BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Revolusi di Twitter?

19 Komentar

Apa yang kamu lakukan setelah bangun tidur tadi pagi? Meraih smart phonemu dan menyapa teman-teman di twitter dengan ucapan selamat pagi? Ahay… Selamat, kamu  menjadi bagian dari 5,6 juta pengguna twitter Indonesia! Twitter di Indonesia tampaknya lagi hits banget, sampai harian Kompas mengangkatnya menjadi headline dengan judul bombastis, Twitter: Revolusi 140 Karakter!

Saya yang juga suka berkicau di timeline, agak mengerutkan kening ketika membaca judul tersebut. Dan kerutan itu semakin dalam setelah membaca tuntas 4 artikel tentang twitter di koran ternama itu. Kalau dalam sosiologi revolusi kurang lebih dimaknai sebagai perubahan dalam masyarakat yang radikal dan menyeluruh dan terjadi dalam kurun waktu yang singkat, maka perubahan signifikan apakah yang dilakukan pengguna twitter Indonesia?  Dan pengguna twitter Indonesia tak bisa dipungkiri masih terpusat di kota-kota besar, utamanya Jakarta. Padahal Indonesia itu luaaas sekali!

Harian itu mengambil contoh sebuah revolusi fisik di gedung parlemen Moldova yang idenya disebarkan melalui twitter dan SMS pada April 2009 lalu. Ilustrasi yang keren untuk judul artikel tersebut. Tapi itu terjadi di Moldova dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemakaian twitter di Indonesia. Artikel koran itu isinya kurang lebih tentang fungsi twitter dengan contoh Sherina Munaf, Fahira Idris dan Holycow steak yang sukses mengunduh manfaat dari twitter. Ketiganya bisa mengoptimalkan twitter karena tahu atau belajar dengan cepat bagaimana memanfaatkan riuhnya kicauan di media dengan logo burung biru ini.

Dikulik pula soal banyaknya brand yang bersliweran di jagat twitter, berusaha meraih perhatian konsumen. Lucunya, seorang pakar kuliner yang rajin menyapa pemirsa TV tiap Sabtu pagi, mengaku kaget kalau banyak brand menggunakan famous person sebagai jubir mereka di twitter. Pak Bondan ngetwit, dia tidak tahu ada twit berbayar dan dirinya sama sekali tidak dibayar siapa pun untuk berkicau, meski pernah menyebut beberapa brand. Sehari sebelumnya dia menjawab pertanyaan followernya bahwa waktu kecil dia suka ngemil keju Kraft dipotong dadu dan itu fakta. Dan sebagai akibat, tampaknya bapak yang ramah ini mendapat sangkaan kalau twitnya berbayar.

Memang beberapa brand dengan jeli memanfaatkan pengaruh twitter dan para tweeple berpengaruh untuk berkicau tentang brand atau acara yang mereka sponsori. Sah-sah saja. Seperti kita membaca koran, diantara kolom-kolom berita aktual, ada advertorial yang berusaha merebut perhatian pembaca. Advertorial yang bagus, tentu dilirik, bahkan dibaca. Cara berpromo yang menarik di twitter juga membuahkan follower, bahkan yang loyal dan sangat mungkin terkonversi pada pembelian produk keluaran brand tersebut. Sebaliknya, berpromo dengan spam tentu akan ditinggalkan followernya, dengan bonus sedikit sumpah serapah.

Bagian terakhir sekaligus paling menarik dari 4 artikel di koran itu membahas kesuksesan sebuah kedai steak dalam menjaring konsumen melalui twitter. Judulnya tak kalah bombastis: Tinggal “Tweet”, Keajaiban Itu Datang. Dari artikel ini seolah berpromosi melalui twitter itu mudah dan gratis. Padahal perlu strategi untuk merancang cara berpromosi yang menarik dan menghindari ‘nyampah’ di timeline.

Saya yakin empat orang pemilik kedai steak itu sempat utak-atik strategi sebelum menggunakan cara mereka sekarang, antara lain memberikan tiramisu gratis bagi pemesan steak yang nge-tweet tentang kedai mereka. Nah, paling tidak mereka pun keluar ongkos untuk menyediakan hadiah tiramisu (senilai Rp 10.000,- per cup) ini. Brand-brand ternama tentu mengeluarkan hadiah dengan nilai lebih menggiurkan untuk bisa menggaet follower. Mulai dari produk, pulsa seratus ribu rupiah, pesiar ke luar negeri sampai laptop canggih senilai belasan juta rupiah. Malah ada yang memberikan netbook dan hadiah lain setiap minggunya. Nah, tentu puluhan juta rupiah perlu dianggarkan untuk mengelola hal ini.

Twitter, sebagaimana situs jejaring sosial pada umumnya, hanyalah medium. Semua tergantung pada penggunanya bagaimana berkomunikasi melalui medium unik dengan maksimal 140 karakter ini. Pertanyaan saya adalah, setelah era Friendster lewat, Multiply ramai ditinggalkan setelah menjelma jadi online marketplace dan Facebook bagi banyak penghuninya juga mulai membosankan, sampai kapan tren twitter ini bertahan?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

19 thoughts on “Revolusi di Twitter?

  1. Buka twitter terasa memasuki dunia yg berbeda, absolutely kl ngefollow twuips yg menarik, banyak koq berseliweran. Pokoknya pintar2 aja milih.

  2. kalo diliat2 sih twitter ramai dikunjungi menjelang tahun 2010. padahal tak jarang saya liat pertama kali punya akun tahun 2009, 2008, 2007 malah 2006. apa ini juga menjadi fenomena juga? setelah SocMed mulai dilirik utk mencari alternatif pengumpulan pundi2? 😀

  3. Hahaha… untung ngetwit gak harus gosok gigi dulu ya!

  4. Hahah.. itu komen orang di atas ttg beli BB karena mau twitteran gak ngaruh bangeettt sama aku! Tergantung orangnya kok, mau mengoptimalkan HP yang dia punya atau tidak. Ada beberapa karib pake HP 2 koma dan mau ganti iphone biar lebih mudah berkomunikasi katanya. Padahal dia gak harus kerja online 24 jam, bahkan gak kerja! Hahaha..

    Nice writing anyway mbak.. 🙂

    PS: Oya, saya salah satu orang yang kalo bangun langsung buka twitter.. 🙂

  5. Halo, yang steak itu yang senjatanya wagyu steak yak? Boleh tau ga dari sisi pengamat (nulis post ini sudah layak dapet titel pengamat) strategi pemasarannya gimana kok mereka bisa “laku”/sukses?
    Saya ga di jakarta jadi ga tau kejadiannya gimana.

    • Hai… iya, andalan mereka Wagyu Steak. Saya sama sekali bukan ahli pemasaran, but obvious they’re doing it right on the social media. Cukup dg memberikan free tiramisu bagi setiap pengunjung yg ngetwit kalo mereka tengah menikmati steak disitu, mereka berhasil menciptakan viral effect yg terus menyebar dari mulut ke mulut (atau dari twitter ke twitter).

      Para pengguna twitter (termasuk saya) jadi penasaran ingin mencoba makan steak itu. Ketika akhirnya makan, mereka tergoda mendapatkan free tiramisu shg ngetwit soal steak itu. dst. Ada cost, tapi efisien.

  6. twitter… apa ya.. Kadang puyeng liat timeline yang isinya keluhan semua. Hahahahaha

    Sampe ada sesuatu yang baru yang bisa ngalahin itu twitter, tapi gw juga udah mulai bosan dengan itu burung…

  7. Dan pengguna twitter […] terpusat di kota-kota besar, utamanya Jakarta. Padahal Indonesia itu luaaas sekali!

    Nah, itu. Twitter ini jadi bisa kupakai karena sebagai blogger, saya berteman dan tahu banyak sesama blogger di kota2 besar itu, yg sekarang rata2 juga pemake Twitter. Itu jadi modal tuk saya bangun jaringan di twitter. Beberapa temenku disini yg mencoba Twitter, akhirnya berhenti karena tidak punya siapa2 tuk difollow/sebagai follower, karena Twitter belum populer disini. :mrgreen:

    sampai kapan tren twitter ini bertahan?

    Tebakan saya sih, paling sedikit 2 tahun lagi. Atau tergantung apa sesudah ini bakal ada socmed lain yang lebih menarik hati. Fufufu.. 😛

  8. Hmm.. Merasa tersindir juga nih sampe bingung mau ngomong apa :p

  9. semua ada waktunya…
    suatu saat pasti ada yg lebih keren dari twitter.
    teknologi selalu berkembang.
    twitter adalah hasil dari teknologi.

  10. saya menjadi semakin relijius setelah mengikuti berbagai kultwit yg penuh pencerahan di twitter

  11. dan pengguna twitter di Indonesia masih didominasi oleh ponsel atau BB. berkebalikan dengan Europe yg mayoritas pake template TweetDeck. jadi benar kata mama sabai kalo twitter users di Indo sangat segmented karena terbentur masalah duit.

    kepingin ikut trendy, lantas beli blackberry untuk bertwitter ria.

    pedang bermata dua?

    • Kalo cuma mau twitting, ngapain beli BB yg dua juta lebih, kan bisa pake Beyond yg cuma 700 ribu atau BlueBerry dan merk2 mirip BB lainnya.. 😀

  12. banget! that’s exactly why i wrote this post 🙂

  13. tapi rasanya tetap tak bijak kalau menggunakan twitter sebagai acuan terhadap sesuatu (trend, aktual atau yg berdampak global), pengguna twitter masih segmented kan ? 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s