BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Karya atau Klien?

16 Komentar

Cegah saya untuk tidak menjedukkan kepala ke tembok! Sekali ini saja!

Kami tengah mempersiapkan shooting corporate video untuk sebuah institusi besar dan kondang, mungkin paling ternama di bidangnya. Setelah melalui belasan meeting dengan klien, yang terakhir sampai menjelang mid-nite tadi malam pakai bonus kedinginan dalam kantor mewah di lantai 37 gedung megah itu, konsep sudah matang. Saya seperti biasa kebagian nulis skrip, bersama tim bikin konsep dan menterjemahkan maunya klien ke dalam film pendek yang enak ditonton. Oh, plus riset, mengontak orang-orang yang terlibat dan mengatur jadwal shooting. Tim kecil kami memang biasa kerja rangkap, nggak masalah.

Masalah baru timbul tadi pagi saat seorang anggota tim, yang semalam tidak ikut meeting karena sakit, protes berat. Tepatnya mara-marah, dan ingin project ini dibatalkan saja. Adududuh… jangan dong! Kenapa sih?

Alasannya klien sangat semau-gue. Yaaah… namanya juga klien! Saya sih masih bisa mentoleransi hal ini. Selama soal konsep dan ide cerita mereka mau diskusi, ya masih okelah. Kalau soal eksekusi mereka otoriter… yaaah… namanya juga klien! *lagi*

Ini bukan war zone, sumpah! Shootingnya sesuai brief klien dan hasilnya menyenangkan.

Ini bukan war zone, sumpah! Shootingnya sesuai brief klien dan hasilnya menyenangkan.


.

Saya jadi ingat omongan seorang sutradara iklan senior (eh, terlepas dari soal umur lho ya… kalau umur sih dia pasti masih merasa 25 th!). Dia bilang, sutradara film iklan alias TVC harus memuaskan klien, sementara sutradara film bioskop harus memuaskan publik. Saya menganggap corporate profile ini ‘sebelas-dua belaslah’ sama film iklan, mengutamakan kepuasan klien.

Lalu apa hasilnya bisa dibilang karya? Wah ya itu penilaian personal, terserah pada pembuatnya. Kalau saya nih, selama saya terlibat dari diskusi konsepnya, lalu bersama tim menggodok idenya dengan serius, sehingga ujungnya saya suka akan hasilnya, tentu boleh dong saya anggap karya, meski hak cipta tetap milik klien. Toh saya juga ikutan muter otak dan memeras keringat dalam proses pembuatannya. Dan sialnya, saya suka dengan konsep project yang terancam dihentikan ini.

Nah, sebagai freelancer yang tidak terikat dengan kebijakan kantor manapun sehingga otomatis tidak harus melayani klien kantor tersebut, saya punya sedikit previledge untuk menimbang apakah sebuah project menarik untuk dikerjakan. Saya yakin banyak sekali pekerja kreatif yang juga bergulat dengan isu ini. Are you one of them? What do you think about it?

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

16 thoughts on “Karya atau Klien?

  1. Hmmm, di sini ada sisi kesukaan yang engga boleh dilewatkan. Kalau ternyata klien semau gue, dan mba bersama team rata-rata suka dengan konsepnya, maju terus, mba. Dijamin hasilnya bakalan lebih oke kalau dikerjakan dengan senang. 🙂

  2. sabar, bu.. sabar ya.. gak semua “director” itu bermental director sejati..

  3. Ping-balik: Kok Jadi Gini? « About life on and off screen

  4. @lovelyfla, @rere, @adiarta @dita.gigi @kucingusil : thank you guys! Hampir bisa dipastikan lanjut nih! yihaaa!!!

    @plukz: lha, kan setiap client di desain custom made… seandainya bisa nyetok di kulkas asik juga yaa… 😀

    @chic: itulah! mau jadi klienku chic? servis memuaskan!

    @wongiseng: simbah mau bantuin nampol? hayuuuk!

  5. mau dilanjut sendiri untuk dipakai buat klien lain juga bisa kan? atau anggap saja disimpen di kulkas dulu, sapa tau ntar ada yang cocok.

    kalau mau bikin karya emang gampang2 susah ni, mesti cari kesempatan dan partner (dalam hal ini klien, yang membeli 😀 ) yang tepat kan.

  6. kalo konsepnya bagus kok ndak dilanjutkeun sih? :sigh:

  7. semoga lanjut mba… cayoo semangat.. 😀

  8. project yg sukses adalah yg memuaskan klien, publik, sutradara dan semua kru… baru mantap! 🙂

  9. tapi kan klien adalah raja, dan kadang selalu merasa lebih pintar :mrgreen:

    etapi kalo memang mereka merasa lebih pintar, kenapa ndak dikerjain sendiri aja ya? kok malah nyuruh orang lain 😆

  10. Tampol aja bai, tampol 😛

  11. semangat buk…

    semoga lanjuuutttttt………………….. 😀

  12. Yah, kalo corporate video kan wajar to mba’e kalo klien rada “semau gue”.
    Semoga tetep lanjut yaaa

  13. menunggu hasilnya, pengen liat
    hmmm…jadi ya harus dilanjutkan donk ya? lanjutkan !!! *bukan, ini bukan atas nama partai* 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s