BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

9 Most Overrated Movie of 2009

Tinggalkan komentar

watchmen

  1. Paranormal Activity

Sungguh deh, film ini menurut saya nggak ada apa-apanya yang bisa ditonton atau dinikmati. Sama sekali nggak menakutkan, menyeramkan apalagi menegangkan. Malah teramat sangat membosankan. Kalau sudah nonton REC atau Quarantine, saat nonton Aktivitas Paranormal pasti sudah tau endingnya akan bagaimana. Walaupun cuma bayar Rp 17.000 yang terhitung murah untuk standar Blitzmegaplex, rasanya habis nonton saya mau teriak “Penonton kecewa! Kembalikan uang kami!”


  1. Watchmen

Ah, ini film lebay jaya abadi susman! Terserah deh cerita komiknya seperti apa, yang jelas saya ke bioskop dengan harapan mendapat tontonan yang memikat, bukan dipusingkan dengan mengikuti karakter yang terlalu banyak dengan saling-silang hubungan yang rumit. Lalu makhluk besar biru yang mirip jin tomang itu? Ugh… polusi mata!


  1. X-Men Origins: Wolverine

Saya suka film-film X-Men yang seru, penokohannya imajinatif tapi meyakinkan dan alur ceritanya enak diikuti, dan Wolverine adalah karakter favorit saya. Maka saya kecewa berat ketika film ini jadi mellow, datar dan tanpa greget. Nonton aksi Hugh Jackman dan aktor lain disini, bagaikan baca majalah Playboy yang semua modelnya memakai daster kodian dari Tanah Abang.

 

  1. The Proposal

Sebetulnya film ini idenya menarik, Sandra Bullock juga tampil apik. Cuma entah kenapa di awal setiap scene seolah bisa ketebak bakal seperti apa, dan ketebak banget kapan penonton diharapkan untuk tertawa. Lalu adegan-adegan di Alaska itu… yeah, standar Hollywood romcom banget deh.

 

  1. 2012

Ah ah ah, bukan karena isu cekal MUI film ini saya masukkan daftar over rated. Tanpa MUI pun hip 2012 sudah lama dihembuskan para marketernya, trailernya berminggu-minggu membanjiri cineplex 21. Tapi filmnya sendiri nggak lebih dari visualisasi heboh akan interpretasi Hollywood soal kiamat. John Cusack yang biasanya tampil apik, disini bisa digantikan Nicolas Saputra atau Jung Ji Hoon dan film itu akan baik-baik saja.

 

  1. Confessions of A Shopaholic

Mungkin saya orang ke-sejuta yang bilang novelnya, well…chicklitnya, jauuuuh lebih memukau dari pada filmnya. Saya tidak menemukan Rebecca Blomwood yang tertekan karena masalah keuangan, yang sebenarnya cerdas tapi berusaha lari dari kenyataan. Di versi Amerika ini Ms Blomwood jadi shopaholic yang centil ketimpringan gak jelas. Hilang deh ‘soul’ cerita ini…

 

  1. Bride Wars

Another failure to launch Hollywood chick flick! Melihat trailernya yang sering banget diputar cineplex 21, film ini kayaknya menarik. Ternyata adegan-adegan bagusnya ya cuma yang ada di trailer itu. Film lengkapnya malah cenderung berpanjang-panjang dan ngebosenin di banyak bagian. So just watch the trailer and you got the whole movie.


  1. Terminator Salvation

Sekali lagi, saya merasa jadi korban keahlian para marketer Hollywood! Film ini hip-nya ramai, trailernya oke, review-reviewnya di majalah film internasional atau di internet bikin penasaran. Ditambah kenangan akan kehebatan Terminator II dulu, saya punya harapan tinggi ketika masuk gedung bioskop. Ternyata… ya gitu deh. Robot-robot canggih berantem, peradaban yang terancam musnah, manusia yang terpaksa bersembunyi di antara ‘rongsokan’… blah! Then the hero raises…ugh! Saya yang penggemar Christian Bale pun terpaksa gigit jari melihat mas Bale yang… ya gitu deh!


  1. Knowing

Di bagian awalnya film ini cukup menarik. Tapi begitu muncul makhluk-makhluk berjas hitam bermuka rata itu tiba-tiba samua ketegangan dan misteri jadi terpental ke titik nadir. Dan Nicolas Cage sama sekali nggak meyakinkan berakting sebagai guru fisika yang terobsesi sains. Ekspresinya itu lho, sedatar kertas koran alas tidur penumpang gerbong KA ekonomi saat arus mudik.

 

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s