BLOG Swastika Nohara

Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life.

Earth: Sebuah Keajaiban

Tinggalkan komentar

Ini film yang semua aktor dan aktrisnya nggak bisa ngomong tapi filmnya sangat dramatis dan luar biasa memukau. Ya iyalah, bintang utamanya seekor anak beruang es, anak dan ibu gajah di Delta Okavango, sekeluarga bebek mandarin dan satwa serta tetumbuhan lain di muka bumi. Dirilis tahun 2007, dan sayangnya di Indonesia hanya masuk di Blitz, film ini merupakan versi bioskop dari serial dokumenter Planet Earth bikinan UK yang versi aslinya di TV diiringi narasi oleh David Attenborough. Tadi malam, Earth diputar di MetroTV. Dan keajaiban yang ditampilkan film ini menggelitik saya untuk menuliskannya.

Kekuatan utama Earth jelas terletak pada gambar-gambarnya yang luar biasa indah, menakjubkan dan bikin penontonnya (paling nggak saya) mikir, gimana ya cara mereka shootingnya? Coba bayangkan, ada sebuah adegan saat musim semi baru mulai di sebuah hutan, seekor bebek mandarin baru keluar dari sarangnya di dalam batang pohon, diikuti oleh beberapa ekor anaknya, bebek-bebek kecil berumur 2 hari yang lucu dan menggemaskan.

Nah, adegan berikutnya menunjukkan bebek-bebek yang masih piyik itu harus melompat dari ketinggian pohon mengikuti si ibu bebek yang sudah lebih dulu landing dengan mulus di tanah. Bayangpun! Adegan melompat ini aslinya pasti terjadi dalam hitungan detik. Tapi kamera para kru Earth berhasil menangkapnya dari beberapa angle. Frontal, samping, close-up dan agak jauh. Lalu adegan ini diedit dengan sangat menggemaskan, menampilkan kecemasan bebek piyik itu sampai akhirnya tubuh-tubuh kecil mereka mental di atas dedaunan kering di atas tanah. Duuuh… sumpah keren banget! Dan ini cuma satu dari 90 menit adegan-adegan alami nan indah sepanjang film ini.

Namun film ini lebih dari sekumpulan gambar cantik tentang planet bumi. Dengan mengikuti perjalanan 4 jenis hewan bermigrasi, Earth juga menampilan beberapa adegan ‘drama’. Misalnya saat seekor ibu gajah terpaksa menunggu anaknya yang masih kecil berjalan pelan, sehingga mereka ketinggalan jauh dari kelompoknya. Padahal mereka kehausan setengah mati, menempuh perjalanan berat di gurun untuk mencari air. Eh, pas ketemu sumber air, malamnya si gajah harus bertarung melawan sekawanan singa. Mulai dari saling mengintai, sampai akhirnya bertarung beneran dengan si singa mencakar dan menunggangi punggung si gajah. Sangat dramatis.

Needless to say, film ini wajib tonton, sudah ada DVD original (dan bajakannya). Terutama bagi yang suka keindahan alam dan polah satwa. Anak-anak pun dijamin suka. Anak saya yang baru 2,5 tahun ketawa-ketawa lihat ulah lucu seekor burung hitam jambul enam di Papua mengembangkan bulu-bulunya lalu joget goyang-goyang untuk memikat seekor betina. Dan dia juga dengan tekun menyimak perjalanan ibu-anak gajah itu.

Penulis: Swastika Nohara

A woman who enjoys life… Life is the coffee, while jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain life, and do not change the quality of life. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided…. So, don’t let the cups drive you, enjoy the coffee instead! Err… in less philosophical words, I’m a freelance script writer both for fiction and documentary, content writer, fixer and translator. With a team, I also do video presentation and corporate profile filming. Based in Jakarta but eager to travel anywhere on earth.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s