BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Kediri Bertutur

4 Komentar

Apakah Anda masih ingat, permainan apa yang paling Anda sukai ketika masih SD? Saya yakin, nyaris bagi semua anak-anak di dunia ini, permainan masa kecil yang paling berkesan tentulah melibatkan teman-teman sebaya, seru dan akrab. Berangkat dari kerinduan akan permainan masa kecil itulah, saya mengajak Sabai yang sekarang umur 4,5 tahun pergi ke Kediri, Jawa Timur untuk menonton Kediri Bertutur tanggal 25-26 Februari lalu. Putri saya yang makannya banyak itu sengaja saya ajak karena saya ingin dia mengalami langsung nonton wayang dan terlibat dalam dolanan bocah yang menjadi menu utama Kediri Bertutur.

Kediri Bertutur sejatinya adalah upaya pada dalang dan seniman di berbagai pelosok Kabupaten Kediri untuk menghidupkan kembali cerita Panji Asmorobangun dalam bentuk pentas tarian Jaranan dan pentas wayang.

Jadi suasananya sangat santai, dilakukan di lapangan desa dengan penari anak-anak hingga remaja dan kostum yang sangat sederhana.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Pertunjukan pertama di desa Bujel, masih dekat dengan kota Kediri. Seorang pria tua membuka pertunjukan dengan menyalakan dupa dan membaca mantra. Tiga orang anak lelaki muncul menarikan Jarang Kepang dengan semangat. Mereka memakai topeng dari kulit batang pisang, kuda-kudannya pun dari tulang daun pisang. Namanya pentas rakyat, tentu tampil dengan memanfaatkan apapun yang ada di rumah dan kebun. Keren. Saya dan Sabai terpesona mengikuti sendra tari ini, tentu saya menjadi interpreter buat Sabai yang belum fasih berbahasa Jawa dan belum pernah mendengar kisah Raden Panji Asmorobangun. Saya juga sambil live tweet, ceritanya melaporkan langsung buat admin Kratonpedia. Multitasking yang cukup sibuk!

Usai pentas Pak Pri, dalang desa yang melatih dan mengawasi pementasan ini bercerita bahwa dia membuat pementasan ini sebagai ungkapan rasa rindunya pada masa kecilnya, ketika dia dan teman-temannya dulu masih sering bermain peran dengan kisah Panji Asmorobangun.

Pak Pri prihatin melihat anak sekarang yang sangat doyan nonton TV dan keranjingan permainan digital semacam gameboy.

Maka Pak Pri yang rumahnya memang sering jadi ‘markas’ anak-anak kampungnya, memutuskan untuk melatih anak-anak itu menari Jaranan. Usai pentas tari jaranan, Pak Pri melanjutkan dengan pentas wayang biting, yaitu wayang yang dibuat dari lidi dan daun kelapa kering.

Esok harinya kami menuju ke dukuh Sonoagung, kali ini cukup jauh dari kota Kediri. Pemuka dukuh Sonoagung menyambut kami dengan suguhan jajanan desa dan minuman beras kencur yang sangat segar. Ternyata warga pedukuhan ini masih rutin latihan tari Jaranan paling tidak setiap 2 minggu sekali, apalagi bila ada tanggapan manggung di acara hajatan. Selain itu mereka juga masih melakukan ritual tahunan Nyadran, dimana setiap keluarga membuat nasi tumpeng lengkap dengan ingkung (ayam panggang utuh) sejumlah anggota keluarganya, lalu puncaknya arak-arakan membawa tumpeng-tumpeng itu keliling pedukuhan. Ritual ini dilakukan setiap sehabis musim panen padi yang kedua, atau sekitar pertengahan tahun.

Tetabuhan telah berbunyi memanggil kami beranjak ke lokasi pementasan sendra tari Jaranan. Pementasan sendra tari Jaranan ini terdiri dari 4 adegan, yakni Kepangan, Pentulan dan Caplokan. Penari termuda mereka masih duduk di TK nol kecil lho…

Warga Sonoagung sengaja melatih anak-anak usia SD hingga SMP sebagai pelaku pementasan karena mereka ingin tradisi ini selalu lestari. Selain itu mereka yakin bahwa anak-anak yang diajak berkesenian sejak kecil, nanti bila menginjak dewasa akan lebih bisa menghargai dan menikmati hidup. Saya setuju soal yang satu ini.

Tarian Jaranan pun dilanjutkan dengan wayang damen, yaitu wayang yang dibuat dari batang padi kering. Mbah Dalang yang sudah cukup sepuh ini masih dengan semangat dan suara yang membahana menyajikan lakon Panji Asmorobangun. Meskipun mbah Dalang punya wayang kayu, tapi mereka biasa menggunakan wayang damen untuk pentas ala dolanan bocah ini. Sebuah pementasan yang segar dan menghibur, membuat anak saya gembira dan membawa saya kembali merasa jadi anak-anak yang bahagia. Semoga Kediri Bertutur akan ada terus dan semoga kota-kota lain juga tergerak menuturkan cerita rakyat yang mereka punya dengan caranya sendiri-sendiri. Kalau di kota asalmu, ada cerita rakyat apa?

Credit title: Sebagian foto-foto ini oleh Widi Asmara, KratonPedia

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

4 thoughts on “Kediri Bertutur

  1. hanjrit…. keren banget mba… oh ini yg waktu itu mba Sabai bilang? aaakkk kalo ada yg gini2 lagi kasih tau ya mbaaa… pengen ikoooottt 😦

  2. aahh sampai skrg aku gak pernah nonton wayang mbak.. dipontianak gak ada. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s