BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Traveling Tetap Nyaman Dengan Si Kecil

34 Komentar

Dulu sebelum punya anak, kalau saya pas traveling gitu terus ngeliat ada perempuan bepergian dengan anak-anak balitanya, saya sering membantin, “Repot banget ya pergi-pergi sama anak kecil gitu. Gue pengin banyakin jalan-jalan ah mumpung masih bisa sendirian kemana-mana.” Benar saja, empat tahun setelah punya anak pertama, saya sangat jarang melakukan perjalanan jauh, apalagi backpacking. Sebabnya tentu karena kalau saya bepergian, anak saya nanti sama siapa? Bapaknya sih ada, tapi tetap saja on daily basis si anak lebih nempel ke saya karena bapaknya sering banget traveling jadi jarang di rumah.

foto cm mm

Awal tahun 2012 ketika si sulung berumur 4,5 tahun pernah saya ajak jalan selama 10 hari keliling India Utara. Anak saya cukup adaptif, jadi semua berjalan lancar. Satu-satunya hal yang mengganjal adalah menu makanan. Makanan yang ada di India Utara hingga ke area Rajahstan itu selalu berbumbu kari kental. Soal rasa memang tidak semuanya pedas, ada yang gurih, asam atau agak asin. Tapi anak saya tidak suka santan, karena di rumah memang saya tidak pernah menyajikan makanan bersantan kecuali hari raya itupun dikasih sama mertua. Untung anak saya makannya gampang, nyaris setiap hari dia makan nasi dengan irisan timun mentah, kadang pakai lauk roti tipis India yang dia anggap kerupuk. Timun memang mudah dijumpai di hidangan India. Jadi kalau masuk ke rumah makan, saya pasti minta timun iris buat anak, kebetulan, uang makan jadi hemat. Tega ya? Maafkan ibu ya nak πŸ™‚ Semoga nanti setelah dia besar tidak membaca blog post ini.

Bagaiamana ceritanya kalau traveling dengan dua anak? Akankah selancar itu? Apa saja yang perlu disiapkan?

Kini, setelah si sulung berumur hampir 6 tahun dan adeknya berumur hampir 3 tahun, saya nekat membeli tiket promo sebuah maskapai untuk ke Jepang berempat, dengan kedua anak kami yang masih kecil. Di usia segitu, si kakak sudah bisa makan sendiri dan ke toilet sendiri. Jadi praktis yang sepenuhnya saya urus adalah adiknya. Tugas utama saya adalah membuat mereka ‘tetap sibuk’ selama di perjalanan sehingga tidak rewel. Jadi yang saya siapkan adalah:
— Activity book, pensil warna, pensil, rautan, penghapus. Ini agar si kakak punya kegiatan di pesawat atau di bandara pas nunggu pesawat. Adiknya biasanya akan ikut nimbrung atau ngeliat aja apa yang dilakukan kakaknya. Activity book ini nggak mahal, cuma 19.000 rupiah, isinya banyak kegiatan dan beragam. Pokoknya ampuh membuat anak saya anteng selama belum habis activity-nya.
— Beberapa lembar kertas HVS bekas yang masih kosong satu sisinya untuk saya gambari sambil bercerita buat mereka. Ini kegiatan favorit mereka, tapi tentu saya-nya yang capek kalau terus-terusan mendongeng sambil menggambar. Paling sehari sanggup 1-2 kali saja.
— Majalah Bobo Junior (yang ada bonus menggunting dan menempel gambar itu). Dulu saya yang membacakan majalahnya, tapi sejak si Kakak duduk di kelas TK B dia sudah lancar membaca sendiri, malah kadang membacakan adiknya.
— Bekal makanan dan air putih. Jeruk dan anggur adalah bekal favorit, karena mudah dimakan (kalau apel atau pear harus dikupas pakai pisau) dan sehat. Kadang juga bawa biskuit. Saya menghindari membawa biskuit rasa cokelat maupun cokelat batangan karena remah-remahnya kalau nempel di baju anak akan keliatan banget dan susah dibersihkan.
— Kamera digital. Mereka suka banget difoto. Ibunya juga sih. Nah, kamera ini bisa jadi kegiatan alternatif, dimana mereka akan saling memfoto bergantian, lalu sama-sama melihat hasil fotonya dan saling menertawakan.
— Gadget. Ini last resource kalau semua item diatas sudah mereka lalukan dan mulai bosan. Mereka bisa pinjam iPad saya untuk bersama-sama main games, jadi nggak diam total asik main games, tapi masih ada obrolan diantara dua anak itu.

Screen shot 2013-05-24 at 5.59.39 PM

Selain persiapan bawaan, saya juga mengkondisikan rencana bepergian ini sejak seminggu sebelumnya. Misalnya mau ke Jepang, maka saya ceritakan lokasi Jepang itu dimana sambil melihat peta, saya ceritakan sedikit tentang Jepang dari sudut pandang yang mudah dia terima, misalnya “Jepang itu rumahnya Doraemon, disana juga negeri kelahiran Hello Kitty. Kamu lihat kan di TV, Nobita kalau makan pakai nasi sumpit, duduknya di tikar pakai meja makan pendek, boboknya di atas kasur yang digelar di lantai, kayak gitu tuh rumah orang Jepang…. dll” Biasanya mereka jadi exicted dan bertanya lebih lanjut tentang Jepang. Salah satu pertanyaannya misalnya “Makan nasi pakai sumpit kan susah, emang Nobita nggak punya sendok ya? Apa kita bawain sendok aja dari Jakarta?”

Soal Makan

Satu hal penting adalah membiasakan dan memberi contoh pada anak untuk tidak menjadi picky eater, alias doyan makan apa saja. Ini penting agar mereka mudah beradaptasi dimana pun di seluruh dunia. Misalnya di Tokyo, mereka puas dan kenyang hanya dengan makan onigiri (nasi dipadetin dibungkus rumput laut kering), gampang dan hemat. Hehehe…

Kita juga perlu mempelajari porsi makanan yang disajikan di kota atau negara tujuan. Di India dan Jepang misalnya, 1 porsi makanan orang dewasa cukup untuk makan 2 orang anak-anak. Jadi selama di Jepang, saya selalu pesan soba, nasi atau udon 1 porsi lalu saya bagi ke dalam 2 piring/mangkok kecil-kecil buat kedua anak saya. Untungnya, umumnya warung makan di Jepang otomatis menyediakan piring dan alat makan kecil buat anak-anak. Kalau di India, saya mesti minta piring ekstra. Sementara di Penang dan Singapura, kadang ada rumah makan yang ngasih mangkok khusus buat anak, kadang tidak dikasih. Satu hal yang agak repot tapi tetap saya usahakan adalah menyediakan buah buat mereka. Paling praktis beli jeruk atau apel, setiap pagi dikupas dan potong-potong buat kita semua. Ini penting, biar kebiasaan makan buah di rumah tidak terputus saat traveling.

Screen shot 2013-05-24 at 6.23.17 PM

Biar Tetap Sehat

1. Perlu banyak minum air putih. Risikonya jadi lebih sering ke toilet, nggak apa-apa yang penting tetap sehat.
2. Sesuaikan baju dengan iklim negara atau kota tujuan. Legging sangat cocok dipakai agar tetap hangat.
3. Bawa band aid dan minyak kayu putih, just in case diperlukan. Syukurlah anak-anak saya secara umum sehat.
4. Pakai lip balm kalau ke negara sub tropis, terutama selama winter atau autumn. Anak sulung saya waktu saya ajak ke Rajashtan pas musim dingin dia nggak mau pakai lip balm, akibatnya bibirnya kering dan pecah-pecah. Sejak saat itu dia mau pakai lip balm, apalagi yang rasa stroberi.

Soal Transportasi

Nah, soal yang satu ini kita perlu mencari informasi sebanyak-banyaknya seperti apa transportasi di kota/negara tujuan. Di Jepang anak dibawah umur 6 tahun boleh naik kereta, bis, subway bahkan shinkansen yang super mahal itu secara gratis. Tapi naik turun tangga dan berjalan melintasi stasiun subway yang luas itu cukup melelahkan bagi mereka, akibatnya punggung saya serasa mau patah kalau si kecil minta gendong.

Soal Penginapan

Dulu saya biasa backpacking dan mengingap di hostel. Tapi ini nggak mungkin lagi dilakukan kalau pergi sama anak karena umumnya hostel tidak menerima anak di bawah 12 tahun. Kecuali hostel Footprint di Singapura dan J-Hoppers di Osaka, mereka mau menerima anak-anak asalkan kita menginap di triple room, kamar yang muat 3 orang dewasa. Tapi perhitungannya akan tetap 3 orang dewasa walaupun orang dewasa yang menginap hanya 2 (ibu dan ayah). Jadi kalau bawa anak mending cari hotel saja. Hotel bintang 1 tarifnya akan sama dengan hostel triple room kok, atau malah lebih murah.

Screen shot 2013-05-24 at 6.53.53 PM

Belajar Tata Krama

Pergi ke negara atau daerah lain juga memberi kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal budaya dan tata krama di tempat lain. Misalnya, membiasakan anak agar naik dan turun eskalator di sisi kiri kalau mau berdiri saja, karena sisi kanan untuk mereka yang mau jalan cepat. Di Jakarta tata krama ini masih belum menjadi pemahaman umum. Di mall dan public space Jakarta kita sering kan melihat orang naik eskalator diam saja tapi berdiri di tengah sehingga menghalangi orang lain yang mau jalan naik tangga cepat-cepat.

Juga melatih anak soal priority seat. Saat naik subway atau bis, saya sering dikasih tempat duduk orang karena saya membawa anak kecil. Ini saya ceritakan pada anak, kenapa mereka mengalah pada kami. Nanti kalau anak-anak saya sudah besar, mereka juga perlu mengalah memberikan tempat pada ibu-ibu dengan anak kecil, ibu hamil dan manula. Nah, saya pernah ditanya anak pas di Jakarta kami naik busway yang cukup penuh dan tidak ada yang memberikan tempat duduk pada kami. Sambil berdiri berpegangan pada kaki saya, anak saya bertanya, “Kalau di Jakarta kok nggak ada yang ngasih tempat duduk buat ibu-ibu yang bawa anak kecil kenapa ya?”… Saya speechless.

Bisa juga melatih anak bahwa menyebrang jalan harus di zebra cross dan menunggu lampu pejalan kaki menyala hijau. Jujur nih, hal ini jarang saya lakukan di Jakarta karena jarang menemukan lampu lalu lintas yang dilengkapi dengan lampu penyebrang jalan, dan sulit untuk tertib menyebrang jalan di zebra cross. Bahkan jalan raya di depan TK anak saya saja nggak ada zebra cross-nya 😦

Nah, jadi siap bawa anak bepergian? Selamat jalan-jalan!

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

34 thoughts on “Traveling Tetap Nyaman Dengan Si Kecil

  1. Ping-balik: Serunya Keliling Singapura Naik Sepeda/Motor – About life on and off screen

  2. Seru banget, mak bisa jalan-jalan sejauh itu. Semoga aja, aku sama anak-anak bisa coba traveling, sambil nunggu ayahnya pulang :). Tips nya oke banget, thank mak :-*

  3. Salem kenal Mbak, Mau tanya ..dulu nginepnya di hotel mana?

  4. Aku dulu pas kecil juga belajar lebih banyak tentang tata krama karena jalan-jalan πŸ˜€

  5. foto yang paling atas itu…. bikin prihatin, mbak..! πŸ˜†
    Tapi kayaknya si kakak emang care bgt ya, ke adeknya. Anak perempuan kali ya, mbak.. jadi naluri keibuannya udah keliatan dari kecil.. πŸ˜€

    • Oiya, kakaknya mmg care banget sama adeknya, sepatu adek aja dia siapin kalo mau pergi. Foto itu gara2 pesawat delay tanpa kepastian berapa jam, pas dari Papua mau balik ke Jakarta 😦

      • panteeesss… mukanya si adek kuyu gitu…. kasihan…
        Btw, aku suka outfitmu yg di zebracross itu, mbak.. Soooo stylish! Dan skrg, setelah tahu dirimu dulunya news anchor ‘serius’, aku kok jd nggak bisa lagi ngebayangin dirimu pake blazer2 formal itu lagi, ya…. πŸ˜€

  6. Naaah, sepertinya lebih enak kalo anaknya sudah lebih dari satu. Jadi si anak bisa komunikasi dan bermain di antara mereka selama perjalanan. Kalo satu anak, yang ada (kebanyakan) malah rewel.

    Pengen payung transparannya, btw. πŸ™‚ ada yang jual di Indonesia nggak ya, Mbak?

    • Bener, mereka saling menemani. Eh, tapi lebih banyak kakaknya menghibur adiknya sih, dan itu sangat membantu.
      Belum pernah liat payung transparan di Jakarta mak… Kemarin aja ada 3 temen yg titip beliin payung dr Tokyo πŸ™‚

  7. Ih, seru amat traveling rame-rame gitu. Ke Jepang lagi. Betah nggak di sana mereka, Un?
    Sampai tahun kemarin masih asik traveling sama Cinta. Apalagi dia udah gede dan enak dibawa kemana-mana. Paling urusan makan aja yang agak susah tapi asal ada nasi putih sama krupuk aja aman sih hihihi. Sama ke toilet karena dia jijikan kalau nggak bener-bener bersih nggak mau masuk.

  8. Asik banget ya mbak. Tapi emang bener sih, aku heran di Jakarta itu tata krama kurang, orangnya galak2. Coba jalan di Orchard, gak penting siapa yg nabrak, pasti dulu2an say sorry. Pdhl kita selalu klaim sbg bangsa yg plg beradab didunia 😦

  9. kapan ya bisa travelling sama anak 😦
    *menikah saja belum *

  10. simpan posting ini buat jalan-jalan suatu saat nanti. Tapi kalo dipikir aku waktu itu juga sempat nekat…anak masih 6-8 bulan diajak traveling sekitar 8-10 hari dengan rute Jakarta-Jogja-Solo-Jogja-Jakarta (transit)-Singapore-Jakarta. Capek banget banget. Tapi ga kapok sih. Cuma memang kalo punya anak pertimbangan transportasi dan akomodasi itu jadi lebih selektif.
    Pengennya kalo anak udah lumayan gede ajak ke tempat yang lebih jauh lagi kayak..yunani maybe. :))

    • iya, berdasarkan pengalaman mending nunggu anak umur 5 atau 6 tahun sih. Kalau 3 tahun masih kekecilan sih, masih sering ngantuk dan minta tidur siang dimana aja πŸ˜€

  11. Oww.. jadi ke jepang lengkap neh ceritanya mbak πŸ˜€

    kalau aku masalahnya itu ya dimakan.. susah bener nyocokkan makanan dengan selera masakan rumah ini 😦

  12. *nyatet buat kelak jalan2 jauh sama Cissy*

    • Yes…. Lebih enak kalau Cissy udah bisa dan udah stabil jalan sendiri, jadi ortu nggak perlu nggendongin setiap saat.

  13. hmmm adventourist juga ya mbak travelling bareng anak2 , yg pasti lbh challenging =))

  14. Ikutttttttt ke jepang dong mba, kerumah nobita hehe

  15. jadi pengen punya anak lagi..*eh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s