BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Incredible India: Agra

26 Komentar

Ini bukan istana, cuma pintu gerbang ke istana 🙂

Dari New Delhi besok paginya kami berangkat ke Agra naik mobil sekitar 5 jam. Di jalanan Delhi maupun Agra, mobil-mobilnya jarang yang pakai kaca spion utuh! Banyak sekali mobil yang spion kirinya hilang atau dilipat. Nggak heran, lalu lintas yang macet dan semrawut bikin mereka malas pasang spion samping. Termasuk supir kami. Dan perlu nyali untuk nyetir di pusat kota Delhi, kelakuan sopir-sopir Jakarta sih masih jauh lebih sopan.

Kami langsung ke Agra Fort, benteng kukuh nan indah yang dibikin Raja Akbar tahun 1573 untuk melindungi ibu kota kerajaannya. Cucu Raja Akbar ini kemudian membangun Taj Mahal sebagai tanda cinta pada Mumtaz istrinya yang dimakamkan tepat dibawah kubah utama istana marmer itu. Ironisnya, 8 tahun terakhir hidup sang raja, dia ditawan putranya sendiri di dalam benteng Agra dan hanya bisa menatap Taj Mahal dari menara benteng yang terpisah jarak sekitar 2,5 km.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah harga tiket masuk ke berbagai istana, monumen atau museum. Turis lokal yang bertampang India dan berbahasa Hindi harga tiketnya 10-20 rupee saja, sementara turis asing yang beli tiket pakai bahasa Inggris kena harga antara 250-750 rupee! Gila kan beda harganya! Ya tapi mumpung ke India sih, jadi kami tetap beli tiket masuk berbagai istana dan monumennya. Mungkin ini usaha pemerintah India agar warga lokal semangat berkunjung ke situs-situs peninggalan sejarah mereka. Di semua tempat itu, turis lokalnya selalu jauh lebih banyak lho!

Agra Fort, Gate to Taj Mahal & inside Taj Mahal. Krn kompleksnya luas banget, ke gerbangnya naik mobil unyu itu.

Kami datang pas puncak musim dingin di India bagian utara, yang artinya juga musim kawin. Dalam sehari ratusan pasangan menikah, dan diarak di jalan. Malam itu saja kami berpapasan dengan 2 rombongan pengantin pria yang diarak ke rumah calon istrinya. Jelas dong kami spontan berentiin mobil, melipir dan ikutan joget di dalam arak-arakan itu!

Pengantin pria diarak puluhan orang sambil jejogetan

Nah, sehabis jogetan inilah supir kami mendadak ngambek. Dia ngomel nggak karuan karena malam ini kami makan tanpa pamit kepadanya. Saya minta maaf dan berjanji mentraktirnya makan sesampainya di motel. Eh, dia tetep ngomel, malah ngomongnya makin kasar, lalu nyasar mencari jalan balik ke motel dan menyalahkan saya atas nyasarnya ini! Padahal jalanan gelap, kita entah berada dimana, kanan-kiri hanya kebun mustard. Jujur saya takut, apalagi saya bawa anak. Sambil mencoba kalem, diam-diam saya siapkan penyemprot serangga genggam yang selalu saya bawa in case of emergency. Pak supir tetep ngomel aja dan baru ketemu jalan balik ke motel setelah saya telfon managernya. Edan!

Sampai di motel, saya sekali lagi menelfon managernya, menjelaskan kronologis peristiwa malam itu dan minta ganti supir besok paginya. Sang manager belum bisa memastikan ketersediaan supir pengganti mengingat jarak Delhi-Agra yang jauh. Kami pun tidur dalam kegelisahan.

Besoknya kami sarapan dengan suasana hati yang masih sangat tidak enak dan kuatir dengan sisa perjalanan ini kalau masih harus pergi dengan supir emosional itu.

Tiba-tiba masuklah seorang pemuda tampan tinggi besar ke ruang makan sambil bertanya, “May I speak to Swastika?”… Kemudian hening.

Wih, saya pikir ada artis muda Bollywood yang nyasar ke motel kami… ternyata dialah yang menggantikan supir lama kami! Woohooo!!!

Arun. Onta yang bebas melenggang di jalanan

Namanya Arun, baru lulus kuliah tahun 2007, dia datang ke Agra naik super fast train jam 5 pagi dari Delhi atas perintah langsung sang pemilik travel. Wow! Maka lanjutlah perjalanan kami ke Fatehpur Sikri bersama pemuda yang lebih tampan dari Shahrukh Khan ini. Setelah saya tanya, Arun mengakui biasanya dia lebih sering melakukan ‘office job’ di perusahaan travel itu.

Drama belum berakhir. Sebelum masuk pintu tol, Arun menghentikan mobilnya dan bilang ada orang yang mau bicara dengan saya. Wah, apa lagi nih… begitu saya pikir. Ternyata sang pemilik travel menyempatkan diri menemui kami dan minta maaf atas insiden supir semalam. Pemilik travel itu bilang, “I promise the rest of your journey will be smooth, as you’re now in a good hand. He’s my own son.” Katanya sambil menunjuk ke arah Arun. Alamaaaak… ternyata disupiri yang punya travel!

Besok cerita tentang terjebak rayuan maut seorang tour guide.

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

26 thoughts on “Incredible India: Agra

  1. Ping-balik: 5 Hal Penting Sebelum 35 Tahun | About life on and off screen

  2. Yah jadi meragu.. ke India gak ya? :)))

  3. Ping-balik: Penipuan Saat Traveling, Mana Yang Paling Parah? | About life on and off screen

  4. Hahaha guanteng yaaa..
    Duh jempol ih pemilik travelnya

  5. huwaaaa… kakak.. emang beneran ganteng mah ini ~_~

  6. waaaa…. taj mahal… pengeenn…
    postingannya mbak tika jadi pengen njambak2 deh! Aku iriii…
    *jambak rambut sendiri* *soalnya rambut mbak tika udah dicepak sih*
    😆

  7. Hahaha… you should go Yustin, it’s incredible and inexpensive 🙂

  8. iya dooongg.. setelah deg2an sama supir yg ngamuk2 itu, tiba2 disodorin supir ganteng putra mahkota pula, masa iya ga senyum2 😛

  9. ikut deg2an dan akhirnya senyum2 membaca cerita supir.. seru banget 😀

  10. itu pose si arun kok centil ya =))

  11. hai arun… ganteng deh..

    *kedip-kedip*

  12. yg ngeluarin rayuan maut ini tour guide-nya atau turisnya nih? 😀

  13. wah Agra yang berdarah itu ya, yang semua tukangnya dipotong tangannya setelah selesai membangunnya 😦

    • wah, soal itu malah aku belum dengar/baca, dan nggak tertulis di buku yg kubaca ttg Agra Fort. Apa mungkin cerita bagian itu ditutupi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s