BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Lima Belas

44 Komentar

Sejak pagi aku sudah bersiap di dekat kuil, membawa serta becakku. Untung sekarang musim semi, jadi aku cukup memakai celana pendek mini. Tapi dari rumah tadi aku memakai baju rapi. Kemeja, celana panjang kain dan dasi. Ibuku yang mulai renta mengira aku bekerja di salah satu gedung perkantoran. Punya pekerjaan tetap dengan gaji teratur, apalagi berkantor di gedung tinggi, adalah impian banyak anak muda sepertiku. Namun sejak lulus dari perguruan tinggi, upayaku menelusuri sekian banyak iklan lowongan kerja di surat kabar belum membuahkan hasil.

Kali ini penumpangku sepasang suami istri berusia awal 30-an. Mereka tampaknya dari kalangan yang berada. Aku mengajak si pria bercakap-cakap, bercerita soal kegelisahanku mencari kerja dan hal-hal lain yang tengah terjadi di negeri ini. Tak kuduga, di akhir perjalanannya si pria menuliskan sesuatu di atas kartu namanya dan memberikannya kepadaku. Dia bilang, kalau mau mencari info lowongan kerja aku harus membuka website yang ditulisnya itu. Wah, ini berarti aku harus menyisihkan sedikit uang untuk ke warnet. Tapi tak apalah, dari pada terus-terusan membohongi ibu, kurelakan uang makan malamku untuk membayar ongkos dua jam duduk di warnet.

Ternyata pengorbananku menahan lapar malam itu, 15 tahun lalu, membuahkan hasil. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan taksi terkemuka. Kini setelah mendapat cukup ilmu dari perusahaan itu, aku memberanikan diri berhenti dan memulai usahaku sendiri. Dengan meminjam modal usaha dari bank, aku membeli 5 buah becak, merekrut 5 orang pemuda pengangguran seperti aku dulu, dan melatih mereka menjadi penarik becak untuk turis di salah satu kawasan wisata yang ramai ini.

Baru sekarang aku berani bilang pada ibu, bahwa dulu aku pernah pura-pura kerja kantoran demi membuat hatinya tenang. Tanpa aku sangka, ternyata ibu menjawab bahwa dia tahu dari dulu. Tapi dia berpura-pura tidak tahu dihadapanku karena dia ingin menjaga perasaan anak lelakinya. Kata ibu, dia percaya aku akan menemukan jalanku. Aku kehabisan kata-kata, dan hanya dapat menggenggam tangannya yang telah dihiasi keriput.

#PeopleAroundUs | Day 15

Note: Tulisan di atas adalah fiksi, kisah terakhir dalam rangkaian #PeopleAroundUs putaran pertama, dan semoga teman-teman menikmatinya. Saya belum tahu apakah akan ada putaran kedua dan seterusnya. Yang jelas, pekerjaan saya membuat saya selalu berpikir simultan antara visual dengan kata-kata, dan membuat blog post dalam rangkaian #PeopleAroundUs ini juga mengasah simultaneous thinking tersebut.

Tokyo, near Asakusa, spring 2013.

Tokyo, near Asakusa, spring 2013.

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

44 thoughts on “Lima Belas

  1. Ping-balik: Dicari: Dua Orang Buat Dibayarin Liburan Keliling Sumatera Barat | About life on and off screen

  2. Ping-balik: Wonderful Indonesia: Raja Ampat, Wisata Yang Membuka Mata | About life on and off screen

  3. Ping-balik: Penipuan Saat Traveling, Mana Yang Paling Parah? | About life on and off screen

  4. Kirain mbak emang ngobrol sama pengusaha sukses itu 😀

  5. kebohongan seorang ibu mungkin satu-satunya kebohongan yang bisa dimaklumi ya mbak di dunia ini 🙂

  6. Gadis berkimono itu sepertinya cantik… :mrgreen:

  7. Hihihi.. kak Sabai pinter ya nulis fiksi. Tulisain kisah hidup aku donk, nanti aku ceritain #halah

  8. kadang seorang ibu itu selalu melakukan apapun demi anaknya ya… 😦 tiba2 jadi sedih keingetan nyokap 😦

  9. Mencari pekerjaan yg cocok itu susah2 gampang ga sih?
    *buka jobsdb*

  10. ah kirain beneran nih ceritanya jebule cerpen ^^

  11. Mmm..tulisan yang sangat menarik, Mbak…Interaksi ibu dan anak yang sama-sama mengedepankan usaha untuk melindungi perasaan masing-masing dengan cara menutup-nutupi dengantujuan baik..

  12. Cari kerja itu nggak susah. Yang susah tu cari kerjaan yg seperti kita impikan, posisi bagus, gaji tinggi dapat tunjangan banyak! Cari dimana kerjaan yg kayak getu coba? *brbbikinresume *gaktahangakpindahkerja

  13. Sangat pas dibacapagi2 bikin semangat! Emg cari kerja di online kayak jobsdb itu lebih praktis mbak!

    • Bener, dan di jobsDB ada kolom untuk search perusahaan maupun posisi yg kita cari. Kemudahan ini nggak ada kalo cari kerja di lowongan kerja di koran/media cetak

  14. Bener juga. Yg penting usaha jgn pernah putus termasuk nyari lowongan kerja. Thanks Link-nya kebetulan sy jg lg nyari kerja

  15. Aku baru mulai membaca blog mu Mbak. Very nice. Cerita fiksi ini sukses bikin mata berkaca-kaca. Salam kenal ya :D. Semoga ada #PeopleAroundUs putaran kedua, ketiga, keempat dan seterusnya 😀

  16. ahh aku belon sempet ikutan udah kelar aja hihihi

  17. aaahhh… langsung inget semua pengorbanan ibuku, juga betapa pengertiannya beliau kepada anak2nya…
    Again, nice sharing, posting, thinking or whatever its name deh… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s