BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Coco Chanel: Emoh Pakai Korset!

5 Komentar

Film arahan Christian Duguay merekonstruksi biografi sang desainer ternama. Dimulai masa kanak-kanak saat Coco masih bernama Gabrielle Chanel bersama adiknya Julia begitu saja ‘dititipkan’ oleh ayah mereka di sebuah rumah piatu di Perancis. Sang ayah kabur, tak terdengar lagi kabarnya. Adiknya menetap di panti, sementara Gabrielle yang berkemauan keras sejak berusia 18 tahun memilih keluar dan memulai hidup di Paris.

Gabrille remaja bekerja sebagai asisten seorang penjahit judes yang biasa menerima pesanan gaun-gaun indah. Oya, tentu film ini settingnya di awal abad ke-20 saat perempuan Perancis wajib memakai korset, gaun bertumpuk yang menggelembung serta topi elegan. Disinilah Gabrielle berkenalan dengan seorang tentara saat menjahitkan seragamnya.

Dimulailah petualangan asmara Gabrielle dengan sang tentara yang ternyata dari keluarga ningrat kaya raya, meski harus berakhir kecewa karena perbedaan kelas sosial. Justru disaat patah hati, Gabrielle memulai usahanya membuka butik. Film ini dengan lugas namun manis mengisahkan pasang surut kehidupan cinta dan karir profesional Coco, hingga masa tuanya.

Sejak muda Coco sudah digambarkan suka mendobrak pakem yang dianggapnya membatasi gerak perempuan. Maka dia ciptakanlah stelan baju perempuan tanpa korset. Alhasil, para perempuan kelas atas mencemooh rancangan ini karena dianggap tidak anggun, tidak elegan. Namun perempuan kelas pekerja yang jumlahnya jauh lebih banyak, tentu menyambut gembira rancangan yang lebih praktis, murah dan mudah dikenakan ini.

Tanpa kalimat eksplisit film ini dengan jelas menunjukkan Coco tidak hanya punya passion dan dedikasi tinggi pada dunia fashion, tapi juga punya instink dalam menangkap kegelisahan perempuan pekerja di masa itu dalam berbusana. Tanpa aktor dan aktris populer, film ini berhasil menghidupkan karakter Coco muda yang ambisius dan Coco tua yang sudah mapan tapi masih terus gelisah ingin mencipta dan mendobrak pakem. Film ini juga dengan proporsi yang pas mengangkat kisah cinta, perjuangan hidup dan persoalan kelas sosial masa itu.

Lalu, bagaimana namanya berubah dari Gabrielle menjadi Coco Chanel? Ada posting sebelumnya…

 

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

5 thoughts on “Coco Chanel: Emoh Pakai Korset!

  1. jadi ini awal munculnya bra? 😮

    sejarahnya gimana sih?

  2. suatu motivasi untuk tetap berjuang hidup dan berkreasi walupun di tengah cobaan & halangan yang menghadang (lebay, hehehe). salam kenal! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s