BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Bangkok: Crazy Nights

31 Komentar

Melanjutkan posting sebelumnya, kepergian saya ke Bangkok kali bukan sekedar jalan-jalan atau urusan pekerjaan, tapi demi nonton futsal! Hahahaha… Beneran loh, saya dan 5 teman lain menghabiskan long week end 15-19 November ini untuk nonton pertandingan semi final dan final Fifa Futsal World Cup 2012 di Bangkok. Kami berangkat naik Air Asia Kamis jam 5 sore, setelah sempat delay. Biarpun delay, saya nggak sempat bete karena ketawa-ketawa ngeliat si Ibnu Jamil digeret sana-sini diajak foto bareng sama ibu-ibu di ruang tunggu. Kata Ibnu, dia dengan senang hati melayani permintaan foto bareng, asal yang minta foto memanggil namanya dengan benar. Kayaknya udah jutaan kali dia keliru dipanggil orang jadi Syaiful Jamil 😀

Temple of Dawn

Angga, Gibran, Yusuf, mbak cakep, Ibnu

Sampai di bandara Don Mueang sudah hampir jam 9 malam. Kami langsung naik bis nomor 59 ke Rambutri road. Ongkos bus AC ini murah, cukup 20 bath untuk perjalanan melintasi kota Bangkok selama 1 jam. Sampai di hotel, setelah menyimpan ransel, kami jelas mengisi malam dengan…….dugem! Hahahaha… Tentu dugemnya ala turis di Khao San & Rambuttri Road, joget-joget di teras pub diiringi live music yang lucu di Bar Lamphu. Saya bilang lucu karena setiap habis nyanyi 3 lagu, penyanyinya, seorang cowok Thai dengan rambut lurus dan panjang ala model Sunsilk, selalu bilang “I love you. Tip tip tip please… No 20 bath!” Lhaaaa…. Dia minta tip tapi maksa, kudu lebih dari 20 bath (sekitar 6500 rupiah)! Bar ini asik, musiknya reggae dan latin, walaupun sempat diselingin Gangnam Style yag udah mewabah ke seluruh dunia ini. Yusuf, Bimo dan Ibnu awalnya malu-malu gak mau joget, setelah lewat tengah malam akhirnya ikutan joget juga. Malah Ibnu jadi keasikan dan nggak mau stop.

Kawasan ini hidup 24 jam. Malah ada satu restoran & bar yang menulis “We’re never closed” di area entrance-nya. Sekitar jam 2 am kami pindah tongkrongan ke bar lain, lupa namanya, yang jelas musiknya disco gitu. Di sini jogetnya lebih rusuh, sampai meluber ke tengah jalan. Baru kali ini deh kita joget-joget sesekali diselingi taksi yang mau lewat persis di samping kami.

Satu hal yang menarik dari kawasan ini adalah food hawkers alias penjual makanan di gerobak dorong. Mulai dari makanan berat macam pad thai, kwetiau goreng, sampai snack semacam lumpia, jagung bakar, mangga potong hingga jangkrik goreng, ada di sini. Saya mencicip belalang goreng dan ulat goreng. Awalnya agak geli juga sih… Tapi saya pikir, kalau udah pernah makan ulat sagu hidup di hutan Papua, pasti ulat goreng Bangkok ini can not be worse. Jadi saya sikat aja deh! Rasanya? Not bad. Crispy dan creamy nyaris seperti kacang goreng.

Which one would you eat?

Yusuf dan Ibnu tertantang makan kalajengking goreng. Ewww… Katanya rasanya mirip belalang goreng, cuma lebih keras. Terserah deh. Saya sih kalau nggak demi shooting Fear Factor gitu males disuruh makan kalajengking goreng.

So the night carried on… Joget-joget gak karuan sampai tak terasa sudah hampir jam 4 pagi. Kami jalan kaki balik ke hotel. And to our surprise, panti pijat yang terletak di samping hotel kami masih buka! Kami pun mampir dan ternyata pijatnya enak! Ini pijat jujur kok, beneran foot massage atau Thai massage gitu. Gak ada plus-plusnya, lha tempatnya aja terbuka banget, bisa dilihat orang lewat. Kalau mau pijat yang plus-plus, ada di lain tempat. Menjelang jam 5 pagi kami baru balik ke

Pijat di pinggir jalan, siapa mau?

hotel, dan dua pria itu janjian mau jogging besoknya, tapi saya yakin joggingnya mereka akan tinggal rencana. Hell yeah, we went crazy and we were happy that night.

***

Hari ketiga di Bangkok kami dedikasikan untuk para penulis buku dan website Bangkok travel guide dengan mengunjungi tempat-tempat wisata yang selalu disarankan. Usai brunch di dekat hotel di jalan Rambuttri, kami berniat jalan kaki ke kompleks Grand Palace. Melihat peta Bangkok, jarak menuju Grand Palace tampaknya bisa ditempuh dengan jalan kaki, lalu disambung dengan river cruise menyusuri sungai Chao Praya yang tersohor itu. Kami pengin mencoba semua moda transportasi di Bangkok, mulai dari taksi, bis, tuk-tuk, sky train hingga perahu. Coba kalau di Jakarta kita masih bisa naik perahu menyusuri Ciliwung, kayak jaman dulu gitu, asik kali ya…

One day wanderer

Nah, di tengah jalan saat kami bertanya arah pada seorang pria setempat, dia menyarankan agar kita naik boatnya dari dermaga rakyat, bukan dermaga untuk turis. Dia menyarankan begitu karena sempat menyangka Bimo, salah satu teman kita, sebagai orang Thai. 🙂 Ya ada untungnya juga bertampang lokal. Beda tarifnya jauh banget. Kalau naik boat dari dermaga turis ongkosnya 2000 bath per-orang, sementara dari dermaga rakyat cukup bayar 600 bath saja, padahal rute dan perahunya sama persis.

Kami pun menyusuri sungai selama 1 jam, mampir di Wat Arun atau Temple of Dawn untuk foto-foto dan ke floating market. Fitur standar turis lah. Perahu kami merapat di sebuah dermaga kecil persis di belakang istana raja Thailand alias Grand Palace. Tapi niat kami untuk menengok kediaman raja Bumibhol Adulyadej ini batal terlaksana lantaran 5 pria teman jalan saya itu pada pakai celana pendek semua. Pengunjung memang wajib memakai pakaian sopan & tertutup saat masuk ke Grand Palace.  Gak boleh pakai celana pendek, tank top dan sendal jepit. Sebenarnya ada penyewaan semacam sarung untuk pengunjung yang memerlukan, bisa dipakai sarungan atau diikat dibahu sebagai penutup bare shoulders. Tapi teman-teman saya itu semangatnya pengin belanja, jadi kami move on ke tujuan berikutnya.

Demi melanjutkan tradisi wisatawan Indonesia yang terkenal gemar belanja, saya mengikuti teman-teman ke Chatuchak week end market. Naik bis nomor 44 dari depan Grand Palace, cukup membayar 17 bath, sampailah kami di pasar yang terkenal itu. Gara-gara Angga yang bilang Chatuchak mirip pasar Senen, awalnya Ibnu sempat riwil bertanya-tanya kayak apa sih Chatuchak itu. Saya bilang, “Lo suka belanja kan? Lihat aja, pasti lo suka.” Dan benar saja, kami pun berkelana memasuki lorong-lorong pasar yang seakan tiada ujungnya itu. Tak terasa sudah patang, dan Ibnu keluar sebagai pemenang shopping race dengan belanjaan terbanyak, disusul Yusuf, lalu Angga, Bimo dan Gibran. Belanjaan Ibnu cukup epic, 10 buah tas, beberapa t-shirt, lusinan magnet kulkas dengan gambar pemain MU, dan masih banyak lagi.

Saya sendiri cuma menenteng plastik kecil isi oleh-oleh buat teman-teman kantor. Isinya pun tak lebih dari dompet warna-warni dan aneka asesoris perak, karena ringkas membawanya dan jelas teman-teman saya suka. Entah kenapa, nafsu belanja saya tidak sebesar nafsu makan dan nafsu yang lain itu…

Usai makan malam, saya baru sadar bahwa lima pria teman jalan saya itu semuanya wisatawan Indonesia sejati. Mereka sangat suka belanja! Meski sudah menenteng kantong belanjaan, mereka masih mau ke mall, belanja jersey. Baiklah, kami pun naik BTS dengan tarif 35 bath ke sebuah Central World mall yang megah dan indah. Saya duduk manis menyaksikan para pria itu berburu jersey dengan sigap. Yusuf dan Ibnu impulsif mendaftarkan diri ikut Bangkok marathon 10-K! Okay, berarti Februari 2013 bakal ke Bangkok lagi nih.

Piknik di rerumputan, makanan enak & murah!

Brazil beat Spain 3-2 after a great match

Partai final Fifa Futsal World Cup 2012 yang menjadi tujuan utama kedatangan kami ke Bangkok digelar hari Minggu malam. Brazil vs Spanyol, setelah semi final yang seru, pasti final matchnya bakal wow banget. Stadion sudah penuh sejak jam 5 sore. Fans Brazil seperti biasa tampak heboh dengan kaos kuning-hijaunya. Saking antusiasnya Ibnu sampai beli jersey Spanyol…. selain karena dia emang demen banget belanja sih 😀

Benar saja, menonton pertandingan final ini membuat saya menahan nafas berulang kali. Meskipun saya bukan pakar futsal, tapi yang saya lihat jelas sangat seru dan memukau. Di awal pertandingan kedua tim, terutama Brazil, masih bermain hati-hati. Setelah lewat 5 menit, barulah mereka makin saling serang sehingga hawa stadion yang berAC ini menjadi sangat panas oleh teriakan suporter. Kedua tim saling berbalas gol. Sampai 2×10 menit kedudukan masih 2-2 hingga ada perpanjangan waktu. Dan disinilah Brazil mencetak gol yang sangat keras dan cepat, membawa tim mereka ke panggung juara. The match was awesome, Bangkok was great, and cheap as well. I’ll be back for some more fun!

Oiya, semua foto-foto disini karya Bimo Anggoro Putro, thanks Bim!

Satu bath kira-kira setara dengan 300 rupiah. Kalau ada yang mau jalan ke Bangkok, kali aja info ini ada gunanya:

  • Hotel Rambuttri House 200 bath/orang/malam
  • Sekali makan di restoran 200-300 bath, street food 35-95 bath
  • Segelas kopi, Thai iced tea antara 35-60 bath tergantung beli dimana
  • Bir Chang (merk lokal populer) antara 50-80 bath tergantung beli dimana
  • Bis dari bandara ke hotel 20 bath, bis dalam kota 17-20 bath
  • BTS (semacam sky train) rata-rata 30-40 bath di jarak yang kami tempuh
  • Tuk-tuk mulai 15 sampai 150 bath tergantung jarak
  • Taksi dari hotel ke bandara 240 bath, tarif tol 70 bath
  • Perahu wisata keliling sungai selama 1 jam 600 bath
  • Pendaftaran lomba marathon di Bangkok 300 bath
  • Tiket masuk ke Grand Palace 200 bath
  • Es kelapa utuh yang segar & enak banget 50 bath
  • Aneka buah potong segar 30-50 bath
  • T-shirt utk souvenir antara 100-150 bath
  • Aneka souvenir lucu antara 25-250 bath

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

31 thoughts on “Bangkok: Crazy Nights

  1. Ping-balik: Nyasar Di Hutan Di Busan, Korea Selatan | About life on and off screen

  2. hua, jadi februari kemarin ke BKK? aku baru mau jalan awal mei keknya, maklum masih newbie jadi pengangguran kak, baru bisa jalan diluar weekend. Tips nyari jerseynya okeh banged, btw kmrin naik flight apa? kok di Don Mueang? kalo yg di Suvarnabhumi itu maskapai apa aja kak, duh maap ya banyak nanya, pdhl kan kamyu bukan petugas bandara 🙂

  3. Mb..kalo ‘pasar tanah abang’nya bangkok,dmn ya …thanks

  4. oke…
    anggap ini bonus buat yang baca posting blog ini sampe ke kolom comment

    *TIPS HUNTING JERSEY SEPAKBOLA DI BANGKOK*

    1. supersports di central world mall
    BTS turun di stasiun Chit Lom, jalan kaki dikit langsung masup mall deh…
    supersports ini tenant khusus sport equipment, semacam semacam sport station, athlete’s foot dkk lah kalo di indonesia
    koleksi jersey klub lokal (jersey timnas thailand juga ada) lumayan lah, gak terlalu banyak variasi dan ketersediaan size
    jersey incaran saya gak ada size yang pas di sini
    untuk warganegara asing, kalo kasih unjuk paspor dapet diskon 5%, lumayan laah…
    ada juga jersey sepakbola klub eropa, tapi muahal! kalo dibandingkan dengan harga di indonesia lebih mahal di sana
    di indonesia (counter nike, adidas, sport station dll) harganya Rp. 649ribu, di sana kena THB 2.990
    jadi kalo yang merk nike adidas mending beli di sini deh saya sih, kan banyak beredar barang blackmarket…. ups!

    2. FBT building dan Grand Sport (gedungnya bersebelahan)
    nah ini lokasinya pas di seberang venue world cup futsal
    akses paling mudah naik airport link (semacam BTS juga) turun di stasiun Ramkamhaeng, abis tu naik bus aja biar murah (taksi kena sekitar THB 60)…kayaknya sih semua bus yang lewat stasiun Ramkamhaeng arahnya ke TKP deh
    SEMUA klub thailand yang di-endorse FBT dan grandsport ada di sini!
    khusus untuk FBT, kayaknya mereka endorse sampe klub divisi sekian deh…atau bahkan ada jersey klub amatir juga di sini?
    tuh fotonya ada di postingan, foto terakhir yang pojok kiri bawah

    3. Sekitar National Stadium (Supachalasai)
    BTS turun di stasiun National stadium
    ini semacam kompleks pertokoan yang jual sport equipment
    di sini ada juga toko grandsport
    yang menarik di sini adalah pedagang jersey yang gelar di emperan trotoar
    harga jelas bisa ditawar doong…oiya, jangan lupa dicek tuh jersey ori atau kawe
    sepintas pengamatan saya sih beberapa penjual yang bilang barangnya ori, emang bener itu ori
    penerawangan ke-ori-an jersey dibantu oleh mas angga, salah satu dedengkot kolektor jersey sepakbola di indonesia
    harganya sangat variatif, tuh ibnu & angga THB 1000 dapet 3 lembar jersey (foto ke-4, pojok kanan bawah)

    4. BEC Tero Sasana Merchandise Store
    ini di dalam kompleks National Stadium, homebase BEC Tero Sasana
    familiar dengan nama klub tersebut?
    iya betul! klub yang pernah mengontrak pemain kita, Titus Bonai
    bahkan foto Titus memakai jersey klub ini sudah sempat rilis
    tapi akhirnya Titus batal bermain di sana karena ………. ah sudahlah!
    khusus jual segala macem merchandise klub BEC Tero Sasana

    begitulah kira2 kondisi lokasi yang sempat saya sambangi di Bangkok
    kayaknya sih, di tiap stadion homebase klub sepakbola ada merchandise store macam BEC Tero Sasana itu
    ntar lah lain kali ke Thailand lagi, ke kota lain sekalian nonton Liga Thailand
    oiya, harga belom yah?
    yang paling mahal jersey Muangthong United THB 990, jersey timnas Thailand THB 795
    jersey klub lain harganya di bawah itu…
    murah dong…?
    busana cewek kan jauh lebih mahal…
    coba deh, kebaya (beli jadi atau beli kain & jahit pisah) yang keren berapa harganya?
    apalagi gaun malam…

    wassalam
    @eR_Bim

  5. oo.. itu langsung ke khaosan road ya mba e? busnya ada smp mlm jg ya? tp sy bw koper jadi masih mikir mo nge-bis ato taksi.. hihi…
    soalnya klo baca di web boat itu.. 1x naik rata2 10-30bath.. makanya agak kaget kok mba 600bath..
    btw.. mba cantikkk… bodinya bikin ngiri.. kurus tinggi gt.. >__<

    • Kata mbak petugas bandara bus-nya cuma sampai jam 10 malam. Kemarin kita ber-5 naik bus pada bawa koper besar dan ransel, gak masalah kok. Pas naik/turun ditungguin sama supirnya, bisnya lega banget jadi gak masalah bawa koper.
      eh, soal body, makasiiiih… ^_^

      • Oiya soal perahu, yg 600 bath itu kelilingan river cruise dan boleh berenti2 di dermaga Wat Arun, kita bisa turun dan foto2, ditungguin sama supir perahunya. Pas di floating market juga bisa belanja dulu kalo mau, dia tungguin juga. Jadi kayak kita charter gitu.

  6. Mba Tika… itu yang rambutnya pendek, badannya bagus dan ganteng itu siapaaaaaa mbaaa? *lospokus*

  7. mbak.. newbie numpang tanya2 yahh… 🙂
    yang bus no 59 itu naiknya dari sebelah mananya Don Mueang ya? air asia nyampe mlm di sono soalnya.. 😦
    trz yang dermaga rakyat itu sebelah mn jg? kok 600bath mahal ya? sekali naik ato seharian ato gmn itu?
    makasih banyak ya mbak e untuk reply nyaaa..

    nb: ceritanya seruuuu n lucu.. haha

    • Nah, di bandara Don Mueang ikuti aja papan petunjuk jalan sampai ada tulisan Exit to Train Station. Keluar disitu, naik lift ke lantai 2, keluar lift ke arah train station. Tapi kalo ke train station kita harus nyebrang jembatan penyebrangan, sementara kalo mau naik bis 59 jangan menyebrang jembatan itu. Turun persis sebelum jembatan, jalan 200 m langsung nyampe halte bis di pinggir jalan.
      Perahunya naik 60 menit plus boleh berenti dan foto2 di Wat Arun temple selama 15 menit. Itu udah lbh murah dr pd di dermaga turis.

  8. Infonya lengkap mbak. suka! 😀

    Kapan kapan mau ke bangkok ah 🙂

  9. Jd yg cewek malah kalah heboh belanjanya ya mba

  10. *bookmark buat kalo mo jalan-jalan ke bangkok*

  11. *klik bookmark sambil nyatetin akhir tulisan ini*

  12. Mbok ya kapan gitu bikin agenda seseruan sama cewek cewek yg nafsu belanjanya juga ngga sebesar nafsu nafsu lainnya itu juga!

  13. Aku pengen ke grand palace. Kemaren gak sempet ke sana, lewat di depannya doang krn harus buru2 ke wat arun :))

    Thanks infox, min. *lu kata twitter?* hahahaha

  14. Woh ada yang ikutan Bangkok Marathon! Murah tuh registrasi lombanya, yg mahal tiket pesawatnya 😥 kalo nginep ada rekomendasi untuk yg Bangkok Marathon itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s