomor 2, kesannya hangat dan deskriptif, dan ‘aura’nya mau bercerita jadi pas ngeliat sampulnya kita udah menyiapkan diri mau mendengar kisah bapak anak ini. Aku suka banget warnanya, ya hangat itu seperti kalo kita ngomongin keluarg hati jadi hangat

    • Dan congraaaats buat bukunya ya ihiy aku seneng deh baca yg berlatar budaya begini, selain dirimu ada blogger jg yg mau terbitin buku dengan bekgron ambon , mbak. Tak sabaaar baca buku kalian

      • Oya? Siapakah blogger tersebut?
        Btw aku nuils script film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku yang juga dengan latar belakang Ambon, tepatnya di desa Tulehu. Udah kelas shooting. Semoga rilis pertengahan tahun ini.

    • Aiiiihh… aku jadi terharu. Terima kasih banyak ya Sondang :-*

  20. mba tika aku prefer yg no 2, simple tapi ttp menarik. nomer 3 juga bagus tapi kurang kece hihihik. kalo nomer 1 kurang papua2 mbak, no 4 menurutku kaya novel2 teenlit gitu.. anw sukses yah mbak semoga bulan depan udh bisa dibeli novelnya :))

  21. No. 1, 2, 3 sama2 bagus. Klo terpaksa harus memilih, terpaksa pilih no. 2
    Klo semisal salah satu dari ketiganya di masukin unsur papua keknya bagus kali ya, tapi samar2 biar bikin penasaran ma papua. Itung2 buat promosi papua…hehehe

  22. Awalnya saya pilih no 1, tp kayaknya lebih cocok yg no 3…

  23. Kalo cuman milih cover tanpa konteks novel, paling seneng sesuai selera pribadi sih 1. Tapi kalau dari ceritanya dan juga yang kayanya paling pas sama terget pembaca, mungkin malah lebih cocok 4. (Voting 2 boleh gak ? ) Kalau hanya satu kayanya no 4.

  24. saya tdk berhasil melihat gambarnya. Mungkin setelan hp sy yg error. Nanti kalau sdh kembali dr pekan baru, akan sy cek lewar desktop. Mudah3an blm telat. Tapi seperti audience memilih no 2

  25. Dear qaqa Tika,

    here’s my comments, saelahhh hihihi…

    – No. 1 mirip2 sama cover Lalita-nya Ayu Utami, hehe

    – No.2 simple, tapi sketch-nya mungkin bisa lebih dibikin representatif sama landscape-nya Papua, selain Honai-nya yg sudah ada.

    – No.3, nah, mangstap inih idenya…Tapi sketch map-nya mungkin bisa dibikin lebih artsy…kemarin waktu saya kewong, sempet browsing2 world map yg rada2 artsy untuk di corat-coret buat greetings…nah, mungkin hal tersebut juga bisa di adaptasi ke cover yg versi ini, jadi secara kartografi bisa tetap Papua banget, tapi juga secara artistik/tone color, bisa lebih stand out…

    – No.4, secara warna & teksturnya mangstap, tapi kurang Papua, lebih mirip buku arstitek atau design, hehe…

    semoga lancar semua2nya & rilis bukunya bisa sakses yah, qaqa, semangad!!! woahhh!!!

  26. Ceritanya kayaknya seru dan penuh konflik, cover-covernya kurang bold dan kurang mencerminkan. 😀
    Kurang pas semuanya sih, tapi menurutku 2 dan 3 itu pasaran. Nomer 4 keramean. Nomer 1 justru paling mending, tapi font dan layoutnya ganggu. Tapi yang catchy justru yang nomer 1 itu menurutku. nomer dua dan 3 kalo ditaroh di rak bakal nyaru sama buku yang sejenis. Gimana kalo option 1 aja tapi revisi lagi. ^^v

    HAHAHAHA.. Sabai bingung pasti ini.. :)))
    *ngacir*

  27. pilhan pertama nomer 3. pilihan terakhir nomer 4. :))

  28. Sebelum baca deskripsinya, aku pilih no 2. Setelah baca, tetep no 2. Karwna lbh menggambarkan papua dari rumah2 adatnya. Kalo no 3 tulisannya aneh. No 4 kayak buku2 pelajaran. No 1 kayak buku IPA. Lah sama aja pelajaran. -____-

  29. Nomer 2 deh, simple tapi tetep keren 😀

  30. No. 2 Ada rumah khas papua, trus kesannya covernya lebih bersih. Mungkin hurufnya aja ditebalin, supaya kelihatan lebih cakep 🙂

  31. Gw lebih suka no 2, simple,

  32. Kalau saya, sih, mbak, saya lebih milih nomer 3. 🙂

  33. Aku suka no.3 😀

    Sukses yah, semoga bulan dpn udah ada di Gramed hehehe

  34. Antara 2 dan 3, sih. Tapi gak suka font yang ketiga. Mumet, hehehe.
    Kalau yang 2 gak keliatan Papuanya, tapi catchy.

  35. Pilih nomor 2. Benar tuh, bisa diwarna-warnain gitu. Sekilas gunung-gunungnya terlihat seperti lekukan tubuh. #alah

  36. Pilih nomor 2 Tik, menggambarkan free spirit pertualangan bapak dan anak ini, yang mungkin di awal sudah tergambar jelas-bapak orang papua, anak orang jakarta tapi sepanjang perjalanan banyak warna yang akan menghiasi perjalanan mereka. 😀

  37. Tanpa baca deskripsi tentang buku ini (seperti komentar saya di facebook) saya suka no. 2
    Kenapa? lebih enak dilihat dibanding 3 cover buku lainnya.

    Tapiiii jika melihat dan membanding dengan buku2 luar negri yang rata2 ngejreng2 4 cover itu tidak ada yang bagus. Karena buku2 luar negri lebih eye cathing lagi dan saling2 berlomba2 untuk bisa tampil agar dilirik diantara buku2 lain yang berada di rak2 buku.

  38. Nomer 2 mbak,, imo aku suka covernya yg simple namun menimbulkan kesan ringan dan seolah2 pembaca menebak dibalik garis outline yg menggambarkan pemandangan papua itu warna apa yg ingin nantinya disampaikan pengarang di dalam ceritanya.
    untuk cover lainnya, persepsi aku mengarah ke buku tumbuh2an, catatan perjalanan eksplorasi papua atau informasi geografi papua mungkin, dan siluet yg terkesan datar dan banyaknya ornamen grafis yg kurang sesuai denganapa yg ingin disampaikan pengarang.

  39. Pilih nomor 2. Kalau boleh kasih masukan, tulisan “PAPUA” dibuat lebih gemuk biar lebih cakep. 🙂

  40. aku suka nomer 2 juga, lebih menggambarkan papua dan cerita. kalau nomer 3 kayak buku geografi, kalau nomer 1 kayak cover novel cinta2an biasa, kalau nomer 4 kurang menggambarkeun papuanya
    gitu.

  41. nomer tiga aja ya, mbak tika. lebih kaya, lebih dewasa, lebih indonesia.

  42. aku suka no 1 yang ada daun2nya hehe soalnya keliatan adem

  43. nomer duaaaaaaaaaa mbaktikaaaaaaaaaaaaa /

  44. Nomer 2, cakep. Udah gitu aja.

    *alasannya bakal panjang kalo ditulis * :p

  45. yang jelas nomer 1 tidak kalau menurut seleraku…
    cover yang kayak nomer 3 gitu lagi ngetren ya
    nomer 4 terlalu teenlit/ciklit tapi some how aku suka
    nomer 2 bagus, tapi tetap kurang papua…

    Kalau dirunut dari yang paling suka – paling tidak suka: 2 – 3 – 4 – 1

  46. aku suka yg nomer 2. selamat ya mbak. ceritanya bagus. pasti best seller nih 😀

  47. Mungkin cover no 3 yang cocok jalan cerita yang mbak buat. Namun kurang eye-catching jika dibandingkan dengan cover no 4 dan no 1.
    Kalau saya lebih memilih cover no 3, sebagai seorang pembaca biasa, saya akan penasaran dengan judul dan peta papua.

    Apapun covernya, semoga berhasil mbak. 🙂

  48. Lupa bilang, ikut senang denger bukunya hampir terbit! Semoga lancar dan segera beredar yaaa 😀 😀

  49. saya suka yang no. 2 mbak 😀

  50. Aku lebih suka yang nomor 2 🙂 Soalnya seperti kanvas bergambar yang siap diwarnai. Nomor 1 dan 3 bagiku terlalu “sempit” pandangannya (langsung inget daun, atau langsung ingat bentuk pulau). Nomor 4 terlalu hipster bagiku, jadi kayak gak dekat ‘alam’. Hehe tapi ini personal opinion semuanya ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s